
...Maka bersabarlah kamu atas apa yang mereka katakan ...
...(QS. At-Thaha-130)...
...🍁...
Mendengar jawaban Nissa yang begitu saja, seolah tanpa berfikir dan tanpa basa-basi , agaknya cukup membuat Inara sakit hati.
"Nissa aku---"
"TIDAK bisa Mba Inara !!" Tegas Nissa.
Belum sempat Inara menyelesaikan ucapanya, Nissa lebih dulu memotong dengan kalimatnya.
"Mba Inara ini lucu sekali ternyata"
"Mana ada mba, sebuah kapal dengan dua nahkoda ?"
Nissa tampak tertawa kecil menyadari sikap dan kekonyolan dari tamunya. Jika dapat berfikir dengan baik, seharusnya Inara tidak pernah mengatakan ucapanya pada Nissa. Sesuatu yang tidak akan pernah terjadi, kebanyakan istri akan menolak , tidak hanya Nissa mungkin semuanya, tidak akan pernah ada yang mau suaminya memiliki istri lain selain dirinya.
Kalaupun ada istri yang rela di madu sudah pasti ada kesepakatan atau hal lain yang melatar belakangi keinginan itu.
Jika tidak sedang di depan tamu nya mungkin saja Nissa sudah tertawa, Bagaimana bisa seorang wanita meminta pada istri sah untuk menikahkan dia dengan suaminya. Agaknya ada yang salah dengan pikiran Inara, begitu bati Nissa.
Namun bukan mendengarkan Nissa, Inara seolah tidak perduli dengan ucapan Nissa.
"Kau benar-benar tidak mau membantu ku ?"
Inara kembali bertanah, dan Nissa pun semakin menajamkan penglihatannya, menautkan kedua alisnya, mencari kebenaran dari ucapan Tamunya.
"Jika untuk masalah lain mungkin aku tidak akan keberatan mba, Tapi jika itu tentang mas Tama. MAAF aku tidak bisa dan tidak akan pernah BISA !!"
"Mba coba pikirkan jika kondisi Saya ini adalah Mba Inara, Seorang wanita mendatangi mba, meminta menikahkan suami mba dengan dia, Apa mba Inara rela ?"
Nissa melihat sekilas wajah Inara yang tampak diam saja.
__ADS_1
"Saya rasa jawabannya tidak !"
Terlihat jelas Inara terdiam dengan ucapan Nissa, namun Nissa dapat melihat bukan penyesalan yang dia tunjukan tapi lebih pada Amarah yang begitu membara.
"Okay, jika itu keputusanmu !" Inara
"Aku peringatkan Kau !! Aku Sudah meminta baik-baik. Jangan salahkan aku jika suatu saat nanti Tama berpaling dari mu !"
Nissa hanya diam, melihat semakin dalam, nyatanya Inara memang benar-benar nekat. Namun meski tubuhnya gemetar dia tetap tidak gentar.
Seorang istri harus lah tetap bertahan di depan suami, diera gempuran wanita-wanita penggoda seperti Inara.
"Aku juga ingin memperingati mba Inara, apa yang di takdirkan untuk kita pasti akan tetap menjadi milik kita, bagaimana pun caranya. Namun apa yang tidak di takdirkan untuk kita akan selalu memiliki cara untuk pergi meninggalkan kita, Dan itu juga berlaku untuk mba Inara " Tegas Nissa.
"Jangan berlebihan , Sesungguhnya Allah tidak menyukainya"
"Aku akan selalu mendoakan mba Inara, semoga Allah membuka kan hati mba untuk taubat, menerima kenyataan dan mengikhlaskan"
Bukan mendengarkan justru Inara terlihat seperti cacing kepanasan, mengacak rambutnya asal dengan raungan, tidak terima Nissa dengan ucapanya.
Nissa hanya tersenyum mendengar ucapan Inara
"Sesungguhnya Niat buruk itu tidaklah bernilai jika hanya sekedar menjadi niat. Berbeda dengan perbuatan Baik yang sudah pasti mendapatkan pahala meski baru meniatkan nya saja"
"Kalau perbuatan Baik itu lebih indah, kenapa harus berbuat jahat mba Inara"
"Saya dan anda sama-sama wanita, Saya adalah wanita yang lebih berhak atas mas Tama, dan saya juga akan berusaha mempertahankan suami saya, sebisa dan semampu saya , dengan segala daya dan upaya yang saya punya "
"Jangan mba Inara pikir saya akan diam saja ketika mbak membuat macam-macam terhadap rumah tangga saya"
"Ingat mba, saya pun juga bisa berbuat sesuatu yang tidak pernah mbak pikirkan saya bisa melakukanya !"
Ancam Nissa, Sesungguhnya dia hanya menggertak saja, nissa juga merasa kasihan melihat Inara yang seolah gelagapan.
Namun disini Nissa ingin menunjukan pada Inara jika dirinya juga tidak gentar dengan ancaman yang di layangkan Inara.
__ADS_1
Sejatinya benalu dalam sebuah rumah tangga harus di tumpas habis,layaknya Inara yang mencoba menjadi penyusup diantara Nissa dan Tama.
Sungguh tidak masuk akal, dan tidak bisa hal-hal seperti ini di benarkan, sesuatu yang diluar akal pikiran manusia normal.
Suasana semakin panas, seperti terik matahari yang tepat berada diatas kepala mereka, meski sejujur nya saat ini malam hari.
Nissa yang mulai jengah menghadapi tingkah Inara.
"Ohya mba kalau sudah tidak ada yang ingin di bicarakan Mba silahkan pulang, Karena suamiku sebentar lagi akan datang"
Nissa sengaja menekankan kata suami untuk menunjukan siapa dirinya bagi Tama, dan mau bagaimana kenyataanya, Nissa lebih berkuasa dari Inara.
Mendengar ucapan Nissa yang seolah tengah mengusirnya, agaknya Inara mulai tidak terima.
"Kau mengusirku ?"
Nissa terkekeh mendengar ucapan Inara
"Bukan begitu mba, Jangan salah sangka"
"Nissa kan sudah bilang , Kalau sebentar lagi Mas Tama akan pulang. Seperti biasa Sebelum mas Tama pulang aku sudah harus bersiap menyambutnya"
"Tentu aku tidak akan bisa menemani mbak di sini, takut ya nanti mba Inara kesepian"
Nissa memang berbicara dengan suara pelan, namun penuh penekanan.
"Ck"
Inara tertawa sinis.
"Mba tidak lupa kan pintu keluarnya, apa perlu saya antarkan ?" tawan Nissa dengan suara lembut.
Mendengar itu Inara begitu kesal. lantas dia Bangkit dari duduknya, Terdengar hentakan kaki ya sangat bising di telinga Nissa.
Inara keluar begitu saja dari rumahnya, tanpa salam tanpa ucapan berpamitan.
__ADS_1
***