
Episode dua puluh enam (26)
Bukannya menjawab, Ansel dan Septian malah tercengang melihat penampilan Angela. Mereka sampai berdiri dan tak sadar membuka mulut mereka begitu lebar.
" Heyy, aku bertanya kepada kalian, kenapa kalian tidak menjawab ku?" kesal Angela.
Mereka masih tak menjawab, mereka malah memandangi Angela dari ujung kaki hingga ujung rambut.
" Apa mata kalian perlu ku c*ngkil, hah?"
" Kakak ipar,,,,,,dari salon?" tanya Septian yang diangguki oleh Ansel.
" Kalau aku dari salon, memangnya kenapa?" tanya Angela dengan angkuh.
Mereka pun menggeleng cepat.
" Tidak tidak! hanya saja tidak seperti biasanya," ucap Septian.
" Memangnya, biasanya aku seperti apa?"
Septian malah nyengir kuda dan tak menjawab lagi perkataan Angela. Ia hanya tak mau memperpanjang lagi. Septian merasa Angela tak seperti biasanya. Angela yang dulu seolah kembali lagi. Dia memang baik, hanya saja sedikit angkuh dan manja, serta sangat menyukai hal-hal yang glamor, berbeda dengan Angela yang beberapa bulan lalu, ia tampak sederhana dan sangat mandiri.
" Hehehe, ya sudahlah. Mau berpenampilan seperti apapun, kakak ipar tetap cantik kok."
" Jadi menurutmu, sekarang aku kurang cantik, begitu?"
" Tidak tidak! tolong kakak ipar jangan salah paham dulu! aku mengatakan bahwa kakak ipar itu selalu cantik kapan saja," ucap Septian sambil menaik-turunkan alisnya.
Ansel menahan tawanya sambil menyentak lengan Septian yang nampaknya sedang menggoda Angela.
" Awas ya kalian, akan ku adu kan kepada Alex!" ancam Angela. Setelah itu ia pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
Denisa saat ini sedang duduk bersandar di sofa kayu nya. Ia baru saja pulang setelah beberapa hari pergi dari rumahnya.
" Kamu tuh dari mana saja sih Nak? kok seminggu tidak pulang? bahkan kamu tidak izin dulu sama ibu," gerutu Lita. Ia berjalan dari arah dapur sambil membawakan secangkir teh hangat untuk Denisa dan bergabung bersamanya.
" Nih di minum, mumpung masih hangat!" ucap Lita sambil meletakkan secangkir teh tersebut di atas meja.
" Iya Bu, terimakasih," ucapnya sambil meraih gelar tersebut dan meminumnya sedikit, lalu meletakkannya kembali.
" Nisa capek Bu, Nisa lapar. Nanti saja ya Nisa ceritanya." Ia menyandarkan kepalanya lalu menghela nafas panjang.
" Oh ya Bu, ibu masak jengkol tidak hari ini?" tanyanya dengan bersemangat.
" Mana ada ibu masak jengkol lagi, kan kamu sudah tidak suka sama jengkol."
" Loh!? terus, ibu masih ada simpanannya tidak?"
" Tidak. Kalau adapun, pasti sudah busuk Nak."
" Yahhh, bagaimana ya? Nisa lagi ingin makan jengkol Bu," ucapnya memelas.
" Ya sudah, mumpung ibu sedang libur, bagaimana kalau kita pergi ke pasar untuk membelinya?! lagi pula sudah banyak persediaan makanan yang habis di kulkas."
" Ayo!!!" ucap Denisa nampak sangat bersemangat.
__ADS_1
Lita tersenyum, lalu mereka pun beranjak untuk pergi ke pasar terdekat.
Macam-macam bumbu dan sayuran mereka beli di sana. Denisa juga nampak sangat antusias untuk memilih sayuran dan jengkol yang ia mau. Lita memandangi anaknya itu sambil tersenyum.
" Biasanya kalau ibu ajak kamu ke pasar, kamu selalu menolak, mengapa Sekang sangat bahagia? apa tidak bau di sini?" tanya Lita.
Angela menoleh ke arah ibunya dengan tatapan heran.
" Kapan Nisa bilang seperti itu?"
" Sejak beberapa bulan ini sih. Kamu bilang tidak mau ke pasar karena malas mencium berbagai macam bau yang tidak sedap di sini."
" Benarkah?" Angela nampak sangat terkejut dan membulatkan matanya.
( Apakah Angela begitu?. Tapi ya wajar sih, dia kan terbiasa hidup mewah dengan fasilitas lengkap. Segala sesuatunya di persiapkan oleh pembantu, wajar saja dia tidak pernah ke pasar dan tidak suka tempat seperti ini.)
" Nisa!!!"
Denisa terkejut ketika ibunya memanggil namanya tepat di telinganya. Dia tadi sedang termenung dan tidak fokus saat ibunya memanggil beberapa kali.
" Ehh,,,,,,, iya Bu, maaf ya," ucapnya.
