JODOH DARI LANGIT

JODOH DARI LANGIT
BAB 27. Permintaan Inara.


__ADS_3

...Bukan siapa yang datang dengan segala rasa, Namun siapa yang bertahan dikala badai melanda...


...Nabila.id...


...🍁...


3 hari berlalu.


Cuti yang diajukan oleh Tama memanglah selama 2 Minggu, namun pada kenyataanya dia harus tetap kembali ke rumah sakit. Hal itu tentu karena sebuah tugas kemanusiaan yang juga tidak dengan mudah bisa dia tinggalkan.


Meski sama-sama tahu jika Tama baru saja menikah, namun pihak rumah sakit seolah tidak mau tahu, terlebih banyak pasien yang merasa cocok dengan Tama. Sehingga kerap kali menanyakan kapan dokter Tama kan kembali praktik.


"Kamu yakin tidak papa aku tinggal ?" Tama


"InshaAllah" jawab Nissa dengan mengulas senyum di wajah cantiknya.


Sejujurnya Tama masih enggan untuk meninggalkan Nissa, namun kepergiannya saat ini juga karena permintaan sang istri.


Nissa tidak keberatan sama sekali atas hal itu, justru dia begitu bangga dengan Tama yang begitu luar biasa di kagumi dan di segani oleh banyak pasien.


Tentu hal itu juga merupakan jihad bagi seorang istri , merelakan sang suami berjihad untuk keluarga, tentunya juga dengan mencari nafkah halal.


"Ini ya buat Readers Fillah yang mungkin lupa dengan Visual Dokter Tama dan Ustadzah Nissa , Othor kasi liat lagi. Tapi buat yang Kurang Suka atau Serk dengan Visual pilihan Othor , Boleh dan Bebas untuk memvisualkan dengan karakter lainya"


Dokter Tama



Ustadzah Nissa



Setelah berpamitan pada sang istri, dan tak lupa Nissa mencium punggung sang suami dengan takzim.


Kini keduanya harus terpisah untuk beberapa saat, Waktu dan jarak tidak menjadi pemisah ketika hati telah berpasrah.


Dengan lambaian tangan Nissa mengantarkan kepergian sang suami, hingga mobil yang di kendarainya menghilang di tengah ramainya lalu lalang kendaraan.


Nissa memang masih berada di kediaman sang Abi, bukan tanpa alasan hal itu tentu berkaitan dengan tugas mengajarnya, saat ini sang Abi tengah mencarikan guru pengganti untuk mata pelajaran yang di ampu oleh Nissa.


Dan sudah barang tentu bukan hal mudah untuk mencari seorang guru pengganti, terlebih saat ini merupakan akhir tahun ajaran , kelulusan bagi santri-santri di tingkat 3, sehingga karena alasan itu Ustadz Hamzah tidak bisa dengan mudah menerima guru tanpa mengetahui bagaimana kredibilitas dan kreatifitasnya dalam mengajar.


Setelah kepergian sang suami, Nissa kembali ke kamar karena dia sendiri juga harus bersiap untuk mengajar pagi itu, ada 3 kelas yang harus dia ajar di pagi ini.


Tentu itu cukup menguras energi dan fisik Nissa yang juga saat ini tengah dalam masa haid.


Tut.


Sebuah pesan masuk dalam ponsel milik Nissa. Tertera sebuah nama yang baru saja mengisi kontak ponselnya 'Suamiku' . Ya , benar saja pesan tersebut merupakan kiriman Tama yang kini tengah sibuk di rumah sakit.


💌 Assalamualaikum istriku , Ingat jangan terlalu lelah ya

__ADS_1


💌 Waalaikumsalam mas, iya InshaAllah mas


💌 Ohya jangan lupa makan siang ya Mas


Sungguh pesan terakhir yang di kirim oleh Nissa cukup membuat jiwa Tama kembali bersemangat. Antrian panjang seolah bukan menjadi masalah.


Sementara Nissa sibuk dengan kegiatan mengajar yang masih harus dia lakukan satu kelas lagi, Tama juga tengah bergelut dengan banyaknya pasien poli yang telah menanti.


Seolah menjadi primadona , kedatangan tama yang telah begitu dinanti banyaknya pasien poli jantung. Tak jarang diantara mereka rela menunda jadwal kontrolnya hanya untuk bisa bertemu dengan dokter Tama.


Dua jam sudah berlalu, terasa begitu lama ketika Tama tak berada di samping Nissa. Tama memilih menyandarkan tubuh lemahnya di kursi kebesaran. Sejenak memejamkan mata untuk mengurai lelah yang mulai terasa.


Hingga sebuah dering telepon membuatnya harus kembali terjaga.


"Inara" gumam Tama


Segera Tama menggeser ikon tanda hijau di layar ponselnya.


