
...Tidak semua angan akan selalu kita dapatkan. Begitu juga Angin yang tidak akan berhembus sesuai kapal berlayar. ...
...🍁...
Untuk sesaat keduanya begitu menikmati setiap sentuhan. Pelukan yang selalu membuat Nissa merasakan sebuah kenyamanan, ketentraman, serta kebahagiaan.
Selain dari orang tua , ternyata sosok suami begitu banyak memberikan perubahan bagi seorang wanita, dan tidak terkecuali Nissa. Mungkin itulah sebabnya kenapa Seorang suami bisa dikatakan surga dan nerakanya wanita.
Entah sejak kapan, namun Nissa merasa berada dalam dekapan Tama membuat dirinya begitu terlena.
Seakan perdebatan dirinya dengan Inara yang telah menguras emosi, pikiran dan jiwa Nissa sebelumnya hilang begitu saja.
Menghirup aroma maskulin dari sang suami yang jelas begitu menggoda, membuat Nissa juga merasa bahagia, sesuatu yang terus Nissa rindukan ketika keduanya saling berjauhan.
"Kita lanjutkan disana ?"
Tama berbicara dengan wajah menggoda, lembut dan cukup membuat desiran di hati Nissa, Tama pun lantas menunjuk pada tempat yang selalu membuatnya terlena ketika bersama Nissa.
Kasur empuk yang tidak akan menimbulkan bebunyian unik seperti ketika keduanya melakukan nya di kamar Nissa.
Mungkin di kamar ini Tama akan melakukanya dengan sesuka hati, selain kamar yang memiliki teknologi peredam suara, juga Tempat tidur nyaman yang juga tidak akan mengeluarkan suara.
Sebetulnya sama saja, dua duanya sama-sama memberikan kepuasan, namun tetap ini berbeda, selain tempat yang lebih nyaman, juga pastinya aman dari gangguan orang-orang yang mungkin saja akan mendengar kegiatan keduanya. Seperti Tama yang selalu was was kalau kalau Abi atau umi mendengar ******* Nissa ketika keduanya bercinta. Atau gangguan lain misalnya Tempat tidur yang patah akibat kegiatan panas diatasnya. Hal-hal semacam itu tentu cukup membuat pikiran Tama tidak tenang dan tidak nyaman.
Mendengar ajakan sang suami, Nissa lantas tersenyum dengan anggukan kepala, hingga tanpa terasa tubuhnya melayang begitu saja, menikmati ayunan lembut hingga tubuhnya mendarat pada tempat peraduan.
Keduanya kembali menikmati indahnya malam dengan sejuta harapan, saling memberikan sentuhan kehangatan. Tenggelam dalam lautan emosi yang penuh kasih sayang.
Sampai pada penyatuan yang teramat dalam, bergerak dengan sebuah tujuan kenikmatan.
"Mas, Pelan --"
Cup.
Sebuah kecupan yang seketika membungkam sejuta kata yang ingin Nissa ungkapkan
Hingga setelah semua tenaga tersalurkan , erangan tanda kenikmatan begitu terdengar indah dari kedua anak manusia yang tengah menikmati surga dunia.
Tama menjatuhkan dirinya disamping sang istri , dengan nafas yang masih terengah, Tak lupa Tama ucapkan terima kasih.
Nissa tersenyum bahagia atas semua pencapaian keduanya, sungguh sangat melelahkan namun itu lah yang selalu di rindukan dari setiap pasangan. Tidak di pungkiri itu juga yang Nissa dan Tama rasakan.
__ADS_1
Hanya berbalut selimut tebal, keduanya kembali saling berpelukan mesra.
"Mas"
"Em"
"Apa kau lelah ?" Tanya Nissa
Tama tampak menatap sekilas pada istrinya. Ada rasa tidak percaya, mungkinkah Nissa memintanya kembali.
"Kau mau lagi ?"
Nissa justru terkekeh mendengar ucapan suaminya, Sejujurnya bukan kesana arah pembicaraannya, namun Tama selalu mengatakan nya dengan kegiatan panas sebelumnya.
