JODOH DARI LANGIT

JODOH DARI LANGIT
BAB 33. Pemanasan


__ADS_3

...Cinta itu dimana keduanya saling Usaha, Jika hanya salah satunya itu namanya Memaksa...


...🍁...


Bijak dalam membaca 21 +


Untuk bocil let's skip


 


Setelah beberapa kali mencoba meyakinkan diri sendiri, Nissa telah begitu yakin untuk segera menanggalkan baju gamisnya, yang akan dia ganti dengan Lingerie hitam nan menggoda.


Tak lupa menyemprotkan parfum di beberapa titik sensitif , meski sebelumnya Nissa juga telah mandi dan menggosok gigi namun entah mengapa dia kembali menggosok giginya berulang kali, tak lupa membersihkan bulu-bulu halus diarea sensitif.


Begitu kira-kira hasil penelusuran dari buku yang dia baca, mengenai bagaimana cara seorang istri mengambil hati suami, dan kini Nissa juga telah mengenakan lingerie hitam lengkap dengan dalaman nya yang juga berwarna senada, tampak mengekspos seluruh bagian tubuhnya, tanpa terkecuali.


"Apa tidak berlebihan ?" gumam Nissa


Sementara Tama menunggu cukup lama, dia begitu tidak sabar melihat istrinya , lebih tepatnya sangat lama mengingat Nissa yang hanya berniat mengganti pakaian saja.


Ini sudah kali ke 7 dia menetap pintu kamar mandi dan sepertinya belum ada tanda-tanda Nissa akan keluar.


"Sayang kamu baik-baik saja"


Merasa khawatir kalau-kalau Nissa pingsan di dalam kamar mandi, pasalnya sudah 45 menit sejak Nissa meninggalkan dirinya, dan kini belum tampak batang hidungnya


"Oh. Em. Iya mas, Tunggu sebentar"


"Ini sudah sangat lama sayang, Keluar lah, atau aku akan membukanya paksa"


Menyadari Tama yang akan nekat mendobrak, rasanya bukan tindakan yang baik, terlebih ini sudah cukup malam untuk membuat keributan.


Rumah utama yang sebagian besar di dominasi furniture kayu, membuat setiap pergerakan penghuni didalamnya terasa begitu mengganggu, apa lagi jika benar nanti Tama akan mendobraknya.


Hal itu tentu saja bisa memancing ummi bahkan Abi nya untuk mendekat.


Tidak ingin lebih lama membuat sang suami menunggu, akhirnya Nissa pun memutuskan untuk segera keluar.


Dengan malu-malu Nissa menyembulkan kepalanya, benar saja tepat di depan pintu Tama telah menunggunya dengan berkacak pinggang.


"Kenapa dia jadi garang" gumam Nissa dalam hati

__ADS_1


"Mas Marah?" ucap Nissa setelah benar-benar keluar dari kamar mandi.


Menyadari Tama hanya terus menatapnya dari atas sampai bawah, dan itu Tama lakukan berulang kali, dan tangannya yang terlipat ke dada.


Tama hanya diam menatapi tampilan Nissa yang sangat berbeda dan itu sangat menggoda.


Mulai dari rambut yang biasa dia Cepol kini dia gerai begitu indah, Aroma wangi yang mengular dari tubuhnya, eits jangan lupakan kulit Nissa yang putih dan mulus semulus jalan tol. Tidak sampai di situ saja, Tama tampak terpaku pada dua gundukan besar di bagian depan itu, terlihat padat dan seolah penyangga nya tak kuat untuk menampungnya.


Nissa tampak menggoda dan sangat sempurna bagi Tama.


"Apa aku tidak cocok ?" lirih Nissa menatap dirinya sendiri


Sadar tindakannya membuat sang istri insecure, Tama buru-buru memberikan penjelasan. Karena tidak ingin malam indah ini berakhir dengan saling berburuk sangka.


"Kenapa lama sekali, Aku hanya khawatir kau akan masuk angin , mengenakan pakaian setipis ini di sana" tunjuk Tama pada kamar mandi.


"Ma maaf mas, Nissa malu" lirih Nissa dengan menundukkan wajah.


"Kenapa malu, justru aku sangat menyukainya"


Terlihat beberapa kali Nissa berusaha menutupi bagian depan yang terlihat menyembul dengan rambut panjang yang tergerai indah.


Dengan lembut Tama menyibak rambut-rambut yang menutupi bagian depan Nissa, memperlihatkan sesuatu disana yang sangat menggoda, sejujurnya pemandangan itu cukup membuat Tama kesulitan menelan ludahnya.


Tama berjalan mendekat pada Nissa yang sedari tadi tidak menatapnya meski Tama berbicara padanya.


Meraih pinggang ramping dihadapannya dan mengikis jarak antara dirinya dan Nissa. Sangat dekat hingga Nissa merasa dadanya menempel pada tubuh Tama.


