
...Ada dua mahkota pada pria yang membuatnya terhormat Dimata wanita, yaitu Tanggung jawab dan kesetiaan. ...
...🍁...
Meski telah berusaha memejamkan mata, nyatanya Tama tidak semudah itu melupakan pergumulan panas sebelumnya. Sampai dia sangat ingin mengulanginya lagi.
Hembusan nafas lembut Nissa yang menyentuh kulitnya membuat desiran aneh dalam darah Tama.
Waktu menunjukan pukul 02.15.
Terlihat wajah teduh Nissa dalam dekapannya, sesekali Tama menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya, sungguh kegiatan sebelumnya sangat membuat Tama ingin mendapatkannya lagi.
Namun melihat wajah lelah sang istri Tama hanya dapat menahan, sejujurnya melihat Nissa yang hanya berbalut selimut, dengan dada yang menempel pada tubuhnya itu lah yang membuat Tama kini tidak baik-baik saja.
"Ada apa mas ?, kok nggak tidur?"
Menyadari Tama gelisah, hingga Nissa merasa mungkin saja Tama merasa sakit karena tetangganya dia jadikan bantal sejak tadi.
Tama hanya mengulas senyum di sudut bibirnya.
"Maaf mas, sakit ya tangannya"
Ujar Nissa dengan mengangkat kepala, dan meluruskan tangan Tama, kemudian dia sendiri tidur diatas bantal.
"Bukan itu sayang yang sakit"
Mendengar hal itu Nissa tampak menautkan kedua alisnya.
"Dibawah sana sakit sekali sayang" bisik Tama dengan begitu lirih. Menunjuk pada bagian senjatanya.
"Ha. Apa mas juga merasakan sakit seperti Nissa ?" tanya Nissa dengan polosnya.
Tidak menyangka jika Tama juga akan merasakan sakit seperti yang dia rasakan, karena sepengetahuan nya, rasa sakit itu hanya di rasakan wanita.
"Bukan..."
"Lalu ?"
Tama tampak menghela nafas panjang, berusaha menguasai dirinya, Karena sedari tadi Nissa terus saja bergerak, sehingga dua buah miliknya bergesekan dengan dadanya. Dan hal Itu semakin membuatnya tersiksa.
"Dia ingin di belai sayang"
Nissa tampak berfikir, dan dengan polosnya dia memegang senjata Tama, hingga hal itu seketika membuat mata Tama membulat sempurna. Untuk sesaat jantungnya berhenti karena rasa kaget, Tidak percaya Nissa melakukanya, tapi dia paham jika sang istri hanya melakukan berdasarkan nalurinya.
"Begini ?" ucap Nissa
Nissa begitu hati-hati mengusap lembut milik Tama yang terasa keras dan tegang.
__ADS_1
Tama tampak kembali menghela nafas dengan mengatur ritme detak jantungnya.
"Bukan sayang, tapi seperti ini"
Blubb..
Dengan gerakan cepat Tama membalik tubuh Nissa, dan langsung saja menyergap nya, menancapkan miliknya hingga ke bagian dalam milik Nissa.
"Astagfirullah, Mass !!" keluh nissa diantara *******
"Maafkan aku sayang, aku tidak bisa menahannya lagi" lirih Tama dengan menghentakkan miliknya berulang kali.
Kenikmatan yang baru pertama kali Tama rasakan setelah usianya 36 tahun merupakan sesuatu yang begitu dia inginkan, dan rasanya tidak ingin begitu saja dia lewatkan.
Tidak tinggal diam Tama juga kembali memainkan dua buah milik Nissa yang selalu menantangnya, menyesap dan ******* keduanya secara bergantian.
Lenguhan kecil dapat Tama dengar ketika hentakan di bagian inti keduanya menyatu dengan gerakan Tama yang meremas dua buah milik Nissa.
Nissa hanya kembali pasrah menerima setiap hentakan yang membuat sang suami puas setiap kali dia mencapai puncaknya.
Pergumulan ke dua ini membuat Nissa lebih nyaman, rasa sakit yang dia rasakan tidak seperti sebelumnya, hingga dia mulai dapat mengimbangi gerakan sang suami.
Tak lupa Tama memberikan tanda kepemilikan di sekujur tubuh sang istri.
Terasa geli namun Nissa juga sangat menikmati, rasanya sentuhan dari Tama membuatnya menginginkan lebih juga.
