
...Sesungguhnya kesabaran itu tidak memiliki batas, hanya Hatimu saja yang selalu kau batasi ...
...🍁...
Sore hari cuaca terasa lebih dingin, selain karena baru saja turun hujan juga karena angin yang bertiup kencang menambah dingin udara sekitar.
Kondisi Nissa semakin membaik, hasil pemeriksaan pun telah keluar dan esok Nissa sudah di izinkan untuk pulang, meski dengan catatan jika dia tetap harus menjaga kandungannya, selain karena sempat mengalami guncangan yang mengakibatkan perdarahan, juga karena masa-masa kehamilan muda sangat rentan terjadi masalah.
Nissa tengah menjalani serangkaian pemeriksaan di ruangan dokter Sahara, dengan di temani umi Fatimah yang setia menemani Nissa.
Sementara Tama dan Bu Sisca menunggu keduanya di luar ruang dokter.
Pak fajar dan Abi Hamzah sendiri telah kembali ke rumah masing-masing tentu karena keduanya tidak bisa meninggalkan pekerjaan dan pesantren begitu Saja.
"Tam "
"Iya ma"
Tama masih merasa bingung dengan kasar mengusap wajahnya.
"Bagaimana tawaran mama tempo hari, apakah sudah kau putuskan ?"
Bu Sisca berbicara serius pada sang putra. Begitu juga Tama yang menanggapi ucapan sang mama dengan serius.
Terlihat Tama beberapa kali menghela nafas dalam. Menimbang kembali setiap usulan dan masukan dari kedua orang tuanya.
"Sepertinya memang saran mama harus Tama pertimbangkan"
Keduanya cukup banyak berbincang, sampai pada saat pintu ruang dokter terbuka. Menampakkan Nissa dan sang mertua yang bersiap keluar.
Tama menyambut sang istri yang masih duduk di kursi roda dengan senyum bahagia.
Tama tahu meskipun Nissa terlihat baik-baik saja, namun dia sangat yakin jika saat ini Nissa merasa takut, terlebih saat ini Inara selalu berusaha untuk kembali berbuat nekat, meski selalu bisa Tama gagalkan sebelum Inara melancarkan aksinya.
Nissa dan Tama memilih untuk segera kembali ke kamarnya, disusul Bu Sisca dan umi Fatimah yang juga berjalan di belakang keduanya.
"Umi sama mama sebaiknya makan dulu, Tama lihat dari tadi kalian belum makan apapun" Ucap Tama
Bu Sisca membenarkan apa yang di katakan putranya, memang dia merasa sedikit lapar, tentu hal itu juga mungkin saja dialami oleh besarnya.
Selain untuk makan, keduanya juga berencana untuk melaksanakan sholat di masjid rumah sakit.
Keduanya kini sepakat untuk keluar makan,sholat dan mungkin saja berjalan-jalan menikmati udara sore.
Selain karena alasan pribadi kedua orang tua tersebut juga inggin memberi ruang pada pasangan suami istri yang baru saja melewati masa sulit itu untuk sekedar berbincang bersama.
"Mas. Kita sholat dulu yuk " ajak Nissa.
Keduanya melewatkan waktu sholat ashar, karena sebelum nya, cukup banyak pemeriksaan yang harus di jalani oleh Nissa.
Tama pun setuju, dan langsung mengambil wudhu, disusul Nissa yang juga mengambil wudhu setelahnya.
Keduanya tampak melaksanakan sholat berjamaah, terasa sangat khusyuk dan tenang, setelah semua ujian yang baru saja mereka lewati, tentu kedepannya masih akan banyak lagi ujian yang telah siap menanti.
Setelah beberapa saat keduanya telah selesai dengan kewajibannya. Tak lupa Nissa mencium punggung tangan sang suami.
__ADS_1
Tama pun bergegas membantu Nissa untuk kembali ke tempat tidurnya. Tidak hanya Nissa namun Tama yang juga beberapa hari tidak dekat dengan sang istri merasa kan kerinduan yang mendalam.
Sejak kabar kehamilan Nissa kemudian di susul kejadian yang menimpa Nissa, mungkin baru saat ini lah Tama dapat bernafas lega.
"Mas, Tempatnya sempit"
"Tidak masalah sayang, aku bisa miring"
Keduanya terkekeh bersama, benar saja meski ukuran tempat tidur rumah sakit tidak sebesar kasur di kamarnya namun cukup nyaman untuk keduanya bersama.
"Mas"
Keduanya saling berpelukan, tak jarang sesekali Tama mengusap lembut perut sang istri.
"Em"
"Mba Inara--"
"Kau tidak perlu memikirkan dia sayang, ingat kata Sahara, kau tidak boleh stres"
Tama memotong kalimat Inara, sejujurnya Tama sangat tahu jika Nissa terbebani dengan sikap Inara yang selalu mencoba mencelakai dirinya.
"Nissa rasa ada yang salah dengan mba Inara, dan sejujurnya Nissa kasihan, jika terus di biarkan tidak menutup kemungkinan mba Inara akan berbuat lebih nekat lagi pada kita"
Tama tampak merenungi ucapan Nissa, sejujurnya apa yang di pikirkan Nissa sama hal nya dengan apa yang kini dia pikirkan.