" Kamu kenapa tiba-tiba termenung? apa kamu lapar?" tanya ibunya.
Dengan cepat Denisa mengangguk.
" Kalau begitu bagaimana kita makan bakso di tempat itu!" tunjuk Lita pada pedagang bakso di pinggir jalan, tak jauh dari pasar tempat mereka berbelanja.
" Ayo Bu!!"
" Baksonya dua ya Mang?" ucap Denisa.
" Iya Neng, tunggu sebentar!!"
Denisa dan Lita pun memilih tempat duduk sambil menunggu pesanan mereka datang.
Setelah pesanan mereka datang, Denisa langsung melahap makanan bulat tersebut. Tak lupa sebelum ia melahapnya, Denisa lebih dulu memberikan beberapa sendiri sambal kedalam mangkuk baksonya.
" Pak, baksonya dua porsi ya, di bungkus! dan jangan lupa sambalnya yang banyak!!"
Tiba-tiba saja Denisa menghentikan kunyahan nya ketika mendengar suara pembeli bakso tersebut. Ia merasa tidak asing ketika mendengarnya.
Denisa lantas menoleh ke arah orang tersebut, namun karena posisi orang tersebut membelakangi Denisa, jadi Denisa tak dapat melihat wajahnya. Dan lagi pula orang tersebut menggunakan jaket kulit berwarna hitam, lengkap dengan topi dan masker berwarna senada.
Denisa yang penasaran, terus saja memperhatikan orang tersebut. Tapi 8a tidak menyadari bahwa orang itu juga memperhatikannya. Melihat Denisa nampak sangat penasaran dengannya, dia malah tersenyum smirk di balik masker hitamnya.
" Ini pak pesanan nya."
Penjual bakso tersebut memberikan bungkusan plastik berisi bakso itu kepada orang berpakaian serba hitam itu.
Setelah membayar, orang tersebut lantas meninggalkan tempat itu. Namun sebelum pergi, orang itu sempat berkata sesuatu yang tidak tahu di tujukan kepada siapa. Tapi dia berhenti tepat di depan meja Denisa dan ibunya.
" Jangan terlalu banyak makan, nanti tambah gemuk!!"
Sontak Denisa tersedak ketika sedang menyeruput kuah baksonya. Ia merasa bahwa perkataan itu di tujukan padanya.
__ADS_1
" Uhuuuk!!"
Mata mereka juga sempat saling pandang, sebelum akhirnya orang tersebut benar-benar pergi dari tempat itu.
" Kamu mengenal orang itu?" tanya Lita sesaat setelah orang berpakaian hitam itu pergi.
Denisa lantas menggeleng cepat sambil terus melahap baksonya.
" Tapi sepertinya dia mengenalmu."
Lagi Denisa tak menjawab, ia hanya mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu.
" Atau,,,,,, pengagum rahasia," celetuk Lita.
Untuk yang kedua kalinya, Denisa tersedak kuah bakso.
Dengan cepat Lita memberikan air minum kepada Denisa sambil menepuk-nepuk punggung Denisa.
" Kamu kenapa tersedak bisa sampai dua kali begitu?"
" Tidak tau juga Bu, mungkin karena kuahnya terlalu pedas."
" Lain kali, jangan terlalu banyak ngasih sambal lagi ya!"
Denis mengangguk dan tersenyum, lalu meletakkan kembali gelas minumannya ke atas meja.
Selesai makan, mereka pun membayar bakso yang mereka makan tadi. Karena mereka juga sudah selesai berbelanja, mereka pun memutuskan untuk pulang.
" Dari mana kamu bang? kok aku tidak tahu kau pergi?" tanya Darrell yang baru saja selesai mandi. Ia mengusapkan handuk ke rambutnya yang masih basah.
" Mungkin kau saja yang tidurnya terlalu nyenyak hingga tidak tahu aku keluar," jawab Alex.
" Masak sih?"
" Apa yang kau bawa itu bang?" tanya Darrell lagi.
" Ini bakso, aku membelinya tadi di jalan," jawab Alex sambil meletakkan bungkusan plastik hitam itu di atas meja, lanjut mengambil mangkuk dan menuangkannya.
" Ayo makan dulu!" ucapnya setelah selesai.
" Wahhh, aku sudah lama sekali tidak makan bakso," ucap Darrell, ikut duduk dan menyantap bakso yang di beli Alex tadi.
" Sambal?" Alex menyodorkan sambal kepada Darrell dan Darrell pun menerimanya lalu menuangkannya beberapa sendok.
" Kau tidak ada keinginan untuk pulang?" tanya Darrell di sela-sela makannya.
" Belum, nanti juga pulang."
" Ansel dan Septian pasti sedang bingung sekarang."
" Tidak, karena aku sering mengabari mereka."
" Lalu bagaimana dengan Angela?"
Tiba-tiba saja Alex menghentikan makannya dan menatap lurus dengan tatapan tajam.
__ADS_1
" Aku juga akan pulang untuknya, untuk membongkar kebohongannya," ucapnya sambil tersenyum licik.