Jiwa Yang Berbeda

Jiwa Yang Berbeda
Di Kunjungi


__ADS_3

Episode dua belas (12)


Angela dan Denisa pun saling pandang. Bagaimana bisa wanita itu tahu bahwa ada orang di luar.


Namun dengan langkah ragu-ragu, mereka berdua pun tetap masuk kedalam rumah orang pintar tersebut.


Dengan perlahan mereka mulai memasuki rumah yang sepi dan gelap itu. Suasana rumah tersebut nampak sangat mencekam dan begitu gelap, hanya ada sedikit cahaya yang masuk di sela-sela papan rumah yang agak renggang. Kabut samar-samar di dalam rumah tersebut semakin mendukung kengerian didalamnya.


" Duduklah!!" ucap seorang wanita yang sedang duduk di depan meja yang di atasnya terdapat bola kristal yang memancarkan cahaya yang berkilatan.


Angela dan Denisa pun duduk saling berdempetan, lebih tepatnya Denisa lah yang merapatkan tubuhnya pada Angela karena merasa takut.


" Hemmmm, kemarikan tangan kalian!" perintah wanita itu dengan mata terpejam.


Kembali Angela dan Denisa saling pandang sebelum akhirnya memberikan masing-masing sebelah tangan mereka kepada wanita itu.


" Sejak kapan kalian seperti ini?" tanyanya tiba-tiba.


Sesaat Angela dan Denisa heran dan saling pandang. Mereka tahu apa yang di maksud wanita itu, mereka hanya heran bagaimana wanita itu tahu tentang mereka.


" Sejak tiga bulan lalu." Meskipun masih merasa heran, namun Angela tetap menjawab pertanyaan orang pintar tersebut.


Wanita yang di sebut orang pintar tersebut pun mulai melakukan ritualnya. Ia pun menutup matanya sambil mulutnya tak berhenti berkomat-kamit, seolah sedang membaca mantra.


" Jadi bagaimana Bu, eh Tante," ucap Denisa yang tak tahu harus memanggil wanita itu dengan sebutan apa.


" Panggil aku Nyi madam!" ucapnya.


" Oh iya, baiklah Nyi madam."


" Lalu bagaimana Nyi, sebenarnya apa yang terjadi pada kami, mengapa kami bisa seperti ini?" kini Angela lah yang bertanya.


" Hemmm. Apa sebelumnya kalian pernah membuat kesalahan?" tanya Nyi madam sambil memutar-mutar tangannya di atas bola kristal.


" Kesalahan, maksudnya bagaimana Nyi?" tanya Angela yang di angguki oleh Denisa.


" Apa sebelum kejadian, kalian pernah menyakiti hati seseorang?"


Untuk yang kesekian kalinya mereka pun saling pandang, lalu mencoba mengingat-ingat kembali kesalahan apa yang telah mereka lakukan.


" Saya ingat Nyi," ucap Angela.

__ADS_1


" Sebelum kecelakaan, saya sempat bertengkar dengan ayah saya. Bukan hanya adu mulut saja, saya juga sempat berkelahi dengannya," jawab Angela dengan jujur.


" Hemmm," kata Nyi madam sambil mengangguk-angguk.


Berbeda dengan Nyi madam yang tampak biasa saja menanggapi cerita Angela, Denisa justru sangat terkejut dan tak menyangka dengan apa yang di ceritakan Angela tersebut.


Ingin rasanya ia bertanya, apa yang terjadi pada Angela dan ayahnya, namun ia tak mungkin menanyakan hal itu di sana. Ia pun terpaksa mengurungkan niatnya dan bertanya nanti saja.


" Lalu kau?"


Denisa terkesiap ketika Nyi madam memanggilnya yang seketika itu sedang melamun.


" Sa-saya Nyi?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.


" Apakah di tempat ini ada orang lain selain kalian berdua?. Siapa lagi jika bukan kau," ucap Nyi madam yang agak kesal karena Denisa sempat ngelg ketika ditanya.


" Saya minta maaf Nyi, kata Denisa merasa tak enak hati.


" Sebenarnya sebelum kecelakaan, saya sempat bertengkar dengan pacar saya. Dia cemburu karena saya berteman dengan seorang pria yang dia anggap menyukai saya. Tapi saya tidak terima dan terus menantangnya hingga membuat dia sakit hati," jelas Denisa.


Nyi madam kembali mengangguk setelah mendengar cerita Denisa, sama halnya dengan Angela tadi.


" Kalian harus meminta maaf kepada orang yang telah kalian sakiti, dan ingat! setelah kalian meminta maaf, kalian harus kembali lagi ke sini!"


