JODOH DARI LANGIT

JODOH DARI LANGIT
BAB 54. Kepanikan Tama


__ADS_3

...Terkadang diam lebih bijak dalam menyikapi keadaan, daripada Memaksakan diri untuk membuat orang Mempercayai. ...


...🍁...


Nissa di temani Tama beserta dokter spesialis kandungan tengah melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap kondisi kandungan Nissa saat ini.


"Bagaimana Sa ?" Tanya Tama


Dokter Sahara yang juga merupakan rekan kerja Tama di rumah sakit sekaligus merupakan dokter spesialis kandungan yang kini tengah menangani sang istri.


Dokter Sahara tampak fokus dengan jemarinya yang bergerak aktif diatas perut Nissa. Hingga pertanyaan Tama belum dapat dia berikan jawaban.


Tajam matanya memeriksa layar monitor yang tertera gambar isi rahim Nissa yang ada di hadapannya


Sementara Nissa semakin tertunduk lemas, menantikan hasil pemeriksaan. Tak pelak hal itu turut membuat Tama merasa sedih dan khawatir.


Terlihat dokter Sahara menghembuskan nafas, senyum kecil terlihat di wajah cantiknya.


"Semoga saja tidak papa" Ujar Sahara


Tama dan Nissa tampak menautkan kedua alisnya, menatap dokter yang kini duduk di samping Nissa. Mengharap sebuah jawaban yang akan melegakan perasaan.


Nissa dan Tama masih setia menantikan hasil diagnosa dari Sahara.


"Abortus iminen" ujar Sahara menjelaskan


Dokter Sahara menjelaskan jika hal ini dapat dikatakan abortus tahap awal, namun masih bisa di pertahankan salah satunya dengan metode bedrest dan penghentian perdarahan yang terjadi.


"Untuk sementara janin masih aman Tam, Tapi kami perlu melakukan pemantauan secara intensif pada perdarahan Nissa"


"Kami akan melakukan yang terbaik untuk Nissa, kau tenang saja, dan jangan lupa selalu berdoa"


Nissa dan Tama tampak sedikit lega, meski apa yang di katakan Sahara masih terasa gamang.


Tidak sampai di situ, Dokter Sahara juga menjelaskan jika perdarahan bisa secepatnya di hentikan maka kemungkinan besar janin akan semat. Namun jika perdarahan terus terjadi kemungkinan akan mengalami abortus.

__ADS_1


Untuk sementara waktu Nissa kan mendapatkan perawatan di rumah sakit, tentu dia akan istirahat total. Sebenarnya bisa dilakukan di rumah saja, namun dokter menyarankan untuk melakukannya di rumah sakit saja, selain kondisi Nissa akan selalu terpantau juga karena di rumah sakit akan mudah mendapatkan tindakan jika dibutuhkan saat kondisi darurat.


Tama pun menyetujui usulan Sahara, begitu juga dengan Nissa yang menurut pada sang suami.


Setelah semua pemeriksaan selesai, Nissa pun di pindahkan ke ruang perawatan, Tama meminta dua perawat khusus untuk selalu menemani dan memantau kondisi Nissa selama dirinya tidak ada. Karena tentu berkaitan dengan tugasnya, Tama tidak akan selalu bisa menemani Nissa.


Tidak lupa Tama mengabarkan perihal kondisi kesehatan Nissa saat ini pada ustadz Hamzah dan Ummi Fatimah, serta kedua orang tuanya.


Keduanya sudah pasti shock mendengar kabar jika Nissa harus mondok di rumah sakit, karena accident yang baru saja dialami Nissa.


***


Rapat dewan direksi


Kejadian yang sebelumnya menimpa Nissa nyatanya cukup menyita banyak perhatian tidak hanya para dokter dan orang-orang yang ada di rumah sakit, namun juga termasuk dewan direksi.


Berita mendadak viral, diketahui pada saat kejadian ada seseorang yang berada di lokasi tengah memvideokan kejadian tersebut.


Kini tidak hanya Inara , Tama dan para jajaran dokter lainya, tentu juga tak ketinggalan Reza sahabat Tama yang merupakan pemegang saham terbesar di rumah sakit tersebut berkumpul untuk membahas masalah Inara.


