JODOH DARI LANGIT

JODOH DARI LANGIT
BAB 45. Pertengkaran


__ADS_3

...Tidak akan tertukar apa yang sudah Allah Takar...


...🍁...


Seperti biasa kedatangan Tama selalu menjadi yang paling ditunggu, ruang poli miliknya selalu menjadi yang paling ramai diantara poli lain di rumah sakit.


Tentu hal itu bukan karena pasien menyukai Tama, alasannya tidak lain adalah karena memang penderita jantung cukup banyak.


Satu persatu pasien Tama layani dengan sepenuh hati, ada yang hanya kontrol rutin, ada yang konsultasi, ada yang memang pengobatan , dan masih banyak kasus lain selain emergency.


Tama sendiri tidak pernah membedakan pelayanan terhadap pasien Bersubsidi dan non subsidi, semua pasien dia perlakukan dan layani dengan sama rata.


Mungkin karena sebab itu lah banyak pasien merasa nyaman meski untuk sekedar konsultasi saja.


Waktu menunjukan pukul 13.15


Jam makan siang telah terlewat, begitu juga jam untuk melaksanakan sholat yang juga telah terlewat.


Bergegas Tama merapikan barang-barang miliknya untuk kembali ke ruang kerja nya, tentu untuk melaksanakan sholat dan makan siang adalah tujuannya.


Setelah menyerahkan sisa tugas yang tersisa pada asisten perawatnya, kini Tama berlari menuju ruangannya.


Agaknya Tama Memnag sedikit tergesa-gesa, pasalnya selain dirinya belum melaksanakan sholat, juga karena Tama belum menghubungi sang istri sejak kedatanganya pagi tadi.


"Tama !"


Sebuah suara yang seketika menghentikan langkah nya, Jelas suara itu tidak lain merupakan Inara yang entah ingin apa lagi darinya menghentikan Tama.


Tama hanya menoleh tanpa memberikan jawaban.


"Tam , Maafkan aku " Lirih Inara


Ck.


Tama hanya mencebik, tertawa dalam hati, batin Tama mungkin Inara adalah manusia termunafik di dunia.


"Aku mengaku salah tam, maafkan aku"


Inara semakin mendekat berusaha meraih tubuh Tama yang hanya diam mematung.


"Katakan sesuatu tam, aku tidak bisa seperti ini"


Tama hanya mengamati, tatapan tajam dia layangkan pada Inara yang hanya berjarak beberapa jengkal dari tempatnya berdiri.


"Stop !"


"Jika kau tidak bisa seperti ini, Maka berhentilah bertindak konyol " tegas Tama


Kebetulan tempat mereka berbicara adalah di bagian koridor ruang dokter-dokter , beruntung tidak banyak pasien yang melewatinya, sehingga Inara tidak perlu harus malu ketika dia terus mengiba pada Tama.


"Tapi Tam, aku mencintai mu"


"Aku tidak bisa tam jauh darimu, aku rela untuk menjadi yang kedua , Aku mohon Tama "

__ADS_1


Inara terus saja memohon dan berusaha meyakinkan Tama, meski Tama sendiri dia tidak sedikitpun merespon ucapannya.


"Hentikan Ra !, cukup tidak perlu di teruskan, karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah menyakiti Nissa dengan mendiamkannya"


"Berhentilah mempermalukan dirimu sendiri !!"


Tegas dan jelas Tama sampaikan pada Inara.


Inara hanya menatap Tama dengan tatapan yang sulit di artikan, kemarahan, kesedihan, dan ketidak berdaya an yang berpihak pada dirinya membuatnya semakin kecewa.


"Tapi Tam aku---"


Tidak ingin terlibat urusan lebih panjang dengan Inara, Tama memilih bergegas meninggalkan Inara dan kembali berjalan masuk kedalam ruangan kerja nya. Disana menyisakan Inara yang masih berdiri dengan rasa malu nya.


Menatap kepergian Tama sungguh itu sangat membuat batin Inara terluka.


Tampaknya tidak ada satu orangpun yang bisa menyangkal bahwa jatuh cinta adalah hal terindah dengan segala resikonya. Namun, namanya orang sedang mencinta bahkan apapun konsekuensi dan resikonya bisa menjadi hal yang positif dan itu yang mungkin saat ini tengah Inara pikirkan.


Mungkin begitulah kenapa para pujangga mengatakan jika cinta itu buta.


