JODOH DARI LANGIT

JODOH DARI LANGIT
BAB 51. Harapan


__ADS_3

...Siapa yang menanam akan menuai. Namun ingat , tergantung apa yang di tanam ...


...🍁...


Satu minggu berlalu, Sejak Terakhir kali kedatangan Inara ke rumahnya, sepertinya Inara memang sudah cukup jera. Hal itu tentu karena sudah tidak lagi dia menampakkan batang hidungnya di hadapan Nissa maupun Tama ketika di Rumah sakit.


Hal itu tentu cukup melegakan bagi Nissa yang sempat berfikir jauh jika Inara akan semakin berulah dengan keinginannya.


Seperti biasa pagi ini Tama sarapan lebih awal, tentu dengan di temani sang istri, Nissa sendiri hanya menemani saja, karena untuk sarapan sepertinya masih terlalu pagi bagi Nissa yang tidak memiliki kegiatan.


Sudah menjadi kebiasaan Tama jika ada tindakan emergency, dia akan berangkat lebih awal dari jam kerja nya.


Setelah berpamitan pada Nissa, Tama berlalu meninggalkan kediaman nya.


Begitu juga Nissa yang hanya bisa mengantarkan Tama dengan doa dan lambaian tangan mengiringi langkahnya dalam mencari nafkah halal untuk rumah tangganya.


Setelah mobil yang di kemudikan Tama menghilang dalam kejauhan, Nissa bergegas kembali masuk, menutup dan mengunci kembali pintu rumahnya.


Waktu menunjukan pukul 06.15 ,Masih terlalu pagi untuk Nissa sarapan, Nissa memilih untuk melaksanakan Dhuha terlebih dahulu.


Kembali mengayunkan kaki menapaki setiap anak tangga yang sejujurnya mulai dia keluhkan, namun hanya dia rasakan tidak pernah ingin dia sampaikan pada sang suami.


Entah mengapa kerap Nissa merasakan kram di bagian perut bawahnya, setiap naik maupun turun tangga.


Tidak butuh waktu lama Nissa telah berada di kamar , siap dengan mukena dan sajadah, setelah sebelumnya dia mengambil wudhu.


Diatas sajadah panjang itu dia adukan segala keluh kesah , Harapan serta doa panjang pada sang Maha Pencipta atas segalanya.


Tidak lupa setelah sholat Nissa selalu menyempatkan untuk melakukan Murojaah, tentu untuk mengingat beberapa hafalan yang memang perlu untuk selalu diulang.


Nissa sangat sadar jika apa yang dia lakukan tidak hanya untuk dirinya saja, kelak kebaikan itu akan dia turunkan kepada anak cucu, sebagai bekal dalam menapaki kehidupan.


Dari situ Nissa belajar bagaimana pentingnya seorang wanita paham akan agama, selain untuk dirinya tentu untuk keluarga, membimbing dan mendidik anak agar nantinya menjadi sosok yang Solih Solihah

__ADS_1


Begitu juga Nissa yang selalu bersemangat untuk menyiapkannya. Terkhusus untuk calon buah hatinya dan Tama kelak. Meski saat ini belum namun tidak menjadikan Nissa untuk tidak bersiap menyambutnya.


Wanita merupakan makhluk yang dikodratkan oleh Sang Khalik sebagai perantara lahirnya manusia di bumi ini. Wanita diberi kelebihan untuk bisa mengandung, melahirkan, memelihara calon manusia dan mendidiknya.


Tugas kaum ibu, sungguh suatu tugas yang tidak ringan. Allah SWT telah menentukan kodrat wanita yang berat itu, namun kadangkala kaum Adam kurang mau memahami. Secara fisik dan rohani memang wanita dipersiapkan memiliki kesanggupan.


Wanita sebagai ibu adalah pendidik paling utama bagi manusia. Kaum ibu yang ideal tidak sekedar dapat mengandung, namun seorang ibu harus berkualitas. Anak-anak mereka tidak cukup dijamin kebutuhan jasmaninya, namun rohaninya juga lebih penting.


