Jiwa Yang Berbeda

Jiwa Yang Berbeda
Kebohongan


__ADS_3

Episode sembilan belas (19)


Tak terasa, sampailah mereka di dalam kamar. Namun bukannya kamar Angela, Alex malah membawa Angela ke kamarnya.


Untungnya tak ada yang melihat kelakuan mereka saat di bawah tadi, semua penghuni apartemen sudah terlelap, termasuk Ansel yang tadi juga ikut mengantar Nanci ke rumah sakit.


Alex langsung menghempaskan tubuh Angela ke atas kasur. Dan tanpa diduga, Angela terjatuh dengan gaya sensual, hingga membuat Alex merasa gerah, dan membuka kemeja hitam yang dipakainya, hingga hanya tersisa tank top nya saja.


Untuk kedua kalinya, Angela menelan ludahnya karena melihat otot-otot perut Alex yang nampak menonjol bak roti sobek itu.


" Hufff. Kau memancingku, hah?" ucap Alex sambil naik ke atas kasur.


" T-tidak kak," jawab Angela sambil mundur sedikit demi sedikit, karena Alex semakin mendekatinya.


Tiba-tiba Alex membuka seluruh pakaiannya hingga hanya tersisa ****** ******** saja, dan itu membuat Angela merasa gugup dan takut.


Namun Alex malah merebahkan dirinya di samping Angela dengan posisi tengkurap.


" Pijat tubuh ku!!" perintahnya.


" P-pijat kak?"


" Iya, pijat. Menurutmu?"


" Ah tidak."


" Itu adalah hukuman untukmu karena kau telah membuatku menunggu lama tadi waktu di rumah sakit," ucapnya.


Akhirnya Angela bisa bernafas lega. Karena ternyata Alex memintanya untuk memijat, bukan hal lainnya.


Padahal tadi dia sempat berpikir macam-macam tentang Alex, bahkan dia sampai menganggap Alex adalah pria dengan se*sual yang tinggi. Buktinya, setiap Alex berdekatan dengannya, Alex selalu meminta hal itu, dan itu artinya, Alex dan Angela yang dulu sering melakukan hal terlarang itu.


Meskipun saat ini Alex hanya memintanya untuk memijat, tapi tetap saja penampilannya membuat Angela merasa tidak nyaman.


" Ayo pijat aku sekarang!!" kata Alex karena Angela tak kunjung memijatnya.


" I-iya kak."


Angela mulai menyentuh lembut sejengkal demi sejengkal kulit putih mulus itu dengan tangan lentiknya. Ia memang tak begitu piawai dalam hal pijat memijat, namun itu mampu membuat Alex merasa rileks.


Entah mengapa sifat kasar dan tomboy nya seakan hilang beberapa bulan ini, ketika dia bersama Alex. Alex seolah mampu membuat sifat bawaannya itu hilang dan berganti dengan sifat manja, dan itu hanya berlaku ketika dia bersama Alex saja.


" Awwwsh. Pelan-pelan, Angela!" ucap Alex dengan suara lembut.


" Ini sudah pelan kak."


" Tidak Angela, itu sangat kasar. Biasanya pun kau tak seperti itu. Tanganmu seperti pekerja bangunan saja," cibir Alex, dan itu membuat Angela cemberut.


Mungkin benar kata Alex, Angela yang dulu dan sekarang memang berbeda. Jika yang dulu lemah lembut dan bersikap sangat manja, berbeda dengan Denisa yang menjadi Angela saat ini, tomboy dan cenderung kasar. Mungkin karena ia juga juara karate.


Meskipun begitu, Angela tetaplah seorang wanita yang terkadang memiliki sifat manja kepada orang yang ia cintai. Mudah kesal dan cemberut, jika itu tidak sesuai keinginannya.

__ADS_1


" Ih kakak. Masak aku di bilang seperti kuli bangunan," kesal Angela.


Terdengar samar-samar, Alex seperti sedang terkekeh, lalu tiba-tiba membalikkan tubuhnya menjadi telentang. Dan itu tentunya akan membuat mata Angela ternoda dengan penampakan di depan matanya.


Refleks Angela pun menutup matanya dan itu membuat Alex terheran.


" Kau kenapa?" tanyanya.


" Kakak bisa menutupi tubuh kakak tidak?!"


" Memangnya kenapa dengan tubuhku?" katanya sambil melirik ke seluruh tubuhnya sendiri.


" Itu,,,,,, kakak menodai mataku dengan itu," jawab Angela sambil menunjuk ke arah bagian bawah tubuh Alex.


Sontak saja Alex mengikuti arah telunjuk Angela, lalu setelahnya ia pun tersenyum jail.


" Buka matamu! sudah ku tutup seluruh tubuhku dengan bad cover," ucapnya.


