Jodoh Itu Seperti Alif Lam Mim

Jodoh Itu Seperti Alif Lam Mim
bab 11


__ADS_3

Malam hari ana terjaga sepanjang malm, air mata yg sedari siang di tahan mati matian agar tidak tumpah, kini mengalir dengan bgtu derasnya,.


Ana tak dapat lagi menahan kesedihanya, dia menangis sejadi jadinya di atas sajadah usai menunaikan solat mlm.


dia sadar bahwa jika Alloh telah menghendaki apapun bisa terjadi.


tapi ana tetap lah manusia biasa dia tetap merasakan kesedihan.


Baru saja kemarin malam ana berbagi kebahagiaanya dengan sang ibu, kini sirna sudah , dan meninggalkan luka.


_________


Hari pernikahan azam pun tiba, pernikahanya di laksanakan di pesantren atas permintaan pihak wanita yg tidak dapat di tolak oleh orang tua azam.


semuanya merasa bahagia, kecuali ana dan azam.


ana berusaha setegar mungkin, ana keluar dengan mata yg sembab akibat menangis semlaman.


" ana..." panggil sofi seraya memeluk sahabatnya itu.


" yg kuat ya na... Alloh pasti memberikan ganti yg lebih baik,,," imbuhnya.


Ana tersenyum walau dengan sangat terpaksa.


"kasihan sekali kamu na,, pasti kamu sedih sekali..semoga Alloh memberi yg terbaik untukmu na.." batin sofi.


" iya sof,, gue gk papa kok ,, gue ihlas,,mungkin ini yg terbaik untuk gue.." kata ana melepaskan pelukan sofi.


walau ana berkata demikian, namun batinya berkata lain.


"YaAlloh...kuatkanlah hamba..." batin ana.


" udah yuk,,, acaranya udah mau mulai tuh,," ucap ana.


" kamu yaqin na ... mau ikut lihat proses ijab qobulnya.." sofi meragukan ana.

__ADS_1


" iya sof ... insyaAlloh gue bisa kok,," ana menguatkan dirinya.


"aku akan selalu ada untukmu na." kata sofi ikut menguatkan ana.


"Bagai mana saksi saah...." ucap penghulu.


""saaaaaaah..." jawab mereka serempak.


deg.....


"" ana menahan gemuruh di dadanya, terasa sangat menyakitkan, namun dia harus tetap kuat.


Ana dan teman2 naik ke atas panggung untuk melantunkan solawat..


diawali dengan lagu doa untuk pengantin.


"barokallohulakuma wabaroka 'alaikuma wa jama'a baina kuma fii khoir....


"


" ya habibal qolbi,,, ya khoirol baroya.. yali ji'ta bil haqi rosulal hidayah..."


Azam tertegun mendengarnya, dia tau ana berusaha untuk tegar, dia merasa sangat bersalah telah menyakitinya, namun semua bukanlah keinginan azam.


Di sisi lain rehan turut hadir di pernikahan azam..


dan duduk sembari terus memandang ana di atas panggung .


Rehan merasa sangat bahagia bisa bertemu ana lagi. semangatnya kembali menggebu gebu.


tingkah rehan tak luput dari pandangan edwin yg ikut bahagia melihat perubahan rehan.


Bahkan kata dokter kondisi jantung rehan semakin membaik, tentu saja keluarga rehan sangat bahagia.


Ana melihat azam bersanding dengan wanita lain yg terlihat bgitu bahagia pandangan azam dan ana bertemu saling bertatapan sementara, kemudian ana membuang pandanganya ke arah lain.

__ADS_1


benteng yg sedari tadi di bangun tampak nya tak kuat lagi di pertahankan, ana segera izin ke toilet, dia berlari sangat cepat.


Hal ini membuat rehan heran. dia mengikuti ana dari belakang dan benar saja di kamar mandi terdengar suara sesenggukan.


Rehan setia menunggu ana sampai keluar,


"kenapa dengan gadis ini.." batin rehan.


Ketika ana keluar dari kamar mandi dia terkejut melihat rehan berdiri di depan pintu.


" mas re rehan.." ucap ana terbata karna kaget.


" hmmm...kamu ngapain di dalam..." tanya rehan.


" kenapa... apa urusanmu.." ana pergi meninggalkan rehan.


Namun rehan tetap mengikutinya.


"mas rehan ngapain ngikutin saya..." tanya ana.


" mau nagih..." jawab rehan.


Ana memicingkan alisnya.


" nagiihhh...???"...


" kamu lupa,, kamu hutang bersihin jas saya.." ucap rehan.


" astaghfirulloh...oh iya mas, maaf saya lupa,,


mau saya ambilkan sekarang mas jas nya, udah aku cuci kok." kata ana.


" trus saya di suruh bawa bawa jas di pesta..nanti saja kalau pestanya udah selesai."


ujar rehan, sembari meninggalkan ana di lorong kamar mandi.

__ADS_1


LIKE..LIKE...


__ADS_2