
...Seperti hal nya bunga yang akan mekar karena sinar matahari. Begitu juga hatiku yang akan Bahagia jika selalu kau sirami ...
...🍁...
Tidak butuh waktu lama Nissa telah sampai di kantin rumah sakit, selain para dokter dan perawat, disana juga banyak keluarga pasien yang datang, sekedar untuk makan dan beristirahat sejenak, dari penatnya rutinitas di dalam rumah sakit.
Nissa memilih duduk di bagian pojok yang langsung berhadapan dengan taman, memesan minuman dan beberapa cemilan. Entah mengapa Nissa tidak ingin mengisi perutnya dengan makanan berat.
Tentu hal itu karena sebuah alasan, takut kalau kalau dia akan kembali merasa kan mual, sementara Nissa saat ini berada di tempat umum.
Nissa agaknya menyukai apa yang berada di depannya, beberapa suapan cemilan masuk begitu saja tanpa hambatan dan tidak merasakan mual lagi.
"Ehem !"
Suara berat dari sosok yang jelas Nissa tahu siapa itu.
"Mba Inara ?"
Nissa menyapa wanita yang merupakan sahabat dari suaminya itu dengan sopan. Tidak lupa Nissa Juga selalu menampakkan senyum terbaiknya, sekalipun itu untuk Inara.
Terlihat senyum kecil pada sudut bibir Inara.
"Mba Inara mau sarapan juga ?"
Nissa tetap berbicara sopan pada Inara meski sebelumnya jelas Inara telah menabuh genderang perang dengan nya.
Segar di ingatan Nissa bagaimana Inara tempo hari datang dan membuat kekacauan di rumahnya.
"Tidak " Inara
Nissa tampak menautkan kedua alisnya, namun tetap senyum yang dia perlihatkan untuk Inara.
"Kalau nggak sarapan ngapain ke kantin mba. Mba Inara nyari Nissa "
Agaknya Nissa mencium aroma permusuhan dari Inara. Namun sudah bukan sesuatu yang Nissa terlalu pikirkan, karena jelas itu lah tujuan Inara hanya untuk bertemu dengan dirinya.
Mendengar ucapan Nissa, Inara hanya tampak memandangi Nissa yang tengah duduk. Tajam menatap Nissa dari atas sampai bawah, dan itu dia lakukan berulang kali, cukup membuat Nissa risih sejujurnya namun tidak lantas Nissa menegur Inara begitu saja.
Inara lantas duduk tepat di depan Nissa, meski Nissa tidak mempersilahkannya , seolah dia begitu acuh terhadap keberadaan Nissa.
"Aku heran , Bagaimana bisa Tama menyukai orang sepertimu. Udik"
Lagi dan lagi Nissa mendengar itu, Kalimat rasis yang di lontarkan Inara, mungkin memang dia berbicara sangat pelan, namun Nissa jelas dapat mendengarnya dengan baik.
__ADS_1
Mendengar nya Nissa hanya tersenyum saja, tanpa berniat untuk membalasnya.
Karena sejatinya apa yang dilakukan Inara saat ini jelas Nissa tahu merupakan pancingan, dan Nissa tidak ingin terpancing.
"Aku rasa Tama perlu memeriksakan mata nya , Supaya dia tahu bagaimana orang yang dia pungut sebagai istri ini"
"Ow. Atau mungkin kau mengguna-guna Tama , sampai-sampai dia mau menikahi mu ?"
Kalimat olokan selalu saja Inara layangkan untuk Nissa , Namun bukanya marah Nissa justru tertawa dengan menutup mulut dengan sebelah tangannya.
"Mba Inara ini sepertinya waktu luangnya banyak sekali ya, sampai sampai mau lhoo temuin saya yang cuma orang udik !. Ke sini"
"Mba Inara ternyata juga percaya diri sekali ya, Maaf ya mba. Bahkan suami saya sudah menolak Mba Inara, namun Mba Inara masih saja mengejarnya.
"Jangan berlebih lebihan terhadap sesuatu mba, termasuk cinta, coba mba Inara di tengok lagi hatinya, barangkali bukan cinta namun hanya ego semata"
"Dan lagi Jangan hanya pikirkan ego saja Mba Inara , jika hati memang sudah tidak mampu, maka lepaskan saja, semakin lama kau menggenggamnya maka kau pun akan semakin terluka"
Nissa begitu tenang dan santai menanggapi setiap ucapan Inara yang terkesan menyudutkan dan memojokkan dirinya.
Jangan ditanya bagaimana wajah Inara saat ini, tentu sudah sangat merah menahan amarah.
