
...Reminder. Jangan mundur, Ingat Allah tidak tidur...
...🍁...
Tidak butuh waktu lama untuk keduanya menyelesaikan makan siang yang tertunda. Suasana sore itu tampak semakin mendung dengan di barengi rintik hujan.
Suasana berkabut kian menambah sahdu, sejauh mata memandang hamparan asap putih yang terlihat jelas melalui balik jendela kamar Nissa.
"Apa di sini selalu dingin seperti ini" Tama
"Em. Terkadang"
Jawab Nissa singkat, dengan kembali merapikan sisa makanan dan peralatan makan sebelumnya.
"Mau kemana ?"
Tak ingin kehilangan kesempatan, menyadari Nissa beranjak dari duduknya, dengan gerakan cepat Tama menarik pinggang Nissa.
"Astagfirullahhaladzim" kaget Nissa dengan gerakan Tama yang tiba-tiba.
"Letakan saja dulu, Kau juga perlu istirahat" ucap Tama penuh rayuan.
Sejujurnya Nissa juga merasakan lelah yang teramat, namun tidak mungkin keduanya terus bersama sedekat ini, terlebih melihat Tama yang begitu agresif agaknya Nissa sedikit takut, bukan takut dalam artian lain, Nissa hanya takut Tama meminta lebih sementara dirinya belum bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.
"Tapi --"
Belum sempat Nissa menyelesaikan ucapanya, Tama kembali menariknya dengan sedikit memaksa. Pada akhirnya Nissa pun mengikuti kemauan Tama , dan kembali meletakkan Nampan berisi piring kotor bekas keduanya makan sebelumnya.
Nissa menyadari satu hal dari suami dan ibu mertuanya, dimana keduanya sama-sama suka memaksa, dan berakhir dengan Nissa yang tidak pernah berhasil untuk menolaknya.
Agaknya Nissa harus mulai berdamai dengan hal itu, karena sifat sang suami yang tidak jauh beda dari Bu Sisca sang mertua.
Keduanya duduk di sandaran tempat tidur, dengan Tama yang semakin mendekatkan tubuhnya, mengikis jarak antara dirinya dan Nissa.
Meski tak begitu jelas , namun Nissa jelas tahu jika sang suami selalu memperhatikan dirinya. Malu ?. Sudah pasti, namun Nissa juga tidak ingin mencegah sang suami dari terus memandanginya. Karena hanya wajah Nissa yang dapat Tama nikmati saat ini.
"Ohya Memangnya kenapa tidak boleh tidur ?" tanya Tama dengan kerlingan mata
"Maksutnya?"
__ADS_1
"Kamu bilang tadi Boleh istirahat, tapi tidak boleh tidur?"
Pertanyaan Tama yang sejujurnya hanya merupakan alibi saja, untuk tetap membuat Nissa berada di sampingnya. Selain itu juga Tama hanya ingin mencairkan suasana, dan tentu untuk mendekatkan diri dengan Nissa, Namun nyatanya Nissa justru menanggapinya dengan serius.
Tak tanggung-tanggung Nissa menjelaskan pada sang suami tentang apa yang baru saja dia tanyakan dengan sabar dan sangat detail.
Tidur termasuk ke dalam kebutuhan sehari-hari manusia, sebagaimana Rasulullah SAW mengatakan bahwa tubuh memiliki jatah untuk istirahat.
Pada dasarnya Islam mengajarkan umatnya untuk tidak zalim terhadap diri sendiri, contohnya dengan tidak memberi waktu tubuh untuk beristirahat.
Akan tetapi, umat muslim pun harus memperhatikan waktu kapan saja yang boleh dipakai untuk tidur. Dalam Islam, terdapat waktu yang dilarang untuk kita tidur pada waktu tersebut.
Adapun tidur yang lebih buruk dari tidur sore dalam Islam adalah tidur pagi hari. Abdullah bin Abbas pernah mendapati putranya yang masih tidur pada pagi hari. Lantas ia berkata kepadanya:
"Berdirilah! Akankah kamu tidur pada waktu di mana banyak rezeki dibagikan?"
Beberapa ulama juga menyatakan bahwa tidur di waktu siang terbagi menjadi empat waktu yakni khuluq, huraq, dan humuq.
Khuluq adalah waktu saat suhu ada pada temperatur panas atau terik. Waktu ini merupakan waktu biasanya Rasulullah tidur siang.
