
...Hargai sebelum hilang, Sayangi sebelum Pergi, dan Jangan Menyesal bila tak Kembali...
...🍁...
Nissa telah kembali ke kamar, membawa satu nampan penuh berisi makanan dan minuman untuk sang suami.
Tidak berselang lama Tama pun juga keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar dari sebelumnya, sisa sisa air yang menetes dari pucuk rambut semakin menambah daya tarik nya.
Melihat Tama dengan style itu untuk pertama kalinya Nissa merasa mata sucinya telah ternoda. Untuk sesaat dia pun juga menginginkan lebih. Namun buru-buru Nissa memalingkan wajah, agar tidak terus memandangi Roti sobek yang terlihat padat di dada sang suami yang terus saja membuatnya gagal fokus.
"Mas pakai bajunya !" titah Nissa, dengan mengulurkan baju dan celana yang sudah dia siapkan.
Melihat sang istri yang tertunduk dengan rasa malu nya, Tama justru sangat menyukainya.
"Apa kau tidak ada niatan untuk melihatnya" goda Tama dengan kerlingan mata
"Astagfirullah!!"
Reflek Nissa menutup wajahnya yang kini terasa panas bagai tersulut api. Benar-benar saat ini Tama sedang ingin menguji iman dan kesabarannya.
Sebagai wanita dewasa tentu Nissa tahu kemana arah pembicaraan sang suami, dan meski ini baru pertama kali baginya dia juga tidak bodoh jika sang suami saat ini sedang memancing nya.
"Mas Nissa kan malu , jangan gitu dong" mohon Nissa
Tama pun terkekeh mendengar ucapan sang istri yang begitu memelas, rona merah di wajahnya sudah tidak lagi dapat di tutupi, dan itu membuat Tama semakin suka.
"Ya kali aja kamu pengen gitu megang atau ---"
"Astagfirullah Massssa !!!. Masih Pagi mas !!" Kesal Nissa pada Tama.
"Kalau malem boleh ?" celetuk Tama dengan santainya.
"Astagfirullah astaghfirullah Astagfirullah..." ucap Nissa dengan mengelus dada.
Nissa hanya bisa nyebut mendengar ucapan bernada ngeres sang suami, Nissa Samapi geleng-geleng kepala, Ke mesum an di otak Tama memang sudah tidak dapat tertolong lagi, Mungkin sebaiknya Nissa meminum obat pelancar haid, agar tamunya segera pergi, dan dia dapat mengobati gangguan sang suami yang baru saja di alami 3 hari ini.
__ADS_1
Lagi lagi Tama hanya terkekeh melihat tingkah sang istri yang malu-malu meski dengan wajah kesalnya. Merah di pipinya terlihat begitu alami, tentu hal itu merupakan hasil dari Tama yang selalu menggoda Nissa.
Tidak ingin kembali di goda , Nissa pun berbalik badan bergegas meninggalkan kamar, namun lagi-lagi Tama berhasil mencegahnya, memeluk Nissa dari belakang dan melingkarkan dengan erat kedua tangannya.
"Astagfirullah. Mas ini nggak baik buat Nissa"
"Ohya ?, Kenapa ?"
"Nissa bisa jantungan kalau mas Tama selalu ngagetin seperti ini"
"Nggak masalah sayang, Kamu lupa kalau suami mu ini spesialis Jantung" goda Tama
Keduanya lantas terkekeh hingga Nissa beberapa kali mengatupkan bibirnya agar tawa renyahnya tidak lolos begitu saja.
Nissa hanya bisa pasrah dan memaksa Tama untuk segera mengenakan bajunya, tidak hanya tidak baik untuk kesehatan jantung, nyatanya kini hati Nissa juga mulai mengalami kelainan, sebuah keinginan atau mengharap lebih dari sekedar berpelukan. Ciuman mungkin.
Namun berusaha Nissa Tepis dari otak kecil yang mulai berkhianat. Jiwa yang meronta namun hati kecil meminta, sungguh jiwa dan raga yang mulai saling berkhianat.
"Nikmati saja , masih ada beberapa menit sebelum kau berangkat mengajar"
Tama mulai melonggarkan pelukannya, menarik tangan Nissa untuk duduk bersama di tepian tempat tidur.
