
...Ikhtiar. Kulakukan semampuku, Ku ikhlaskan Sekuat ku, karena selebihnya aku pasrahkan pada Pencipta ku....
...🍁...
Bijaklah dalam membaca 21 +
Botchil go away
Semakin di perhatikan Nissa terlihat semakin tidak nyaman, duduk yang sebelumnya tenang kini gelisah tidak karuan.
Hal itu tentu tidak luput dari tatapan tajam Tama. Terlebih melihat keringat Nissa yang mendadak bercucuran. Sementara ini berada di ruangan ber AC.
Rasanya tidak mungkin tiba-tiba Nissa jatuh sakit, mengingat sebelumnya dia baik-baik saja. Begitu pikir Tama.
Meski datang ke tempat ini merupakan permintaan dan ajakan Tama, namun sedikitpun Nissa tidak mengeluh dan menolaknya, justru dia juga merasa senang.
Tapi apa yang terjadi dengan Nissa saat ini sungguh membuat hati dan pikiran Tama tidak tenang.
Hal itu semakin membuat Tama merasa khawatir, dan cemas terhadap kondisi Nissa. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba Nissa berlagak aneh.
"Masss.." panggil Nissa dengan suara lirih
"Iya sayang ?"
"Ma- Mas kita pulang sekarang yuk"
Menyadari ada yang tidak beres dengan istrinya, tidak pikir panjang Tama segera memapah tubuh Nissa, untuk bangkit dari duduknya.
"Mba Inara , Terima kasih atas jamuan makan malam nya, maaf tidak bisa lebih lama"
Masih sempat Nissa menyampaikan ucapan terima kasih pada Inara, Meski nafasnya kini sudah tidak beraturan , seolah tengah menahan sesuatu yang terasa menyesakan dada, sudah pasti dirinya tengah dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Sementara Tama yang memang telah menyadari sesuatu terjadi dengan Nissa hanya menatap kesal pada Inara yang masih duduk dengan tatapan tidak berdosa.
Tatapan tajam Tama seolah mengisyaratkan sebuah peringatan, dan tentu melihat ya saja membuat Inara merasa ciut.
Bergegas Tama memapah Nissa , susah payah Tama membawa Nissa hingga ke parkiran, belum lagi tatapan banyak orang disana yang melihat Aneh pada Nissa yang meracau tidak karuan.
Sungguh Tama merasa sangat bersalah terhadap sang istri, dalam hati dia telah mengumpat berkali-kali mengingat mungkin saja Inara berbuat melakukan sesuatu yang tidak baik sebelum dirinya dan Nissa datang.
Tama semakin menyadari jika sasaran Inara adalah dirinya, nahas Nissa lah yang pada akhirnya memakan makanan pesanan Inara.
Pantas saja Inara sempat melarang Nissa untuk memakannya.
Setibanya di parkiran Tama segera membuka pintu samping kemudi dan mendudukkan Nissa disana, setelahnya Tama pun berlari untuk menuju sisi kemudi.
__ADS_1
Jalanan lumayan ramai malam ini, rintik hujan yang membasahi membuat pengendara semakin berhati-hati dalam berkendara.
Padatnya lalu lintas membuat Tama semakin tidak tega melihat kondisi istrinya yang tak karuan.
"Sayang apa yang kau rasakan ?"
"Entah lah mas, aku merasa disini sangat sesak" ucap Nissa dengan menunjuk pada bagian jantungnya yang memang terlihat memompa kecepatan lebih.
Terlihat beberapa kali Nissa menarik dan menghembuskan nafas kasar. Mengusap peluh yang terus saja mengucur dari sudut hijab yang dia kenakan.
"Tenang Sayang, aku akan segera membawamu pulang" panik Tama.
"Disana , Disana Mas terasa sangat panas mas" Des ah Nissa lagi dengan menunjuk inti tubuhnya.
Disini Tama tahu apa yang menjadi sebab Nissa bersikap aneh. Jelas dia paham apa yang dialami sang istri.
