JODOH DARI LANGIT

JODOH DARI LANGIT
BAB 37. Rencana


__ADS_3

...Tetaplah berbuat baik, meski kebaikanmu tidak bersambut. Karena kau tidak pernah tahu kebaikan apa yang akan membawamu kesurga. ...


...🍁...


Apa yang di pikirkan Nissa kini telah Tama ketahui, meski Nissa tidak mengatakan apapun padanya.


Hal itu cukup bagi Tama untuk membuat keputusan atas dirinya dan Inara.


Tidak ingin membuat masalah semakin berlarut, terlebih kejadian hari ini cukup membuat Tama geleng kepala, beraninya Inara menyabotase izin nya untuk membuat Nissa datang menemuinya.


Jika tidak segera di selesaikan, bukan berarti hal ini tidak akan kembali terulang.


Setelah suasana tegang sebelumnya berhasil Tama kendalikan, keduanya tampak kembali seperti sebelumnya, meski belum sepenuhnya. Amun terlihat Nissa mulai ceria.


"Sayang"


"Em ?"


"Bolehkan--"


"Boleh mas "


Tanpa menjelaskan pun Nissa jelas tahu apa yang di inginkan oleh suaminya, sebagai wanita dewasa dan telah sah diantara keduanya tentu kebutuhan biologis selalu di inginkan Tama.


Malam panjang keduanya habiskan untuk menikmati indahnya sentuhan. Berbagi kehangatan penuh kasih sayang.


***


Beberapa hari berlalu. Inara tampak lebih baik dari sebelumnya. Hari ini bertepatan dengan dimana dia diperbolehkan untuk rawat jalan.


Mungkin pengobatan yang di jalani nya belum selesai , namun untuk kedepannya Inara hanya perlu kontrol rutin dan melakukan terapi saja.


"Tam "


Panggil Inara ketika keduanya berpapasan di lobby rumah sakit.


Sementara Tama hanya mengulas senyum dan menganggukkan kepala. Tama memilih melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya.


"Tama Tunggu !"


Mendengar panggilan dari sahabatnya Tama pun mau tidak mau Kembali menoleh.


"Iya"


Melihat respon dari Tama , Inara sungguh bahagia. Tidak banyak yang berubah dari Tama, meski sedikit dingin, namun tetap menjawab panggilannya.


"Em, Sebagai wujud terima kasihku, Kalau tidak keberatan aku pengen ngundang kamu makan malem nanti"


Tama sedikit mengerutkan dahi, mendapati ajakan Inara yang agaknya terlalu berani.


"Oke"


"Beneran ?"


"Iya Aku usahain nanti Dateng"


"Janji ya , Kamu nggak bohong kan ?" Inara, dan Tama pun menjawab dengan senyuman.


Tama hanya menganggukkan kepala, seraya kembali melanjutkan langkah meninggalkan Inara.

__ADS_1


Sementara Inara sudah pasti dia merasa begitu bahagia.


***


Waktu menunjukan pukul 19.20


Tama baru saja menyelesaikan semua pekerjaan rumah sakit.


Sudut bibirnya terangkat mengingat sebuah pesan yang dikirim oleh sang istri.


'Cepat pulang Mas'


Rasanya memikirkan itu saja membuat Tama merinding, ingin cepat-cepat bertemu Nissa.


Sementara Inara saat ini tengah berada di sebuah restoran ternama, restoran yang banyak di ketahui adalah milik Reza yang tidak lain merupakan sahabat Tama.


Jangan lupakan dandanan Inara yang tentu sangat menggoda, mengenakan Dress berwarna hitam pekat dengan belahan dada sedikit terbuka, sehingga dua buah didalamnya sedikit menyembul ke permukaan.


Tidak sampai di situ, high hell dengan tinggi 7 cm tidak lupa dia kenakan, hal itu untuk menunjang penampilannya agar lebih menarik.


Namun seketika senyum cerah nya berganti awan mendung, ketika mengingat ucapan orang tuanya sebelum Inara berangkat.


Dimana kedua orang tua Inara sempat melarangnya untuk datang, hal itu karena bukan hanya mempermalukan dirinya sendiri, tentu keluarga juga akan malu.


Bagaimana bisa seorang dokter sekaligus seorang anak dari pejabat, berkencan dengan laki-laki yang telah memiliki istri.


Namun Inara selalu menyanggah ucapan kedua orang tuanya, bahkan dia rela melakukan apapun asalkan inara.selalu bersama pujaan hatinya.


Masih sekitar 15 menit namun Inara telah lebih dulu sampai disana.


