JODOH DARI LANGIT

JODOH DARI LANGIT
BAB 23. Canggung


__ADS_3

...Hadiah terbaik adalah apa yang engkau miliki. Dan Kehidupan terbaik adalah apa yang engkau Jalani. ...


...-UAH- ...


^^^🍁^^^


Alhamdulillah.


Sebuah kata yang syarat akan makna, syukur yang luar biasa atas segala nikmat dan pemberiannya yang tiada tara.


Suasana tampak tertib dan teratur, hingga selesainya acara resepsi.


Waktu menunjukan pukul 16.30


Adzan ashar telah berkumandang sejak beberapa saat yang lalu. Dan sebagian dari para tamu sudah meninggalkan kediaman ustadz Hamzah.


Tidak terkecuali orang tua Tama , keduanya juga telah lebih dulu meninggalkan kediaman ustadz Hamzah, bukan tanpa alasan keduanya lebih dulu undur diri. Hal itu tentu karena kabar mengenai Inara yang kecelakaan telah sampai pada telinga keduanya.


Justru karena Tama dan Nissa, pak Fajar dan Bu Sisca rela meninggalkan acara sakral tersebut. Tidak lain dan tidak bukan tujuannya adalah untuk membuat Tama tetap tenang, tanpa memikirkan sesuatu yang memang tidak seharusnya dia pikirkan, termasuk kondisi Inara saat ini.


Pemikiran sang mama nyatanya benar, tidak sedikitpun mengurangi kebahagiaan dari Tama dan Nissa yang baru saja membina rumah tangga, meskipun kini Nissa tampak malu-malu.


Sudah sejak 15 menit yang lalu Umi Fatimah meminta Nissa membawa sang suami untuk beristirahat di kamarnya.


Bukan tanpa alasan hal itu tentu karena malam nanti akan ada acara tirakatan, dan Tama juga harus turut serta ikut dalam acara tersebut, selain karena telah menjadi bagian dari pesantren, acara tersebut juga di khususkan untuk rumah tangga Tama dan Nissa yang baru seumur jagung.


Berada dalam satu kamar nyatanya cukup membuat Nissa gugup terlebih ini merupakan pengalaman dan tentu pertama kalinya dia sedekat ini dengan laki-laki.


Tidak pernah sebelumnya jangankan untuk satu kamar, duduk berdua saja mungkin sangat jarang Nissa lakukan.


Namun tentu tidak bagi Tama, karena sebelum bersama Nissa Tama juga telah menjalin hubungan dengan beberapa wanita, meski hanya sebatas kekasih.


Suasana terasa begitu canggung , dan keduanya hanya terdiam dengan pikiran masing masing.


Sejujurnya ingin rasanya Nissa keluar dari kamar untuk mengatasi kegugupannya, namun tidak mungkin hal itu dia lakukan sementara di dalam kamar ada laki-laki yang kini telah sah menjadi suaminya.


Situasi baru dan status baru membuat Nissa beberapa kali salah tingkah, dan tentu hal itu tidak luput dari pandangan Tama.


"Em. E. Pak dokter mau sholat dulu ?"


"Astaga Pak !!" batin Tama


Namun sama sangat paham jika Nissa kini begitu gugup, jangankan untuk dekat dengannya, menatap wajahnya saja sepertinya Nissa masih gemetar.


"Santai saja ?"

__ADS_1


Dengan polosnya Nissa pun menganggukkan kepala, sejujurnya memang saat ini Nissa sangat sulit untuk mengontrol dirinya, bahkan detak jantungnya seolah terasa menembus dada.


Melihat tingkah lucu Nissa, tentu hal itu membuat Tama semakin gemas.


"Duduklah disini" titah Tama


Untuk sesaat Nissa hanya terdiam, keningnya saling bertaut, memandangi tempat yang sebelumnya Tama minta untuk dirinya duduk disana.


"Em. Saya duduk di sini saja"


"Kemarahan, atau aku yang akan kesana"


Ucap Tama dengan kembali menunjukan sisi tempat tidur tepat di sampingnya dimana kini Tama tengah duduk.


Ya, tempat tidur Nissa yang hanya berukuran sedang, terbuat dari bahan kayu, dengan busa yang tidak begitu tebal, partisi kayu dengan sisi sisi yang sudah agak aus, sehingga sedikit pergerakan cukup membuat gaduh seisi kamar, beruntung suara itu tidak sampai keluar.