Ternyata benar dugaannya , jika Inara telah mencampurkan obat perangsang dalam steak yang sebelumnya dia siapkan untuk Tama.
Tidak mungkin karena sebab lainya, jelas itu satu-satunya kemungkinan yang paling Tama curigai.
Semakin lama , Nissa semakin menunjukan gelagat aneh, dan itu membuat Tama semakin kesal pada Inara
'Beraninya kau' batin Tama.
Srak. !!!
Tama memutar laju Kendaraanya, mengambil jalur yang lebih sepi.
Tama hanya terdiam mendengar ucapan sang istri. Karena saat ini tujuan Tama bukan lagi pulang kerumah.
'Hotel'
"Mas ngapain kita kesini" keluh Nissa dengan menahan sesuatu yang tidak nyaman
"Malam ini kita menginap disini sayang" Tama.
Agaknya Nissa sedikit heran dengan keputusan Tama yang mendadak mengajaknya menginap di hotel. Meski Nissa tidak sedang baik baik saja, namun pikirannya masih dapat di ajak kompromi.
Tama bergegas membawa Nissa masuk, dan meminta Nissa untuk menunggunya di sofa, sementara Tama melakukan reservasi.
Tentu kamar terbaik menjadi pilihan Tama malam ini.
Setelah semua selesai, bergegas Tama memapah kembali Nissa untuk masuk kedalam kamarnya.
Disusul seorang pelayan yang mengikuti keduanya dari belakang karena di minta Tama untuk membawakan tas milik Nissa.
Setelah di kamar, Tama membaringkan Nissa diatas tempat tidur dan tak lupa Tama memberikan uang tips pada pelayan sebelumnya.
__ADS_1
Setelah Tama menutup pintu , terlihat Nissa semakin gelisah dan beranjak turun dari tempat tidur.
"Kau mau kemana sayang ?"
"Mas aku mau mandi, tubuhku rasanya panas sekali" lirih Nissa.
Namun bukan mendengar ucapan Nissa, Sekuat tenaga Tama menghentikan langkah Nissa yang akan masuk kedalam kamar mandi.
"Mas mau apa ?" kaget Nissa dengan sisa kesadarannya yang hanya tinggal beberapa.
Tama tidak ingin membuang waktu, terlebih dia jelas tahu apa yang kini di butuhkan sang istri, karena hanya darinya yang mampu mengurangi sedikit keluhan Nissa
Namun seolah sesuatu yang sedari tadi Nissa tahan tidak lagi dapat dia pertahankan.
"Mas... Nissa "
Tama terlihat menganggukkan kepala, mengusap lembut puncak kepala Nissa.
Benar saja saat ini Nissa justru yang mendadak lebih agresif dengan Tama. Dan Tama pun juga tidak menyia-nyiakannya .
"Masss!"
"Apakah sedikit lebih baik" Tama . Nissa menganggukkan kepala, mengikuti ritme permainan Tama.
Nissa pun menganggukkan kepala dengan mata terpejam, seolah menikmati setiap sentuhan
Tama sangat tahu jika saat ini Nissa sangat menginginkan lebih, begitu juga dirinya yang sejujurnya juga sangat ingin.
Terlihat jelas oleh Tama Nissa tengah menahan sesuatu yang begitu menyiksa.
Tanpa pikir panjang, benar saja disana sudah terasa sangat basah.
Gerakan lembut Tama disana, nyatanya membuat tubuh Nissa menggelinjang sempurna.
Des ahan yang awalnya terdengar pelan kini mulai semakin kencang.
"Nissa sudah tidak ta---"
"Sabar sayang"
"Sulit mas".
Nissa terpaksa menggigit bibir bawahnya.
"Mass !!" keluh nissa diantara des@han
"Maafkan aku sayang" Terpaksa Tama bermain dengan sedikit kasar untuk mengimbangi gerakan tubuh Nissa yang juga tidak karuan.
__ADS_1
Lenguhan kecil dapat Tama dengar ketika hentakan di bagian inti keduanya menyatu dengan gerakan Tama yang meremas dua buah milik Nissa.
***