Terkadang menggenggam sesuatu yang memang tidak pernah kita genggam jauh lebih menyakitkan jika dibandingkan dengan kehilangan.


"Tam !!"


"Tama !!"


Panggilan Inara yang terdengar memekakkan telinga, diabaikan begitu saja oleh Tama.


Jangankan kata cinta , mungkin diantara keduanya kini bersahabat saja sudah tidak bisa.


***


Rumah sebesar dan semegah ini , hanya mereka dan beberapa pelayan rumah tangga saja yang tinggal.


Jika di bandingkan dengan di rumah ustadz Hamzah , tentu sangat berbeda, jangankan siang, bahkan malam pun disana selalu ramai.


Nissa tidak akan pernah merasa sepi atau sekedar bosan jika disana, Namun pada kenyataanya di rumah ini lah surga milik Nissa berada.


Nissa sadar tugasnya saat ini adalah menuruti dan mentaati perintah suami. Membersamai dan saling melengkapi hingga ujung bahtera rumah tangga.


Namun meski begitu Nissa masih cukup beruntung disana dia tidak benar-benar sendiri, masih ada pelayan yang sesekali Nissa ajak bicara.


💌 Assalamualaikum istriku ?, Sudah makan siang


Sebuah pesan yang tiba-tiba masuk dalam ponsel milik Nissa


Jelas terlihat rona bahagia di wajah Nissa mendapati pesan singkat dari sang suami.


💌 Waalaikumsalam Mas, InshaAllah Sebentar lagi. Mas sudah makan ?"


💌 Jangan lupa Sholat


Pesan balasan yang dikirimkan oleh Nissa pada sang suami, tidak lupa Nissa berpesan untuk tetap menjaga sholat nya.

__ADS_1


Tentu karena dengan sholat maka akan menjadi benteng bagi Tama dalam berbuat keburukan.


Sejatinya kita hanya bisa membentengi diri kita, karena kita tidak pernah bisa membentengi diri orang lain yang mungkin akan menyakiti kita.


Tok tok tok


Terdengar ketukan dari balik pintu kamar Nissa.


Nissa bergegas bangkit dari duduknya, masih dengan tubuh terbalut mukena, Nissa membuka pintu kamarnya.


"Iya Bi"


"Makanan sudah siap, Ibu Mau di bawakan ke kamar atau Makan --"


"Saya makan di bawah sana Bi" Ujar Nissa dengan ramah.


Pelayan rumah tersebut segera menganggukkan kepala, menunduk hormat dan meninggalkan Nissa.


Begitu juga Nissa yang bergegas untuk melepas mukena, dan merapikan sajadah nya, baru dia akan makan siang.


Menuruni satu persatu anak tangga agaknya cukup membuat Nissa sedikit merasakan kram pada bagian perut.


Entah mengapa hal itu kerap terjadi akhir-akhir ini. Mungkin Nissa terlalu stres, begitu batin nya.


"Bi, Temenin Nissa ya makan disini"


Pinta Nissa kepada salah satu asisten rumah tangganya.


"Tapi Bu, Nanti Bapak bisa marah" Jawab sang asisten rumah tangga. Nissa tersenyum ramah.


"Tidak Bi, Kan saya yang minta , Bibi tenang saja ya"


Asisten rumah tangga yang diketahui Nissa bernama Bu Sri tersebut lantas mengangguk patuh.


Duduk di bagian sisi sebelah Nissa, dan kemudian melayani Nissa, baru setelahnya dia mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Keduanya tampak mengobrol di sela-sela makan siangnya, belum banyak yang Nissa ketahui karena memang dia baru saja beberapa jam yang lalu menginjakan kaki di rumah ini.


"Bibi sudah lama kerja di sini ?"


"Alhamdulillah Bu, Sudah 5 tahun saya berkerja dengan Pak Dokter" Jawab Bu Sri.


Nissa tampak mengangguk paham.


"Ohya Buk, Bu Nissa sakit ?"


Nissa tampak menautkan kedua alisnya, mendapati pertanyaan asisten rumah tangganya.


"Tidak Bi, Memangnya kenapa ?" Nissa


Bu Siti tampak menggeleng dengan seulas senyum di wajahnya, wanita paruh baya yang sudah tidak lagi muda itu jelas tahu apa yang mungkin sedang dialami oleh majikannya.


"Tidak buk , Hanya sedikit pucat"

__ADS_1


Nissa tampak tersenyum manis dengan perhatian yang di berikan oleh asisten rumah tangga nya.


***


__ADS_2