
...Tidak Jarang Luka Tercipta dari seseorang yang kita anggap Istimewa....
...🍁...
Satu jam berlalu.
Tama masih tetap merasa bersalah jika belum mengatakan kebenaran dirinya yang tengah bersama Inara, sementara dalam benak Nissa , yang justru menganggap Tama tengah sibuk bekerja. Hal itu tentu menjadi beban tersendiri bagi Tama.
Tidak ingin terjebak dalam situasi yang menyudutkan , Tama memilih untuk segera menemui sang istri, meski harus menunggu di depan kelas akan Tama jabanin.
Setelah berkeliling, naik dan turun tangga, akhirnya Tama menemukan Sang istri tengah fokus pada pelajaran yang dia ajarkan, Benar benar di situ Tama merasa minder dengan Nissa, Tama yang minim agama nyatanya Allah pertemukan dengan Nissa yang memiliki sejuta pesona.
Untuk sesaat Tama benar-benar kagum pada sang istri, terlebih saat ini Nissa mengajar menggunakan bahasa arab, semakin menambah kekaguman Tama pada Nissa, meski dia sendiri tidak paham apa yang di ucapkan dan di sampaikan Nissa pada santrinya.
Dari balik jendela kaca itu Tama dapat melihat dengan jelas sang istri, sangat jauh berbeda dengan Nissa yang sebelumnya selalu dia goda dengan rayuan rayuan gombal dan kata-kata mes um nya.
Hati kecilnya sedikit merasa tercubit, bagaimana dia bisa menggoda seorang ustadz dengan rayuan recehnya, namun sejauh penglihatan Tama , Nissa pun juga tidak keberatan ketika Tama melakukan hal itu.
Cukup lama Tama menunggu, hingga bosan mulai dia rasakan. Terdengar bel berbunyi yang menandakan pergantian jam kelas mengajar.
"Lho mas ngapain disini ?"
Tanya Nissa yang baru saja keluar dari kelas, mendapati Tama telah berdiri menunggu nya dari jarak yang tidak terlalu jauh.
Bukan menjawab justru Tama melemparkan senyum terbaiknya.
Keduanya lantas berjalan beriringan , lebih tepatnya Tama yang mengikuti langkah Nissa. Meski sejujurnya ingin sekali menggandeng tangan Nissa , namun niat itu Tama urungkan mengingat banyaknya santri yang berseliweran. Dia cukup tahu diri, dan merasa segan mempertontonkan kemesraan terhadap ustadz yang baru saja dia halalkan itu.
"Masih ada berapa kelas ?"
"Hari ini cuma satu saja mas"
"Oh. Bagaimana kalau kita kerumah sekarnag ?, Mama udah nungguin kamu"
"Iya mas, Nissa juga kangen mama"
Keduanya kembali berjalan menyusuri koridor koridor pesantren hingga sampai di area rumah utama Ustadz Hamzah.
"Omong - omong mas ngapain nungguin Nissa ?"
Sejujurnya ragu untuk mengatakan kejujuran pada Nissa, perasaan ragu mulai merayapi, takut kalau-kalau Nissa akan kecewa.
"Nissa" lirih Tama
"Iya mas"
"Ada yang ingin mas bicarakan"
Namun belum sempat Tama menyampaikan maksut dan tujuannya menunggu dirinya, Dering telepon kembali meminta keduanya untuk menjeda obrolan nya.
Sebuah telepon dari rekan sesama pengajar yang mengatakan tidak dapat hadir, karena anaknya sedang sakit, dan harus di rawat di rumah sakit.
__ADS_1
Mau tidak mau Nissa akan menggantikannya untuk mengajar. Meski sejujurnya berat, karena Nissa sebelumnya telah menyanggupi untuk pulang dan bertemu sang mertua. Namun niat baik itu harus kembali tertunda.
"Mas nggak keberatan kan kalau kita bicara nya nanti saja, kasihan anak-anak sudah nungguin Nissa"
Meski dengan berat hati setelah perjuangan menunggu Nissa, namun dia juga harus paham situasi dan kondisi Nissa, satu di bandung dengan banyak atau dirinya dibanding para santrinya tentu untuk saat ini Nissa akan lebih memprioritaskan mereka, karena itu bagian dari tanggung jawab Nissa sebagai pengajar.
"Baiklah"
Jawab Tama kemudian.
Dan lagi hal ini memaksa Tama untuk kembali menyimpan rapat fakta yang akan dia katakan pada istrinya.
***
Sore hari seperti biasa Nissa akan menyiapkan segala keperluan Tama mulai baju, sarung dan juga kopyah yang akan di gunakan untuk berjamaah di masjid.
Hari ini cukup padat kegiatan yang di lakukan Nissa hingga tanpa terasa dia baru kembali setelah hari sudah sore. Sementara Tama juga ternyata sebelumnya di hubungi asisten nya untuk datang ke rumah sakit.
Tama terlihat lebih segar dan semakin mempesona mengenakan Koko kurta yang di padu padankan dengan sarung dengan warna senada.
