
Episode tiga puluh enam (36)
Fajar menyingsing dari ufuk timur. Memantulkan cahaya dari balik jendela kaca kamar hotel yang di tempati Angela dan Alex.
Dua insan itu masih lelap di balik selimut mereka.
Cahaya yang masuk mengenai Indra penglihatan Alex, membuatnya merasa silau dan terbangun.
Alex menggosok-gosok matanya yang masih terasa lengket. Matanya mengerjap melihat pantulan cahaya dari luar. Ketika Alex hendak menyibakkan selimutnya, ia terkejut karena tu*hnya sama sekali tak menggunakan pakaian. Alex lalu melihat ke arah samping, dan semakin di buat terkejut karena keberadaan Angela di sampingnya, dengan keadaan yang sama dengannya.
" Angela, apa yang terjadi?" pikirnya.
Karena merasa ada pergerakan di sampingnya, Angela pun terbangun. Berbeda dengan Alex yang terkejut ketika bangun, Angela sebaliknya. Ia tersenyum manis pada Alex sambil memegangi selimut yang menutupi tub*hnya. Dan itu artinya, Angela tahu bahwa ia tak mengenakan pakaian sehelai benangpun.
" Apa yang terjadi, Angela? apa aku melakukan sesuatu padamu?"
Angela malah tersenyum dan tak ada penyesalan ataupun kesedihan sedikitpun di wajah cantiknya.
" Iya, malam tadi kau mabuk berat, dan aku membawamu kesini karena menurutku tak mungkin membawamu pulang dalam keadaan mabuk berat. Apa kata yang lain nanti?"
" Bukan jawaban itu yang aku inginkan, Angela. Kau belum menjawab pertanyaan ku. Apa aku melakukan sesuatu padamu?" Alex mengulangi pertanyaannya yang tak dijawab oleh Angela.
" Bukan kau, tapi kita," ucapnya sambil tersenyum.
" Kita? jadi benar, bahwa aku dan kau sudah,,,,,,,?"
Angela mengangguk tanpa ada rasa penyesalan yang terlihat di matanya, seolah ia merasa baik-baik saja setelah apa yang terjadi.
Tubuhnya terasa lemas dan itu membuat bahunya merosot karena pengakuan Angela.
Seorang Alex, dia telah melakukan hal yang tidak terpuji terhadap wanita? Tidak! ini tidak boleh terjadi. Selama ini dia telah mewanti-wanti dirinya agar tidak men*dai kehormatan seorang wanita. Meskipun dia tidak mengakui sepenuhnya bahwa dirinya itu baik, namun setidaknya Alex tidak melakukannya terlalu jauh.
Alex meremas rambutnya sendiri karena merasa frustasi. Sekarang, apa yang harus dia lakukan?. Jalan satu-satunya saat ini ialah, dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Dan itu artinya, dia harus menikahi Angela secepatnya.
Tanpa berpikir panjang, Alex berdiri dan lekas memungut pakaiannya yang masih berserakan, dan memakainya segera. Dia juga memungut pakaian Angela dan memerintahkan untuk memakainya. Setelah selesai, tiba-tiba saja Alex menarik tangan Angela tanpa mengatakan apapun.
" Kita mau kemana?" tanya Angela sambil mengikuti langkah cepat Alex.
Alex tak menjawab. Ia terus saja berjalan cepat hingga akhirnya mereka sampai di parkiran. Setelah memastikan Angela duduk sempurna di kursi depan, Alex segera melajukan mobilnya.
" Ini bukannya jalan menuju rumah? kita akan pulang?"
Alex tak menjawab, tapi ia menoleh ke arah Angela dengan tatapan datar. Lalu kembali fokus dengan stir nya.
Baru saja sampai di halaman apartemen dan keluar dari mobil, Alex langsung berteriak memanggil Septian.
Sedangkan Angela yang takut Alex berbuat macam-macam, pun mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
" Kenapa sih bang teriak-teriak?." Yang di panggil akhirnya datang. Suara lantang Alex rupanya mengganggu tidurnya.
" Baru bangun kau ternyata?" tanya Alex.
" Ya iyalah baru bangun, hari ini kan hari libur kerja, jadi bisa santai. Hoaaaaammmm!" Septian menggeliat dengan mulut yang terbuka lebar.
" Ada apa sih? pagi-pagi sudah mengganggu saja," gerutu Septian.
" Saya mau minta tolong."
" Minta tolong apa?"
" Tolong urus semua berkas pernikahan hari ini juga!"
Seketika Septian membelalakkan mata. Ia terkejut karena tiba-tiba saja Alex menyuruhnya mengurus berkas pernikahan yang ia tak tahu untuk siapa.
" Siapa yang mau menikah bang?"
" Saya, saya dan Angela," ujarnya.
" Hah. Kau serius bang? secepat itu?"
" Iya. Sudah sana! jangan banyak tanya dan jangan protes! kerjakan saja apa yang ku suruh!"
Sedangkan Angela yang berada di belakang sedari tadi merasa tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Benarkah Alex ingin menikahinya secepat ini? sungguh Angela tak dapat berkata-kata lagi.