"Ohya kalau tujuan mba Inara hanya ingin membangkitkan emosi saya, mba Inara salah, karena saya tidak akan terpancing dengan umpan yang mba lemparkan"
Bagaimana dengan Inara , sudah jelas dia merasa sangat murka, mimik wajahnya yang sudah memerah menahan amarah.
Semakin bertambah pula kebencian Inara pada Nissa.
Begitu juga Nissa yang tidak ingin memperpanjang masalah, terlebih Nissa tidak ingin permasalahan dirinya dengan Inara menjadi konsumsi publik.
"Ya sudah mba saya pamit dulu ya, Takutnya nanti mas Tama nyariin"
Nissa bangkit dari duduknya, seraya mengucapkan salam pada Inara.
Bukan menjawab Inara justru merasa semakin marah dengan keberanian Nissa yang selalu mematahkan ucapanya.
Hingga tanpa aba-aba Inara berlari mengejar Nissa yang baru beberapa langkah dari tempatnya duduk semula.
Brug !!
Dengan kekuatan tenaga dalam Inara mendorong tubuh Nissa hingga tubuh Nissa terpelanting ke lantai.
Nissa yang tanpa persiapan dan tidak tahu jika Inara akan berbuat nekat membuatnya jatuh begitu saja.
__ADS_1
"Aahh... Astaghfirullah"
Nissa terlihat meringis kesakitan, menahan rasa kram yang mendadak dia rasakan di bagian perut bawah nya.
Entah mengapa Nissa seketika menitihkan air mata, bukan karena rasa sakitnya, namun lebih pada bagaiman kondisi janin nya, janin yang baru satu hari yang lalu dia ketahui berada dalam kandungannya.
Sakit sungguh sakit Nissa rasakan mencengkeram di bagian bawah perutnya, hingga terasa cairan hangat mengalir di sela-sela kakinya.
Tidak banyak namun cukup menimbulkan bercak di bagian belakang gamisnya.
"Ya Allah, Apa ini"
Bergetar tubuh nya , Nissa semakin terisak menyadari dirinya mengeluarkan darah segar.
"Ya Allah. Mba nggak papa ?" Panik salah seorang ibu disana.
Kerumunan orang seketika memadati tempat dimana Nissa berada, banyak diantaranya yang mencoba menolong Nissa dengan segera memapahnya.
Tubuh yang terasa lemas, hingga Nissa merasakan kakinya begitu gemetar, jangankan untuk berjalan, berdiri saja dia merasa sangat tidak berdaya, hanya linangan air mata yang semakin deras membasahi pipinya.
Sementara Inara tampak terpaku dengan raut wajahnya yang sudah membiru, mungkin dia merasa takut atau bersalah, atau justru dia merasa bahagia , entahlah yang jelas dia hanya tetap diam saja menatap pada Nissa yang terus mengeluarkan air mata.
Dengan bantuan beberapa orang di kantin, Nissa pun di larikan ke UGD. Nissa sadar betul kondisinya saat ini tidak baik-baik saja, hingga dia hanya terdiam dan terus berdoa memohon pada yang maha kuasa.
Kerumunan orang yang tengah berlari menuju UGD tak pelak menyita perhatian Tama yang baru saja selesai dengan tugasnya.
Hingga tatapan matanya menangkap sekelebat gamis yang sebelumnya di kenakan sang istri, tengah di papah oleh seorang petugas keamanan dan beberapa ibu lain.
Tama pun bergegas menghampiri, benar saja orang yang tengah dia pikirkan adalah Nissa memang benar adalah sang istri yang kini sudah terlihat lemas dengan wajah pucat nya.
Tanpa pikir panjang Tama bergegas meraih tubuh Nissa, dan dia bopong sang istri menuju UGD, panik bercampur khawatir tentu Tama rasakan, namun dia mencoba tetap tenang, karena dia sendiri belum tahu apa yang saat ini tengah terjadi dengan istrinya.
Tama semakin bingung tatkala melihat sang istri hanya terus menangis.
"Sayang, Katakan apa yang terjadi ?"
Nissa hanya terisak, sampai pada saat seseorang yang juga turut menyaksikan kejadian sebelumnya mengatakan kronologi sebelum Nissa mengalami hal ini.
Mendengar semua cerita dari saksi mata , sungguh membuat hati Tama menjadi murka.
Namun prioritasnya saat ini adalah pada sang istri dan juga janin yang ada dalam kandungan Nissa.
Beruntung saat kejadian tersebut, spesialis kandungan yang juga merupakan rekan Tama telah selesai dengan tugasnya. Dan Nissa segera mendapatkan penanganan.
__ADS_1
***