
Episode lima belas (15)
Selesai makan, mereka pun duduk santai dan berkumpul sambil bertukar cerita. Dan sesekali mereka pun tertawa.
Angela yang baru merasakan kedekatannya bersama mereka pun merasa senang dan seolah sudah menjadi bagian dari keluarga mereka.
( Andai semua ini bertahan lama. Tapi kan aku tidak boleh egois, ini bukan tubuhku, dan aku juga mempunyai kehidupan sendiri. Biarlah ini menjadi kenang-kenangan untuk aku ingat sepanjang hidupku) ucap Angela di dalam hati.
Wajahnya tiba-tiba murung dan sedih, dan itu terlihat oleh Nanci dan Natasya yang kebetulan melihat kearah Angela.
Nanci lantas mendekati Angela dan duduk di sampingnya.
" Kakak kenapa?" tanya Nanci.
" Kenapa apanya Nan?"
" Kenapa sedih maksudnya."
" Sedih? enggak ah, aku tidak sedih kok," elaknya.
" Jangan bohong Ngel!, kita lihat kok kalau kamu itu murung sedari tadi," timpal Natasya.
Sontak saja para lelaki menatap ke arah Angela secara bersamaan.
" Kalian kenapa sih? aku ini baik-baik saja kok, kalian tidak usah khawatir!" kata Angela merasa tidak nyaman karena dirinya di perhatikan sedemikian rupa oleh semua orang.
" Angela berbohong kakak ipar, dia mencoba menutupi kesedihannya dari kita," ucap Natasya.
Angela menggigit bibir bawahnya karena tak tahu harus menjelaskan bagaimana lagi kepada mereka agar mereka percaya bahwa dirinya tidak apa-apa.
" Sudah sudah!!, jangan membuatnya tertekan seperti itu! jika dia belum mau bercerita, biarkan saja dulu!" ucap Alex terdengar bijak.
Ia tahu bahwa Angela sangat tertekan dengan tudingan itu, jadi ia mencoba meluruskannya agar Angela merasa nyaman kembali.
" Benar kata bang Alex, beri dia privasi!" timpal Septian.
Semuanya pun mengangguk dan kembali melanjutkan candaan mereka. Dan tak lupa, Natasya dan Nanci mengajak Angela bercerita, sehingga Angela pun bisa melupakan kesedihannya.
Karena sudah larut malam, dan mereka semua pun merasa sudah mengantuk dan akhirnya mereka kembali ke kamar masing-masing, begitu pun dengan Angela. Ia masuk ke dalam kamarnya dan mencari saklar lalu menghidupkan lampu kamarnya.
Ia di buat terkejut dengan kehadiran Alex yang secara tiba-tiba di dalam kamarnya. Ia juga sempat mengelus d*danya sangking terkejutnya.
" Kak Alex kok ada di kamar aku?"
" Kenapa, memangnya tidak boleh?."
Begitulah Alex, dia akan balik bertanya jika orang lain menanyainya, dan akan bersikap dingin.
" Ya boleh-boleh saja sih, inikan apartemen nya kak Alex," jawab Angela sambil nyengir kuda.
__ADS_1
" Nah tuh tau."
" Kemari lah!!" ucap Alex lagi.
Dengan langkah ragu-ragu, Angela pun mendekat ke arah Alex dengan berdiri di sampingnya.
" Duduk!!" ucapnya singkat.
Angela pun menurut dan duduk di samping Alex, di atas tempat tidur.
" Siapa yang menyuruhmu duduk di situ, pindah!!" ucap Alex dengan nada ketus.
Lagi-lagi Angela menurut dengan wajah polosnya, dan kali ini Angela duduk di bawah, tepatnya di lantai bak seorang pembantu.
" Angela!!! kamu ini tidak mengerti, apa bagaimana sih?! saya bilang bukan di situ!!" ucap Alex, dan kali ini Alex nampak sangat kesal.
Tak kalah kesal, Angela pun begitu. Ia menggerutu dalam hatinya karena sikap Alex yang tidak ia mengerti. Namun ia pun tak berani untuk mengungkapkannya.
( Maunya apa sih? semuanya salah!. Susah memang memahami orang yang sifatnya seperti kulkas seratus pintu) gerutu Angela.
Angela pun kembali berdiri sambil mulutnya yang komat-kamit karena kesal dengan Alex.
Untung saja Alex tidak menyadarinya.
" Jadi aku harus duduk di mana?" tanya Angela dengan nada kesal.
" Apa, coba ulangi?" kata Alex yang menyadari nada bicara Angela yang sedikit kasar.