"MashaAllah" puji Nissa dengan senyum terkembang, menyadari sang suami begitu sedap dalam pandanganya.
"Aku tampan?" celetuk Tama
Mendengar ungkapan percaya diri dari Tama , Nissa pun hanya mengangguk dengan senyum terbaiknya. Sejujurnya sangat malu mengakui itu, namun kenyataan memang Tama sangatlah tampan.
Begitu Selesai menyiapkan keperluan Tama , Nissa pun juga bergegas untuk membersihkan diri dan bersiap melaksanakan sholat, meski dia sholat di dalam rumah, tentu berjamaah bersama umi Fatimah dan yang lainya.
Tut.
Terdengar dering telepon ketika Nissa akan melangkah masuk kedalam kamar mandi
"Mama" monolog Nissa.
"Assalamualaikum Ma"
"Waalaikumsalam Nissa" jawab Bu Sisca dari ujung telepon
"Hadiahnya sudah di terima nak ?" tanya Bu Sisca kemudian
"Hadiah, hadiah apa ?" gumam Nissa dalam hati.
"Oh. Seperti ya belum ma, ohya hadiah apa ma ?" jawab Nissa kemudian.
"Nggak, cuma hadiah kecil buat kamu sama Tama, mama kemarin buru-buru pulang , jadi nggak sempat kasih kan ke kamu, Jangan lupa di pakai ya." ucap Bu Sisca dan terdengar suara cekikikan dari sang mertua.
"Iya ma nanti Nissa pakai kalau sudah datang ya"
Tentu Nissa tidak ingin mengecewakan Bu Sisca dan berjanji akan memakai sesuai instruksi sang mertua sebelumnya. Terlebih mendengar tawa bahagia sang mertua tentu hadiah itu sangat spesial.
"Ya sudah Salam untuk Tama ya, Assalamualaikum"
__ADS_1
"Iya ma Waalaikumsalam"
Tut.
Sambungan telepon pun terputus, dan Nissa kembali melanjutkan rencana awalnya untuk membersihkan diri.
Seperti biasa malam ini akan ada kajian bagi santri dan penghuni pesantren, tidak jarang pula orang dari luar pesantren banyak yang datang untuk mendengarkan ceramah dari ustadz.
Tidak terkecuali Tama yang sudah mulai terbiasa dengan rutinitas di pesantren, selama kurang lebih 1 Minggu ini dia memang tidak pernah melewatkan kegiatan malam di pesantren, karena jika siang memang dia tidak bisa ikut karena harus di rumah sakit.
Tok tok tok !!
Suara ketukan dari balik pintu seketika menghentikan Nissa yang tengah bermunajat diatas sajadah panjangnya.
"Nissa"
"Ya ummi , sebentar" Nissa beranjak dari duduknya dan bergegas membukakan pintu untuk Ummi Fatimah
"Ini ada paket, sepertinya dari mertua kamu, sayang sekali beliau sama kamu nis. Ummi senang"
Haru bahagia menyelimuti hati Ummi Fatimah, orang tua mana yang tidak bahagia melihat sang putri begitu di cintai dan di terima baik oleh keluarga suaminya.
Nissa pun menerima dengan senyuman di wajahnya, sungguh dia pun juga merasa beruntung.
"Terima kasih Ummi"
Setelah menyerahkan hadiah tersebut Ummi Fatimah langsung meninggalkan Nissa, seperti biasa ini juga rutin di lakukan Ummi Fatimah untuk selalu mengontrol kegiatan di dapur besar, karena makan malam santri terjadwal setelah sholat isya, atau setelah kajian selesai.
Sementara itu Nissa memilih masuk dan meletakkan kotak besar dari sang mertua di atas tempat tidur, Nissa memilih menunggu Tama, karena hadiah tersebut tidak hanya untuk dirinya juga untuk Tama, sesuai ucapan sang mertua sebelumnya.
Nissa memilih kembali melanjutkan Murojaah nya , sembari menunggu sang suami kembali dari masjid.
Nissa masih larut dalam Murojaah nya, hingga tidak menyadari Tama telah masuk kedalam kamar, dan duduk tepat di belakang Nissa.
Kali ini Tama benar-benar berniat untuk mengatakan sejujurnya Pada Nissa mengenai kejadian kemarin malam.
"Astagfirullah, Mas .. Sudah pulang ?"
Tama menganggukkan kepala dengan senyuman merekah di bibirnya.
"Merdu sekali saramu " puji Tama. Nissa hanya tersenyum
Sejenak tatapan keduanya beradu, Tama melihat betapa cantik istrinya saat ini, dibalut mukena putih yang menambah daya tariknya.
"Ohya Mas, mama kirim hadiah buat kita " ucap Nissa menyadarkan lamunan Tama
"Apa ?"
"Entah lah, Nissa juga belum buka"
"Kita buka sama-sama yuk" tawar Nissa. Tama pun menurut dan menganggukkan kepala.
__ADS_1
***