Rapat kali ini tentu bertujuan untuk memberikan sanksi atau tindakan tegas bagi Inara serta melakukan evaluasi kinerja para pegawai di rumah sakit tersebut.


Beruntung Ustadz Hamzah dan Ummi Fatimah segera datang, hal itu tentu sedikit membantu kerepotan Tama yang juga tidak sepenuhnya bisa mempercayakan Nissa pada perawat jaga.


Rapat sekaligus sanksi yang akan di berikan pada Inara telah di mulai, beberapa pertimbangan tentu diambil untuk saling memberi keadilan, Namun dari semua hal yang terpenting dalam rapat adalah bagaimana membuat reputasi rumah sakit kembali baik.


Mengingat hal ini merupakan pertama kalinya terjadi di rumah sakit, juga merupakan kasus pertama Inara, pihak rumah sakit tidak serta Merta dapat memecatnya begitu saja. Surat peringatan pertama dan sanksi 2 sifat jaga dalam satu hari selama 3 bulan menjadi pilihan dewan rumah sakit yang akan di jatuhkan pada Inara, sementara kasus dan video yang telah viral akan di selesaikan oleh pihak Reza , beruntung Reza memiliki orang-orang yang cukup bisa diandalkan untuk menanganinya.


Sementara Nissa akan mendapatkan perawatan khusus dan intensif dari pihak rumah sakit.


Meski keputusan tersebut terasa tidak adil bagi Tama, namun dia pun tidak dapat menolak keputusan dewan direksi yang bersifat final.


"Aku tahu kau bisa melewati masa sulit ini" Reza menepuk bahu sang sahabat . Mendengar support dari Reza , Tama hanya mengulas senyum di sudut bibirnya.


"Aku hanya berharap Nissa dan anakku baik-baik saja" Lirih Tama

__ADS_1


Satu per satu peserta rapat telah kembali pada pekerjaan masing masing, menyisakan Tama ,Reza dan tentu Inara yang juga masih berada disana.


Inara tampak terlihat tenang dan biasa saja, yang tentu hal itu berbanding terbalik dengan Tama yang begitu muak memandang wajahnya.


"Untuk saat ini fokuslah pada istrimu, masalah dia kita bisa pikirkan solusinya nanti"


Reza menasihati Tama dengan tatapan tajam pada sosok Inara yang juga masih duduk di ujung sana.


Setelah cukup berbincang keduanya keluar bersama, meninggalkan Inara yang masih terpaku dengan lamunannya.


***


Empat hari berlalu.


Bu Sisca dan pak Fajar yang juga telah mendapatkan kabar jika menantunya mengalami masalah, langsung bertolak ke Indonesia. Keduanya ingin memastikan jika semua baik-baik saja.


Sejak kejadian yang menimpa Nissa tempo hari Inara memang sudah tidak berani berulah, selain karena Nissa yang di jaga ketat oleh Tama juga karena banyak keluarga besar yang turut berjaga.


Beruntung meski sempat mengalami kecemasan, namun Dokter Sahara memastikan jika kandungan Nissa untuk saat ini baik-baik saja. Cukup efektif tindakan yang di lakukan oleh team dokter sehingga mempercepat penghentian perdarahan pada Nissa, sehingga janin dalam kandungannya dapat terselamatkan.


Namun seolah tidak memiliki rasa takut Inara diketahui kembali berulah. Dengan mencoba melakukan sabotase pada makanan yang akan di berikan pada Nissa, Beruntung tindakan itu dapat segera di gagalkan oleh Tama yang telah lebih dulu mengetahui niat buruk Inara.


"Aku tidak percaya kau akan senekat ini"


Tama dengan tatapan tajam menghujam pada Inara.


"CK. Jika aku tidak bisa mendapatkan mu maka siapapun juga tidak akan bisa"


"Kau sudah gila Inara "


"Ya. Aku memang sudah gila dan itu karena mau selalu menolak ku Tama !!" Inara berteriak


Mendengar ucapan Inara , sejujurnya Tama sangat marah, terlebih Inara telah berani mengusik kehidupan rumah tangga dan membahayakan nyawa Nissa.


Namun Tama sadar jika menghadapi orang semacam Inara tidak bisa hanya mengandalkan emosi semata.

__ADS_1


***


__ADS_2