
Memang benar Alloh itu memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yg kita inginkan.
walau sekeras apapun kita berusaha tak akan terwujud apabila sang pencipta belum menghendaki.
" na...gue udah lama nih gak berantem ama lo... gimana kalau kita duel.." tantang nuri.
" oke ,,,siapa takut..!! " . ana menyambut tantangan nuri.
Nuri berdiri dan memasang kuda kuda.
" hei...kalian apa apaan sih udah dewasa masih jga kayak bocah.." kata ahmad kakak nuri.
"hehehe." nuri nyengir.
" huu dasar ya emang kalau pengantin baru, duduk aja gak mau jauh , nempeel trus kayak perangko.." goda nuri.
" biarin syirik aja,, kamu tau gak kenapa zombi slalu bergerombol.." ucap ana.
" ya elah.... ya iyalah zombi tuh biar serem tapi dia penakut jadi slalu bareng2,...." ujar nuri sambil melahap makanan di hadapanya.
" ah, bilang aja gk tau.." ana melempar nuri dengan botol plastik.
"la trus kenapa...,"...nuri menghentikan makannya.
" yah tentu bergerombol,, kalo sendiri sendiri namanya zomblo kayak kamu" hahaha...."
mereka semua tertawa tak terkecuali rehan ia tertawa lepas, tentu momen seperti ini sangat langka.
bunda merasa sangat bahagia melihat rehan tertawa, dan semuanya berkat .
" markonah.. markonah zomblo di pelihara." ejek ana.
" hey. . .jaga bicaramu marpuah.." nuri mengejar ana .
" tolong...tolong..." ana bersembunyi di balik badan ahmad.
" tolongin ana bang amed..." pinta ana manja.
__ADS_1
karna sedari dulu ahmad atau amed, sangat memanjakan ana di banding adiknya nuri.
" sini marpuah..." nuri trus mengejar ana .
" udah,,, udah..." kata amed.
" huuh,,, biasa pahlawan kesiangan selalu datang." cetus nuri.
" biarin ,,wleek.." ana menjulurkan lidahnya dan bergelayut manja di lengan amed.
Tampaknya pemandangan ini kurang mengenakan bagi rehan..
ia terbakar api cemburu, bagai mana bisa istrinya bermanja manja pada orang lain.
hampir 1 bulan lamanya mereka menikah namun tak pernah sedikitpun ana bermanja dengan rehan, ana slalu terlihat tenang dan dewasa saat di dekat rehan.
rehan mendengus kesal, namun ana belum menyadarinya.
" bang ana udah kangen lo pingin di traktir baksonya mang udin.." ucap ana manja dan masih bergelayut di tangan amed, bahkan ia sesekali memeluknya.
Rehan makin terbakar api cemburu.
" aduuh..." pekik rehan seraya memegang dadanya.
dengan mata yg satu terpejam sedang yg satu lagi melirik ke arah ana.
Sepertinya rehan hanya berpura pura untuk mengalihkan perhatian ana.
benar saja ana lsngsung panik dan menghampiri rehan, begitupun bunda dan yg lain.
edwin yg paham akan hal itu tidak terlihat panik sama sekali, ia bahkan tertawa geli melihat tingkah rehan.
" mas,,,, kamu kenapa.." ana panik.
" sepertinya dada saya sesak karna belum minum obat." ujar rehan.
" nak sebaiknya kamu antar suamimu ke kamar untuk minum obat dan istirahat."perintah bunda.
__ADS_1
" apa berlu saya yang memapah anda tuan,,?.
goda edwin.
Rehan langsung melebarkan matanya dan menatap edwin tajam.
edwin terkekeh, ia berhasil menggoda rehan.
" tidak perlu,, biar saya saja," ucap ana.
Ana memapah rehan ke kamar.
ana langsung mbaringkan rehan dan memberi obat pada rehan agar di minum.
"bagai mana mas ,, apa masih sakit??" tanya ana.
"udah lumayan berkurang ,mmm,,,
mugkin di kompres pakai air hangat akan hilang." ucap rehan.
Ana segera mengambil air hangat untuk mengompres .
"maaf mas...kamu harus buka baju dulu.," ucap ana malu.
rehan membuka bajunya, ana terkesimak melihat perut milik rehan yg ternyata sangat bagus putih dan berotot .
ia segera sadar dari lamunanya dan segara mengompres rehan dengan pelan.
belum slesai ana mengompres, tanganya di cekal rehan.
ana kaget , .dan menarik tanganya namun genggaman rehan begitu kuat.
" apa kamu tidak menyadari , aku cemburu melihat kamu bermanjaan dengan sepupu kamu itu..ucap rehan.
" dari dulu aku memang slalu manja sama bang amed mas...dia abang ku" ana memberi pengertian.
" aku tidak peduli...aku sangat cemburu, sekalipun dia saudaramu,, aku ingin kamu bersikap seperti tadi ,tidak dewasa dan kaku seperti ini. padaku..",
__ADS_1