Jiwa Yang Berbeda

Jiwa Yang Berbeda
Pergi Ke Bar


__ADS_3

Episode tiga puluh empat (34)


" Maafkan anak saya ya Nak Alex, Nak Angela."


Lita merasa tidak enak karena anaknya meninggal tamu dengan cara tidak sopan.


Ia tahu, saat ini batin Denisa sedang tidak baik, Lita juga merasa sedih karena anaknya di hina dengan orang yang tak begitu akrab dengan mereka.


" Tak apa Bu, kami yang seharusnya minta maaf karena sudah membuat keributan di sini dan mengakibatkan Denisa sedih," ucap Alex merasa tak enak hati.


Angela memalingkan wajahnya dengan angkuh. Dia bahkan keluar dari rumah Denisa tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada Lita.


Alex yang geram dengan tingkah Angela hanya menggelengkan kepalanya, dan tak lupa juga meminta maaf kepada Lita atas tingkah Angela yang tak sopan tersebut.


" Tidak apa-apa Nak Alex, ibu paham sebagai seorang wanita yang mencintai pasangannya," jawab Lita.


" Ngomong-ngomong, kalau boleh tau, apa benar Nak Alex menyukai Denisa anak saya?" tanya Lita lagi.


Alex tak menjawab, ia hanya diam sambil menunduk.


Lita jadi mengambil kesimpulan dari raut wajah Alex yang terlihat sedih. Dia menyangka Alex pasti sangat tertekan saat ini. Apa lagi jika harus menanyakan hal yang tidak mungkin.


" Maaf Nak Alex, ibu tidak bermaksud lancang."


" Tak apa Bu. Kalau begitu, saya pamit pulang dulu ya Bu."


Lita menganguk. Alex lantas meraih tangan Lita untuk ia cium dan bergegas menyusul Angela yang sepertinya sangat marah.


" Jangan nangis terus dong Nisa! ibu tau kamu sedih, tapi kan kamu biasanya kuat menghadapi hal semacam ini. Sekarang kenapa mendadak cengeng begini?"


Kita terus berusaha menenangkan Denisa yang sejak tadi tak berhenti menangis.


" Iya Bu, tapi kan ini beda,,,,,hiks hiks! dia Alex Bu. Ibu paham kan maksud aku?"


Denisa yang semula tengkurap dan membenamkan wajahnya di bantal, kini mengubah posisinya, duduk menghadap ibunya.


" Iya, ibu tau dia Alex. Yang sering kamu ceritakan itu kan, yang idola kamu itu kan?"


" Bukan sekedar idola Bu, tapi Nisa cinta sama dia," ungkap Denisa dengan nada merengek manja.


" Jadi,,,,,,, kamu suka juga sama Nak Alex?"


" Iya Bu. Kami saling mencintai, ibu dengar sendiri kan tadi?"


Lita tersenyum tulus, lalu memegang kedua pundak anak gadisnya itu.


" Ibu dengar apa yang di katak Alex tadi. Jelas sekali,,,,,,," ucap Lita dengan lembut.


Denisa tersenyum senang karena mengira ibunya pasti mendukung perasaannya terhadap Alex.


" Tapi ibu takut,,,,." Lita menggantung ucapannya, dan menatap dalam pada manik mata sang anak, seolah mencoba memberi pengertian pada sang anak.


" Takut kenapa Bu?"


" Ibu takut kedatangan mereka hanya untuk memperalatmu saja."


" Tapi kan Bu!" Denisa hendak membantah, namun Lita menaruh telunjuknya pada bibir Denisa.


" Hussst,,,,,, dengarkan ibu dulu!"

__ADS_1


Denisa menganguk, ia pun mendengarkan perkataan ibunya dengan khusuk.


" Ibu takut, Alex hanya menjadikanmu kambing hitam dalam hubungan mereka, atau sebuah alat untuk menjauh dari kekasihnya itu."


Lita beralih menangkup wajah Denisa dan menatapnya dengan mata berbinar.


" Ibu hanya tidak mau anak gadis ibu yang cantik ini, sakit hati."


Untuk yang kedua kalinya Denisa mendengar kata-kata itu dari orang terdekatnya. Apa sejahat itu kah pria yang ia kagumi itu? padahal, dia mengenal Alex sebagai pribadi yang baik dan perhatian, meskipun memang terlihat cuek dan dingin.


" Bukan tanpa alasan ibu bilang begini. Tadi, saat ibu dan Nak Alex hanya berdua saja, ibu menanyakan hal itu kembali, tapi apa jawabannya?!"


Dengan antusias Denisa mendengarkan kelanjutan cerita dari ibunya.


" Dia malah menunduk dan tidak menjawab apa-apa. Dan itu artinya,,,,,,,,,, dia masih meragukan perasaannya, atau mungkin prasangka ibu memang benar, bahwa dia hanya memanfaatkan kamu saja."


" Tapi Bu,,,,,,"


" Denisa!! ini untuk kebaikan kamu, Nak. Terkadang kita harus berprasangka buruk terhadap orang lain, hanya untuk berjaga-jaga jika orang tersebut berniat buruk terhadap kita."


" Tapi bagaimana jika itu tidak seperti yang ibu pikirkan?"


" Tinggal takdir yang maha kuasa lah yang berbicara. Ingat Nak! jika jodoh, pasti Tuhan takdir kan bersama. Dia itu tidak tidur, ingat itu!!"


Denisa kembali hendak membantah, namun tak jadi dan memilih diam.


Denisa tertunduk sedih dengan mata yang kembali berair.