Begitu juga Nissa yang dengan cekatan mengambil nampan yang dia bawa sebelumnya. Meminta sang suami untuk segera sarapan.
"Aku Ingin di suapi " Tama
"Manja nya ..." ucap Nissa dengan berani mencoel hidung mancung sang suami.
Tama pun kaget dengan sikap reflek Nissa
"Mulai berani yaa.... Awass... Nanti aku balas lebih lhoo" goda Tama dengan menaik turunkan alis tebalnya.
Nissa hanya menanggapi dengan senyuman, lagi-lagi rona di wajahnya tidak dapat di sembunyikan, sadar jika tetap seperti itu akan semakin tidak baik untuk jantung Nissa, dia pun segera memberikan suapan demi suapan pada sang suami.
Keduanya duduk saling berhadapan, dengan telaten Nissa mengelap sudut bibir sang suami yang nampak ada sisa makanan. Sementara Tama tengah fokus dengan ponselnya.
__ADS_1
Dan dari obrolan kecil yang di selingi sarapan itu, Tama tahu jika semalam Nissa menghubungi mama nya, sekedar untuk menanyakan Tama dimana, dan nyatanya Bu Sisca mengatakan jika tidak pulang sudah pasti Tama di rumah sakit, mungkin karena ada pasien emergency. Ucapan itu yang Tama tangkap dari komunikasi antara Nissa dan sang mama.
Hingga pada suapan terakhir Tama begitu menikmati pelayanan istimewa yang di berikan oleh Nissa. Nissa pun bergegas untuk merapikan kembali piring dan gelas kotor sebelumnya, untuk dia bawa keluar sekalian dia juga akan berangkat mengajar.
Hari ini memang hari libur bagi Tama, namun tidak berarti dia lantas mengabaikan pekerjaannya, Tama selalu rutin memastikan dalam Grub chat di bangsal kalau-kalau ada tindakan gawat darurat yang mengharuskan dirinya segera ke rumah sakit.
Beruntung tidak satupun chat penting yang Tama temukan, lantas dia menscroll layar pipih nya dan menemukan sebuah chat yang jelas tertulis nama 'inara' disana.
Secepat kilat ingatan Tama kembali pada momen semalam yang memaksa dirinya untuk menginap di rumah sakit bersama Inara dan kedua orang tuanya.
Sungguh di titik ini rasa bersalah kembali merayapi pikiran Tama. Bagaimana dia bisa menikmati perhatian lembut dari sang istri sementara semalam dia bersama wanita lain.
Hal ini tentu tidak akan terlalu Tama pikirkan jika Inara sebelumnya tidak mengatakan perasaanya pada Tama.
"Sayang, Bisa kita bicara "
"Mas dari tadi kan kita sudah bicara, Nissa mau ngajar dulu ya, kalau mau me sum nanti lagi" ucap Nissa dengan senyum kecil di bibirnya.
Sejujurnya bukan ingin membicarakan hal konyol dan godaan godaan seperti sebelumny, namun Tama ingin mengatakan apa yang dia lakukan semalam, nahas Nissa justru menganggap jika dirinya ingin kembali bercanda.
Tidak berselang lama Nissa berpamitan pada Tama, dan keluar dari kamar. Sementara Tama masih terdiam dengan pikiran bersalah nya.
***
Di rumah sakit Inara kembali melakukan percobaan bundir, entah karena sengaja atau hanya alibi saja, tentu untuk memancing Tama agar datang kepadanya.
Seperti yang sudah sudah, orang tua Inara akan menghubunginya dan meminta nya untuk datang menemui Inara, Namun kali ini Tama tidak ingin gegabah, dia memilih menghubungi rekan kerja nya yang juga sesama dokter. Tentu hal itu Tama lakukan untuk memastikan kondisi Inara.
Nyatanya saat ini Inara telah kembali tenang setelah dokter tersebut memberikan obat penenang, sehingga itu dapat Tama gunakan sebagai alasan untuk tidak datang menemui Inara.
Bukan tidak berempati, namun Tama sangat tidak ingin hal ini justru akan membuat Inara semakin mengharapkan dirinya.
Segala cara orang tua Inara lakukan agar Tama mau datang, namun sekuat tenaga juga Tama menolaknya.
***
__ADS_1