
...Di dunia ini tidak ada yang benar benar untuk saling mencintai, yang ada hanya saling di titipi....
...🍁...
Pagi hari menjelang, tepat hari ini merupakan hari Sabtu, rencana Tama sebelumnya adalah ingin membawa Nissa pulang kerumahnya sendiri.
Tama meraih ponsel yang dia letakkan di saku jas dokter nya, nahas ponsel tersebut mati karena kehabisan baterai.
"Shiitt...." umpat Tama
Sudah pasti Semalaman Nissa akan memikirkan dirinya, bagaimana bisa dia melupakan begitu saja Nissa , tanpa pikir panjang Tama bergegas meninggalkan Inara dan kedua orangtuanya yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Tam mau kemana ?" lirih Inara dengan mencengkeram jas milik Tama
Tindakan itu seketika menghentikan langkah Tama yang sudah berencana akan keluar dari ruangan.
"Aku akan pulang" ucap Tama
"Tidak bisakah kau disini" ucap Inara dengan wajah sendu.
"Ra , Cukup !"
"Please Tam !" mohon Inara pada Tama
Tatapan tajam Tama dengan gelengan kepala seolah cukup membuat nyali Inara menciut, kuatnya cengkeraman tangan Inara semakin terasa melonggar, dan setelah itu dia lepaskan jas Tama.
Menyadari hal itu, bergegas Tama keluar dari ruangan, berjalan dengan langkah cepat, dan tujuan nya kali ini adalah pada asistennya, memastikan tidak ada tindakan darurat , dan setelahnya dia berencana untuk segera pulang, karena untuk pelayanan Poli tentu hari Sabtu dan Minggu libur.
Setelah benar benar memastikan tidak ada tindakan darurat, Tama pun bergegas pulang dan tentu harapannya segera bertemu Nissa.
Waktu menunjukan pukul 06.30, setelah berkendara kurang lebih 30 menit Tama akhirnya sampai di area pesantren, tidak menunggu lama, Tama segera menuju rumah utama Ustadz Hamzah.
Tidak ada hal lain yang dia pikirkan saat ini selain Nissa,Tama menyadari kesalahannya dan dia pun siap jika harus menerima kemarahan Nissa.
Sepertinya kebanyakan penghuni rumah tengah melaksanakan duha, sehingga kondisi rumah lumayan sepi, Tidak ada yang menyadari kedatangan Tama, hanya di area dapur besar saja yang tampaknya selalu ramai, karena disana pusat masak memasak untuk semua santri yang di pantau langsung oleh Umi Fatimah.
Brak !!
__ADS_1
Tama yang tergesa-gesa hingga tak sempat mengetuk dan langsung saja menerobos kedalam kamar.
"Astagfirullah" kaget Nissa.
Netra Tama tanpa sengaja menangkap Nissa yang baru saja selesai mandi , hanya mengenakan handuk yang di lilitkan ke badan, tentu hanya menutupi area sensitifnya saja. Rambut hitam panjang yang terlihat di gulung ke atas, menyisakan sedikit anak rambut di sisi samping kanan dan kiri.
Sudah payah Tama menelan ludahnya, karena pemandangan di hadapannya sangat sulit untuk dia lewatkan begitu saja.
Namun seketika Tama tersadar dari indahnya lamunan pada karya indah sang Maha Kuasa yang terletak pada istri nya , tentu hal itu untuk pertama kali dia lihat.
Beruntung Nissa tengah ada tamu bulanan, jika tidak entah apa yang akan terjadi, sejujurnya Tama begitu mendamba sang istri, namun sadar diri saat ini dirinya tengah dalam masalah besar antara diri ya dan Inara, Tama merasa perlu meluruskan pada Nissa, agar di kemudian hari tidak terjadi ke salah pahaman.
Menyadari tatapan Tama , Nissa buru-buru mengambil baju gamisnya untuk kembali ke kamar mandi, namun hal itu juga tak luput dari pandang mata Tama. Segera Tama pun menarik tangan sang istri.
Sangat cepat hingga Nissa kini berada dalam dekapan Tama. Nissa merasakan sang suami memeluknya dengan erat, sampai Nissa merasakan sesak.
Bukan sahwat atau nafsu yang kini Tama rasakan, tapi lebih pada rasa bersalah pada Nissa, mengingat dirinya semalaman bersama wanita lain, sementara disini ada istrinya yang setia menanti, sungguh hal itu membuat pikiran Tama kacau.
