Jiwa Yang Berbeda

Jiwa Yang Berbeda
Pergi Ke Pesta


__ADS_3

Episode tiga puluh sembilan (39)


" Katakan dimana kau sekarang? aku akan memberikan berapapun yang kau minta, asal kau lepaskan Angela sekarang!"


Emosi Alex semakin memuncak setelah mendengar suara Angela yang terdengar sangat ketakutan.


{ Owa waw. Oke oke, kau cukup memberiku seratus juta saja untuk menebus Angela, bagaimana?}


" Kirim alamatnya sekarang?"


Setelah alamat dikirim, Alex segera meluncur ke lokasi.


Tak lama mereka sampai di bangunan tua yang tak terawat lagi. Alex, Ansel dan Septian pun segera masuk kedalam bangun tua tersebut.


Samar-samar mereka mendengar suara seorang wanita yang berteriak, namun tertahan karena sebuah benda yang menyumpal mulutnya. Dan benar saja, di sana mereka melihat Angela yang diikat di sebuah kursi dengan mulut dan mata yang di lakban.


" Angela!"


Prok prok prok


Seseorang datang dari arah belakang mereka, dan ternyata itu adalah Adrian. Septian dan Alex bersiap siaga karena ternyata Adrian tak sendiri, dia bersama anak buahnya yang terdiri dari tiga orang.


" Akhirnya kalian datang juga," ucap Adrian sambil menyeringai.


" Apa maksudmu menyekap Angela, bukankah dia adalah temanmu?"


" Ya, mungkin menurutmu dia adalah temanku, tapi bagi ku dia adalah cinta pertama dan terakhirku." Adrian memelankan suaranya pada akhir kalimat, seolah berbisik pada Alex.


Sedangkan Ansel diam-diam melepaskan semua tali dan lakban yang melekat pada tubuh Angela.


" KURANG A*AR KAU. Jadi selama ini kau menyukai kakak ipar?" Septian terkejut karena baru tahu hubungan mereka yang sebenarnya. Sedangkan Alex nampak biasa saja mendengarnya, seolah sudah mengetahui semuanya dari awal.


Adrian mengangkat kedua bahunya dan menyeringai.


" Lalu apa maksudmu menculik kakak ipar?"


" Karena ternyata dia tidak menjadi milikku. Dia lebih memilih pria bren*sek ini dari pada aku," tunjuk Adrian pada Alex.


" Berarti kakak ipar pandai memilih. Dia tidak mungkin memilih lelaki yang tidak jelas kelakuan dan asal usulnya sepertimu," cibir Septian.

__ADS_1


" BERANINYA KAU!!" Adrian merasa tersinggung dengan ucapan Septian. Lantas Adrian menyuruh anak buahnya untuk menyerang mereka bertiga.


Meskipun mereka kalah jumlah, mereka dengan mudah mengalahkan Adrian dan anak buahnya. Akhirnya Adrian terkulai lemah dan tak mampu lagi melawan. Alex dan yang lainnya pun segera membawa Angela keluar dari gedung tua tersebut. Bahkan Alex juga tak jadi memberikan uang yang dibawanya kepada Adrian.


" Alex, aku takut." Angela langsung memeluk Alex.


" Kau sudah selamat sekarang. Mari kita pulang sekarang," ucap Alex dengan lembut.


Angela mengangguk dan langsung menuruti perintah Alex untuk masuk kedalam mobil dan pulang.


Pagi ini Denisa masih betah berada di kasurnya. Saat ini ia sedang termenung sambil memeluk lututnya. Pikirannya bimbang, ia ragu untuk pergi atau tidak ke acara Alex dan Angela.


Ya, hari ini adalah hari dimana Angela dan Alex melangsungkan resepsi pernikahannya. Denisa takut tak sanggup untuk bertatapan dengan Alex nanti. Dia takut akan membuat malu di sana nanti.


Kreeeek


Tiba-tiba suara derat pintu membuyarkan lamunannya.


" Kamu tidak jadi pergi Nak?" tanya Lita yang memang sudah mengetahui tentang resepsi pernikahan Alex dan Angela.


" Entahlah Bu, Nisa bingung," ujarnya dengan tatapan kosong.


" Kamu bisa Nisa, kamu pasti bisa," ujar sang ibu berupaya untuk menguatkan. Dia memegang pundak Denisa dengan lembut dan penuh kasih sayang.


" Nisa ragu Bu."


" Iya ibu mengerti Nak, ibu mengerti sekali perasaan kamu. Ibu tidak memaksa. Lebih baik sekarang kamu istirahat lagi saja!"


