
Setelah mandi pagi untuk yang ke dua kali, Nissa dan Tama bersiap untuk pulang.
Tama telah memesan satu stel pakaian untuk dirinya, dan tentu gamis beserta hijab untuk Nissa.
Tentu mereka juga tidak bisa berlama-lama di tempat tersebut, mengingat Abi dan ummi tentu juga pasti khawatir, hal itu karena mereka masih tinggal bersama.
Perjalanan pulang akan di lalui cukup lama, karena semalam Tama justru mencari daerah yang agak sepi untuk keduanya singgah.
Butuh sekitar 45 menit untuk sampai ke pesantren namun hal itu tidak masalah.
"Sayang"
Tama tampak sedikit gusar melihat pada sang istri.
Nissa pun agaknya merasa sedikit bingung dengan tingkah Tama yang mendadak berubah dan terlihat cemas.
"Kenapa mas ?"
Tama menjeda ucapan nya sebelum dia benar-benar mengatakan ini.
"Bagaimana kalau hari ini kita pindah ke rumah ku" Tawar Tama
Tama berbicara dengan sangat hati-hati , tidak memaksa dan hanya mengajukan tawaran untuk Nissa pikirkan.
Sebagai seorang pria dewasa Tama sangat memahami jika mungkin saja Nissa butuh persiapan untuk pindah dari rumah orang tuanya, mempersiapkan hati misalnya.
Dan Tama tidak memaksa untuk Nissa langsung begitu saja menerima.
Terlihat pula Nissa yang tampak sedang berfikir, dalam lamunannya.
"Iya mas , Bukankah memang seharusnya begitu"
Dalam lamunan Nissa teringat nasihat dari sang Abi.
Di antara keutamaan istri yang taat pada suami adalah akan dijamin masuk surga. Ini menunjukkan kewajiban besar istri pada suami adalah mentaati perintahnya.
Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
__ADS_1
أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ
“Wanita mana saja yang meninggal dunia lantas suaminya ridha padanya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Tirmidzi no. 1161 dan Ibnu Majah no. 1854. Abu Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).
Dengan ketaatan seorang istri, maka akan langgeng dan terus harmonis hubungan kedua pasangan. Hal ini akan sangat membantu untuk kehidupan dunia dan akhirat.
Istri yang taat adalah istri yang mengetahui kewajibannya dalam agama untuk mematuhi suaminya dan menyadari sepenuh hati betapa pentingnya mematuhi suami. Istri harus selalu menaati suaminya pada hal-hal yang berguna dan bermanfaat, hingga menciptakan rasa aman dan kasih sayang dalam keluarga agar perahu kehidupan mereka berlayar dengan baik dan jauh dari ombak yang membuatnya bergocang begitu hebat.
Sebaliknya, Islam telah memberikan hak seorang wanita secara penuh atas suaminya, di mana Islam memerintahkannya untuk menghormati istrinya, memenuhi hak-haknya dan menciptakan kehidupan yang layak baginya sehingga istrinya patuh dan cinta kepadanya.
Kewajiban menataati suami yang telah ditetapkan agama Islam kepada istri tidak lain karena tanggung jawab suami yang begitu besar, sebab suami adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan dia bertanggungjawab atas apa yang menjadi tanggungannya. Di samping itu, karena suami sangat ditekankan untuk mempunyai pandangan yang jauh ke depan dan berwawasan luas, sehingga suami dapat mengetahui hal-hal yang tidak diketahui istri berdasarkan pengalaman dan keahliannya di bidang tertentu.
Istri yang bijaksana adalah istri yang mematuhi suaminya, melaksanakan perintahnya, serta mendengar dan menghormati pendapat dan nasihatnya dengan penuh perhatian. Jika dia melihat bahwa di dalam pendapat suaminya terdapat kesalahan maka dia berusaha untuk membuka dialog dengan suaminya, lalu menyebutkan kesalahannya dengan lembut dan rendah hati. Sikap tenang dan lembut bak sihir yang dapat melunakkan hati seseorang.