"Mas baru pulang ?, Sudah sarapan?" suara lembut Nissa seketika menyadarkan Tama dari rasa bersalahnya.
"Belum " jawab Tama singkat namun masih dengan posisi sama, enggan untuk melepaskan sang istri.
Namun seolah terbius Tama justru begitu menikmati aroma wangi yang mengular dari tubu sang istri. Beberapa kali terasa hembusan nafas lembut Tama yang mengendus kulit Nissa..
Hal itu tentu seketika membuat Nissa menjadi grogi, terlebih dengan dirinya yang saat ini bagai di telanjang i.
"Mas jangan seperti ini, Nissa takut "
"Takut ?" Ulang Tama dengan menautkan kedua alisnya.
Kini Tama menatap lekat wajah Nissa, menyandarkan tangannya di bahu mulus sang istri yang saat ini tidak tertutup apa pun.
"Nissa kan masih ada tamu" celetuk Nissa yang berfikir jika saat ini Tama menginginkan dirinya, sementara dia tengah berhalangan.
Padahal kenyataanya Tama justru ingin meminta maaf dan merasa bersalah pada Nissa. Namun menyadari kepolosan sang istri Tama justru terkekeh. Tidak menyangka jika Nissa berfikir Tama menginginkan nya saat itu juga.
"Tumben cuma pakai handuk ?" goda Tama dengan kerlingan mata
__ADS_1
"Mas !"
"Apa kau sedang menggodaku ?"
"Astagfirullah Mas !!" Ujar Nissa dengan suara tercekat.
Lagi lagi dengan rasa malu nya, Nissa hanya menunduk meski berusaha melepaskan diri dari Tama, nyatanya laki-laki di hadapannya itu mungkin telah dibuai oleh nafsu yang tidak bisa di salurkan.
"Mas Nissa harus mengajar jam 8 nanti" ujar Nissa dengan suara lembut.
Bukan mengindahkan, justru Tama kembali memeluk sang istri, menghirup aroma segar yang baru saja kering setelah mandi, harum alami dari tubuh yang selalu di tutupi.
Untuk pertama kali Tama merasakan berada pada titik ternyaman dekat dengan seorang wanita, bukan sebelumnya tidak pernah, hanya saja Tama merasa sensasi nya sangat berbeda jauh dengan Nissa saat ini.
Beberapa kali tanpa sadar Tama menge cup pundak polos Nissa, hingga Nissa pun juga merasakan rasa geli yang juga baru pertama dia rasakan.
"Mass.. !!" kesal Nissa Tama tidak segera melepaskan.
"Oke , Aku akan melepaskan tapi ganti baju nya di sini saja"
Dua bola mata Nissa seakan mau lepas dari tempatnya, mendengar permintaan sang suami yang sungguh aneh bin nyleneh.
Meski sejujur nya malu, namun pada akhirnya Nissa menyetujui usulan Tama. Dia bersedia mengganti pakaian di kamar saja.
Namun Nissa juga tidak kurang akal, Nissa mengambil gamis besar yang telah dia siapkan sebelumnya, kemudian langsung dia pakai begitu saja tanpa melepaskan handuk yang melilit tubuhnya, barulah setelah gamis tertempel di badan, Nissa melepaskan handuk dengan mudah.
Melihat hal itu Tama pun tertawa terbahak, dalam bayangannya dia akan melihat Nissa tanpa busana, namun nyatanya istrinya jauh lebih cerdik dari bayangan nya.
Sama halnya dengan Tama Nissa pun juga terkekeh menyadari kekonyolannya. Padahal sebenarnya jika dia buka pun buka. sesuatu yang haram bagi Tama, dan justru bernilai pahala, hanya saja untuk saat ini Nissa merasa masih begitu malu untuk melakukan itu.
"Awas ya !! Setelah tamu mu pergi aku tidak akan membiarkan mu tenang " ancam Tama dengan menaik turun kan alisnya.
Nissa hanya membekap mulutnya, dengan menatap tajam sang suami.
"Mas !! Masih pagi !! Otaknya jangan ngeres terus !!" ucap Nissa dengan memanyunkan bibirnya.
Sikap Nissa justru membuat Tama semakin gemas, hingga dia lupa dengan niat awalnya yang buru-buru menemui Nissa untuk menjelaskan persoalan Inara.
__ADS_1
Setelah gurauan kecil sebelumnya , Nissa keluar dari kamar untuk menyiapkan sarapan sang suami, sementara Tama juga bergegas untuk membersihkan diri, dari segala virus dan bibit penyakit yang mungkin terbawa dari rumah sakit
***