Tidak sebesar dan seluas kamar Tama , namun kamar milik Nissa begitu nyaman, terdapat banyak fentilasi dengan sudut kamar yang Nissa gunakan untuk pojok baca juga untuk aktifitas keagamaan lain seperti sholat dan mengaji.


Sisi lain dari kamar Nissa memiliki lubang jendela yang cukup besar, dan pemandangan tepat di depannya sebuah pohon rambutan, serta hamparan persawahan yang luas sejauh mata memandang.


Semilir angin sore menembus hingga ke setiap sudut kamar, menambah segar suasana sore itu.


Meski begitu gugup namun pada akhirnya Nissa pun menurut pada Tama.


Dengan sangat hati hati Nissa mendaratkan tubuhnya di tepian tempat tidur, namun dengan gerakan cepat Tama meraih pinggang Nissa. Membawanya duduk diatas pangkuan.


Glug


"Apa kau gugup"


"Em, sedikit"


Senyum manis terlihat jelas di wajah Tama, sejujurnya dia tahu tanpa harus bertanya jika Nissa begitu gugup, dari tubuhnya yang terasa bergetar , juga detak jantungnya yang bahkan terdengar meski sangat pelan.


Namun bukan menyudahi aksi nya, Tama justru semakin mengeratkan pelukannya, melingkarkan tangan kekarnya hingga menutup sempurna bagian perut yang masih tertutup hijab.


"E.em apa tidak sebaiknya dokter Sholat dulu"


Tama hanya terdiam, menikmati aroma wangi yang mengular dari rambut di dalam hijab yang kini tengah dia endus.


"Sebentar saja" mohon Tama


Mendengar hal itu , Nissa pun juga hanya diam dan tidak lagi berkata apapun, membiarkan Tama sejenak menikmati kesenangan nya.


"Apa kau menggunakan parfum di rambut mu ?"

__ADS_1


"Ha?"


"Rambutmu sangat harum" bisik Tama tepat di belakang telinga Nissa.


Sekujur tubuh Nissa terasa meremang, mendengarkan ucapan laki-laki yang baru saja sah menjadi suaminya beberapa jam yang lalu.


Tidak ingin terus larut dalam kecanggungan, Nissa mencoba mencairkan suasana dengan kembali mengajak Tama untuk sholat.


Dan setelah beberapa kali Nissa meminta, akhirnya Tama menuruti apa yang di katakan oleh Nissa mesti sangat jelas terlihat wajah enggan dari Tama.


Tidak banyak, Nissa nyatanya menggunakan jurus ceramah nya, memberikan kultum pada sang suami yang memang masih minim dalam agama.


Beberapa saat berlalu, Tama keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar, mengenakan dalaman berwarna putih yang tampak melekat pada tubuh, sehingga menampakkan keindahan alam yang nyata dari dalamnya, roti sobek berukuran kepalan tangan orang dewasa cukup membuat Nissa takut untuk melihatnya.


Glug


Tidak hanya itu Tama pun juga mengenakan bokser bermotif garis-garis yang jelas menampakkan kaki jenjangnya.


"Kenapa kau menutup wajahmu ?"


"Aurat mu"


"Apa ?. Bukankah kita baru saja menikah ?"


Deg.


Untuk sesaat pemandangan yang di suguhkan Tama cukup membuyarkan fokus Nissa, hingga Nissa hanya tersenyum mengingat jika dirinya kini juga telah menjadi seorang istri.


"Bersiaplah, aku akan menunggumu"


"Maksutnya?


"Kita akan sholat berjamaah sayang" ucap Tama dengan kerlingan mata.


Seketika kening Nissa berkerut hingga alisnya saling bertautan.


"Maaf"


Mendengar permintaan maaf Nissa , Tama hanya terdiam dan memandangi sang istri.


"Em. Sepertinya dokter harus sholat sendiri, karena baru saja saya mendapatkan datang bulan ?"


"Apa ?"


Nissa pun menganggukkan kepala dengan wajah tidak enak nya, dan di saat yang sama terlihat wajah kesal Tama. Sungguh hal itu sejujurnya membuat Nissa merasa bersalah, namun tidak mungkin hal itu dapat di hindari.

__ADS_1


Jika sebelumnya Nissa telah berpuasa, maka saat ini hingga satu Minggu ke depan Tama lah yang akan berpuasa.


***


__ADS_2