JODOH DARI LANGIT

JODOH DARI LANGIT
BAB 36. Kenyataan


__ADS_3

...Banyak mengingat Allah itu obat hati. Namun banyak mengingat Manusia itu bikin sakit hati ...


...🍁...


Duduk diantara orang yang tidak dia kenal, membuat Nissa sedikit merasa tidak nyaman, Hanya Inara saja yang dia tahu, karena beberapa kali sebelumnya dia sempat bertemu, bahkan sempat bersitegang dengan wanita tersebut.


Namun kali ini berbeda Inara terlihat lebih kacau dengan wajah pucat, juga dengan gips di bagian tangan nya.


Inara menatap wajah Nissa dengan tatapan nanar, ini jelas bukan Inara yang pernah Nissa lihat, sosok percaya diri , tegas dan keras. Dimana Inara yang saat itu Nissa temui.


"Nissa" lirih Inara


"Iya" jawab Nissa dengan mengulas senyum.


Nissa masih belum paham dengan tujuan orang tua Inara menghubunginya, dan memintanya untuk datang ke rumah sakit.


Sebelumnya keduanya juga mengatakan jika sudah mengatakan ini pada Tama, sementara itu Nissa juga tidak dapat menghubungi Tama karena sedang berada di ruang operasi.


Belakangan di ketahui jika Inara seperti ini karena dia merasa kehilangan Tama.


Mendengar hal itu Nissa merasa terkejut, pasalnya Tama tidak pernah berbicara apapun soal Inara, apa lagi mengenai perasaan Inara.


Sejenak Nissa berfikir mungkin kah memang ada cerita yang belum selesai antara suaminya dan sosok di hadapannya ini. Tapi rasanya tidak mungkin karena Tama sendiri pernah mengatakan jika dirinya hanya berteman baik dengan Inara dan bahkan Tama menganggapnya seperti saudara.


"Kenapa jadi begini" gumam Nissa


Tatapan yang sulit diartikan , tatapan penuh permohonan yang dilayangkan Inara padanya sungguh membuat Nissa merasa tidak nyaman.


"Aku rela menjadi yang kedua Nis" Inara


Deg.


"Aku mohon"


Mendengar ungkapan hati Inara , tanpa sadar sudut mata Nissa berembun. Untuk sesaat Nissa hanya dapat terdiam. Entah jawaban apa yang akan dia berikan.


***


Waktu menunjukan pukul 07.30


Entah perasaan apa yang kini Nissa rasakan mengingat diusia Pernikahan yang baru hampir 2 Minggu sudah datang lagi cobaan. Baru juga malam tadi keduanya menikmati indahnya malam pengantin bersama, kini Nissa harus merasa Tama seolah tengah membohonginya.


"Assalamualaikum"


Nissa menoleh kearah sumber suara, dimana disana sang suami baru saja masuk setelah seharian berada di rumah sakit.


"Waalaikumsalam mas"


Seperti biasa Nissa menyambut kedatangan sang suami dengan baik, seperti menyiapkan keperluan Tama dan menyiapkan makan untuk sang suami.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama untuk Tama sadar perubahan dari sang istri.


"Maaf ya sayang tadi aku tidak menghubungimu, ada banyak tindakan emergency"


"Ohya tadi kamu ke rumah sakit?, jam berapa kamu datang ?Kenapa tidak ke ruanganku ?"


Tama terus saja bertanya pada Nissa, namun entah mengapa tidak ada satupun jawaban dari mulut Nissa, terlihat raut wajah Nissa yang sudah mulai pucat pasi.


Mungkin yang di inginkan Nissa hanyalah kejujuran dari Tama, namun jangankan jujur terbuka saja Tama tidak melakukanya. Kecewa yang kini Nissa rasakan sungguh sangat membuat hati dan pikirannya sakit.


Terlebih mengingat siang tadi perbincangannya dengan Inara yang tidak hanya meminta untuk menjadi yang ke dua namun juga menyalahkan Nissa atas semua yang terjadi pada nya.


"Sayang ?" Tama


"Em"


"Kok melamun?"


Nissa hanya mengulas senyum simpul di bibirnya. entah mengapa dia hanya ingin Tama mengatakan sejujurnya, meski sebenarnya Nissa juga sudah mengetahuinya.


"Mas sudah temui Mba Inara?"


Deg.


Sebuah pertanyaan yang seketika membuat nafsu makan Tama menghilang.


