
...Hidup itu memang ujian, Semakin kita akan naik ke level yang lebih tinggi, Semakin banyak pula kita akan diuji ...
...🍁...
Malam semakin larut, Nissa baru saja merapikan kembali sajadah yang baru saja dia gunakan untuk Sholat magrib.
Tidak seperti di rumah sang Abi yang setiap saat Nissa akan mendengar suara-suara santri yang tengah Murojaah, Namun disini hanya dia sendiri yang melakukanya, terasa sepi dan sunyi. Tapi tidak masalah, karena Nissa hanya perlu membiasakan diri.
Belum selesai Nissa merapikan mukenanya, sebuah dering telepon terdengar memenuhi ruang kamar nya.
'Mas Tama'
Terlihat jelas senyum di wajah cantik Nissa tatkala mengetahui jika sang suami menghubunginya.
Segera Nissa menggeser ikon tanda hijau di layar ponsel nya, menghubungkan panggilan diantara keduanya.
"Assalamualaikum Mas"
"Waalaikumsalam Sayang, Sudah sholat?"
"Alhamdulillah mas, Baru saja selesai, Mas sendiri ?"
"Alhamdulillah Sudah, Ohya mungkin aku pulang sedikit larut, kau tidak usah menungguku"
"Iya Mas, Mas hati-hati Ya"
Setelah cukup berbincang keduanya sepakat untuk mengakhiri panggilan dengan kata salam sebagai penutup.
Setelah meletakan kembali ponselnya, Nissa merebahkan tubuh diatas kasur, menatap langit-langit kamar yang terlihat indah dalam pandanganya.
Mungkin karena tidak seindah dan semegah langit-langit di kamarnya, Nissa cukup kagum melihatnya. Namun hal itu tidak lantas menjadikan Nissa silau dan sombong atas pencapaian yang telah di peroleh suaminya selama ini, karena sejatinya semua hanyalah titipan.
Tok tok tok
Belum sempat Nissa menikmati keindahan tersebut, pintu kamarnya kembali di ketuk dari luar.
"Masuk Bi " ujar Nissa
Ceklek.
Terlihat Bu Sri yang tengah berdiri di ambang pintu kamar Nissa.
"Maaf Bu, Ada tamu ingin bertemu Bu Nissa"
Nissa tampak menautkan kedua alisnya, berfikir siapkah tamu yang berkunjung di malam malam seperti ini.
"Saya ?"
Bu Sri tampak menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Jika di ingat ingat seharusnya Tidak ada tamu yang mengunjungi dirinya, karena selain keluarga tidak ada lagi yang tahu jika Nissa dan Tama telah pindah ke rumah tersebut.
__ADS_1
Jika seorang teman , rasanya juga sungguh tidak mungkin, karena tentu akan mengabarinya terlebih dahulu. Terlebih Nissa dan Tama baru pagi tadi pindahan.
Agaknya Nissa sedikit tidak percaya, namun ada rasa penasaran siapkan tamu nya.
"Suruh masuk Bi, Sebentar lagi Nissa turun"
"Baik Bu" Ucap Bu Sri dengan patuh.
Tidak ingin membuat tamunya menunggu lama, Nissa bergegas mengenakan hijab panjangnya, merapikan pakaian serta melihat wajahnya sejenak di kaca besar ruangan tersebut.
Nissa melangkahkan kaki keluar dari kamar, menyusuri satu persatu anak tangga di rumahnya.
Tatapan Nissa seolah meneliti pada tamunya yang tengah duduk di ruang tamu. Menajamkan penglihatannya pada sosok yang kini duduk di sana.
Entah siapakah tamunya, Nissa hanya dapat melihat rambut panjangnya dari belakang.
Setelah sampai di ujung tangga Nissa berjalan menuju ruang tamu, tempat di mana tamunya menunggu, langkahnya seketika terhenti ketika mendapati tamunya adalah sosok yang lumayan dia kenal.
"Mba Inara " Sapa Nissa masih dengan wajah tidak percaya.
