JODOH DARI LANGIT

JODOH DARI LANGIT
BAB 52. Hasil


__ADS_3

...Jangan bersedih jika perbuatan baik kita tidak mendapatkan balasan baik orang lain. Ingat kata pepatah, Ketika. seseorang menanam padi, tak jarang Rumput akan tumbuh, dan Itulah kehidupan. ...


...🍁...


Cukup menegangkan, Nissa menunggu hasil dari pemeriksaan kehamilan dirinya. Entah hasilnya akan sesuai harapan ataukah sebaliknya , Sungguh Nissa hanya bisa berpasrah.


Sejujurnya dia sangat berharap akan kehamilannya, namun seandainya pun Allah belum berkehendak Nissa juga sudah siap menerimanya.


30 Detik lamanya Nissa menunggu, hingga perlahan Nissa meraih hasil tes kehamilan tersebut.


Matanya tajam meneliti pada garis yang tertera disana, Sesuai petunjuk jika terdapat 2 garis maka hasilnya positif, dan jika hanya 1 saja berarti negatif.


Tajam mata Nissa memperhatikan dengan seksama, tertera 2 garis yang berwarna merah namun sedikit samar. Dan hal itu membuat dua bola mata Nissa Terbelalak sempurna.


"Alhamdulillah" Entah darimana datangnya namun Nissa merasa sudut matanya kini menghangat.


Nissa meyakini jika itu adalah sebuah hasil yang dia inginkan, meski masih samar namun jelas terlihat disana terdapat dua garis.


Lelehan bening seketika merembes begitu saja melalui sudut mata indah Nissa.


Ucapan syukur tak henti-hentinya dia ucapkan pada sang maha Pencipta atas segalanya.


Tot tok tok


Bu Sri yang masih setia menanti di luar kamar mandi pun ikut merasakan tegang, pasalnya Nissa tidak juga keluar dari sana sejak beberapa saat yang lalu.


"Bagaimana Bu Nissa ?"


Ceklek.


Bukan memberi jawaban, Nissa lantas keluar kamar dan langsung memeluk Bu Sri sejadi-jadinya. Mengungkapkan kebahagiaan yang dia rasakan.


"Alhamdulillah Bi"


Nissa menyodorkan hasil tes miliknya pada Bu Sri , masih dengan linangan air mata membasahi pipinya.


"MashaAllah, Alhamdulillah Bu, Selamat Bu Nissa"


Tidak hanya Nissa Bu Sri pun juga turut merasakan kebahagiaan sang majikan.


***

__ADS_1


Malam hari.


Meski telah mendapatkan kabar jika Tama akan sedikit terlambat, namun Nissa tetap ingin menunggu hingga sang suami tiba di rumah.


Hal itu tentu karena Nissa sudah tidak sabar ingin mengabarkan kehamilannya pada sang suami. Nissa sengaja untuk tidak mengatakan di telepon, karena dia ingin secara langsung melihat bagaimana ekspresi Tama jika mengetahui dirinya tengah berbadan dua.


Waktu menunjukan pukul 20.15


Nissa masih setia berjaga, hingga tak berselang lama suara mesin mobil yang begitu dia kenali milik Tama terparkir di bawah sana.


Dari balkon kama, Nissa dapat melihat Tama keluar dari mobilnya.


Perasaan haru bercampur bahagia sangat Nissa rasakan. Tidak sabar rasanya dia ingin segera mengatakan pada sang suami.


Ceklek.


Sudah menjadi kebiasaan Tama , tidak pernah mengetuk pintu ketika masuk kedalam kamar, toh juga hanya istrinya yang berada disana, Begitu pikirnya.


Agaknya malam ini sedikit berbeda, karena lampu kamar masih cukup terang, tidak seperti biasanya, Nissa akan mematikannya ketika dia akan pulang terlambat.


"Assalamualaikum mas" Sapa Nissa dengan wajah cerah ceria


Nissa menghambur pada sang suami yang baru saja melangkahkan kaki masuk kedalam kamar.


Nissa hanya menggelengkan kepala. Dengan sesuatu yang dia pegang dibalik punggungnya.


