JODOH DARI LANGIT

JODOH DARI LANGIT
22. SAH !!!


__ADS_3

...Memaafkan memang tidak akan merubah masa lalu, Namun setidaknya memberi ruang untuk masa depan....


...-Gus Dur-...


...🍁...


Sebuah nasihat yang tentunya tidak hanya untaian kata, namun tentu syarat akan makna di dalamnya.


Menyandang gelar Master dalam Falsafah Islam, Nyatanya tidak lantas membuat Nissa menjadi sombong dan besar kepala, Bahkan gelar yang di miliki Nissa pun lebih tinggi dari sang Abi, tetapi bagi Nissa adalah sosok Abi yang utama dan tentu setelah Nabi dan Rasulnya.


Sungguh apa yang baru saja dia dengar merupakan nasihat yang begitu teramat berharga. Merupakan bekal untuk kehidupan berumah tangga bersama Tama.


Tentu juga tidak hanya sekedar nasihat, namun juga pengalaman hidup dan perjalanan panjang sang Abi bersama Umi Fatimah dalam mengarungi bahtera rumah tangga hingga saat ini. Sungguh bukan sesuatu yang muncul begitu saja.


Seolah bunga kering di Padang pasir, yang mekar karena setetes air. Begitulah kira-kira yang Nissa rasakan. Merasa kecil dan selalu kurang dalam hal agama. Namun meski sedikit nya, tentu dapat merubah kehidupannya.


Suara riuh kembali terdengar oleh pasang telinga Nissa. Disusul beberapa rombongan yang juga setelahnya masuk kedalam masjid.


Tidak lain dan tidak buka jika mereka lah yang sedari tadi di nanti Tama bersama kedua orang tuanya, dan sanak saudaranya yang baru saja tiba.


"Pak ustadz Pengantin Pria dan keluarga sudah tiba"


Ucap salah seorang WO yang mengabarkan pada keduanya.


"Abi keluar dulu, Jangan lupa berdoa nak". Titah sang Abi


"Iya Bi" ucap Nissa seraya menganggukkan kepala.


Jarak Rumah dengan Masjid yang hanya beberapa meter membuat semua aktifitas disana begitu terasa.


Diketahui bahwa dalam pernikahan Nissa dan Tama ini, ustad Hamzah lah yang akan menikahkan keduanya.


Semua berkas dari KUA telah di siapkan diatas meja, tepat dihadapan Tama yang kini tengah duduk bersila.


Tama terlihat begitu gagah dan mempesona dibalut kemeja dan jas dengan warna senada, warna putih gading yang menjadi pilihan dari Tama dan Nissa.


Pak Fajar dan Bu Sisca serta beberapa kerabat Tama lainya juga turut hadir dalam menyaksikan hari bahagia antara Tama dan Nissa.


Kebahagiaan begitu kental terasa oleh setiap pasang mata yang ada di sana.

__ADS_1


Tut.


Sebuah pesan singkat yang masuk dalam ponsel milik Tama.


💌 Assalamualaikum Tama , Ini Tante Mirna, Maaf Tante hubungin kamu pakai handphone Inara, Tante cuma mau mengabarkan kalau Inara baru saja kecelakaan.


💌 Dia selalu memanggil namamu, Sejujurnya Tante sangat sedih melihat Inara seperti ini, Tante harap kamu bisa datang menemuinya, Tante mohon tam, sebentar saja !!"


Begitu lah kira-kira pesan singkat yang di terima Tama dari sosok yang merupakan orang tua dari Inara.sosok yang juga begitu dia kenal. Sosok yang sudah dia anggap seperti orang tuanya sendiri.


Membaca pesan tersebut seketika membuat dahi Tama berkerut, batinnya bergejolak dengan permohonan orang tua dari sahabatnya.


Hal itu tentu sedikit banyak mempengaruhi pikiran Tama, dan sedikit membuyarkan konsentrasinya saat ini.


💌 Waalaikumsalam


💌 "Maaf Tante , Tapi Tama tidak bisa"


Jawaban tegas dari Tama yang seketika menjelaskan dan menegaskan jika dirinya tidak ingin memberi sedikitpun harapan pada Inara.


Sejenak ingatan Tama kembali pada momen malam tadi , dimana Inara menghubunginya dan mengatakan perasaanya, rasa kagum dan tentu cinta nya pada Tama.


"Tam ! . Fokus !" tegur Bu Sisca


"Astagfirullah. Iya ma"


Ucap Tama setelah dirinya berhasil kembali menguasai hati dan pikirannya.