Agak aneh sih, namun siapa tau jika Inara memang benar benar tengah mempersiapkan makanan malam nya dengan Tama secara maksimal.


Begitulah kira-kira isi dari pesan singkat yang di kirim oleh Tama pada Inara.


Dan sudah pasti , membaca pesan tersebut membuat hati Inara begitu berbunga-bunga.


"Aku tahu tam kau tidak akan mungkin mencampakkan ku begitu saja" Monolog Inara dengan begitu congkak.


Senyum manis tak pernah tanggal dari bibir Inara, beberapa kali terlihat dia merapikan rambut, begitu juga dengan dress yang dia kenakan.


Seolah ingin tampil maksimal, Inara begitu tidak sabar menantikan kedatangan Tama.


💌 'Aku sudah di Bawah '


Lagi dan lagi hati Inara begitu berbunga bunga, mendapati pesan singkat yang di kirimkan oleh Tama.


Untuk kesekian kalinya Inara membenarkan posisi duduknya, Merapikan dress yang dia kenakan, dan juga rambut yang dia sisir menggunakan tangan asal.


Sungguh penampilan Inara malam ini sangat mempesona dan tentu sangat berkelas.


Ruang VIP yang di desain dengan lampu temaram dihiasi lilin lilin kecil di beberapa sudut ruangan, serta 3 buah lilin besar yang terletak tepat di tengah meja.


Sungguh semakin membuat suasana menjadi indah dan tentu mewah.


Tok tok tok.


Deg.


Sebuah ketukan pintu yang seketika menghentikan deru nafas Inara. Dia hampir tak percaya jika Tama benar-benar datang menghampirinya.

__ADS_1


Pintu pun terbuka disusul.seorang pelayan yang datang dengan senyuman terbaiknya.


"Silahkan masuk Pak"


Ucap pelayan tersebut dengan mempersilahkan tamu yang dia bawa untuk masuk kedalam ruang VIP tersebut.


Pelayan tersebut lantas menepi, dan memberikan jalan untuk tamunya masuk.


Semakin berdebar Perasaan Inara mendapati Tama yang berdiri di ambang pintu.


Terlihat sangat gagah dan penuh wibawa, jangan lupa kharisma dari seorang Pratama Wirayudha memang sungguh bukan main-main.


"Terima kasih"


Sorot mata hangat yang di tunjukan pada Inara sungguh mampu membuatnya meleleh.


Terkadang Inara berfikir kenapa dia baru mengutarakan isi hatinya setelah Tama menikah, kenapa tidak dari sejak dulu dia mengungkapkan isi hatinya.


Namun meski begitu Inara selalu optimis , meski Tama menjadi milik Nissa , tidak menutup kemungkinan bagi dirinya juga akan memiliki Tama.


Senyum terbaik pun tak lupa Inara suguhkan untuk Tama yang berjalan mendekatinya.


Namun senyum itu seketika sirna tatkala mendapati sosok yang berdiri tepat di belakang Tama.


'Dia !!!' gumam Inara


Mengenakan Gamis dengan warna senada pakaian yang di kenakan Tama.


Melihat hal itu seketika membuat mood Inara mendadak hancur begitu saja.


"Assalamualaikum Ra" Tama


"Assalamualaikum Mba Inara"


Tidak hanya Tama , Nissa pun juga dengan lembut mengucapkan salam pada sahabat dari suaminya.


"Wa-waalaikumsalam"


Lirih Inara masih dengan tatapan tidak percaya, Sungguh Dewi Fortuna sedang tidak berpihak padanya.


"MashaAllah mba Inara cantik sekali" Puji Nissa dengan suara begitu lembut.


Meski sejujur ya Nissa tidak begitu nyaman dengan cara berpakaian Inara saat ini.


Sudah barang pasti Tama juga dapat melihatnya. Namun bersyukur Nissa karena sejak keduanya masuk kedalam ruangan itu, Tama tidak pernah sekalipun melepaskan pandanganya dari Nissa.


"Sayang kamu duduk di sini ya"


Ucap Tama dengan menarik sebuah kursi yang tepat berada di hadapan Inara.


Memang hanya ada dua kursi saja di meja tersebut karena Inara memang tujuannya hanya mengundang Tama saja.


"Tapi mas, Kursinya cuma 1 ?" ucap Nissa dengan menautkan kedua alisnya.


"Tidak masalah, Mas pakai yang itu saja" Ucap Tama dengan begitu manis.


Jangan lupakan Inara, Interaksi antara kedua manusia di hadapannya itu tentu membuat nya begitu muak, sudah pasti Inara telah mengumpat dalam hati.


***

__ADS_1


__ADS_2