
...Hidup bukan tentang siapa yang terbaik. Tapi Tentang siapa yang mau berbuat Baik...
...🍁...
Perlahan Nissa membuka pembungkus kota hadiah yang di kirim oleh sang mertua, sementara Tama hanya ikut mengamati saja.
Cukup besar, hingga Nissa berfikir mungkin saja hadiah ini sangat banyak.
Tak sabar dia untuk segera melihat apa isinya.
"Apa sayang ?" tanya Tama
"Entah lah mas, Nisa juga tidak tahu"
"Coba lihat" ucap Tama
Nissa pun mengangkat isi dari kotak hadiah dari sang mertua. Merenggangkan di hadapan Tama. Dan seketika Keduanya terbelalak.
"Astagfirullah, Mama nggak salah mas kasih kaya gini" kaget Nissa. Sementara Tama hanya menatap dengan menahan tawa.
"Kok kaya saringan tahu gini" lirih Nissa dengan dahi berkerut , namun masih jelas terdengar di telinga Tama.
Seketika tawa Tama pun pecah mendengar ucapan asal Nissa, mungkin bagi Tama itu sesuatu yang biasa, karena dia sendiri tidak memungkiri jika kerap melihat orang mengenakan pakaian sejenis itu, bahkan lebih terbuka, karena di pantai Bali tempat yang kerap Tama kunjungi dia banyak melihat wanita-wanita bule mengenakan bikini.
Namun untuk Nissa tentu itu barang langka, dan mungkin baru pertama kalinya dia melihat dan memilikinya.
"Mas kok ketawa sih !!"
"Nggak sayang, berarti mama minta kamu pakai itu" ucap Tama dengan menyeka airmata yang keluar dari sudut matanya karena terus tertawa.
Sejujurnya Nissa masih tidak paham mengenai hal ini, bagaimana bisa mertuanya mengirimkan itu pada dirinya. Nissa hanya dapat bermonolog dalam hati.
"Udah jangan di pikirin, pakai aja ! Itu tandanya mama pengen cepet Gending cucu" bisik Tama tepat di telinga Nisa.
Seketika tubuh Nissa meremang mendengar ucapan Tama, Hembusan nafas lembut yang menelusup ke kulit membuat nya merasa geli.
Rona merah di wajahnya pun tidak lagi dapat Nissa tutupi.
"Haruskah ?"
__ADS_1
Sejujurnya Nissa agak ragu. Namun dengan sigap Tama mengangguk kan kepala pasti.
"Apa ini tidak terlihat Nissa seperti telanjang ?"
Buru-buru Tama menggelengkan kepala, tentu dia akan sekuat tenaga meyakinkan Nissa untuk memakainya, membayangkan Nissa mengenakan itu saja sudah cukup membuat jantung Tama berdesir kencang, bagaimana dia mengenakan nya, sungguh Tama juga tidak sabar untuk melihatnya.
"Ahh.. Sepertinya Nissa tidak cocok pakai ini mas" tolak Nissa dengan meletakkan kembali lingerie dalam kotak.
"Eitss..Tadi di masjid Abi ceramah soal kehidupan berumah tangga Loh"
Bukan Tama namanya jika tidak bisa melakukan pemaksaan pada istrinya.
Nissa hanya mengerutkan dahinya, menatap pada Tama yang sekarang sedikit lebih agamis, seperti nya memang pemahaman Tama semakin bertambah.
Selain suami, istri juga harus menjalankan kewajibannya terhadap suami, yakni mentaati suami, mengikuti tempat tinggal suami, melayani kebutuhan biologis suami kecuali ada halangan syar'i, menjaga diri saat suami tak ada, dan tidak keluar rumah kecuali dengan izin suami.
Salah satu karakter wanita shalihah adalah mampu menyenangkan hati suami ketika suami melihatnya, baik karena pakaian, dandanan, atau sebab-sebab yang lainnya. Lebih-lebih karena sang istri tersebut senantiasa menaati suami dan merespon perintah suami dengan penuh ketaatan, tanpa diiringi rasa sombong (congkak) atau merasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada suami.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Perempuan seperti apa yang paling baik?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
“Yang paling menyenangkan jika dilihat suami, mentaati suami jika suami memerintahkan sesuatu, dan tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci oleh suaminya.” (HR. An-Nasa’i no. 3231, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani).
