Jiwa Yang Berbeda

Jiwa Yang Berbeda
Angela Diculik?


__ADS_3

Episode tiga puluh delapan (38)


" Kita pulang sekarang ya?" setelah Renata mengurai pelukannya.


Denisa mengangguk dengan air mata yang masih berlinang. Tenggorokannya terasa tercekat, bahkan untuk menjawab iya saja Denisa tak mampu.


Renata dan Bobi menepati janjinya, ia mengantar Denisa sampai halaman rumahnya, bahkan mengetuk kan pintu untuk Denisa. Mereka hanya ingin memastikan Denisa bisa sampai ke rumahnya dengan selamat.


" Denisa, kau sudah pulang? baguslah. Kalau begitu cuci semua piring yang sudah menumpuk itu!"


Mereka baru ingat bahwa di rumah Denisa tak ada siapa-siapa, karena Lita hari ini sedang bekerja. Dan mungkin Doni sedang ingat rumah, mangkanya dia pulang. Biasanya juga seminggu sekali pulangnya, bahkan sekarang bisa sebulan sekali. Dan ketika ia pulang, itu tandanya dia sedang butuh uang dari Lita.


Baik Denisa maupun dua temannya tersebut tidak menjawab perkataan Doni, mereka langsung masuk saja kedalam rumah.


Baru saja masuk, Denisa sudah di suguhkan oleh pemandangan rumah yang sangat berantakan dengan piring yang kotor sana sini.


Denisa menghela nafas beratnya. Ternyata dia punya tugas baru di saat mood nya sedang hancur.


Renata yang merasa prihatin dengan keadaan Denisa saat ini pun berujar.


" Kita bantu kok nanti." Dan itu di angguki oleh Bobi.


" Tidak usah teman-teman, kalian pasti capek. Kalian pulang saja!"


" Benar kamu tidak apa-apa sendiri di rumah?" tanya Renata dengan mata tak luput dari Doni.


" Iya, aku akan baik-baik saja," ucapnya meyakinkan.


Setelah diyakinkan oleh Denisa sendiri, Renata dan Bobi pun pulang meski dengan berat hati meninggalkan sahabatnya itu.


" Tunggu apa lagi. CEPAT LAKUKAN! bereskan semua kekacauan ini!"

__ADS_1


Denisa terkesiap karena bentakan Doni. Setelah memerintah anaknya, Doni pun pergi ke kamar istrinya untuk merebahkan tubuhnya sejenak.


Denisa melakukan apa yang di perintahkan oleh sang ayah. Kali ini ia tak mau protes ataupun berdebat. Perasaannya saat ini saja sudah cukup membuat hatinya kalut, ia tak mau menambah masalah untuk dirinya lagi lewat perdebatan nya dengan sang ayah seperti biasanya.


Denisa pun mengerjakan apa yang di perintahkan oleh ayahnya tersebut dengan tuntas. Denisa mengusap keringat yang mengucur dari pelipisnya setelah selesai bekerja.


" DENISA!!"


Baru saja ingin menempatkan bo**ngnya di kursi, berniat untuk melepas lelah setelah melakukan tugas rumah. Sang ayah sudah teriak-teriak saja dari dalam kamar.


" Iya ayah." Denisa segera menghampiri sang ayah, takut ada teriakan kedua dan berikutnya.


" Kenapa lagi ayah?"


" Belikan aku nasi Padang! CEPAT! aku sudah lapar." Doni yang kini sedang rebahan di kasur, dengan seenaknya memerintah dengan kasar.


" Uangnya?" Denisa pun menadahkan tangan, meminta uang untuk membeli nasi Padang yang diinginkan ayahnya.


Tiba-tiba saja Doni berdiri dari tempat tidurnya dan menendang benda-benda di sampingnya dengan kasar, seolah tak terima karena Denisa memintainya uang.


" Mau minta uang lah yah, kan ayah yang minta di belikan nasi Padang."


" Pakai uangmu! aku tidak mau tau kau dapat dari mana uang itu, yang penting sekarang, CEPAT BELIKAN AKU NASI PADANG, AKU SUDAH SANGAT LAPAR!!" Doni mengatakannya dengan intonasi yang turun naik.


Denisa menatap jengah pada sang ayah. Jika saat ini ia tidak sedang bad mood, mungkin sudah babak belur Doni dibuatnya. Dan lagi pun, Denisa masih mengingat pesan Nyi madam untuknya dan Angela.