Sebagai seorang ibu dan seorang wanita, Lita pastilah tahu perasaan anaknya saat ini. Jika banyak yang berpikir bahwa wanita yang bisa bela diri seperti Denisa akan selalu kuat, mereka tak sepenuhnya benar. Mungkin fisiknya akan kuat, namun tidak dengan batinnya. Siapa saja orangnya, jika itu sudah menyangkut tentang perasaan, siapa saja akan rapuh batinnya, begitu juga dengan Denisa yang memang belum berpengalaman soal perasaan. Intinya, kuat batin itu bukan tentang siapa dia, tapi seberapa banyak pengalamannya tentang perasaan dan cobaan hidup.


Setelah mendapat anggukan dari Denisa, Lita membantu anaknya itu untuk merebahkan tubuhnya, lalu menyelimutinya.


" Kamu istirahat saja dulu! ibu mau membuatkan mu sarapan dulu." Setelah mengatakan itu, Lita pun pergi ke dapur. Setelah selesai memasak, Lita pun berniat untuk membawakan hasil masakannya tadi pada Denisa.


" Loh, kok kamu sudah rapi? jadi perginya?" tanya Lita ketika melihat Denisa berpenampilan rapi.


Lita memandang heran pada penampilan Denisa yang tak seperti biasanya. Pasalnya Denisa begitu cantik dengan menggunakan dress motif bunga-bung dengan panjang selutut, sepatu pansus, make up tipis-tipis, dan dengan gaya rambut yang di Cepol menggunakan jepitan kecil.


Gaya manis namun terlihat simpel tersebut membuat mata Lita terbelalak, antara tak percaya anaknya bisa secantik itu, sekaligus merasa sangat kagum.

__ADS_1


" Kamu cantik sekali Nisa," ujar sang ibu dengan tatapan tak beralih dari Denisa.


" Benarkah?" Lita mengangguk yakin, lalu mengacungkan kedua jempolnya pada Denisa.


" Kamu belajar dari mana dandanan seperti ini?"


" Sosial media lah Bu. Kan sekarang banyak tutorial makeup di sana."


" Wah, hebat dong." Lita berjalan ke arah anaknya dan meletakkan makanan yang ia bawa tadi di atas tolet.


" Oh iya Bu, apa malam tadi ayah pergi lagi?"


" Iya, setelah makan nasi Padang yang kamu beli semalam, dia langsung pergi lagi," jawab Lita.


" Apa dia macam-macam lagi sama ibu?"


" Tidak Nak. Dia cuma minta uang lima puluh ribu saja kok, katanya buat beli bensin."


Denisa hanya menyeringai sambil geleng-geleng kepala. Entah apa yang di pikirkan nya tentang Doni. Dia sudah terbiasa melihat tingkah ayahnya yang semakin hati semakin tak terkendali. Ia pun sudah lelah jika harus terus membahas tentang ayahnya.


" Kami pergi sama siapa?" tanya Lita.


" Sendiri Bu, memangnya kenapa?"


" Tidak apa-apa, hanya saja ibu khawatir jika tidak ada yang menemanimu."


" Tidak apa Bu. Jangan khawatir ya!"


Meskipun ragu, akhirnya Lita mengangguk dan melepaskan anaknya itu untuk pergi sendirian.


Sebenarnya Lita hanya takut Denisa tak kuat melihat Alex dan Angela akan bersanding nanti. Jika Denisa sedih, siapa yang akan menenangkannya jika ia sendiri.


Denisa memesan taksi online untuk berangkat. Bukan apa-apa, jika dia memakai ojek ataupun angkutan umum, dia hanya tak mau dandanannya sia-sia karena di terpa angin atau acak-acakan karena berdesakan.


Setelah beberapa menit, akhirnya Denisa sampai di depan gedung yang namanya sudah tertulis di kartu undangan. Banyak tamu yang datang silih berganti, terutama tamu dari kalangan konglomerat tentunya.


Gedung besar dengan jalan yang di bentangi karpet merah tersebut terlihat begitu indah dan megah dengan hiasan di setiap sudutnya.


Dari luar saja sudah nampak begitu indah, apalagi didalamnya. Begitulah orang kaya, rela mengeluarkan uang banyak demi acara-acaranya, apa lagi acara sekali seumur hidup begini.

__ADS_1


Seumur hidup? entahlah. Denisa jadi berpikir yang iya-iya dan berharap yang tidak-tidak karena memikirkannya.


__ADS_2