Angela menjadi wanita satu-satunya yang merasa paling bahagia di hari itu.
Seperti hari-hari sebelumnya, Denisa pergi ke kampusnya pagi ini. Tak seperti hari-hari biasanya yang nampak bahagia, hari ini Denisa merasa tak mood menjalani aktivitasnya.
Ia berjalan gontai menyusuri koridor kampus.
" Aduhhh!!" Ia mengaduh ketika bertabrakan dengan seseorang.
Denisa pun terjungkal hingga membuatnya terduduk di lantai.
" Eh sorry sorry! tidak sengaja." Pria yang menabrak Denisa itu pun membantunya untuk berdiri. Dia mengulurkan tangannya kepada Denisa untuk menawarkan bantuan. Denisa menerima uluran tangan tersebut. Namun karena badan Denisa yang agak berisi, membuat pria itupun keberatan untuk menariknya. Tubuhnya terhuyung, membuatnya terjatuh dan malah menimpa tubuh Denisa.
Sialnya, saat itu koridor mendadak ramai dengan mahasiswa/i yang baru berdatangan. Mereka pun menjadi salah faham lalu menghujani Denisa dan pria itu dengan cibiran serta cacian.
Penderitaan tak sampai di situ. Tiba-tiba saja seorang wanita datang ke arah mereka dan langsung menampar wajah Denisa hingga membuat wajah Denisa terlempar ke samping.
Plakkk
" Keterlaluan kau wanita jah**am! berani-beraninya kau berpelukan dengan kekasihku, di tempat umum pula," hardik wanita itu.
" Apa salah ku?" tanya Denisa yang tak mengerti di mana letak kesalahannya. Karena menurutnya dia memang tak salah.
__ADS_1
" Kau sudah berani memeluk kekasihku, tapi kau masih saja tak sadar diri."
" Kau sudah salah faham. Aku dan dia hanya,,,,,,,,"
" Halah. Mana mau dia mengaku. Pasti dia yang sudah merayu kekasihmu itu, kalau tidak mana mau Zidan sama gentong air begini," ucap yang lain menimpali, lebih tepatnya memanasi.
" Benar juga yang kau katakan. Dia kan tidak laku karena bentuk tubuhnya yang seperti galon air itu, makanya dia merayu kekasih orang lain untuk di jadikan nya tu*bal."
Semua orang jadi tertawa karena ucapan kekasih si pria yang bernama Zidan itu, tepatnya menertawakan Denisa.
" Heyy, aku juga punya cerita lucu," timpal yang lain, entah suara itu berasal dari mana.
" Apa itu?" tanya yang lainnya, antusias.
" Sangking tidak tahu dirinya, wanita gemuk ini berangan-angan ingin menjadi pasangannya Alexandra Darbara. You now Alexandra Darbara?"
" Yes!" jawab yang lain secara serempak.
" Aduh, aku yang cantik ini saja, minder ingin menjadi pasangannya, kenapa dia yang begitu tidak tahu diri ya?"
Sorak-sorai dan gemuruh tawa seakan memenuhi koridor kampus pagi itu.
Denisa tak mampu lagi menahan cibiran dan caci maki tentang bentuk tubuhnya itu. Runtuh sudah pertahanan percaya diri yang ia bangun selama ini. Bahkan baru saja ia mendapat hal serupa dari orang terdekat pria yang ia kagumi tersebut. Bagaimana dia masih bisa menahannya?
Denisa seakan tak mampu lagi untuk menghindar. Tubuhnya diam di tempat, seakan tak tau harus kemana arah tujuan ia akan pergi. Pergi dari riuhnya suara-suara yang membuat Denisa serasa ingin m*ti saja.
" Nis, ayo pergi dari sini!"
Kedatangan Renata dan Bobi mungkin agak terlambat, tapi setidaknya Denisa tidak merasa sendiri lagi.
Denisa mengikuti langkah cepat Renata dan Bobi yang menariknya entah kemana. Yang terpenting saat ini, dia bisa menjauh dari orang-orang tak menyukainya itu.
" Kita duduk di sini dulu ya!" Renata membawa Denisa ke kantin yang kebetulan pagi itu belum ramai orang, hanya ada beberapa saja yang kebetulan sedang sarapan.
Denisa menangkup kan wajahnya pada meja kantin. Menangis tersedu-sedu, menumpahkan segala beban yang ia tanggung.
Dua sahabatnya itu hanya bisa diam dan menatap iba hingga menunggu Denisa selesai menangis.
" Eh kalian semua sudah baca berita gosip pagi ini belum?" tanya beberapa mahasiswi cewek yang sedang berbincang-bincang di kantin.
" Aku belum. Memangnya ada gosip apa?"
" itu, si Alexandra Darbara sudah menikah loh sama pacarnya itu."
" HAH, yang benar saja?"
Bukan hanya teman mahasiswi itu saja yang terkejut, Renata, Bobi bahkan Denisa yang juga mendengar percakapan mereka pun sangat sangat terkejut.
__ADS_1
( Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini?)