Tidak salah lagi , tamu yang datang ke rumahnya memang benar adalah Inara.
Namun untuk maksut dan tujuan kedatanganya, sungguh Nissa belum dapat menebaknya.
Tidak ingin bergelut dengan pikirannya, Nissa memilih untuk menemui tamunya.
Nissa memilih duduk di bagian sofa tepat di hadapan Inara.
Mendengar pertanyaan Nissa, terlihat Inara yang diam untuk beberapa saat.
"Oh. Maaf jika kedatanganku mengganggumu "
Nissa mengulas sebuah senyum ramah di wajahnya,meski sejujurnya dia merasa sedikit kurang nyaman dengan kedatangan Inara.
"Sama sekali tidak mba, ohya omong-omong darimana mba Inara tahu jika Nissa dan mas Tama sudah pindah ?"
Mendengar hal itu agaknya Inara sedikit gelagapan, entah jawaban apa yang ingin dia berikan.
"Oh. Em . itu tadi aku dapat kabar dari Tante Sisca"
Terlihat wajah panik Inara, namun Nissa memilih untuk mempercayainya. Meski sejujurnya terasa sangat tidak mungkin mertuanya mengabarkan tentang kepindahannya pada orang lain.
Suasana mendadak canggung, hingga pada saat Bu Sri datang dengan membawakan dua cangkir teh manis serta beberapa kue kering.
"Diminum mba"
Ucap Nissa dengan menunjuk pada minumannya.
Inara tampak menganggukkan kepala sebagai jawaban, seraya meraih cangkir yang ada di depannya, meneguk isi nya dan kembali meletakkan nya. Sementara Nissa hanya mengamati saja.
"Ohya Nis, Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu"
__ADS_1
Nissa tampak berpikir dan menanti apa yang sejujurnya ingin di katakan oleh Inara.
"Katakan saja mba"
Inara tampak menghela nafas dalam, terlihat raut wajah tegang di sana. Dan lagi-lagi Nissa hanya kembali mengamati.
"Aku tidak ingin membohongi mu, dan tentu aku juga tidak ingin membohongi hatiku"
"Aku sungguh sangat mencintai suamimu"
Deg.
Sampai di sini Hati Nissa seolah tercabik-cabik begitu saja. Ucapan Inara seolah pedang tajam yang siap mengiris hatinya.
"Mba !!" Nissa tampak tak percaya
"Aku tahu ini salah , Tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa Nissa, Aku mencintai Tama "
"Bahkan jauh sebelum dia menikahi mu" Tukas Inara.
Nissa hanya tertegun , seolah tidak percaya dengan apa yang di ucapkan tamunya , batin nya menolak, hatinya pun memberontak.
"Mba , Katakan ini tidak benar !, Mba Inara pasti hanya bercanda"
"Tidak !, Aku tidak pernah bercanda, aku juga berkata apa adanya" Ujar Inara dengan percaya diri.
Nissa tampak menghela nafas panjang, meski tubuhnya gemetar, namun dia berusaha tetap tenang dan kembali menguasai keadaan.
Nissa sangat sadar sesungguhnya ini merupakan ujian bagi rumah tangganya dengan sang suami.
"Lalu , Mau mba Inara bagaimana ?"
Dengan yakin Nissa bertanya, suara dingin dan tatapan tajamnya menghunus tepat di mata Inara. hal itu tentu membuat Inara tampak terdiam dalam lamunannya.
"Aku ingin hak yang sama seperti dirimu ?"
"Maksutnya ?" Nissa tampak menautkan kedua alisnya.
"Aku ingin Tama menikahi ku !"
"Jika mas Tama tidak mau ?"
"Aku harap kau mau membantuku, membuat Tama menerimaku"
Agaknya Nissa begitu tidak percaya dengan ucapan Inara , namun itulah kenyataanya, bahkan Nissa hanya tertawa geli mendengar penuturan dari tamunya.
"Maaf mba tapi Nissa tidak bisa !"
Tegas Nissa tanpa basa-basi.
***
__ADS_1