
...Ada yang lebih tabah dari senja di Tanggung hari. Ada yang lebih indah dari kata cinta setiap Hari....
...Perduli....
...🍁...
Bijaklah dalam memilih bacaan 21+
Bocil go out
Sesuatu yang Tama yakini hanya milik nya, dan Nissa menjaganya dengan begitu sempurna, hingga sampai tangan-tangan Tama menyentuhnya
Terasa padat namun sangat lembut, dan itu membuat milik Tama berdiri sempurna, ingin rasanya dia segera menindih Nissa, namun kembali pada tujuan awalnya ingin membuat malam ini begitu berkesan.
"Masss!"
Suara lembut nan menggoda itu benar-benar Tama dengar dari mulut Nissa, suara yang Tama tahu Karena sebuah keinginan yang telah memuncak.
"Ya sayang ?" Tama
"Apakah ini nyaman"
Ucap Tama dengan meremas kuat salah satu milik Nissa. Dan Nissa pun menganggukkan kepala dengan mata terpejam.
Rasa sakit yang Nissa rasakan tidak lah lebih besar jika di bandingkan dengan kenikmatan yang Tama berikan.
Tama sangat tahu jika saat ini Nissa sangat menginginkan lebih, begitu juga dirinya yang sejujurnya juga sangat ingin segera menerobos milik Nissa.
Terlihat jelas oleh Tama Nissa tengah menahan sesuatu yang begitu menyiksa.
Tanpa pikir panjang, Tama mengarahkan tangannya untuk menelisik bagian sensitif itu, benar saja disana sudah terasa basah.
Gerakan lembut Tama disana, nyatanya membuat tubuh Nissa menggelinjang sempurna.
******* yang awalnya terdengar pelan kini mulai semakin kencang , tentu hal itu karena Tama sangat agresif memberikan sentuhan.
Namun rasanya tidak mungkin jika hal itu lama kelamaan tidak mengundang penasaran penghuni rumah.
"Pelan-pelan sayang"
"Sulit mas , keluar begitu saja"
Keduanya saling berbisik , menyadari mungkin saja ada jangkik-jangkrik yang mengintip.
__ADS_1
Lagi dan lagi Tama menyesap bibir Nissa yang terdengar semakin berisik, sementara tangan lainya aktif memberikan sentuhan.
Menyadari dirinya sendiri yang juga sudah tidak kuat menahan lebih lama lagi, Tama pun mengangkat tubuh Nissa , masih tetap mencium bibir indah itu tanpa sedikitpun niat untuk melepaskan.
Keduanya kini telah berada di tempat yang sama dengan Nissa telah berada dalam kendali Tama , Tatapan sayu dari manik mata Nissa terlihat jelas oleh Tama.
"Tunggu mas!" Nissa menghentikan pergerakan Tama.
Tama pun hanya menautkan kedua alisnya.
Nissa meraih kepala Tama "Mas tidak lupa kan doa nya" Ucap Nissa tepat di telinga Tama dengan nada berbisik.
Terlihat senyum lebar di wajah Tama "Tentu saja sayang" Ucap Reza seketika.
بِسْمِ اللهِ اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
Bismillah, Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa.
Artinya: "Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan supaya tidak mengganggu apa (anak) yang akan engkau rezekikan kepada kami."
Tujuan doa ini supaya Allah memberikan rezeki berupa keturunan dari hubungan intim suami istri. Serta diharapkan anak keturunan bisa dijauhkan dari setan dan terhindar dari hal-hal buruk.
Tidak menyangka Tama dengan jelas dan tegas membaca setiap huruf Hijaiyah dalam doa tersebut. Seperti sesuatu yang tidak dia kira sang suami sangat menghafalnya.
"Bolehkan aku masuk ? Tanya Tama dan Nissa hanya mengangguk.
Seolah dirinya kini benar-benar pasrah terhadap Tama, menurut apa pun yang akan dilakukan Tama, tentu menyerahkan apapun yang selama ini dia simpan dan tutupi hanya untuk sang suami.
Sang pemilik hati yang kini halal atas segala sesuatu yang telah dia jaga kesuciannya.