" Meminta maaf Nyi?" tanya Angela merasa ragu.


" Ya. Karena kalian mendapat kutukan dari kesalahan kalian sendiri, maka dari itu, kalian juga yang harus mengakhirinya."


" Bagaimana caranya Nyi? sedangkan mereka tidak mengenali masing-masing dari raga kami, apa mereka percaya bahwa jiwa kami tertukar?" ucapnya yang di angguki oleh Denisa.


" Untuk itu saya tidak bisa membantu, sebab itu adalah tantangan tersendiri untuk kalian."


" Baiklah Nyi, kami sanggup," kini Denisa yang menyanggupinya. Angela pun menatap ke arah Denisa dengan tatapan tak terima. Namun Denisa tak perduli dengan tatapan itu. Yang terpenting baginya, dia bisa kembali ke tubuh aslinya.


" Apakah ada syarat khusus lainnya yang harus kami lakukan lagi, Nyi?" tanya Denisa lagi.


" Tidak ada, hanya saja setelah jiwa kalian sudah kembali ke tubuh masing-masing, kalian tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama. Atau tidak, kehidupan kalian akan di landa kesusahan terus menerus."


" Baiklah Nyi," ucap Denisa. Namun berbeda halnya dengan Denisa, Angela terkejut ketika mendengar peringatan Nyi madam yang terakhir itu. Bagaimana bisa dia tidak memberi efek jera lagi kepada sang ayah yang selalu main kekerasan kepada ibunya, juga selalu mabuk dan berjudi.


Apakah dia harus diam saja ketika nanti ibunya di kasari kembali oleh Doni? entahlah.

__ADS_1


Setelah urusan mereka selesai, Angela dan Denisa pun pamit pulang kepada Nyi madam.


Di tempat lain, Alex yang baru saja tiba di bandara bersama dua bodyguard nya pun langsung mencari keberadaan Ansel dan Septian beserta keluarga kecil mereka.


Dan tak lama, dari jarak yang tak begitu jauh, Septian dan Ansel pun melambai-lambai kan tangan mereka ke arah Alex yang memang juga sudah menyadari keberadaan mereka.


" Bang Alex!!"


Alex segera menghampiri Ansel dan Septian yang juga berlari ke arahnya dan langsung memeluk Alex secara bersamaan hingga membuat Alex merasa risih karena perbuatan mereka.


" Hey hey hey kalian, bisakah tidak selalu membuat onar di mana-mana?" kata Alex. Namun nampaknya mereka tak menggubris perkataan Alex dan terus memeluk tubuh Alex hingga memutar-mutarnya.


" Hentikan!! atau aku pa*ahkan leher kalian," gertak Alex pada mereka.


Dan akhirnya mereka pun melepaskan pelukannya. Bukan karena takut akan gertakan Alex, mungkin saja mereka sudah lelah. Karena mereka pun sudah terbiasa dengan tingkah spek dan dingin yang di miliki Alex.


Menurut mereka, itu adalah keunikan tersendiri dari diri Alex. Tak hanya Ansel dan Septian yang berpendapat seperti itu, namun Julian, Darrell, Raffa dan Kenzie pun demikian.


" Wah bang Alex, kami sangat merindukanmu," ucap Ansel sambil menepuk pundak Alex.


" Benarkah?" jawab Alex dengan wajah datar.


" Bahkan aku sering memimpikan, mu kau tahu?"


" Ku rasa, mimpimu terlalu berlebihan, jawabnya dengan ekspresi yang sama seperti sebelumnya.


" Bang, kenalkan. Ini istriku." Kini giliran Septian yang berbicara dan memperkenalkan istrinya pada Alex.


Alex pun menyalami istri Septian serta istri Ansel secara bergantian.


" Maafkan aku karena tidak datang ke pesta pernikahan mu. Aku sangat sibuk waktu itu," kata Alex pada Septian.


" Ya aku mengerti. Lagi pula, hanya pesta kecil-kecilan saja. Yang hadir hanya sahabat dan kerabat dekat saja," jawab Septian.


" Ya aku mengerti."


" Paman paman!!," panggil Jeje putra Ansel kepada Alex.


Anak kecil yang bernama lengkap Jastian Alfaro tersebut berdiri tepat di bawah Alex. Karena tubuhnya yang amat kecil, ia harus mendongak dulu agar bisa melihat wajah Alex.


Alex pun berjongkok untuk mensejajarkan tingginya kepada Jeje, lalu tersenyum lembut kepada anak kecil tersebut, sambil mengusap-usap kepalanya. Sangat berbeda ketika ia bersama orang dewasa. Sebab, Alex memang menyukai anak kecil.

__ADS_1


__ADS_2