JODOH DARI LANGIT

JODOH DARI LANGIT
BAB 26. Perhatian Kecil Tama


__ADS_3

...Hiduplah seperti Air. Yang menetes pelan namun pasti...


...🍁...


Malam pun tiba, Nissa menanti Tama yang sebelumnya pergi ke masjid bersama sang Abi, waktu menunjukan pukul 21.15 dan belum ada tanda-tanda Tama akan kembali.


Rasa khawatir pada sang suami mulai Nissa rasakan, entah karena sebab apa namun Nissa khawatir jika sang suami kelelahan karena berada dalam majlis hingga se larut ini, dan mungkin kegiatan seperti ini baru pertama Tama rasakan.


Sejujurnya Nissa ingin menemani, meski hanya di pelataran masjid, namun hal tak terduga terjadi, dimana kebiasaan hari-hari pertama haid (dismenorea) yang juga banyak di alami kebanyakan wanita, kini memaksa Nissa untuk tetap berbaring di kasur, meringkuk dengan memeluk guling.


Sensasi nyeri yang di timbulkan tak jarang membuat Nissa begitu merasa kesakitan. Hal itu juga yang terkadang membuat nissa timbul rasa khawatir yang menghinggapi hati Nissa, karena nyeri haid yang telah Nissa rasakan sejak beberapa tahun terakhir.


Dismenore adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keluhan kram yang menyakitkan dan umumnya muncul saat sedang haid atau menstruasi. Dismenore merupakan salah satu masalah terkait haid yang paling umum dikeluhkan.


Wanita yang mengalami dismenore primer , akan mengalami kontraksi rahim yang tidak normal. Hal tersebut akibat ketidakseimbangan kimia di dalam tubuh. Misalnya, zat kimia prostaglandin yang mengontrol kontraksi rahim.


Sementara itu dismenore sekunder disebabkan oleh kondisi medis lain, salah satunya endometriosis. Kondisi tersebut terjadi karena jaringan endometrium tertanam di luar rahim. Endometriosis bisa menyebabkan perdarahan internal, infeksi, dan nyeri panggul.


Namun sejauh ini, desmenore yang di alami Nissa masih dalam batas normal, hal itu dia ketahui setelah melakukan konsultasi dengan seorang teman yang juga merupakan Dokter Sp.Og., dan itu umum dialami oleh wanita usia subur seperti Nissa.


Malam semakin larut, hingga tanpa terasa kantuk mulai menyapa, Nissa merasa tubuhnya begitu lelah, hingga tanpa di sadari dia telah terlelap.


Sayup sayup telinga Nissa menangkap pintu kamar yang terbuka kemudian tertutup, pelan dan sangat pelan , hingga merasa Nissa hanya bermimpi.


Sentuhan hangat yang Nissa rasakan dari telapak tangan yang menyentuh bagian perutnya membuat nya merasa nyaman.


Nissa yang sebelumnya terlelap dalam tidur ayam, kini merasakan Sebuah tangan kekar menempel diatas perut rata nya, dan tentu itu membuat dirinya menggeliat.


Hingga Nissa memaksa matanya untuk Mengerjap beberapa kali, benar saja ternyata sang suami telah kembali dari masjid.


Wajah tampan dan segar nya selalu membaut Nissa tersipu tatkala Tama memandangnya dengan begitu dalam.


"Apa masih begitu sakit ?"ucap Tama dengan lembut


"Sudah lebih baik" jawab Nissa dengan anggukan kepala.

__ADS_1


"Mau aku obati ?"


Mendengar tawaran sang suami, agaknya Nissa merasa penasaran, pasalnya Tama tidak membawa apapun sebelumnya, hanya sebuah koper berukuran sedang yang juga telah Nissa tata di dalam lemari.


Hanya beberapa baju dan perlengkapan lain milik Tama, yang tentu didalamnya tidak ada alat medis atau obat apapun.


Namun Nissa tak ingin berburuk sangka, terlebih terhadap sang suami, pada akhirnya Nissa memilih untuk mengiyakan tawaran Tama dengan menganggukkan kepala.


"Baiklah" Tama dengan tidak sabar


Setelah mendapatkan persetujuan dari Nissa, lantas Tama melepas sarung dan baju Koko kurta yang sebelumnya dia kenakan.