Angela pun menurut, ia pun segera membuka matanya perlahan-lahan sambil sedikit mengintip.


" Bagaimana, benarkan aku sudah menutupi seluruh tubuhku?"


" Iya. Awas ya kalau sampai di buka lagi!"


" Di buka seperti apa? seperti ini?!" Alex pun menyingkap bad cover nya dan memasukkan serta Angela kedalamnya.


" Aaaaaa kakak!!" teriak Angela.


" Kak please, ini sudah malam."


" Iya tahu."


" Ya maka dari itu, kita harus segera tidur!"


Setelah mengatakan itu, Angela pun langsung mendorong tubuh Alex agar menjauh darinya. Setelah berhasil Angela tanpa berkata apa-apa langsung pergi ke kamarnya dan tidak menghiraukan panggilan Alex lagi.


💓 Rembulan!!🌙


Pada siapa aku harus bercerita tentang keluh kesah ku malam ini?


Dapatkah kau menyimpan rahasia ini?


Aku bingung rembulan.😔


Bingung akan kisah rumit yang tak kunjung merakit.👩‍❤️‍👩


Apakah kisah ini akan singkat, sesingkat kehadiranmu malam ini, rembulan?💞


💓Apakah kisah ku akan menjadi sejarah untuk aku kenang saja?.


Akan aku ceritakan nanti kepada anak cucuku, dan mengatakan bahwa pengalaman ini sangatlah berharga.

__ADS_1


💞 Ikhlaskan hatiku jika dia tak bersamaku lagi suatu saat nanti 💓


Bukannya tidur, Angela malah menulis coretan-coretan yang berisi tentang perasaannya saat ini.


Kegundahan membuatnya tak bisa memejamkan mata barang sedetikpun.


Ia terlalu memikirkan bahwa besok adalah hari di mana ia akan mengakui bahwa dia bukanlah Angela, melainkan Denisa.


Dan hari esok juga ia akan meninggalkan tubuh Angela dan kembali menjadi Denisa yang setiap harinya hanya berkhayal bisa menjadi nyonya Alexandra Darbara.


Angela mencoba memejamkan matanya dan memaksakan diri untuk bisa terlelap. Namun baru beberapa jam terlelap, suara kicau burung di pagi hari telah mengapa gendang telinganya. Dan ia pun terpaksa harus bangun dan menyiapkan sarapan seperti biasanya. Dan mungkin ini untuk terakhir kalinya ia melakukannya.


Dengan mata yang masih berat, Angela memaksakan diri untuk bangun dan membersihkan diri, lalu setelah itu ia pun pergi ke dapur.


Tidak seperti pagi-pagi biasanya yang selalu makan roti dan selai serta segelas susu, pagi ini Angela sengaja memasak menu spesial sebagai kesan terakhir di apartemen itu.


" Kak Angela, kok pagi-pagi sekali kamu bangun?" ucap Natasya yang baru saja tiba.


" Iya Nat, aku sudah terbiasa seperti ini," Natasya berkerut heran, namun karena tak ingin bertanya lebih jauh, Natasya pun mengangguk saja.


" Kakak bikin apa?" tanya Natasya sambil menjenguk kedalam wadah steenlis yang Angela pegang.


" Mau bikin burger," jawabnya sambil terus menyusun daging dan sayuran kedalam roti.


" Aku bantu ya kak?" Angela mengangguk lalu mereka pun menyelesaikan pekerjaan mereka dengan segera.


" Wah sudah siap nih," ucap Ansel dari jarak yang masih agak jauh dari dapur.


" Kenapa menu burger pagi-pagi begini?" tanya Alex sambil menarik kursi lalu mendudukinya.


" Tidak ada apa-apa, hanya ingin masak menu ini saja," jawabnya dengan seulas senyum tipis.


" Ah sudahlah, menu apa saja bebas. Aku sudah lapar." Ansel pun langsung melahap burger tersebut, begitupun dengan yang lainnya.


" Kak Alex!!" panggil Angela setelah selesai makan.


Dan kini mereka sedang berada di balkon kamar Alex.


Alex yang mendengar suara Angela pun langsung menoleh.


" Ada apa, kenapa wajahmu terlihat sangat gelisah?" tanya Alex.


" Emmmm,,,, itu,,,,, aku ingin membicarakan sesuatu kepada kakak," ucap Angela sambil meremas tangannya.


" Bicara soal apa?"


" Tentang aku," jawabnya singkat, sambil menunduk serta memejamkan matanya.


" Kau, memangnya kau kenapa?"


" Sebenarnya aku sedang berbohong."

__ADS_1


Sontak saja Alex membulatkan matanya mendengar pengakuan Angela.


__ADS_2