
...Wahai hati tetaplah berdoa , karena Doa yang di langit kan tidak akan pernah kembali dengan Sia-sia...
...🍁...
Suasana tidak lagi dapat Tama kendalikan, kegilaan Inara cukup membuatnya naik pitam. Bagaimana bisa sahabat yang begitu dia kenal, dia anggap seperti saudara bertindak diluar batas, hingga meminta untuk menjadi yang ke dua dalam hatinya.
Tentu dengan tegas Tama kan menolak permintaan Inara, sangat tidak masuk akal dan terkesan konyol, menjadikan Inara sebagai yang ke dua. Hal itu tentu bukan keputusan yang bijak.
Sebagai seorang laki-laki tentu bukan hal mudah untuk sekedar membuat ikrar janji dihadapan Illahi Robbi, meski Tama telah mengenal Inara jauh lebih lama dibandingkan dengan Nissa , namun sejatinya hanya Nissa lah yang benar-benar menguasai hatinya.
"Lho tam kok cepet" ucap mama Inara yang mendapati Tama keluar dari ruangan Inara.
"Maaf Tan, Saya banyak kerjaan" jawab Tama dengan berlalu dari hadapan kedua orang tua Inara.
Tanpa berpamitan atau mengucapkan salam,Tama mencelos begitu saja meninggalkan kedua orang tua Inara yang masih terpaku di depan pintu.
Kedua orang tua Inara tampak saling pandang , menatap heran pada Tama yang pergi begitu saja.
Waktu menunjukan pukul 14.45
Diruang kerja. Tama merasa ucapan Inara sedikit banyak mengganggu pikirannya, dan cukup mengganggu aktifitasnya, beruntung saat ini tidak ada tindakan darurat yang juga tentu akan lebih menambah beban berat pikiran Tama, ingin rasanya dia segera mengabarkan hal itu pada Nissa.
Namun Tama ragu, kalau-kalau hal itu justru akan menyakiti hati sang istri. Sejenak berfikir, Tama memutuskan akan tetap memberitahu Nissa.
Sat ini Banyak pasien yang harus di tangani oleh Tama, terlebih pasien poli yang memang mereka harus rutin kontrol. Tugas dan tanggung jawab sebagai dokter sejujurnya sangat melelahkan.
Tama telah bersiap untuk pulang, siap dengan stelan jas putih yang dia tenteng, dan pouch kecil di tangannya, serta ponsel di tangan lainya yang akan dia gunakan untuk menghubungi Nissa, Namun lagi-lagi langkahnya terhenti tatkala dia mendapati kedua orang tua Inara berlari menghampirinya.
"Tam"
Tama tampak menatap jeli pada keduanya, tatapan heran Tama layangkan dengan Guratan tipis di keningnya.
"Ada apa Tan ?" Tama
"Inara tam, Inara ngancam mau bunuh diri, Tante takut tam " ucap wanita paruh baya di hadapannya dengan sesenggukan.
Tidak pikir panjang Tama bergegas berlari untuk menemui Inara , memastikan kondisinya baik-baik saja, entah dorongan dari mana hingga Tama memutuskan untuk melihat Inara.
Dari jarak 10 meter terdengar suara histeris dari kamar yang ditempati Inara, tidak salah memang yang dia dengar adalah teriakan Inara.
Tama berlari begitu saja menerobos kamar Inara , disana ada beberapa perawat laki-laki yang tengah memegangi tangan Inara.
__ADS_1
"Ra... Ra ... Istighfar" sela Tama
Bukan mengindahkan apa yang di katakan Tama, Inara justru semakin menjadi , hingga hal itu berlangsung cukup lama. Seorang dokter yang juga merupakan rekan Tama masuk kedalam ruang perawatan inara, menyuntikkan obat penenang agar Inara tidak semakin histeris.
Reaksi obat tidak langsung dirasakan, beberapa orang masih tetap memegangi tubuh Inara dengan kuat, sampai lama kelamaan tenaga Inara seolah habis dan kesadaran nya pun mulai menurun.
Terlihat Inara yang kembali tertidur pulas setelah obat penenang bereaksi penuh dalam tubuhnya.
"Sebaiknya tetap ada yang berjaga, dokter Inara tidak boleh di tinggalkan"
"Aku hanya khawatir Dokter Inara akan semakin nekat" ucap seorang dokter yang sebelumnya memberikan obat penenang.
Papa dan mama Inara terlihat saling pandang dengan perasaan bercampur aduk, sementara Tama hanya diam dengan pandanganya jeli pada Inara.
Setelah suasana cukup kondusif Tama pun berpamitan pada kedua orang tua Inara, Namun di luar dugaan Tama keduanya justru meminta Tama untuk menemani Inara. Memaksanya untuk tetap tinggal, karena harapan Inara hanya pada Tama.