Sejenak tatapan Nissa terkunci pada aktifitas sang suami yang terasa janggal. Sejujurnya ini terasa aneh bagi Nissa, Segar di ingatan Nissa dimana sebelumnya tama mengatakan akan mengobati Nissa, namun kenapa justru saat ini Tama melepas semua baju yang dia kenakan, hingga hanya menyisakan dalaman berwarna putih dan celana bokser sebelumnya.


"Mas mau ngapain ?"


Kaget Nissa mendapati sang suami mulai merangkak naik keatas tempat tidur dan mendekat kearahnya.


"Mau ngobatin kamu"


"Tenanglah aku tidak akan meminta lebih" ucap Tama tepat di telinga Nissa.


Kini posisi Tama begitu dekat hingga tidak ada jarak diantara keduanya, Tama memeluk bagian belakang tubuh Nissa yang meringkuk karena rasa sakit.


"Pengobatan ini spesial, karena ini juga baru pertama kali aku lakukan" bisik Tama dengan nada menggoda.


Nissa hanya dapat menggeliat dengan rasa geli yang dia rasakan di sekujur tubuh, Nyatanya bukan mengobati justru Tama menggodanya dengan aktifitas-aktifitas yang memancing syahwat.


"Apakah ini nyaman ?"


Kedua mata Nissa membelalak sempurna , mendapati tangan kekar Tama telah menelusup masuk kedalam baju gamisnya.


"Tidak adakah cara lain untuk mengobatinya ?" Tanya Nissa, dan dengan cepat Tama menggelengkan kepala.


Meski begitu terkejut, nyatanya Nissa juga tidak menolak sang suami, justru yang dia rasakan sebaliknya, rasa hangat dan nyaman pada bagian perut karena usapan lembut dari Tama.

__ADS_1


Hingga dengan polosnya Nissa menganggukkan kepala, dan tentu hal itu membuat Tama terkekeh.


Mencoba berdamai dengan situasi yang sangat tidak menguntungkan, Sebagai seorang wanita dewasa jelas Nissa tahu apa yang kini dia rasakan , terlebih ketika menyadari sebuah benda tumpul yang menyentuh bagian belakang tubuhnya.


Ingin rasanya Nissa berbalik, namun justru itu bukan sesuatu yang baik, tidak menutup kemungkinan justru berdampak buruk terhadap keduanya.


"Tenang lah, aku hanya ingin seperti ini"


Ucap Tama , menyadari sang istri gemetar dengan jantung berdebar, berada dalam pelukan Tama nyatanya tidak serta-merta membuat Nissa baik-baik saja, justru sebaliknya.


***


Pagi hari .


Tama tengah menjalankan ibadah subuh nya di dalam kamar, hal itu bukan tanpa alasan dia lakukan, tentu karena Tama dan Nissa bangun agak telat setelah sebelumnya begadang.


Malu ?. Sudah pasti , karena tentu keluarganya akan mengira jika semalam An mereka bertempur, hingga subuh kesiangan.


Sejujurnya tidak akan ada yang bertanya pada keduanya, hanya saja Nissa merasa sangat canggung , kalau-kalau ada yang bertanya.


Bersyukur meski bangun kesiangan, namun semua orang di rumah tersebut begitu memahami, tidak ada satu orang pun yang bertanya pada Nissa maupun Tama.


Tentu keduanya merasa lega, dan kini mereka tengah sarapan bersama dengan anggota keluarga juga beberapa saudara yang masih tinggal di kediaman ustadz Hamzah.


"Uluh uluh pengantin baru , auranya beda" goda salah seorang saudara Nissa.


Mendengar hal itu tentu membuat Nissa seketika bersemu merah.


Namun dengan cepat Tama menguasai suasana yang cukup membuat istrinya tidak nyaman. Memberikan senyuman yang meneduhkan.


Semua orang tampak berbahagia dengan kehadiran Tama, beberapa saudara laki-laki Nissa tak jarang bertanya beberapa pertanyaan sederhana di sela-sela sarapan.


Semua anggota keluarga makan dengan cara lesehan, hal itu karena tidak akan cukup jika sarapan di meja makan yang hanya memiliki 8 kursi. Sementara masih banyak saudara Nissa yang masih menginap.


***

__ADS_1


__ADS_2