Huraq adalah tidur pada waktu dhuha yang dapat menyebabkan seseorang dijauhkan dari perkara dunia maupun akhirat.
"Barangsiapa tidur setelah Ashar, maka ia telah merampas akalnya, sehingga janganlah ia menyalahkan siapapun kecuali pada dirinya sendiri."
Dengan begitu, hukum tidur setelah ashar atau tidur pada waktu sore hari ini adalah makruh. Alasannya adalah karena Rasulullah SAW tidak menyukai tidur atau mengobrol pada waktu tersebut kecuali beliau mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat seperti berzikir atau belajar.
Hukum makruh pun dikenakan untuk seseorang yang tidur dengan kondisi telungkup dengan wajah menempel di lantai karena hal tersebut adalah kebiasaan para penghuni Jahanam.
Tama mengangguk pelan, mendengar penuturan dari sang istri, sejujurnya hal ini tidak begitu dia pahami, karena selama ini tidurnya selalu tidak beraturan , terlebih ketika sedang menangani pasien darurat, melakukan operasi hingga ber jam-jam, Tama akan segera tidur setelah tugasnya selesai, meski itu di pagi atau petang hari.
Tama tampak menghela nafas dalam, dan membuangnya kasar, semakin mengeratkan tangannya hingga Nissa sedikit merasa sesak di bagian perut.
"Aku tidak akan kemana-mana dok, dokter tidak perlu memegangi ku Seperti ini"
"Lagi pula ini di kamar dok, aku tidak akan hilang"
Tama hanya terkekeh mendengar kalimat keberatan dari sang istri. Namun justru Tama menikmatinya, karena Nissa terlihat lebih menggemaskan.
Sejujurnya Nissa merasa sedikit tidak nyaman dengan posisi Tama yang terus memeluknya, menyandarkan dagunya di bahu. Namun bukan mengindahkan ucapan Nissa justru Tama semakin membuat Nissa menggeliat karena sensasi geli yang di ciptakan oleh Tama.
__ADS_1
Tak jarang Tama semakin menenggelamkan wajahnya di celekuk leher Nissa , Hembusan nafas Tama begitu terasa, menembus hijab yang masih di kenakan Nissa.
"Bisakah tidak memanggilku seperti itu, aku merasa sedang bersama pasien jika kau memanggilku Dokter" Ucap Tama mengalihkan perhatian Nissa.
"Lalu aku Harus memanggil bagaimana ?" Nissa
"Terserah... Suamiku, sayang, Aa atau Honey atau... Cintaku mungkin.." ucap Tama yang seolah tengah berfikir panggilan apa yang cocok untuk dirinya.
"Bagaimana jika Kiyai? celetuk Nissa.
Bola mata Tama membulat sempurna mendengar panggilan dari sang istri, bukan dari beberapa pilihan yang sebelumnya dia sebutkan , namun justru sebuah kata yang tentu beberapa hari ini sangat akrab di telinganya.
Keduanya lantas tertawa bersama,Tama begitu gemas dengan Nissa hingga dia menggelitik perut Nissa yang sudah mulai berani menggoda nya.
"Ampun ... Ampun... "
"Ampun Mas !!" cicit Nissa merasa geli karena Tama menggelitiknya terus menerus.
"Mas ?" Tama
"Em. iya " Nissa
"Kenapa tidak memanggil aa?" Tanya Tama yang sedikit penasaran.
Bukan tanpa alasan hal itu dia tanyakan, hanya saja Kebanyakan orang di daerah Nissa memanggil dengan sebutan itu.
"Em. Tukang bajigur di gang depan itu Nissa panggil Aa"
"Tukang Siomay Juga aa"
"Em. Tukang Seblak juga Nissa panggil Aa" Nissa
Lantas Tama mengerutkan alisnya, kembali tertawa mendapati jawaban polos sang istri. Banyak sekali ternyata Aa nya Nissa, wanita polos yang kini menjadi istrinya itu.
"Benar juga ya, oke . Sepertinya 'Mas' memang lebih baik, terdengar lebih spesial" ucap Tama dengan menahan tawa.
Sejenak tatapan keduanya beradu, mulai ada benih-benih cinta yang terasa menjalar dalam hati Nissa. Dan tentu sikap Tama mulai mencairkan kecanggungan diantara keduanya.
Hal itu tentu tidak lepas dari Tama yang begitu intens untuk menggoda Nissa.
__ADS_1
***