Di dalam rumah, siapakah yang mempunyai banyak waktu untuk anak-anak? Siapakah yang lebih mempunyai pengaruh terhadap anak-anak? Siapakah yang lebih dekat kepada anak-anak? Tidak lain adalah ibu-ibu mereka. Seorang ibu merupakan seseorang yang senantiasa diharapkan kehadirannya bagi anak-anaknya. Seorang ibu dapat menjadikan anak-anaknya menjadi orang yang baik sebagaimana seorang ibu bisa menjadikan anaknya menjadi orang yang jahat. Baik buruknya seorang anak, dapat dipengaruhi oleh baik atau tidaknya seorang ibu yang menjadi panutan anak-anaknya.


Dan hal-hal seperti diatas tentu sangat Nissa sadari betul.


Selesai dengan ritual paginya, agaknya Nissa merasa perutnya kembali kram, tidak hanya itu bunyi keroncongan pun juga turut serta mengikutinya.


Nissa bergegas beranjak dari duduknya, merapikan kembali sajadah dan mukena yang sebelumnya dia kenakan.


Lagi dan lagi dan untuk ke sekian kali Nissa kembali mengayunkan kakinya menuruni setiap anak tangga , Tujuan nya kali ini langsung ke dapur, dimana sebelumnya Bu Sri telah menyiapkan makanan untuk Tama dan juga dirinya.


"Mari Bu Saya siapkan" Tawar Bu Sri , dan Nissa segera menurut saja, duduk di sisi samping meja makan.


Menikmati setiap suapan demi suapan yang terasa sangat enggan dia makan meski perutnya terasa keroncongan. Entah karena sebab apa Nissa sendiri tidak begitu paham namun seolah ada yang salah dengan dirinya akhir-akhir ini.


"Kenapa buk ?" Bu Sri tampak mencemaskan majikanya


Nissa hanya menggelengkan kepala, Serta menahan sesuatu yang terasa bergejolak dalam perutnya.


"Entah lah Bi, Mungkin Nissa masuk angin, beberapa hari ini sering merasa mual"


Mendengar hal itu seketika kecemasan Bu Sri menghilang begitu saja, menyadari mungkin saja majikanya tengah berbadan 2, hal itu tentu bukan karena asal Bi Sri tahu betul akan kemungkinan yang terjadi pada majikanya.


"Apa ibu sudah memeriksakannya ?"


Nissa terkekeh mendengar ucapan asisten rumah tangganya

__ADS_1


"Bi Sri. Ini hanya masuk angin, nanti juga sembuh sendiri, tidak perlu periksa " tukas Nissa mencoba kembali memasukan makanan, namun entah mengapa selalu perutnya menolak.


Mendengar ucapan majikanya, Bu Sri tampak tidak percaya.


"Buka itu maksut saya Bu"


Nissa tampak menajamkan pandanganya, mencoba memahami ucapan Bu Sri.


"Mungkin saja Bu Nissa hamil, itu maksut saya. Gejalanya hampir sama kaya saya waktu Hamil 3 anak saya dulu" Seloroh Bu Sri yang mencoba memberi penjelasan.


Nissa terlihat berfikir , jika di pikir pikir memang dia sudah tidak mendapati menstruasi sejak terakhir kali dia mens di bulan saat pernikahannya dengan Tama.


Nissa merasa cukup bahagia dengan perkiraan yang di katakan Bu Sri, meski dia belum berani untuk berandai-andai, Nissa masih takut jika dia tidak benar-benar hamil.


"Bu Nissa tenang saja , Saya akan belikan alat tes kehamilan di apotik depan"


Anissa pun mengangguk setuju, Merasa beruntung Bi Sri begitu antusias membantunya, seolah dia juga tidak sabar ingin mengetahui bagaimana hasilnya.


"Apa tidak merepotkan Bibi?" Ujar Nissa. Bi Sri menggelengkan kepalanya.


Setelah itu Bu Sri bergegas untuk pergi ke apotik, karena jarak nya sangat dekat, hanya butuh menyebrang jalan saja sudah sampai, Bu Sri memilih untuk berjalan kaki.


Tidak butuh waktu lama Bu Sri kembali dengan membawa barang yang sebelumnya dia beli.


"Coba Bu di cek dulu"


Bu Sri begitu bersemangat dengan menyodorkan alat tes kehamilan pada Nissa.


Begitu juga bisa tampak berdebar menerimanya, Nissa memilih kembali ke kamar nya, disusul bi Sri yang mengikuti sang majikan dari belakang,


Lagi dan lagi dan untuk kesekian kali Nissa kembali menaiki anak tangga di rumahnya.


***

__ADS_1


__ADS_2