"Nissa juga punya batas kekuatan mas" Seloroh Nissa dengan tawa kecilnya
Begitu juga Tama yang justru ikut mentertawakan candaan istrinya.
Sejenak suasana menjadi hening dan terasa sunyi.
"Mas, Tadi mba Inara datang "
Mendengar hal itu Tama terlihat biasa saja, tidak sedikitpun reaksi kaget atau tidak percaya di wajahnya.
Nissa menganggukkan kepala sebagai jawaban. Entah ingin dia mulai dari mana untuk mengatakan kejadian sebelumnya pada Tama.
"Lalu ?" Tama lantas bertanya. Terlihat Nissa menghela nafas dalam.
"Banyak yang dia bicarakan, tapi semua pembicaraannya selalu tentang mas Tama"
Tama hanya tersenyum, sejujurnya dia sudah tidak ingin lagi berurusan dengan inara, cukup muak rasanya meski hanya untuk mendengar ceritanya.
"Tapi istriku sudah melawannya "
Tama semakin mengeratkan pelukannya, menatap intens wajah Nissa yang justru kini menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Mas . Mas tau mba Inara kerumah ?"
Nissa agaknya mulai curiga jika sejujurnya Tama tahu semuanya, dan sempat terbersit jika Tama lah yang telah memberitahukan Inara atas kepindahan mereka.
"Iya, Aku tahu semuanya sayang, Bahkan setiap ucapan yang Istriku ini layangkan untuk membungkam lawan bicaranya membuatku sangat terpesona"
__ADS_1
"Bahkan aku tidak menyangka jika istriku Setangguh itu"
Tama berbicara dengan kerlingan mata yang sulit diartikan oleh Nissa.
Sebaliknya Nissa hanya dapat menautkan kedua alisnya, dengan tatapan tak percaya, tidak pelak dia juga merasa malu dengan sikap berani nya dia sebelumnya menggoda Tama.
Sedikit banyak Tama tahu apa yang dilakukan Nissa malam ini, perubahan sikap dan agresif nya Nissa pada Tama adalah karena. Nissa yang takut kehilangan Tama.
"Bagaimana mas Tama tahu ?"
"Tentu saja aku kan bisa teleportasi" kelakar Tama dengan begitu congkaknya.
Nissa lantas memukul bahu Tama, dia yang menginginkan penjelasan dari sang suami justru mendapatkan gurauan yang juga membuatnya terpaksa ikut tertawa.
"Tunggu !, Atau mas memasang CCTV di ruang tamu ?"
Nissa mencoba berfikir dan menebak darimana sang suami mengetahui perdebatan dirinya nya dengan Inara.
Dan jawabannya tepat jika Tama memang memasang CCTV disana.
"Semuanya ?"
Nissa seolah tidak percaya jika banyak CCTV yang suaminya pasang untuk mengawasi dirinya.
Tidak hanya disana karena ternyata Tama memasang CCTV di seluruh rumah nya.
"Apakah dikamar juga ada ?"
Seolah was was , Nissa pun akhirnya bertanya, hal itu tentu mengganggu pikirannya, karena Tama mengatakan di seluruh rumahnya terpasang CCTV, tidak menutup kemungkinan jika di kamar itu juga ada.
Tama hanya menjawab dengan gelengan kepala, namun justru hal itu kembali menuai rasa tidak percaya dari Nissa.
"Yakin tidak ada ?"
Lagi lagi Tama hanya menggelengkan kepala, dengan mengulas senyum terbaiknya, bagi Tama melihat wajah Nissa dengan bibirnya yang manyun membuat Tama merasa gemas.
"Mana mungkin aku membiarkan Mata CCTV melihat keindahan yang ada di tubuh istriku ini, hanya Mata ku saja yang boleh melihatnya"
Mendengar hal itu , Nissa hanya tersipu Malu, wajahnya seketika menghangat , Tidak dapat di tutupi Rona merah di pipi yang terlihat begitu menggemaskan
Keduanya tertawa bersama, menikmati sisa malam yang semakin beranjak, terganti dengan sinar rembulan yang semakin terang.
__ADS_1
***