"Aku pikir dia juga bukan orang yang kurang kasih sayang mas, Mba Inara punya segalanya, namun kenapa harus mencari perhatian dengan merebut suami orang"
"Aku khawatir jika sebenarnya ini bukan cinta mas, tapi ego Mba Inara semata yang ingin terus mendapatkan mas Tama"
"Kau benar sayang, dan itu sangat berbahaya, karena mungkin saja ada yang tidak beres dengan mental Inara" ujar Tama
Nissa mengangguk membenarkan apa yang dikatakan sang suami.
"Tapi kau tenang saja , aku dan mama sudah menyiapkan langkah untuk antisipasi"
Nissa tampak mendongakkan wajahnya menatap sekilas sang suami. Mencari keseriusan dari ucapan Tama sebelumnya.
"Maksudnya?"
Tama tampak menghela nafas
"Kita akan pindah ke Malaysia, untuk sementara waktu kita akan menetap disana" ujar Tama
Nissa tampak menautkan kedua alisnya.
"Aku sudah mengatakan ini pada umi dan Abi, dan mereka menyetujuinya"
"Lalu bagaimana pekerjaan mas Tama ?"
Nissa tahu jika dokter merupakan cita-cita mulia yang selalu sang suami banggakan dalam hidupnya, bahkan dia menolak semua pemberian orang tuanya untuk mengelola aset dan perusahaan Bu Sisca dan pak fajar demi untuk mengemban tugas mulia sebagai dokter.
"Tidak masalah, Keselamatanmu lebih penting dari apapun" Ujar Tama
Tama pun meyakinkan jika dimanapun dia berada keterampilan dan profesinya tidak akan berubah. Meski untuk saat ini mungkin saja Tama akan merasa kehilangan dunianya.
__ADS_1
Dunia dari masa kecil yang hanya merupakan cita-cita dan kini bisa dia wujudkan dalam dunia nyata, menjadi dokter spesialis jantung.
Tapi semua itu tidak lah lebih penting jika dibandingkan dengan keselamatan keluarganya.
***
7 Bulan berlalu.
Nissa dan Tama telah menempati rumah baru di Malaysia, rumah yang baru beberapa minggu lalu selesai di kerjakan , karena setelah keduanya pindah mereka menumpang di rumah Bu Sisca dan pak Fajar.
Terlihat pula perut Nissa yang sudah mulai buncit, dari balik gamis panjang yang dia kenakan terlihat tonjolan yang menegaskan kehamilannya.
Mendekati hari bahagia keduanya kerap kali keluar dan berbelanja bersama untuk menyiapkan keperluan calon bayi mereka.
Bahagia dan merasa lebih aman Nissa rasakan.
Setelah keduanya pindah, Inara pun juga tidak memiliki akses untuk menjangkau Nissa dan Tama.
Belakangan diketahui Inara mengalami gangguan mental serius.
Kedua orang tua Inara pun mengambil tindakan pengobatan untuk sang putri, memasukan Inara kedalam panti rehabilitasi, karena indikasi gangguan mental yang dialami Inara.
Sungguh ironi seorang dokter yang sejujurnya memiliki segalanya, namun dia terlalu memaksakan egonya, sehingga membuat dirinya hancur begitu saja.
Menurut cerita, Setelah kepergian Tama dan Nissa, Inara mulai bertingkah aneh, kejiwaannya mulai terganggu dan emosinya yang meledak-ledak, hal itu lah yang melatar belakangi kedua orang tua Inara membawa sang putri untuk berobat ke Amerika.
Selain itu juga menjauhkan Inara dari segala sesuatu yang berhubungan dengan Tama , mungkin saja akan lebih baik bagi Inara.
Meski kabar itu sangat menyedihkan namun setidaknya Tama dan Nissa cukup lega karena harapannya kedepan tidak akan ada Inara Inara lainya di kehidupan keduanya.
Tidak hanya itu Tama juga kini telah merintis sebuah rumah sakit , yang telah mulai di kerjakan pembangunannya, berkat bantuan sang sahabat yang selalu mendukungnya. Siapa lagi jika bukan Reza, yang selalu berharap sahabatnya tidak melupakan jati dirinya sebagai seorang dokter.
Seperti yang di katakan Tama sebelumnya, dimanapun dia berada keterampilan dan profesinya akan selalu ada, hidup, dan akan terus mengudara.
Selangkah lagi, dia akan kembali mengabdikan diri sebagai seorang dokter spesialis jantung, yang sempat dia tinggalkan beberapa waktu.
Kehidupan Keduanya mulai terasa sempurna, dengan kebahagiaan yang dirasakan selalu ada, Ujian mungkin akan selalu datang, namun dengan kuatnya iman dan Kasih sayang, keduanya yakin akan dapat bersama-sama menghadapinya.
...TAMAT ...
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokathu
Alhamdulillah Tiada daya dan upaya selain karena kebesaran yang Maha Kuasa.
Tidak lupa pula Author ucapkan banyak banyak terima kasih untuk para Readers Fillah yang tentu hadir karen Allah.
Mohon maaf apabila dalam penyampaian masih banyak kata yang kurang pantas, masih banyak kekurangan dalam penulisan, InshaAllah akan kembali Author benahi.
Untuk semua Like, Komen, Subscribe, Vote, Penilaian, serta hadiah yang selalu Author terima dari Readers semua, Author ucapkan banyak terima kasih, semoga Allah membalas nya dengan berlipat ganda 🥰🙏
InshaAllah kita ketemu dengan Judul dan Cerita Baru Ya ..
Terima kasih semuanya 🥰🥰🥰🥰🙏🙏🙏🙏
Wassalamu'alaikum warahmatullahi Wabarokathu
__ADS_1