Agaknya Tama menangkap sesuatu yang berbeda dari istrinya, namun entah apa Tama tidak dapat menebaknya.


Nissa seperti biasa , jika merasa bahagia dia akan sangat mudah mengekspresikannya pada Tama, bergelayut manja di dada Tama.


"Mas , Nissa punya kabar bahagia"


Tama tampak menajamkan pendengarannya, kedua alisnya saling bertaut, menanti kabar apa yang ingin istrinya katakan.


"Nissa Hamil mas" Ucap Nissa dengan menyodorkan sebuah alat yang sebelumnya dia gunakan untuk memeriksa kehamilan.


Dua bola mata Tama seakan mau lepas dari tempatnya, dia benar-benar tidak percaya, namun Nissa tidak mungkin membohonginya.


"Benarkah ?"


Nissa menganggukkan kepala, dengan wajah haru penuh bahagia.

__ADS_1


"Alhamdulillah"


Menyadari hal itu, Tama pun mengangkat tubuh istrinya, keduanya begitu bahagia atas kehamilan Nissa, Sebuah kepercayaan yang telah Allah SWT berikan pada mereka. Tama merasa begitu bahagia hingga berkali kali dia mengangkat Nissa dalam pelukannya.


Menghujani sang istri dengan ciuman kebahagiaan.


Kebahagiaan yang begitu sangat keduanya rasakan. Bahkan Nissa Samapi meminta Tama untuk menurunkannya, takut hal itu akan membahayakan kandungan.


Dari tempat Nissa dan Tama berada , sepasang mata jeli tengah menatap keduanya dengan tatapan tidak suka.


Seolah Kebahagiaan mereka merupakan sumber bencana baginya.


***


Pagi hari.


Nissa dan Tama sepakat untuk melakukan pemeriksaan kehamilan di rumah sakit.


Sebelum keduanya datang Tama telah menghubungi seorang teman sekaligus rekan kerjanya yang merupakan spesialis kandungan untuk memeriksa kondisi Nissa.


Tidak butuh waktu lama karena Tama tidak ingin berlama-lama untuk menantikan bagaimana bayinya yang mungkin saja masih sebesar biji jagung.


Tama dan Nissa melangkah menuju lobby rumah sakit, koridor rumah sakit cukup ramai meski hari itu merupakan hari Sabtu, namun tidak masalah bagi keduanya. Karena yang terpenting adalah memastikan kondisi janin mereka.


Sesampainya di depan ruang periksa , Ternyata sang dokter yang merupakan rekan kerja Tama mendadak ada tindakan emergency tindakan SC yang mendadak harus di lakukan oleh sang dokter, yang tentu hal itu memaksa keduanya untuk menunda sesaat pemeriksaan pada Nissa.


Mau tidak mau Tama dan Nissa akhirnya menunggu.


"Sayang kita tunggu di ruanganku ?" tawar Tama.


Agaknya Nissa sedikit ragu, takut jika nanti justru mengganggu Tama. Namun pada akhirnya Nissa menurut dengan ajakan Tama.


Lagipula Nissa juga tidak mungkin menunggu selama itu di ruang tunggu.


Tama memberikan penjelasan pada Nissa, kemungkinan berapa lama keduanya akan menunggu, karena sudah di pastikan lumayan lama, dan tentu Tama juga tidak selalu bisa menunggui Nissa, Tama pun berpesan untuk menghubunginya ketika dia membutuhkan sesuatu sebelum Tama meninggalkan Nissa untuk kembali pada pekerjaannya.


Didalam ruangan Tama , Sejujurnya nyaman, selain itu juga ada tempat tidur khusus dokter yang bisa dia gunakan, namun agaknya Nissa tetap tidak merasa nyaman karena berada disana sendirian.


45 menit menunggu, agaknya membuat Nissa merasa bosan, Nissa pun memutuskan untuk keluar mencari udara segar, selain itu juga karena perutnya meronta meminta untuk segera di isi.


Tujuan Nissa kali ini adalah ke kantin rumah sakit, pasalnya pagi tadi dia belum sempat untuk sarapan akibat rasa mual yang kerap Nissa rasakan.

__ADS_1


***


__ADS_2