Jantung Nissa seakan berhenti tatkala sebuah sentuhan lembut Tama berikan di area belakang nya. Desiran jantung yang mulai tak menentu dapat Nissa rasakan. Deru nafas Tama yang membelai lembut kulit Nissa terasa sangat geli.


"Kau siap ?"


Pelan namun pasti Tama menangkap anggukan kepala dari Nissa.


Tama menarik dagu runcing istrinya, dia ingin Nissa menatapnya, seperti saat ini Tama menatap Nissa. Meski malu pada akhirnya Nissa menurutinya.


Wajah merona Nissa tampak menggemaskan bagi Tama.


Sangat tampan , kesan pertama yang Nissa berikan untuk sang suami, jika sebelumnya Tama selalu memeluk Nissa dari belakang, maka kali ini berbeda Nissa dapat dengan jelas melihat bagaimana wajah sang suami.


Tanpa sadar Nissa pun mulai mengusap lembut pipi dan alis Tama , untuk sesaat Nissa pun benar-benar kagum , terlebih bagian dada yang terasa kokoh, entah dorongan dari mana Nissa juga tak lupa untuk menyentuhnya, hingga dia beberapa kali menusuknya dengan telunjuk, memastikan dada itu tidak akan kempes seperti roti sobek yang kerap dia makan.

__ADS_1


"Apa kau menyukainya ?" bisik Tama


Nissa pun membelalakkan mata , mendengar pertanyaan sang suami, sungguh rona merah di wajahnya kini semakin terlihat, namun Nissa memang sangat menyukainya, terlihat begitu perkasa.


Tama mendekatkan wajahnya pada Nissa, mengusap lembut bibir ranum milik Nissa , tidak butuh waktu lama.Tama melahap dan **********, dengan gerakan lembut namun menuntut Tama membuat Nissa menggelinjang.


Sensasi aneh yang baru dia rasakan untuk pertama kalinya.


Nissa hanya pasif , bingung mau melakukan apa, sampai pada saat Tama menggigit kecil bibir bawahnya, Nissa pun membuka mulut dan di sana dia dapat merasakan sentuhan nikmat dari sang suami.


Meski masih amatir namun Nissa mulai dapat membalas ciuman Tama, tentu tindakan kecil itu membuat Tama tersenyum bahagia.


Tangan yang semula di bagian belakang kini telah berpindah tempat , satu tangan Tama telah aktif menelusup kedalam baju yang di kenakan Nissa.


Tama pun melepaskan pagutan nya tatkala Nissa mulai kehabisan oksigen, Tatapan keduanya seakan terkunci, Nissa yang awalnya malu-malu, kini mulai menikmati setiap sentuhan dari Tama.


Tanpa terasa satu tangan Tama telah berhasil masuk kedalam bajunya, ******* kecil lolos begitu saja , membuat Tama semakin bersemangat untuk melanjutkannya.


Tama memang tidak ingin terburu-buru meski miliknya selalu ingin segera menancap, dia ingin memberikan kesan pertama yang tidak pernah Nissa dapat lupakan seumur hidupnya.


Hal itu tentu akan membuat Tama semakin berkuasa atas diri Nissa. Hanya dirinya lah yang berhak untuk menikmatinya.


Tama mengangkat tubuh Nissa, dia dudukkan tubuh ramping itu diatas meja, Tama kembali mulai aksinya, mencari pengait bra yang di kenakan oleh Nissa.


"Di depan mas tempatnya" lirih Nissa yang menyadari jika Tama kesulitan menemukan letak pengaitnya.


Untuk sesaat Tama mendongakkan wajah, menatap sang istri yang seolah telah memberikan izin penuh untuk dia sentuh.


"Ohya ?"


Tama terkekeh kecil, sejujurnya hanya di lihat saja sudah tahu, namun hasratnya membuat dia merasa pandangan mata nya kabur.


Perlahan Tama melepaskan pengait milik Nissa , satu persatu dia longgarkan, sampai seluruhya terlepas, sesuatu yang cukup besar dan menarik pandangan Tama terekspos sempurna tepat di depan wajah Tama.


Tidak menunggu lama, Tama langsung melahap salah satunya, dan meremas sisi lainya, tidak memberikan kesempatan untuk mendiamkan hidangan yang begitu menggoda.


Hal itu tentu membuat Nissa sangat terkejut, dan sebuah kenikmatan yang baru dia rasakan, hingga tanpa sadar Nissa pun membusungkan dadanya, untuk membuat ruang yang lebih lebar bagi Tama.


Sungguh nikmat dan sangat menggoda Tama hingga berkali kali melahap habis, mencium dengan rakus benda kenyal di hadapannya.


***

__ADS_1


__ADS_2