" Duduk di pangkuanku!!" jawabnya dengan cepat dan hampir tak kedengaran.
" Apa, coba ulangi? aku tidak mendengar?" Angela sengaja menyuruh Alex untuk mengulanginya. Padahal dia sendiri pun mendengar apa yang dikatakan Alex padanya.
" Ehemmm," ucapnya berdehem untuk menutupi gengsinya.
" Duduk di pangkuanku!!" ulangnya, dan kali ini dengan sedikit lambat, namun dengan suara yang samar-samar.
" D-disini, di pangkuan kakak?" kata Angela sambil melirik p*ha Alex.
" Iya, tunggu apa lagi, Angela!"
Karena merasa Angela sangat bertele-tele, Alex pun menariknya dengan kuat, hingga Angela terhempas dengan kuat di atas p*ha Alex.
Otomatis itu membuat masa depan Alex ikut terjepit. Dan jangan di tanya lagi bagaimana reaksinya saat ini.
Wajahnya nampak memerah karena menahan rasa sakit di bagian kehidupannya. Ia juga sedikit meringis dengan mata terbelalak.
Angela yang melihat perubahan pada ekspresi Alex pun menjadi heran.
" K-kakak kenapa, kaka pusing? kenapa mukanya merah begini?" tanya Angela.
__ADS_1
" Angela, kamu merusak masa depanku," ucapnya sambil terus meringis.
" Masa depan? masa depan bagaimana maksudnya kak? apa aku melakukan kesalahan dan itu berdampak pada masa depan kakak?" tanya Angela dengan polosnya.
" Tepat sekali."
" Lalu apa yang harus aku lakukan supaya masa depan kakak kembali cerah?"
" Hidupkan dia kembali, saya tidak mau tahu!!"
" Hah,,!! hidupkan? apa yang dihidupkan kak?"
" Ya masa depan saya, Angela!"
" Kakak ih, yang jelas! aku tidak mengerti apa maksudnya." Karena kesal, Angela pun sedikit menghentakkan pa*tatnya, dan itu membuat tongkat masa depan Alex ikut tergesek, dan tentunya ia pun merasa sakit kembali di bagian itu.
" Arghhhh!! Angela jangan bergerak!!" teriaknya sambil meringis kesakitan.
" Kenapa kak, apanya yang sakit sih?" tanyanya dengan polosnya sambil mencari-cari letak sakitnya.
" Itu saya, Angela," ucap Alex sambil mencoba menunjukkan lewat isyarat matanya yang menoleh ke arah bawah.
Sontak saja Angela pun mengikuti arah pandang Alex, dan Angela langsung terkejut setelah paham apa yang di maksud Alex.
Sontak saja Angela langsung berdiri dan menutup mulutnya.
" Hahh,,, maaf kak maaf!! aku benar-benar tidak tahu." Angela pun berjongkok di depan bagian yang sakit itu.
" Lagian siapa suruh menarik ku hingga membuat ku jatuh di situ. Kan kena karma sendiri," gerutu Angela yang masih dapat dengan jelas Alex dengar.
" Heyy, bukannya membantuku, malah menceramahi ku. Ini semua gara-gara kau, tahu. Jadi kau harus bartanggung jawab!!" ucap Alex.
" Bertanggung jawab? bagaimana caranya kak?" ucap Angela sambil meniupi bagian yang sakit tersebut.
" Ya bagaimana lagi! Seperti yang ku perintahkan tadi. Hidupkan dia!!" perintah Alex tanpa ragu.
Sontak saja Angela membelalakkan matanya dan menatap tajam ke arah Alex ketika mendengar perintah itu. Baginya itu tidak masuk akal.
" Di hidupkan? kakak mengarang ya. Apa hubungannya sakit dengan dihidupkan?"
" Ya hanya untuk mengetes saja. Mana tahu setelah kau lukai, dia tidak mau hidup lagi, kan jadi saya yang rugi," ucapnya.
Angela terdiam, ia nampak berpikir keras tentang hal itu. Ia pun membenarkan ucapan Alex. Dan lagipula itu semua kan juga karenanya sehingga membuat masa depan Alex menjadi terluka seperti ini.
" Kenapa bengong? ayo, cepat lakukan!!" Alex kembali mendesak Angela agar melakukannya.
" C-carannya bagaimana?" tanya Angela ragu.
" Ya terserah, pikirkan sendiri caranya!"
__ADS_1
Dengan ragu-ragu Angela pun kembali berjongkok dan mulai mengarahkan tangannya pada retsliting celana yang di gunakan Alex, namun tiba-tiba,
Cklekkk