JODOH DARI LANGIT

JODOH DARI LANGIT
BAB 40. Kegiatan Pagi


__ADS_3

...Janganlah Nafsu mu lebih besar dari Akalmu, Karena jika begitu makan Kehancuran tepat di depan mata mu ...


...🍁...


Malam semakin gelap, cahaya bintang bertaburan di angkasa, menambah suasana bahagia dua insan yang yang tengah dimabuk cinta.


Lenguhan halus terdengar beberapa kali menyusup ke celah dinding , Tamara lampu membuat keduanya semakin bersemangat untuk saling mencurahkan rasa hati.


Tidak hanya satu atau dua kali, mungkin saja berkali-kali. Bahkan keduanya tidak saling menyadari.


Setelah kegiatan panas yang menguras banyak tenaga membuat Tama dan Nissa kelelahan. Keduanya tertidur begitu saja.


Dengkuran halus terdengar dari bibir manis Nissa, Jelas Tama dengan jelas mendengarnya meski hanya dengan sisa-sisa tenaga yang tersisa.


Hingga pagi menjelang, terasa sakit seluruh badan Nissa, melihat kearah jam digital, waktu menunjukan pukul 04.35 Sudah pagi ternyata.


Nissa bergegas untuk bangkit, namun dia merasa seluruh tubuhnya sangat sakit, ditambah inti nya terasa begitu perih.


Baru saja dia akan beranjak dari tempat tidur Nissa merasa kepalanya sangat sakit, hingga dia hampir saja terjerembab jatuh, beruntung Tama segera menyadari pergerakan Tama hingga secepat kilat Tama dapat meraihnya.


"Sayang kau tidak papa ?"


"Aku sedikit pusing mas"


Ucap Nissa dengan memijat bagian pelipisnya yang terasa berdenyut.


"Mas Nissa mau ke kamar mandi, sebentar lagi subuh"


Meski begitu lelah namun kewajiban tetap tidak dapat Nissa tinggalkan.


Dengan dibantu Tama , Nissa berjalan pelan menuju kamar mandi.


Pukul 05.15 keduanya baru saja keluar dari kamar mandi.


Hampir 1 jam lamanya mereka berada di sana, tentu hal itu karena Tama yang memang tidak membiarkan Nissa begitu saja.


Olahraga pagi pun mereka lakukan bersama , meski Nissa menolak dengan sekuat tenaga namun Tama selalu berhasil membujuknya.


Keduanya tampak lebih segar setelah membersihkan diri.


Nissa yang masih menunggu Tama mengambil wudhu, memilih untuk bergegas menghamparkan sajadah berukuran kecil yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi tidak lupa juga dengan mukena kesayangannya.


"Sudah siap sayang ?" Tama . Nissa menjawab dengan anggukan kepala.


Keduanya melaksanakan ibadah sholat subuh bersama dengan Tama sebagai imam, dan Nissa sebagai makmum nya.


Hingga fajar menjelang keduanya masih setia duduk diatas karpet lembut kamar hotel.

__ADS_1


Tidak lupa setelah selesai sholat Nissa mencium punggung Tama dengan takzim, begitu juga Tama yang juga mencium puncak kepala Nissa penuh sayang.


"Mas "


"Em"


Nissa bersandar di dada Tama, masih dengan posisi sehabis sholat, keduanya tampak menikmati suasana pagi yang terlihat cerah melalui sorot jendela kaca.


"Semalam Nissa kenapa ya ?"


Agaknya Nissa mulai kembali menyatukan kepingan ingatan yang seketika menghilang setelah kegiatan semalam.


"Memangnya apa yang kamu rasain ?"


Nissa tampak berfikir dan merenungi apa yang semalam dia rasakan, hingga berakhir keduanya harus menginap di tempat ini.


Sedikit demi sedikit Nissa mulai mengingatnya, dan setelah seluruh ingatannya kembali sempurna , Nissa merasa begitu malu, hingga rona merah di wajahnya tidak lagi dapat dia tutupi.


"Kenapa sayang"


Menyadari istrinya merasa malu, Tama segera meraih dan membingkai wajah Nissa, Tidak salah , saat ini Nissa memang terlihat begitu merona.