Hal itu Tama ucapkan dengan begitu gamblang dan sangat jelas. Dari beberapa malam dia mengikuti kajian di masjid, sepertinya kajian malam ini yang di rasa begitu dia pahami, dan sangat dia minati. Karena hari sebelum-sebelumnya dia selalu mengantuk ketika di masjid, bahkan tak jarang Tama tertidur.
Sejujurnya tanpa Tama mengatakan pun Nissa juga begitu paham akan hal itu, namun konsep mengenakan lingerie itu yang belum dia pahami.
Nissa hanya menatap lekat wajah Tama dan sesekali menghembuskan nafas.
"Mas mau Nissa pakai ini?" tunjuk Nissa pada lingerie yang sudah dia letakkan didalam kotak.
"Sangat MAU !!" ucap Tama penuh semangat.
Dan saat ini lagi-lagi Tama melupakan tujuannya untuk mengatakan kejadian kemarin malam pada Nissa. Entah lah untuk sesaat mungkin dia memang akan egois melupakan hal itu, karena membayangkan pemandangan Nissa menggunakan lingerie lebih menarik baginya.
Tama masih menangkap keraguan di wajah Nissa , Dia pun mengarahkan tangannya untuk meraih tangan Nissa.
Dia remas dengan lembut tangan Nissa dalam genggamannya, mengarahkan Nissa untuk menatap dirinya.
__ADS_1
"Bersedia kah kau memberikan HAK ku atas dirimu malam ini" lirih Tama dengan tatapan lekat pada Nissa.
Mendengar ucapan sang suami seketika jantung Nissa berdesir kencang.
Tidak salah dugaannya jika Tama akan langsung meminta itu setelah tamunya pergi.
Membayangkan kata HAK, tentu Nissa sangat paham apa yang ingin Tama dapatkan dari dirinya malam ini.
Merinding dan takut untuk sekedar memikirkan dan membayangkan nya..
Masih dengan rasa malu perlahan namun pasti Nissa menganggukkan kepala.
Keduanya tampak tersenyum dengan tatapan saling mengunci. Binar bahagia Tama rasakan.
"Ibadah yang kita lakukan nanti akan menjadi malam Penyatuan antara kita"
"Kalau begitu, aku ingin malam ini menjadi malam yang spesial, bersedia kah kau mengenakan itu untukku ?" pinta Tama dengan suara lembut.
Lagi-lagi suara Tama begitu menggetarkan hatinya, hingga Nissa hanya mampu mengangguk dan menuruti nya.
Tama pun tersenyum lebar dengan kepolosan sang istri, beruntung dirinya mendapatkan sosok Nissa yang begitu terjaga, tidak hanya cantik, nyatanya Nissa juga memiliki sejuta pesona.
"Pakai lah, aku akan menunggumu disini" ucap Tama dengan kembali menyerahkan lingerie ke tangan Nissa.
Nissapun mengangguk dengan seutas senyum di bibirnya, meski masih ada keraguan namun dia paham jika ridho dirinya saat ini terletak pada sang suami.
Dan istri mana yang tidak ingin mendapatkan Ridho dari suami, karena jelas balasan nya adalah surga.
"Mas tunggu ya, InshaAllah Nissa tidak lama" ucap Nissa dengan malu-malu , Tama menjawab dengan anggukan kepala.
Menatap kepergian sang istri ,hingga menghilang di balik pintu kamar mandi.
Tama pun bersorak bahagia, tentu karena sebentar lagi dia akan berbuka , mengasah senjatanya yang selalu dia paksa untuk tidur ketika berdekatan dengan Nissa.
Tama sendiri merasa kegirangan. Senandung kecil dia nyanyikan seraya melepas baju Koko kurta serta sarung yang sebelumnya dia gunakan.
Nyatanya tidak hanya Nissa yang bersiap, Tama pun juga melakukan persiapan, hingga tanpa sadar dia menyemprotkan parfum yang hampir satu botol penuh dia semprotkan ke seluruh ruangan.
Sementara itu Nissa di dalam kamar mandi terus saja menatap pada lingerie hitam yang tengah dia pegang. Menekan rasa malu dan keraguannya untuk tetap mengenakan pakaian tersebut.
__ADS_1
***