JODOH DARI LANGIT

JODOH DARI LANGIT
BAB 38. Rencana Inara


__ADS_3

...Sayang dan cinta hanyalah sesuatu yang bersifat sementara, karena pada dasarnya semua akan kembali pada Nya ...


...🍁...


Setelah menyiapkan Kursi untuk sang istri, Tama lantas menarik sebuah kursi lain dari sudut ruangan. Memposisikan diri duduk diantara Inara dan juga Nissa.


"Nggak papa kan Ra aku ajak Nissa ?"


Mendengar ucapan Tama sejujurnya Inara ingin sekali marah, namun pada akhirnya hanya senyuman yang dapat dia berikan.


Meski jelas dalam senyuman Inara terlihat kepalsuan didalamnya.


"Maaf ya mba Inara, sebenarnya Nissa juga tidak ingin ikut, tapi mas Tama pengen Nissa ikut"


Semakin muak lah Inara mendengar pembicaraan keduanya. Ingin rasanya Inara mengumpat i Nissa, namun lagi-lagi senyuman lah yang pada akhirnya dia perlihatkan.


Rencana makan malam romantis Antara dirinya dan juga Tama , yang dia susun secara sempurna mendadak harus rusak begitu saja.


"Sebetulnya tadi itu aku sudah kenyang banget Ra, pengen nya langsung istirahat, tapi Nissa maksa aku buat Dateng kesini karena aku sudah janji sama kamu, ya udah akhirnya aku tetap datang karena paksaan istriku ini" ucap Tama.


Tama begitu percaya diri mengatakan kenyataan yang penuh kejujuran pada Inara.


Terlihat Inara beberapa kali membuang nafas kasar , berusaha mengurai kekesalan didalam hatinya, sungguh jika tidak di hadapan Tama Mungin Inara sudah melempar semua barang di hadapannya.


Bahkan sedari tadi baik Tama maupun Nissa selalu memamerkan senyuman mesra, tentu hal itu juga membuat Inara meradang dibuatnya.


"Sayang karena makanan di meja ini hanya untuk 2 orang, jadi sebaiknya Kau saja yang makan" Tama


"Tapi Mas, aku nggak enak sama mba Inara," bisik Nissa dengan suara lirih, namun masih jelas terdengar hingga ke telinga Inara.


Sangking pelannya Nissa berbicara dia sampai menutup mulutnya agar Inara tidak mendengar nya. Namun tetap saja di ruangan itu hanya ada mereka bertiga.


"Nggak papa Sayang, kamu juga tadi kan belum makan, kalau mas kan udah makan masakan kamu"


Ucap Tama dengan mendekatkan sepiring steak daging sapi kwalitas tinggi pada sang istri.


Mendengar ucapan Tama kedua bola mata Inara seketika membulat sempurna, sampai akan lepas dari tempatnya.


"Tunggu !!"


Tama dan Nissa hanya saling pandang melihat Inara yang menghentikan aktifitasnya.

__ADS_1


"Kenapa mba ?" Nissa


"Iya Ra ada apa ?" Tama


Agaknya Inara merasa bingung dengan apa yang ingin dia katakan pada keduanya, Inara terlihat gelagapan dengan pertanyaan Nissa dan Tama.


"Tidak , Em. Makanan itu spesial aku siapkan untuk Tama, aku bisa pesankan kamu makanan lain" ucap Inara dengan wajah tidak suka nya.


Mendengar hal itu mendadak Nissa merasa sedikit tidak enak hati.


Karena nyatanya Inara masih begitu menaruh hati pada suaminya.


"Tidak perlu Ra" ucap Tama


"Lagi pula aku masih sangat kenyang"


"Sebelum kemari aku sudah makan terlebih dahulu, karena Istriku selalu menyiapkan makanan saat aku pulang kantor" ucap Tama jujur.


Mendengar hal itu Nissa hanya tersipu dengan mengulas senyum terbaiknya , sementara Inara begitu kesal atas pembelaan Tama terhadap istrinya.