Apakah ini adalah akhir dari kisah cintanya? padahal cuma selangkah lagi, Denisa dapat menggapai cinta itu, cinta yang mungkin di inginkan setiap para wanita yang mengagumi Alex.


Denisa memilih membenamkan kembali wajahnya di bantal, laki lama-kelamaan ia pun tertidur.


" Kamu ini bagaimana sih. Tadi kamu sendiri yang bilang akan melepaskan ku jika mengetahui siapa wanita di masa laluku itu, tapi ketika sudah di sana, kamu sendiri yang marah-marah," kesal Alex.


Angela berbalik menghadap Alex, dan dengan suara lantang ia menjawab perkataan Alex tersebut.


" Kamu ingin mengatakan bahwa aku plin-plan kan?. Ya, aku memang plin-plan jika wanita yang kau maksud itu adalah DIA!"


Sangking lantangnya, semua orang yang ada didalam apartemen tersebut menghampiri mereka karena penasaran.


" Kau ingin membuat kami semua malu? kau mau keluargamu malu karena kau memilih wanita yang seperti Denisa?"


Alex tertegun dan tak bisa menjawab apa-apa.


" Kau ini lelaki terhormat di mata masyarakat luas. Dengan tidak tahu malunya menyukai wanita kelas bawah yang penampilannya saja, miris."


" Kenapa kau terus saja membahas soal penampilan?"


" Karena aku kira wanita yang kau sukai itu lebih cantik dari ku. Tapi ternyata, dia tak lebih jelek dari se*kor ga*ah."


" Angela, CUKUP!!"


Habis sudah kesabaran Alex. Angela sudah melakukan playing victim terhadap Denisa. Padahal dulu Alex mulai menyukai Angela karena kelembutannya dan sikapnya dalam menghargai orang lain. Kini Angela benar-benar berbeda ketika ia sedang marah. Dia tak bisa mengontrol emosinya, hingga membuatnya bar-bar.


" Kau benar-benar keterlaluan sekarang." Alex berkata dengan gigi yang bersatu dan mata yang merah.


Alex hanya marah, tapi dia tak akan mau menyakiti wanita seberapa besarpun amarahnya.


Alex lantas pergi tanpa sepatah katapun. Ansel, Septian dan yang lainnya berusaha untuk memanggil Alex agar kembali, namun percuma. Alex sama sekali tak menghiraukannya. Apa lagi dalam keadaaan nya yang sedang marah besar.

__ADS_1


Seperti biasa. Kemana lagi Alex pergi jika tidak ketempat biasa ia kunjungi ketika ia sedang marah.


Tidak tidak! kali ini Alex tidak pergi ke villanya, melainkan tempat hiburan malam.


Hatinya sedang kalut. Alex tak bisa berpikir jernih hingga membuatnya tak berpikir panjang lagi untuk pergi ketempat terlarang itu.


Alex minum sebanyak-banyaknya hingga membuatnya mabuk berat.


" Tambah lagi!!" pintanya kepada pelayan bar.


" Maaf tuan, anda sudah minum banyak sejak tadi," ucap pelayan tersebut.


" TAMBAH LAGI KU BILANG!! ucap Alex dengan keadaan yang sudah mabuk berat.


" I-iya tuan." Pelayan tersebut menuangkan lagi minuman keras yang diminta Alex.


" Eh lihat itu!" ucap seorang wanita yang juga ada di bar itu.


" Iya, dia tampan," jawab teman yang satunya.


" Bukan itu maksudku. Coba kau perhatikan baik-baik! bukankah itu Alexandra Darbara, kekasih Angela itu kan?"


" Benarkah?? Wah,,,,,, mumpung dia ada di sini, aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Siapa tau, jika aku mengandung anaknya, dia pasti akan bertanggung jawab, dan aku akan menjadi nyonya Darbara deh," ucap teman wanita itu.


" Apa kau sudah gila? bisa-bisanya kau menjual harga diri demi menjadi istrinya."


" Ya,,,,, kalau tidak begitu, aku tidak akan bisa menjadi istrinya."


" Ah sudahlah, jangan berpikir yang macam-macam! lebih baik sekarang kita jadikan ini sebagai peluang bisnis, bagaimana?." Wanita itu menaik-turunkan alisnya dan tersenyum miring.


" Maksudnya bagaimana?"


" Sudah, kau lihat saja apa yang ku lakukan!"


Wanita itu lantas menelpon seseorang.


{Halo, ini siapa?} tanya Angela ketika mendapat telpon dari seseorang.


{ Aku Lisa. Aku punya kabar baik untukmu} ucap wanita yang menelpon Angela.


{ Kabar baik apa yang kau maksud?}


{ Tapi kabar ini tidak gratis. Kau harus memberi nilai untuk satu kata yang ku ucapkan!}


{ Baiklah baiklah. Berapa yang kau minta dariku?}


{ Seratus juta mungkin cukup.}


{ Baiklah, nanti akan aku transfer. Sekarang katakan! kabar apa yang kau maksud?}


{ Aku melihat Alex di bar bintang. Dia sepertinya sedang mabuk berat}


{ Benarkah? Baiklah. Tolong kau awasi dia! aku akan menyusulnya di sana}


Sambungan telpon tersebut pun terputus. Angela tersenyum miring mendengar kabar itu. Ia seakan mempunyai peluang besar ketika mendengar Alex mabuk berat


" Kau lihat saja Alex. Aku akan memanfaatkan peluang ini untuk mendapatkan mu seutuhnya. Kau tidak akan menolak ku lagi kali ini. Dan kau,,,,,,,pasti akan melupakan dia selamanya."


Angela tersenyum penuh arti sambil mengusap-usap perutnya.

__ADS_1


__ADS_2