"Mas Nissa malu" lirih Nissa dengan menundukkan wajah.


"Kenapa harus malu sayang , kan sama Mas"


Meski Tama berusaha meyakinkan Nissa, namun tetap saja Nissa merasa semalam begitu memalukan, ucapan dan perbuatan yang tidak seharusnya dia lakukan keluar begitu saja dari mulut Nissa.


Nissa tidak perduli apakah Tama sudah lelah atau belum, yang jelas setiap kali Nissa meminta, maka Tama akan melakukanya.


Dan itu jelas sangat memalukan bagi Nissa.


"Sayang Hey. Percayalah aku menikmatinya" lirih Tama tepat di telinga Nissa.


Mendengar ucapan Tama sungguh semakin membuat wajah Nissa memerah karena nya.


Tidak hanya menikmati, nyatanya Tama juga begitu menyukai sikap agresif dari sang istri.


"Mas tapi nissa malu" keluh Nissa dengan menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan.


Perlahan Tama mengurai tangan sang istri yang menutupi wajahnya "Sayang, bukankah menyenangkan suami adalah ibadah?, Dan semalam Mas merasa sangat senang dengan pelayanan mu"


Tama mencoba memberikan penjelasan yang masuk akal, berusaha membuat Nissa tidak malu lagi dengan tindakannya semalam.


Disela-sela obrolan keduanya, terdengar bunyi bel .


"Udah yuk Kita sarapan dulu, tadi aku sudah pesan" titah Tama.

__ADS_1


Nissa pun menganggukkan kepala, dengan segera bangkit dari duduknya, bergegas berjalan menuju pintu, masih dengan mukena yang dia kenakan sebelumnya.


Benar saja, seorang petugas hotel datang dengan membawa troli berisi makanan dan minuman, serta buah-buahan yang sangat menggoda selera makan Nissa.


Setelah mengucapkan terima kasih , Nissa segera menutup kembali pintu kamar. Terlihat wajah cerah dari sang istri.


"Kita makan sekarnag ?" Tama


"Iya mas, Nissa sudah laper banget "


Sudah jelas saat ini Nissa begitu kelaparan, mengingat aksinya semalam, sempat membuat Tama menggelengkan kepala, meski dia juga menikmatinya.


Tidak hanya tenaga, namun juga tentu energi terkuras habis untuk pergumulan itu.


"Kau suka ?" Tama. Nissa menjawab dengan anggukan kepala.


Tama pun terkekeh melihat tingkah sang istri yang justru sangat menggemaskan menurutnya.


"Makanlah yang banyak sayang, Karena setelah ini kita harus olah raga " Goda Tama


Meski terdengar nada godaan dari sang suami namun Nissa tampaknya tidak begitu perduli.


"Nissa kan nggak bawa baju olah raga mas"


Lagi-lagi Tama terkekeh mendengar jawaban instan dari sang istri.


"Memang olah raga apa ?" Tama


"Lari mungkin" jawab Nissa Asal.


Tama hanya mengulas senyum simpul.


"Disana sayang olah raga nya" Ucap Tama dengan menunjuk tempat tidur yang masih terlihat berantakan karena sisa-sisa kegiatan semalam.


Kedua bola mata Nissa seakan mau lepas dari tempatnya, mengingat apa yang akan Tama lakukan padanya.


"Tapi kan --"


"Eitss... Tidak ada penolakan sayang"


Meski dengan muka manyun, namun Nissa tetap mengiyakan keinginan Tama untuk yang kesekian kalinya.


Jelas dia kan selalu kalah debat dengan Tama, karena Tama akan selalu memiliki sejuta cara untuk mengelabuhi mangsanya.


Kembali keduanya makan dengan lahap, tidak lupa Tama menyiapkan segelas susu hangat untuk Nissa.


Di sela-sela sarapan, keduanya tampak saling berbincang, bahkan terdengar sesekali canda tawa diantara keduanya.

__ADS_1


Beberapa saat berlalu, Nissa dan Tama telah selesai dengan piring masing-masing. Keduanya menyimpan kembali sendok dan garpu diatas piring yang sebelumnya keduanya kenakan.


***


__ADS_2