Dengan sangat terpaksa, Denisa pergi untuk mencari pesanan ayahnya itu tanpa berbekal uang. Dia juga terpaksa memakai uangnya yang belum sempat ia belanjakan tadi untuk membeli nasi Padang pesanan Doni. Padahal dia sendiri belum makan hingga siang ini karena lupa. Jika uang itu di belanjakan untuk membeli nasi Padang, otomatis Denisa tak bisa membeli makan siang untuk dirinya sendiri.


Denisa terpaksa berjalan kaki untuk membeli nasi Padang yang tempatnya lumayan jauh tersebut. Bagaimana tidak, uangnya sudah habis tak tersisa lagi untuk membayar angkutan umum.


Dengan panas yang lumayan terik siang itu, Denisa berjalan menyusuri pinggir jalan raya yang ramai akan kendaraan

__ADS_1


Suara bising dan deru kendaraan seakan memekakkan telinga. Ditambah hari yang cukup panas membuat kulit Denisa yang lumayan putih tersebut menjadi agak kemarahan karena terkena paparan sinar matahari langsung.


Tiba-tiba mata Denisa menangkap sesuatu yang mencurigakan. Dengan jarak yang lumayan dekat hingga jelas terlihat olehnya, Angela yang berjalan bergandengan bahkan sesekali bergelayut manja pada lengan seorang laki-laki yang tentunya itu bukan Alex. Karena Denisa mengenal betul postur tubuh dan gaya berjalan Alex, dan itu tidak seperti yang dia lihat sekarang. Mungkin juga dia pernah melihat sebelumnya pria yang bersama Angela tersebut, hanya saja dia lupa, siapa dan pernah bertemu di mana.


Dengan bahagianya mereka berjalan menuju sebuah hotel mewah.


( Untuk apa siang-siang begini pergi ke hotel, apa ada meeting? tapi kenapa hanya berdua, dan terlihat sangat mesra?. Ah sudahlah, mungkin ada urusan lain yang sangat penting. Aku tidak boleh berprasangka buruk begini.) Denisa menggeleng- gelengkan kepalanya. Menjauhkan prasangka buruk yang sempat singgah. Tak ingin berlarut-larut dalam prasangka buruk, Denisa kembali melanjutkan perjalanannya.


Sedangkan Natasya, Nanci dan Jeje yang sudah selesai makan di restoran yang mereka pilih tadi. Kini mereka malah sedang bingung karena sudah beberapa jam Angela meninggalkan mereka, namun sampai saat ini belum kembali juga. Bahkan saat di hubungi pun, nomornya selalu tidak aktif. Mereka hanya takut terjadi sesuatu pada Angela, padahal besok dia kan akan melangsungkan resepsi pernikahan. Apa yang akan mereka katakan nanti kepada Alex jika sampai sore Angela tak kunjung kembali juga.


Karena kehabisan akal, mereka pun dengan terpaksa menelpon Alex dan memberi tahu semuanya. Dan tentu saja Alex terkejut, bahkan yang lainnya juga.


Tanpa pikir panjang, Ansel, Septian dan Alex langsung pergi untuk mencari Angela. Ingin menghubungi polisi pun mereka belum bisa, karena hilangnya Angela belum tercatat dua kali dua puluh empat jam.


Sudah puas mereka mencari, sudah semua tempat pula mereka kunjungi, namun hasilnya tetap sama, yaitu nihil. Hari pun sudah mulai sore


Mereka merasa putus asa karena belum kunjung menemukan Angela. Di tengah-tengah rasa lelah mereka, tiba-tiba nomor yang tak di kenal menghubungi Alex. Karena penasaran, Alex pun segera mengangkat telpon tersebut.


{ Hallo bro!} suara itu terdengar ramah menyapa Alex.


" Siapa kau?" tanya Alex yang tak ingin basa-basi.


{ Apa kau lupa dengan suaraku? aku ini temanmu, masak kau lupa?. Bey the way, tadi aku meminjam istrimu sebentar, tapi kau tenang saja! aku akan segera mengembalikan nya padamu secepatnya, asalkan kau berikan aku separuh saham mu pada ku! bagaimana?}


"Jangan mengada-ada kau! aku tidak akan memberikan barang secuil pun milikku padamu. Sekarang CEPAT, lepaskan Angela!"


{ Etsss, jangan buru-buru dong! apa kau tidak ingin tau siapa aku?}


" Aku tidak tertarik untuk mengetahui pria pengecut seperti mu, yang hanya bisa memanfaatkan orang lain demi kepentingannya sendiri. Sekarang cepat beri tahu dimana Angela?"


{ Alex, tolong aku!}

__ADS_1


Samar-samar Alex mendengar suara wanita yang memanggil namanya. Dan tentu saja dia mengenal suara tersebut.


" Angela!!"


__ADS_2