"Tidak !! tidak !! , Aku akan pesankan, kau bisa tunggu sebentar"


"Udah lah Ra !!, nggak perlu, lagian aku sudah sangat kenyang, kalau pun kau pesan tidak akan ada yang makan, justru akan mubasir " tegas Tama.


"Ck. oke lah"


Pada akhirnya Inara hanya diam, dan tidak ingin lagi menambah keributan.


Sejujurnya dia sudah tidak lagi memiliki nafsu makan sejak Nissa masuk bersama Tama.


Namun untuk menghargai tamu nya, sekaligus karena dia yang Telang mengundang Tama, mau tidak mau Inara pun makan steak yang telah dia pesan.


Begitu juga Nissa yang segera menyusul Inara menikmati makanannya.


Melihat sebongkah daging sapi yang tentu memiliki kwalitas tinggi, membuat Nissa tidak sabar untuk segera mencicipinya, melihatnya tampilannya saja sudah begitu menggugah selera, belum lagi aroma daging serta rempah yang mengular di hidung Nissa.


Sungguh ini mungkin pertama kali Nissa mencicipi makanan seperti ini, bukan tidak pernah makan steak, hanya saja yang memiliki jenis dan tempat mewah seperti ini baru pertama kali Nissa rasakan.


Sementara Tama hanya menjadi penonton antara keduanya, namun pandangan matanya tidak sekalipun lepas dari sosok istrinya.


"Enak sayang"

__ADS_1


"MashaAllah enak sekali mas" jujur Nissa dengan masih menyimpan daging dalam mulutnya.


Tama hanya terkekeh mendengar ucapan polos sang istri.


Nissa memang apa adanya dan jujur , terlebih dengan makanan yang dia makan saat ini, memang sungguh nikmat dan lezat, pantas saja sebelumnya Inara melarangnya untuk makan, lha wong nyatanya Memnag seenak ini.


"Mas mau ?" Nissa.


Tama hanya menggeleng pelan, masih setia tetap menatap Nissa dengan senyuman, melihat sang istri makan dengan begitu lahap membuat hati Tama ikut bahagia.


Bagaimana Inara ?, Jangan ditanya , dia sudah pasti sangat kesal, steak berharga jutaan rupiah hanya dia jadikan ajang pelampiasan, memotong-motong daging di hadapannya dengan penuh nafsu.


Jangankan daging, kalau pun bisa Inara sangat ingin memotong-motong piring nya juga.


Terlebih melihat Tama dan Nissa yang begitu mesra semakin membuat Inara tak terima.


Kemesraan yang selalu keduanya pertontonkan membuat Inara jengah melihatnya.


Beberapa saat berlalu, tentu setelah beberapa kali suapan daging masuk kedalam mulut, Nissa merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya.


Terlihat Nissa yang merasa tidak nyaman dan gelisah. Seolah Nissa tengah merasakan sesuatu yang janggal pada dirinya sendiri.


Hal itu tentu tidak luput dari pandangan mata Tama.


"Sayang kau baik-baik saja ?"


"Iya mas , Aku baik baik saja" lirih Nissa


Meski merasa tidak nyaman, nyatanya Nissa tetap menghargai dan menghormati Inara juga Tama.


Nissa kembali melanjutkan makan makanan yang masih tersisa beberapa potong lagi.


Gelagat tidak baik pada Nissa pun memancing perhatian Inara, Begitu juga Tama yang menyadari mungkin saja terjadi sesuatu pada Nissa.


"Yakin kau baik-baik saja ?" Tama


"Iya mas , Nissa baik, ini tinggal dikit lagi makannya selesai" ucap Nissa dengan masih menyimpan makanan di mulutnya.


Meski merasa aneh, namun Tama tidak ingin kembali membuat Nissa tidak nyaman pada Inara.


Tama memilih untuk tetap diam menunggu hingga Nissa menyelesaikan dan menghabiskan makanannya.

__ADS_1


***


__ADS_2