Setiap kali ******* lembut keluar dari mulut Nissa , membuat jiwa dewasa Tama semakin menggelora, hingga sisi beringasnya sangat nyata.
***
Pergumulan panas semalam menyisakan perih dan sakit pada inti tubuh Nissa.
Meski telah berusaha untuk tetap biasa saja, namun nyatanya Nissa tetap merasakan sakitnya.
Sampai Tama harus membantunya untuk sekedar ke kamar mandi. Kini keduanya tangah selesai dengan jama'ah sholat subuh yang sedikit terlambat. Karena keduanya sama sama kesiangan.
Hamparan sajadah panjang yang keduanya bentangkan menjadi saksi, lengkapnya ibadah rumah tangga yang baru saja di jalani.
Setelah sarapan Tama bergegas ke rumah sakit karena ada tindakan emergency yang harus segera di tangani, mau tidak mau dia tetap harus datang meskipun hari ini merupakan hari Minggu.
"Sayang benar tidak papa aku tinggal ?" Tanya Tama lagi setelah berulang kali meyakinkan.
Nissa hanya menjawab dengan anggukan kepala dan senyum manis di bibirnya.
Setelah kegiatan melelahkan semalaman, Tama sejujurnya tidak tega meninggalkan Nissa, jangankan untuk beraktifitas, ke kamar mandi saja dia kesulitan. Beruntung hari ini hari Minggu sehingga dia tidak harus pergi mengajar.
"Bener , nggak papa ?" lagi-lagi Tama kembali bertanya untuk sekedar memastikan
__ADS_1
Nissa pun terkekeh dengan sikap sang suami yang di anggap berlebihan.
"Tenang saja mas, Kalau mas khawatir nanti segera pulang ya kalau operasi nya sudah selesai" tukas Nissa
Tama pun menganggukkan kepala, meyakinkan jika dirinya tidak akan lama meninggalkan Nissa.
***
Setelah berkendara kurang lebih 20 menit Tama telah sampai di rumah sakit.
Disana dia telah di sambut tim ok yang siap untuk melakukan tindakan.
"Sudah siap semua ?"
"Siap dok"
Seluruh team ruang ok, beberapa perawat, dokter anastesi dan, spesialis bedah dan tidak ketinggalan Tama melakukan doa sebelum memulai tindakan, mengharap kelancaran dalam tindakan operasi yang akan berlangsung nanti.
Tama terlihat begitu bersemangat, meski semalaman tidak tidur karena harus menggempur dinding pertahanan, nyatanya Tama tidak sedikitpun terlihat kelelahan atau mengantuk.
Operasi hati ini merupakan operasi yang sudah di jadwalkan sebelumnya, jadi meski semalam Tama tengah bercinta, namun sebelumnya dia telah membaca riwayat dari sang pasien.
Jam terbang Tama cukuplah lama, sehingga tidak butuh waktu lama untuk memahami rekam medis sang pasien.
Hingga 2 jam lama nya Tama baru dapat menyelesaikan operasi tersebut. Cukup melelahkan mungkin bagi team ok lainya bagaimana tidak, berdiri dalam waktu cukup lama sungguh melelahkan, terlebih setelah itu mereka juga tetap harus menjalankan kewajiban lain melayani pasien, namun tidak untuk Tama yang baru semalam mendapatkan vitamin Full.
Tama bergegas menuju ruang kerjanya, melihat beberapa data pasien darurat lain.
***
"Bisa kita bertemu ?"
Nissa tampak mengerikan dahi mendapat sebuah pesan dari nomor yang tidak ada dalam kontak WhatsApp nya.
Menyadari mungkin saja orang iseng, Nissa mengabaikan begitu saja pesan tersebut, tanpa berniat untuk membalas.
Namun semakin di biarkan, nomor tersebut justru semakin menghubunginya dan bahkan melakukan panggilan secara langsung.
Mau tidak mau Nissa akhirnya menjawab panggilan tersebut.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Terlihat Nissa fokus dalam perbincangan dengan sosok orang di balik telepon. Seolah terhipnotis Nissa hanya mengangguk dan mengiyakan apa yang di katakan sang penelepon.
Nissa telah duduk di sebuah bangku tempat ruang perawatan inara , setelah sebelumnya kedua orang tua Inara meminta nya untuk datang.
__ADS_1
Nissa tidak keberatan atau menolak karena meski Inara tidak menyukainya, namun orang tuanya sangat memohon untuk Nissa datang, terlebih untuk sedikit memberi dukungan.
***