Tentu lah hanya Nissa dan akan tetap seperti itu, karena apa yang telah Tama pilih adalah sesuatu yang telah dia pikirkan secara matang, dan dia tidak salah dalam pilihannya.


Sampai pada saat Fokus Tama kembali sepenuhnya, tatkala penghulu menanyakan kesiapan pada dirinya.


Suasana terasa haru tatkala Tama menjabat tangan sang calon mertua dengan segala keyakinan yang telah dia bawa.


Menjadikan Nissa sepenuhnya halal bagi dirinya, serta menjadikan Nissa pelengkap separuh agama nya.


Dengan Mantap ustadz Hamzah menjabat tangan calon menantunya.


__ADS_1


“Ananda Pratama Wirayudha bin Fajar Junaedi. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Putri saya yang bernama Annisa Khairunisa , dengan maskawinnya berupa Seperangkat Alah Sholat, Perhiasan Emas, dan Uang Tunai Delapan puluh juta Lima Ratus Dua Puluh Tiga Ribu Rupiah.”


"Saya Terima Nikah Dan Khawinya Nissa Khairunisa Binti Muhammad Hamzah Dengan Maskawin Tersebut Dibayar Tunai"


"Bagaimana Saksi , Sah???" Ucap penghulu


"Sah"


"Sah"


Alhamdulillah .....


Seketika Penghulu Membacakan Doa kepada kedua mempelai.


اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَهُمَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ اٰدَمَ وَحَوَّاءَ وَأَلِّفْ بَيْنَهُمَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَسَارَةَ وَأَلِّفْ بَيْنَهُمَا كَمَا أَلَّفْتَ سَيِّدَنَا يُوْسُفَ وَزُلَيْخَاءَ وَأَلِّفْ بَيْنَهُمَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَيِّدَتِنَا خَدِيْجَةَ الْكُبْرَى وَأَلِّفْ بَيْنَهُمَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ سَيِّدِنَا عَلِيِّ وَسَيِّدَتِنَا فَاطِمَةَ الزَّهْرَاءَ


Allâhumma allif bainahumâ kamâ allafta baina Adam wa Hawwa, wa allif bainahumâ kamâ allafta baina sayyidinâ Ibrâhîm wa Sârah, wa allif bainahumâ kamâ allafta baina sayyidinâ Yûsuf wa Zulaikha, wa allif bainahumâ kamâ allafta baina sayyidinâ Muhammadin shallallâhu ‘alaihi wa sallama wa sayyidatinâ Khadîjatal kubrâ, wa allif bainahumâ kamâ allafta baina sayyidinâ ‘Aly wa sayyidatinâ Fâthimah az-Zahrâ


Artinya: “Ya Allah, rukunkan keduanya sebagaimana Engkau rukunkan Nabi Adama dan Hawa, rukunkan keduanya sebagaimana Engkau rukunkan Nabi Ibrahim dan Sarah, rukunkan keduanya sebagaimana Engkau rukunkan Nabi Yusuf dan Zulaikha, rukunkan keduanya sebagaimana Engkau rukunkan Baginda Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallama dan Khadijah Al-Kubra, dan rukunkan keduanya sebagaimana Engkau rukunkan Ali dan Fathimah Az-Zahra.”


Terdengar Jelas Dan begitu mantap Tama mengucapkan setiap kata dalam ikrar ijab Qobulnya.


Sebuah perjalanan panjang yang telah di mulai dari sah nya sebuah ikatan cinta, sebuah tanggung jawab yang nantinya akan dia terima.


Setelah berlangsungnya acara ijab qobul yang begitu khidmat, kini Nissa yang di temani oleh Ummi Fatimah dan saudaranya berjalan dengan anggun menuju tempat dimana Tama berada.


Untuk sesaat semua mata tertuju padanya, Nissa yang memang tidak pernah mengenakan riasan di wajahnya, kini kecantikannya tampak sempurna dengan polesan kuas dan teman-temanya.


Seakan terbius dengan kecantikan sang istri, bahkan Tama tidak menyadari jika saat ini mulutnya menganga.


"Kiyai , Sadar kiyai ..."


Mendengar panggilan itu, seketika fokus Tama kembali pada mode semula. Sahabat laknat yang selalu ada untuk dirinya.


Hingga pada saat Nissa duduk tepat di samping Tama, dunia seakan berhenti sesaat, menatap keindahan yang jelas berada di hadapannya.


"Assalamualaikum istriku"


Dengan lembu Tama mengusap puncak kepala sang istri dan mengucapkan doa.

__ADS_1


Setelahnya dengan lembut Nissa meraih tangan sang suami, menciumnya dengan takzim.


***


__ADS_2