
...Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ...
...Q.S. Al-Baqoroh - 2- 286 ...
...🍁...
Setelah panjang lebar Ustadz Hamzah menasihati Putri dan putra menantunya, beliau merasa cukup untuk melepaskan keduanya menjalani bahtera rumah tangga sebagai mana mestinya.
Memang sebagai orang tua hanya dapat mendukung dan mendoakan keputusan putra putrinya.
Tidak lupa keduanya juga meminta izin pada ummi Fatimah.
Setelah mendapatkan izin dari ummi dan Abi, Nissa dan Tama bergegas mengemas sebagian pakaian mereka, karena tentu mereka tidak mungkin membawa semuanya.
Nissa dibantu Tama mengemas barang-barang penting seperti Buku dan juga mushaf . Karena barang Tama yang tidak terlalu banyak sehingga dia tidak butuh waktu lama untuk berkemas.
Sengaja Nissa tidak membawa semuanya hal itu tentu, sesekali keduanya masih akan tetap menginap ketika berkunjung.
Waktu menunjukan pukul 09.30 Semua perlengkapan yang akan di bawa ke rumah Tama telah disiapkan semua.
Drama Isak tangis sudah pasti ada, tapi percayalah mereka semua sudah tentu sangat bahagia melepas kepergian Nissa.
Tama selalu menguatkan Nissa dalam setiap langkahnya, tentu dia juga tahu ini tidak mudah bagi Nissa, meski sebelumnya dia juga pernah berpisah dengan orang tua namun saat itu status Nissa untuk belajar, dan saat ini Nissa meninggalkan rumah itu untuk suami.
Sosok laki-laki yang akan menjadi surga dan neraka bagi Nissa, ladang pahala atau Temat bergelimang dosa.
"Sudah siap " Tama
Nissa menganggukkan kepala dengan menyeka sisa air mata yang sebelumnya tumpah begitu saja.
Setelah berpamitan dan memeluk Abi serta ummi Fatimah, keduanya lantas masuk kedalam mobil.
Nissa dapat dengan jelas melihat bagaimana wajah Ummi dan Abi yang terlihat Sedih dan bahagia, lambaian tangan dari keduanya cukup menyesakkan dada, namun itulah qodrat seorang wanita.
"Kita berangkat sekarang ?" Tawar Tama
"Baik mas" jawab Nissa disertai anggukan kepala.
Mobil yang di kemudikan Tama melaju meninggalkan area kediaman ustadz Hamzah dan pesantren.
Hingga mobil melesat cukup jauh Nissa masih dapat dengan jelas melihat lambaian tangan kedua orang tuanya.
Sesekali terlihat Tama mengusap lembut punggung tangan Nissa berusaha untuk menguatkan sang istri.
Tama mengemudikan mobil dengan kecepatan standard, selain karena rintik hujan juga jalanan cukup ramai kali ini.
Beberapa saat berkendara keduanya telah tiba di kediaman Tama.
Rumah yang pernah sekali Nissa kunjungi, saat itu ketika Bu Siska mengajaknya untuk datang kesana.
Sudut bibir Nissa terangkat begitu saja, menyadari rumah yang dulu hanya tempat singgah sejenak, kini benar-benar menjadi rumah yang akan dia tempati bersama suami.
"Kok melamun sayang ?"
__ADS_1
Nissa menoleh dengan mengulas senyum
"Tidak mas , Nissa hanya bahagia" NIssa. Tama tampak menganggukkan kepala.
"Kita turun sekarang ?"
Nissa pun menjawab dengan anggukan kepala
Keduanya berjalan bersama dengan Tama menggandeng sebelah tangan Nissa.
Keduanya masuk kedalam rumah dan telah di sambut oleh seorang asisten rumah tangga yang selalu siap berada di sana.
"Selamat datang Bu Nissa"
Nissa mengulas senyum ramah dengan anggukan kepala.
"Assalamualaikum Bi" ucapnya kemudian.
"Waalaikumsalam" jawab sang asisten rumah tangga dengan sopan.
Tama bergegas membawa Nissa menuju kamar keduanya.
Menaiki satu persatu anak tangga , agaknya membuat Nissa kelelahan.
"Ini kar kita sayang"
Ucap Tama ketika keduanya telah berada di ambang pintu sebuah kamar.
'MashaAllah' batin Nissa
"Mas ini besar sekali kamarnya ?"
