
Episode tujuh (7)
" KAU!?" ucap Alex yang baru saja keluar dan kebetulan melihat pria yang dibencinya bertamu kerumahnya.
Tangannya mengepal kuat ketika melihat Adrian dengan santai dan tanpa rasa bersalahnya, duduk tanpa rasa sopan sedikitpun sebagai seorang tamu.
Tak hanya itu. Jika mengingat kejadian beberapa hari lalu, kembali membuat darahnya seakan mendidih. Penghianatan itu tak bisa ia terima, meskipun ia tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Akan tetapi jika seorang pria datang ke apartemen pribadi milik seorang wanita, lalu apa yang akan terjadi di sana? pikirannya selalu negatif tentang itu.
" Hay bro," sapa Adrian kepada Alex yang masih setia mematung sambil menatap tajam kearah Adrian.
Adrian pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Alex dengan wajah angkuhnya.
" Untuk apa kau datang ke sini?" tanya Alex dengan wajah datar dan dingin.
" Untuk bertemu dengan sahabatku, untuk apa lagi?." Dengan gaya sombongnya, Adrian berjalan ke arah Angela.
" Iya tidak sayang?." Adrian lantas merangkul pundak Angela tanpa rasa malu.
Tentu saja Angela merasa risih, karena ia memang baru pertama kali melihat orang yang sok akrab dengannya tersebut dan mencoba melepaskan diri dari Adrian. Angela pun menggerakkan badannya, namun Adrian semakin erat merangkulnya.
Hal itu tentunya terpantau oleh Alex, namun ia seolah tak perduli. Karena itu memang sudah pemandangan biasa saja baginya. Padahal Alex tidak tahu saja bahwa Angela sangat risih karena memang ia tidak mengenal Adrian seperti sebelumnya, karena memang dia bukanlah Angela yang sebenarnya.
Angela menatap menghiba pada Alex, berharap Alex mau membantunya untuk mengusir Adrian. Sebenarnya ia bisa saja melakukanya sendiri, tapi Angela hanya ingin mendapat perhatian dari orang yang ia kagumi itu.
" Lepas ih! kalau tidak mau lepas, aku ken*ut nih," ancam Angela. Sontak saja Alex dan Adrian menatap Angela dengan wajah tak mengerti nya.
Seorang Angela Merkel bisa serendom dan sej*rok itu, membuat mereka bingung harus tertawa atau terkejut.
Hal itu juga membuat Adrian ilfil dan segera melepaskan rangkulannya dari Angela dengan muka ji*iknya.
" Kenapa melihatku seperti itu? apa ada yang aneh padaku?" katanya menunjuk dirinya sendiri.
Alex dan Adrian menganguk secara bersamaan dengan mimik wajah masing-masing.
__ADS_1
" Kau sangat jo*ok mengatakan hal itu, apa lagi di depan para lelaki," jawab Adrian masih dengan wajah ilfil nya.
" Memangnya kenapa, bukankah itu hal wajar? apa kau tidak pernah buang angin?" ucap Angela dengan wajah polosnya.
Alex terkekeh puas dengan ucapan Angela. Dia seakan mendapatkan Angela baru yang sebelumnya tak pernah ia dapatkan dari diri Angela yang lama.
Cukup menarik menurutnya ketika melihat Angela yang tidak punya rasa jaim sedikitpun.
" Benarkan yang ku katakan kak Alex?"
Seketika Alex langsung menahan tawanya dan menatap serius pada Angela. Padahal saat ini perutnya sedang tergelitik karena tingkah lucu Angela.
" A- iya benar, benar sekali." Namun setelah itu Alex menggigit bibirnya untuk menahan tawanya agar tidak meledak.
" Arghhhh. Tidak asik berbicara dengan mu. Aku pergi." Adrian merasa kesal karena sikap Angela yang tak seperti biasanya. Ia lantas meninggalkan kediaman Alex dengan perasaan kesal.
" Apakah dia kesal? seperti anak kecil saja," gumam Angela setelah kepergian Adrian.
" Katakan pada ku, drama apa lagi yang kau buat?" tanya Alex sambil melipat kedua tangannya, bak seorang detektif yang sedang mengintrogasi.
" Jangan berpura-pura tidak tahu!"
Agak lama Angela berfikir, dan akhirnya dia pun baru sadar bahwa saat ini dirinya sedang menjadi Angela dan bukan Denisa.
" Ohhhhhhhhhhh itu, apa kakak lupa bahwa saat ini aku sedang lupa ingatan?" ucap Angela beralasan.
" Lalu?"
" Ya mana aku ingat siapa saja orang yang bersamaku dulu."
" Lalu bagaimana kau bisa ingat denganku?"
( Ya karena kamu adalah orang yang ku kenal dan ku kagumi selama ini) ucap Angela dalam hati.
__ADS_1
" Kenapa diam?." Seketika lamunannya buyar karena teguran Alex.
" Ahh- oh itu. Aku juga tidak tahu soal itu. Kenapa tidak kakak tanyakan saja pada dokter?"
" Berbicara padamu sangat menyebalkan." Alex mengatakan itu sambil tersenyum miring.
" Kalau begitu siapa suruh berbicara denganku?." Giliran Angela yang di buat kesal karena perkataan Alex. Dia pun memanyunkan bibirnya sebagai ekspresi kekesalan nya.
" Ah sudahlah, jangan berbicara omong kosong terus. Apa kau mau ku tinggal?" ucapnya dengan wajah datar seperti biasanya.
" Kemana?" tanya Angela dengan nada ketus.
" Bukankah kau tadi bilang lapar? kalau tidak jadi, aku akan kembali tidur."
Seketika wajah Angela berubah senang karena Alex yang akan mengajaknya makan.
" eeee iya, jadi jadi. Tunggu beberapa menit saja ya!"
" Hemm." gumam Alex malas.
Setelah beberapa menit kemudian, Angela pun selesai bersiap. Dia cantik natural dengan kaos oblong dipadu dengan celana jeans serta rambut yang digerai, dan wajah natural tanpa polesan make up.
" Yuk!" Ajak Angela. Sontak saja Alex memandang ke arah Angela, lalu dibuat terpaku oleh penampilan Angela yang lagi-lagi tak seperti biasanya.
Angela yang sekarang lebih cantik natural di mata Alex. Jujur Alex lebih suka penampilan seorang wanita yang natural, karena menurutnya lebih imut dan sesuai umur. Dan lagi pun Alex tipe laki-laki yang tak suka ribet.
" Iya ayo!." Alex pun berjalan lebih dulu di depan Angela, membuat Angela sedikit kesal. Namun ia paham benar dengan sifat orang yang ia kagumi tersebut, memang sedikit cuek dan dingin, namun perhatian. Itulah yang membuat Angela atau Denisa mengaguminya.
Ketika mereka sudah sampai di tempat tujuan, Angela yang akan turun dari mobil pun membuka seat belt nya, namun sepertinya seat belt tersebut sedang macet hingga membuat Angela kesusahan untuk membukanya.
Alex mengetahui itu dan langsung membantu Angela untuk membukanya, dan lagi-lagi dengan wajah yang datar dan terlihat santai.
Berbeda dengan Angela yang merasakan degup jantungnya yang sangat hebat.
__ADS_1
Setelah selesai makan, mereka pun berencana akan pulang dan istirahat saja. Karena kebetulan hari pun sudah mulai petang.