"Assalamualaikum Ra. "


"Waalaikumsalam tam , ini Tante , Tam kamu bisa kan temui Inara, sebentar saja. Tante mohon" pinta orang tua Inara dari ujung telepon.


Mendengar hal itu sejujurnya Tama merasa iba, namun dia juga tidak ingin membuat Inara berharap lebih, atau memberi harapan palsu pada Inara.


"Tante mohon Tam, Inara sangat merindukanmu" pinta orang tua Inara.


Belum juga sempat Tama Menjawab, mama Inara telah lebih dahulu menyela, hingga membuat Tama tidak tega untuk menolak permintaan wanita paruh baya tersebut.


"Baik tan , Tama akan kesana" ucap Tama pada akhirnya .


Tama memenuhi permintaan orang tua Inara hanya semata karena alasan kemanusiaan dan tidak lebih. Apa lagi membuat Inara berharap lebih, tentu itu bukan tujuannya.


Di rawat di rumah sakit yang sama, membuat Tama tidak butuh waktu lama untuk menemui Inara.


'Bangsal bedah'


Ya . Disana lah tempat dimana Inara melakukan perawatan pasca kecelakaan sebelumnya, karena memang sebelumnya Inara harus di lakukan operasi akibat patah tulang di bagian tangan.


Tok tok tok


Berdiri di ambang pintu kamar, Tak lupa Tama juga membawakan bingkisan berupa buah-buahan untuk sang sahabat.


ceklek.


"Tama !. Masuk yuk !" ajak papa Inara , yang kebetulan saat itu dialah yang membukakan pintu.


Dengan anggukan kepala Tama pun melangkahkan kaki masuk kedalam, memastikan kondisi sang sahabat. Kedua orang tua Inara memilih untuk menunggu di luar, memberi ruang pada Inara agar bebas berbicara dengan Tama.


"Tante titip Inara ya tam " ucap mama Inara sebelum keduanya keluar dari kamar. Tama menganggukkan kepala sebagai jawaban.


Tampak dari jarak yang tidak terlalu jauh, Inara tersenyum manis dengan wajah pucatnya.

__ADS_1


"Tama " lirih Inara


Wajah Inara sedikit berubah ketika lambaian tangannya pada Tama tidak bersambut, kekecewaan mulai kembali dia rasakan.


"Kau harus lebih banyak istirahat, supaya segera pulih"


Mendengar ucapan Tama , bukan merasa senang namun Inara justru merasa kesal. Tidak ada sambutan atau pelukan hangat dari sang sahabat, yang selama ini selalu Inara rasakan.


"Cih. Seharusnya aku mati saja saat itu !!" ucap Inara dengan sinis.


"Ra !"


"Apa ?"


"Aku tidak akan sanggup tam melihatmu bersama wanita itu, aku mencintaimu !, asal kau tahu sudah sejak dulu aku memendamnya !!"


"Tapi kenapa ? kenapa kamu memilih dia ??" kesal Inara


Isak tangis mulai terdengar lirih di telinga Tama. Tentu hal itu cukup membuat Tama merasa tidak nyaman.


"Ra , Maafkan aku, Tapi mungkin kita memang tidak berjodoh " ucap Tama memberi penjelasan


Seolah tuli, Inara tidak ingin mendengar ucapan Tama, bahkan dia sampai menggelengkan kepala untuk menutup telinganya dengan satu tangan.


"Ra , Percayalah , kau akan mendapatkan yang lebih baik dariku"


"Tapi aku hanya mau kamu Tam !" tegas Inara dengan mata berkaca-kaca.


Suasana tampak tegang ketika Inara selalu mengatakan perkataan yang sama, seolah tidak lagi menginginkan hal lain kecuali Tama.


Tidak lagi ada obrolan, suasana kamar di dominasi dengan Isak tangis dari Inara. Sementara Tama hanya terdiam dengan pikirannya.


Tidak ingin lebih lama dalam suasana kacau tersebut, Tama memilih untuk meninggalkan Inara.


"Ra sebaiknya kau istirahat, aku harus kembali bekerja"


"Tidak bisakah kau menemaniku ?" rengek Inara.


"Tidak !" tegas Tama


"Aku mohon Tam ! Sakit , Sangat sakit disini " ucap Inara dengan menunjuk bagian dadanya. Masih dengan derai air mata yang membasahi pipi.


Melihat keadaan Inara yang begitu kacau sedikit banyak membuat Tama merasa iba, namun juga dia tidak ingin larut dalam perasaan belas kasihan nya.


"Aku rela tam menjadi yang ke dua " ucap Inara penuh permohonan.


Deg.


"Kau sudah gila Ra !!" tegas Tama dengan mata bersungut


"Ya aku Memang sudah gila !!" jawab Inara dengan tatapan kosong.

__ADS_1


Tidak lagi ingin terlibat obrolan yang membingungkan, Tama memilih untuk segera meninggalkan kamar Inara.


***


__ADS_2