Tama hanya tersenyum, Adan meraih bahu Nissa untuk dia bawa masuk.
"Bukankah nanti kita juga memiliki yang lainya ?, jadi kita sangat membutuhkan kamar besar ini sayang"
"Maksutnya?"
"Anak"
Jawab Tama spontan dan begitu saja
Sudut bibir Nissa terangkat keatas, bahagia bercampur haru dengan apa yang di siapkan sang suami untuk masa depan keduanya.
"Kau suka.?" Tama
"Nissa sangat sangat sangat Suka mas"
Keduanya saling berpelukan , menikmati kebahagiaan sebagai pasangan.
Tama membawa Nissa menuju sebuah sudut ruangan, Lemari kaca berukuran besar berjajar sangat cantik.
Tama lantas membuka sebuah lemari yang memiliki ukuran cukup besar.
__ADS_1
Terlihat deretan gantungan baju gamis yang sangat cantik , berbagai warna dan model, sangat jelas di pandangan Nissa
"Mas ini punya siapa ?"
Lirih Nissa ketika Tama membawa untuk melihatnya.
"Punya mu sayang , Mama menyiapkan ini untuk menantunya"
Sudut hati Nissa seketika menghangat, bagaimana tidak , dia belum pernah sekalipun melayani mertua Nya itu, namun Bu Sisca dan Pak fajar begitu baik terhadap dirinya.
Keduanya sangat sibuk , sehingga setelah urusan Nissa dan Tama selesai, mereka langsung bertolak ke Malaysia untuk menyelesaikan banyak pekerjaan yang mungkin tertunda.
"Kapan-kapan kita jenguk papa dan mama di Malaysia ya"
Nissa menganggukkan kepala dengan semangat, rasanya dia pun juga ingin melayani mertuanya, orang tua kedua setelah Abi dan ummi nya, namun bahkan setelah menikah dengan Tama Beberapa Minggu Nissa belum sempat menunjukan bakti nya.
Tidak berselang lama dua asisten rumah tangga mengetuk pintu, dan membawakan koper milik keduanya.
Nissa meminta meletakkan di sudut ruangan, karena dia sendiri nanti yang akan menata nya.
Mereka pun menunduk patuh, dan kembali meninggalkan kamar majikanya.
"Kau bahagia sayang ?" ucap Tama lagi.
"Tentu saja mas, Nissa sangatttt bahagia"
"Adakah hadiah untukku juga ?" goda Tama dengan keliling an matam
Nissa jelas tahu apa maksud dari sang suami.
"Mas, Nissa akan dengan senang hati melayani, tapi bukankah hari ini mas Tama harus segera ke rumah sakit juga ?" ucap Nissa.
Wajah sayu Tama seketika terlihat begitu saja. Benar apa yang di katakan istrinya, dia mendapatkan Banyak jadwal emergency.
"Tapi aku mau melakukanya di sini, di sini belum pernah sama sekali" rengek Tama dengan MuKa masamnya ?"
"Yakin ?? Kita masih bisa melakukannya nanti mas " Nissa mencoba mengingatkan kembali.
Tama hanya mendengus, sadar jika tugas dan tanggung jawabnya sebagai dokter juga Tidak bisa dia abaikan begitu saja, banyak manusia yang bergantung Pada tangannya.
"Baiklah" Lirih Tama dengan wajah sedihnya.
Nissa lantas mengecup bibir Tama , Hal itu tentu membuat Tama membelalak kedua bola matanya.
"Ini menggoda namanya sayang, aku tidak akan tahan"
Nissa terkekeh mendengar ucapan Tama yang justru bukan bersemangat, namun Mengeluh atas ciuman singkatnya.
"Sudah sudah , Bercanda nya nanti lagi" ucap Nissa.
Nissa sadar jika sang suami bukan hanya miliknya saja, dia juga paham ketika menikah dengan seorang dokter tentu waktu dan jiwanya sudah pasti akan terbagi, namun Nissa siap dengan itu semua.
Banyak orang yang bergantung pada Tama, berharap banyak pada setiap sentuhan tangan Tama di ruangan Terang penuh cahaya dan alat-alat menyeramkan.
__ADS_1
Nissa Sada itu, tentu waktunya bersama Tama juga tidak akan banyak , Namun dia sadar itu merupakan jihad nya sebagai seorang wanita sekaligus seorang istri.
***