Ketaatan kepada suami mungkin memberatkan seorang istri. Seberapa banyak istri mempersiapkan dirinya untuk mematuhi suaminya dan bersikap ikhlas dalam menjalankannya maka sebanyak itulah pahala yang akan didapatkannya, karena seperti yang dikatakan oleh para ulama salaf, “Balasan itu berbanding lurus dengan amal yang dilakukan seseorang.” Tidak diragukan bahwa istri bisa memetik banyak pahala selain taat kepada suami seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lainnya, namun pahala yang didapatkannya tidak sempurna jika tidak mendapatkan pahala dalam menaati suaminya, menyenangkan hatinya dan tidak melakukan sesuatu yang tidak disukainya.
"Kau tidak keberatan ?"
Nissa lantas mengulas senyum manis di wajahnya.
Tama pun merasa lega mendengar jawaban dari Nissa.
"Baiklah, sesampainya di rumah nanti kita langsung bicarakan ini dengan Abi ya " Tama
Nissa menganggukkan kepala, menyetujui usulan dari suaminya.
Setelah berkendara cukup lama , mobil yang di kemudikan oleh Tama telah masuk kedalam area pesantren.
Keduanya bergegas untuk turun , dan menyapa penghuni rumah yang mungkin saja mencari keduanya semalam, namun yang tidak Nissa ketahui adalah Tama sudah meminta izin pada ustadz Hamzah.
Sehingga kemungkinan keduanya ditanya 'dari mana' agaknya sangat kecil.
Terlebih mereka juga merupakan pasangan halal, sehingga tidak menjadi alasan untuk keduanya mendapatkan hukuman, selama Nissa pergi bersama suaminya itu sah sah saja.
Keduanya melangkah masuk kedalam rumah , Memastikan keberadaan Ustadz Hamzah, benar saja ustadz Hamzah yang dia cari ternyata tengah duduk di teras belakang selepas melaksanakan duha
"Assalamualaikum Abi"
__ADS_1
Ucap bersama Nissa dan Tama.
"Waalaikumsalam" jawab
Nissa dan Tama mengambil posisi duduk di samping ustadz Hamzah.
Dalam hal ini Nissa merupakan tanggung jawab Tama, sehingga Tama langsung lah yang akan menyampaikan keinginan nyabu pada sang mertua.
Tama mengatakan keinginannya untuk membawa Nissa keluar dari lingkup orang tuanya, bertanggung jawab penuh atas Nissa.
Mendengar hal itu Ustadz Hamzah tampak bahagia, senyum ramah di wajahnya terlihat begitu meneduhkan, meski sejatinya tidak benar-benar tahu apa yang sedang di rasakan.
Kehilangan ?, sudah pasti , namun tetap sebagai wanita justru Nissa memang seharusnya mengikuti apa kata suaminya.
Rasulullah SAW bersabda: “Yang paling berhak atas seorang perempuan adalah suaminya. Yang paling berhak atas seorang lelaki adalah ibunya." (HR Tirmidzi)
Tidak hanya kepada Tama, ustadz Hamzah pun tidak lupa juga memberikan wejangan kepada putrinya.
Terdapat kisah menarik yang berkaitan dengan sikap menantu kepada mertua, yaitu ketika bibi dari Al Hushain bin Mihshan datang kepada Rasulullah SAW. Beliau kemudian bersabda: “Apakah engkau sudah bersuami?”
Bibi Al-Hushain menjawab, “Sudah.” “Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?” tanya Rasulullah SAW lagi. Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi haknya, kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.”
Beliau kemudian bersabda, “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR Ahmad).
Ustadz Hamzah juga menjelaskan
Dari hadis tentang mertua dan menantu ini, secara tidak langsung kaum muslimin diperintahkan untuk selalu berbuat baik terhadap mertua, yang menjadi suatu bentuk bakti kepada suami.
Sebab, menjalin suatu hubungan baik kepada mertua dapat menjadi salah satu upaya untuk menyenangkan hati suami.
Terkait dengan ketaatan seorang istri pada suami, terdapat hadis dari Abu Hurairah RA yang bisa juga menjadi hadis tentang mertua dan menantu, yakni:
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
Artinya: “Pernah ditanyakan kepada Rasulullah SAW, Siapakah wanita yang paling baik?’ Beliau menjawab “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR An-Nasai dan Ahmad)
***
__ADS_1