"Jangan memberikan jawaban dengan kembali mengajukan pertanyaan mas"


Tama sangat sadar jika saat ini Nissa telah tahu semua yang ingin dia bicarakan sebelumnya.


"Kenapa mas tidak mengatakan pada Nissa ?" kini suara Nissa terdengar parau, menahan sesak di dada.


Meski lirih, Tama dapat jelas mendengar tangisan Nissa, wanita mana yang tidak akan terluka jika mengetahui sang suami bermalam di tempat lain bahkan dengan wanita lain, meski hanya sebatas menjaga nya.


Tama mengakui kesalahannya, menunda apa yang seharusnya dia katakan pada Nissa. Namun saat ini dia juga tengah begitu marah, mengingat begitu lancang Inara memohon ada Nissa untuk datang menemuinya.


Berbohong atas izin yang telah dia berikan, sementara dari tadi Tama tidak memegang ponsel, Tama tahu jika Nissa menghubunginya sewaktu dia perjalanan kembali ke pesantren.


"Apa yang Inara katakan padamu?" geram Tama


"Banyak , Haruskah Nissa juga mengatakan pada Mas ?"


Tama terdiam mendengar jawaban dari Nissa, sikap hangatnya kini berubah jadi dingin sedingin salju.Tama pun sadar hal ini juga karena kurangnya ketegasan dari dirinya.


"Maafkan aku sayang"


Nissa hanya bergeming , sementara Tama tampak memohon dengan penuh sesal.


***

__ADS_1


Dibawah atap rumah sakit Inara dan kedua orang tuanya tengah terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Tidak seharusnya Ra kamu mengatakan hal itu"


"Stop ma, Mama nggak tahu perasaan aku"


"Begitu kah ?"


Kedua orang tua Inara hanya terdiam merasa gagal mendidik Inara , jika pada akhirnya dia juga menjadi wanita penggoda.


Keduanya tampak kecewa dengan keputusan Inara yang meminta Nissa untuk datang dan menyerang mental Nissa.


Beribu nasihat keduanya katakan pada putri semata wayangnya itu, namun lagi-lagi Inara selalu keras kepala, bertindak sesuka hatinya.


Malam semakin larut, Baik Nissa maupun Tama hanya terdiam dengan lamunan masing-masing, Meski telah berada diatas tempat tidur tampaknya tidak merubah suasana hati keduanya.


Melihat Nissa yang terus memunggunginya, membuat hati Tama tercabik.


Tidak ingin semakin larut dalam masalah yang sejujurnya tidak begitu Tama pikirkan, Tama pun mendekati sang istri, memeluknya dari belakang.


"Mas " lirih Nissa


"Apa aku tidak boleh memelukmu ?"


Nissa hanya terdiam, tidak mungkin dirinya menolak, meski hatinya tengah kecewa, namun itu tidak merubah statusnya dengan Tama , keduanya tetaplah suami dan istri.


Segar di ingatan Nissa dimana sang Abi memberikan nasihat sebelum keduanya sah menjadi suami istri, hal itu cukup menjadi peringatan bagi Nissa dalam berumah tangga.


"Aku salah, maafkan aku"


Tama semakin erat memeluk Nissa , berusaha mencairkan suasana hati Nissa, meski sepertinya tidak lah mudah, namun Tama juga tidak pantang menyerah.


"Aku hanya wanita biasa mas, Tidak akan Sanggup apabila harus berbagi hati"


"Tidak mungkin ada satu kepala dengan dua otak"


Lirih Nissa yang meringkuk dalam pelukan Tama. Dari sini Tama paham apa yang di khawatir sang istri.


"Aku juga tidak pernah berniat merindukanmu sayang"


Tama membalik tubuh Nissa , Merengkuhnya kembali dalam pelukan, dan meminta Nissa menatap nya.


"Apa itu yang kamu khawatirkan dari tadi , Sampai kau mendiamkan ku ?" ucap Tama


Nissa pun menganggukkan kepala, setiap wanita mungkin akan kuat dengan badai apapun dalam rumah tangganya, namun tidak dengan wanita ketiga. Begitu juga dengan Nissa yang juga hanya manusia biasa.


Tanpa mendengar jawaban dari Nissa pun Tama jelas tahu jika Nissa tertekan dengan permintaan Inara, ucapan tidak masuk akal yang juga di katakan padanya.


***

__ADS_1


__ADS_2