"Maaf Tan . Tapi Tama tidak bisa !" tegas Tama tanpa basa-basi.
Kejam? Sudah pasti, namun Tama juga tidak ingin memberikan harapan lebih pada Inara, sementara statusnya kini juga telah memiliki istri.
Tentu tujuannya karena tidak ingin Menyakiti Nissa, karena Inara bukanlah tanggung jawabnya, sementara Nissa sudah pasti menjadi tanggung jawabnya saat ini, termasuk kebahagiaan dan kehidupan Nissa.
"Setelah ini Tante tidak akan memaksa kamu, setidaknya sampai kondisi Inara stabil"
"Dia akan senang melihatmu" mohon mama Inara.
Sejujurnya Tama bukan seorang laki-laki yang tega begitu saja mengabaikan permintaan orang tua, terlebih berkaitan dengan anak, Tama hanya berfikir bagaimana jika itu orang tuanya.
"Baiklah"
Pada Akhirnya Tama menyetujui permintaan orang tua Inara, tentu hal itu dia lakukan hanya karena kemanusiaan, tentu juga hanya sampai Inara stabil.
Kedua orang tua Inara tampak lega setelah mendapatkan jawaban dari Tama , setidaknya putri mereka akan tetap baik-baik saja jika saat sadarnya nanti ada Tama di samping nya.
Dua jam berlalu, benar saja Inara mulai tersadar dari efek obat yang memaksanya untuk tidur.
Mengedarkan pandangan pada setiap sisi ruang, hingga tatapannya tertuju pada seorang laki-laki yang begitu dia inginkan.
Tama tengah duduk dengan mata terpejam tepat di samping tempat tidur Inara, sementara kedua orang tua Inara juga tengah tidur di sofa, sungguh Tama sendiri sejujurnya sangat lelah untuk sekedar menginap di rumah sakit. Namun dia tidak memiliki pilihan lain selain menerima ini.
Seketika bibir Inara melengkung, mendapati Tama tengah menunggui dirinya. Bahkan Tama terlihat pulas dalam tidurnya.
__ADS_1
Dengan sadar tangan Inara terulur, menyentuh puncak rambut Tama, sensasi kelembutan dari rambut Tama begitu Inara rasakan, lagi-lagi dia tersenyum akan hal itu.
"Kau sudah sadar ?" tanya Tama yang merasa sesuatu menyentuh kepala nya.
Mendengar pertanyaan Tama , Inara pun menganggukkan kepala dengan senyum terbaiknya.
"Syukurlah"
"Tam , Terima kasih" Ucap Inara dengan suara lirih.
Tama hanya bergeming, dengan tatapan jeli pada sosok wanita di hadapannya.
"Istirahatlah, ini sudah larut" Ucapan Tama.
Kedatangan Tama seolah menjadi obat bagi Inara, hingga dia terbius dan segera menurutinya.
***
Waktu menunjukan pukul 23. 45
Nissa yang terbangun setelah beberapa kali mengerjab kan mata.
Menatap jam yang tertempel di dinding, Pandangan Nissa sejenak terpaku, meski usia pernikahan Nissa dan Tama baru sebentar, namun Nissa merasa khawatir karena sampai selarut ini sang suami belum pulang.
Terakhir kali komunikasi antara keduanya adalah, Tama mengatakan jika akan pulang terlambat. Apakah terlambat yang Tama maksud sampai selarut ini, pikir Nissa.
Tentu Nissa hanya menebak, karena sebagai istri , ini merupakan pengalaman pertama Nissa. Juga hari pertama Tama kembali bekerja setelah keduanya menikah.
"Atau mas Tama pulang ke rumah mama ya" Nissa bermonolog sendiri.
Pikirannya mulai tidak tenang, namun Nissa mencoba tetap tenang, menepis segala pikiran buruk terhadap sang suami. Meski sejujurnya dia tetap saja khawatir, terlebih ponsel Tama tidak dapat di hubungi.
Tidak mungkin bagi Nissa untuk telpon ke nomer rumah sakit, hanya untuk menanyakan Tama, sementara nomer tersebut hanya di peruntukan bagi pasien.
Waktu semakin bergulir, namun perasaan Nissa juga tetap tidak baik-baik saja, ingin menghubungi Bu Sisca namun rasanya tidak sampai hati, tengah malam begini mengganggu istirahat kedua mertuanya itu.
Nissa memilih untuk bermunajat pada Allah, dia hamparkan sajadah panjang dan bersimpuh dihadapan Ilahi Robbi, mencurahkan segala isi hati.
Setelah bergelut dengan pikirannya, Nissa mulai kembali lelah dan mata nya pun terasa mulai berat, hingga tanpa di sadari dia kembali terlelap masih lengkap dengan mukena yang dia kenakan.
***
__ADS_1