Tama pun merobek paksa lingerie yang di kenakan Nissa, Nissa tampak kaget , namun segera Tama mencumbu setiap insc. bagian yang sebelumnya belum sempat dia jelajahi. hal itu tentu membuat fokus Nissa kembali terpecah.
Kegiatan panas yang belum seluruhnya Nissa rasakan sudah cukup menguras habis energinya, terlihat peluh-peluh yang semakin membasahi pelipis.
Hingga pada saat Nissa merasakan sakit yang teramat, perih dan rasa ngilu yang menjadi satu , tanpa terasa air mata Nissa menetes begitu saja.
Benda itu benar-benar menerobos paksa miliknya, sesuatu yang terasa besar dan memenuhi seluruh bagian inti milik Nissa.
"Sakit mas " lirih Nissa dengan isak kan kecil
Namun secepat kilat Tama membekap mulut sang istri dengan ciuman panas, agar rasa sakit itu berganti dengan kenikmatan duniawi. Bukan tidak kasihan, namun Tama sendiri kepalang tanggung, ini juga merupakan pengalaman pertama baginya.
Menenggelamkan miliknya dalam tempat yang semestinya.
"Maafkan aku sayang, tapi aku tidak bisa menghentikannya" lirih Tama dan Nissa pun hanya mengangguk pasrah.
__ADS_1
Meski sakit, sejujurnya Nissa juga begitu menikmatinya. Entah apa itu namun Nissa menyukainya. Perlahan Nissa mulai menikmati dan malah saat ini Nissa mengalungkan kedua tangannya di leher Tama, tidak seperti sebelumnya dia yang menahan sakit tengah meremas seprai.
Melihat Nissa yang tidak lagi merintih, Tama memberanikan diri untuk menghentak miliknya, semakin dalam hingga seluruh ya masuk sempurna.
Sesuatu yang jelas baru Tama rasakan, sesak dan sangat sempit ,untuk sesaat dia menghentikan pergerakan nya,menyadari sesuatu yang hangat mengalir di sela-sela senjatanya, dan itu dia yakini merupakan darah kepera wanan milik Nissa yang telah dia tanggalkan.
Tama merasa begitu beruntung dan sangat bahagia, sebuah senyum terukir jelas di bibir Tama tatkala mendengar ******* lembut dari mulut Nissa.
"Terima kasih sayang" lirih Tama tepat di telinga Nissa.
Kembali Tama menghentakkan penyatuan itu, tidak lupa bagian lainya menjelajah setiap bagian yang bisa dia nikmati.
Nissa hanya pasrah dan menerima semua yang Tama lakukan, dia juga menikmati rasa yang baru pertama dia rasakan, meski saat ini dia terasa lemas.
Keduanya merasakan sebuah kenikmatan yang tidak bisa di gambarkan, begitu nikmat dan sangat hangat, hingga tanpa sadar keduanya membusungkan dada setelah sesuatu itu keluar dari milik masing-masing.
Nafas yang masih menderu , peluh yang kian membasahi tubuh keduanya, kini Tama terkapar diatas tubuh Nissa, berlahan berguling dan tidur di samping sang istri.
Sangat melelahkan namun cukup puas keduanya rasakan.
Kembali Tama mendaratkan sebuah kecupan di kening sang istri.
"Maafkan aku"
"Tidak ada yang salah, kenapa kau harus meminta maaf"
"Membuatmu sakit"
"Percayalah aku juga sangat menikmatinya mas" lirih Nissa dengan wajah yang sudah merona.
Tama pun tersenyum bangga, mendengar Nissa yang mulai berani mengutarakan isi hatinya.
"Apa masih sakit" Tama
"Sejujurnya iya, aku tidak menyangka jika akan sesakit ini" lirih Nissa.
Tama pun mengulas senyum kebahagiaan, merengkuh tubuh polos sang istri kedalam dekapannya, memberikan kenyamanan dan kehangatan sebagai pengobat luka yang dia berikan sebelumnya.
Begitu juga Nissa, merasakan kenyamanan dan ketenangan berada dalam pelukan sang suami. hingga tanpa terasa diri ya terlelap begitu saja pada salah satu lengan Tama.
Cup.
"Istirahatlah sayang" ucap Tama dengan berbisik.
Keduanya saling berpelukan memberikan kehangatan, dan menikmati sisa malam yang masih cukup panjang.
__ADS_1
***