
Prolog
Seperti yang kubayangkan selama ini, diusiaku yang ke dua puluh tiga telah tersemat cincin emas yang simpel tapi cantik dijari manis ku. Tapi bukan pria ini yang selama ini aku bayangkan menyematkan cincin dan mencium kening ku di hari pernikahan.
Sosok yang ku harapkan menghilang tanpa jejak. Bak ditelan bumi atau tersapu angin. Dua bulan sudah dia pergi. Meninggalkan ku dan calon bayinya.
Chapter 1
Kejutan Gagal****.
__ADS_1
Aku mematut diriku dicermin, ku rasa riasan dan pakaianku sudah pas. Ku putuskan mengenakan baju yang simpel dan nyaman mengingat cuaca saat ini masih panas seperti hari-hari sebelumnya. Bayangan perempuan yang bisa dibilang cukup cantik dengan dua mata bulat menyipit diujung dan tanpa lipatan mata, bibir mungil namun penuh dan merah meski tanpa polesan lipstik itu menatap balik ke arah ku. Tania Wibisono itulah aku, seorang perawat di bangsal anak di salah satu rumah sakit besar di kota ini. Ku rapikan sekali lagi rambut bergelom-bang selenganku, seperinya akan lebih sejuk dan praktis kalau aku mengikat-nya. Ya banyak orang bilang penampi-lan fisik ku cukup menarik. Meski tidak terlalu tinggi dan sedikit berisi namun masih bisa dikatakan ideal. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi itu artinya aku harus segera berangkat jika tidak mau mas Damar marah karena lama menunggu.
Terdengar suara motor berhenti di halaman rumah kos, mungkin si mas-mas ojol sudah tiba. Segera ku bergegas keluar dan tidak lupa mengunci pintu kamar ku.
Ada Risa di depan sedang menyiram bunga-bunga milik ibu kos. Dia adalah salah satu dari sebelas orang yang kos di kos putri ini, termasuk aku. "Arep nandi Tan?"(mau kemana Tan?), tanya Risa padaku.
"Biasa mau ketemu Mas Damar, wes seminggu gak ketemuan, kangen lah.", jawabku sambil nyengir. "Duluan Ris, ntar lek ketemu Lani omongno aku langsung sift sore dari ketemuan sama Mas Damar.", sambungku kemudian. Kulihat Risa mengangkat jempolnya tanda mengiyakan.
Kuhampiri ojek online yang tadi ku pesan. Setelah berbasa-basi sebentar kami langsung berangkat ke tempat tujuanku janjian dengan Mas Damar. Kalau kalian mau tau Mas Damar itu adalah pacarku selama lima tahun. Kami pacaran sejak aq kelas tiga SMA, dia angkatan empat tahun diatasku. Kok bisa pacaran? Gimana ketemunya? Kan waktu aku masuk SMA dia pastinya sudah lulus dong? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering sekali muncul dari teman-teman yg belum lama kenal dengan ku.
__ADS_1
Kami bertemu waktu sekolah mengadakan reuni akbar, sebagai anggota osis aku diwajibkan membantu segala urusan dan keperluan acara, nah waktu itulah aku ketemu Mas Damar. Mas Damar Hartadi adalah orang yang perfectsionis, tinggi, dengan kulit putih bersih, badan tegap dengan rambut cepak. Pembawaannya selalu kalem namun berwibawa. Tidak heran karena dia salah satu ahli waris dari keluarga besar Hartadi, pemilik perusahaan furnitur yg cukup besar dan terkenal di Indonesia. Aku selalu merasa terlindung setiap jalan bersama dia. Satu yang tak ku sukai darinya, terlalu on time. Dia akan marah meski aku cuma telat lima menit dari waktu temu. Singkat cerita setelah acara itu kami sering berhubungan mulai dari chat, telepon, sampai ketemuan, karena sudah merasa cocok kami memutuskan untuk pacaran setelah enam bulan saling kenal. Dan aku bersyukur hubungan itu terus berlanjut sampai sekarang.
"Mba' wes nyampek, mbak'e kok ra mudun-mudun opo arep melu aku toh mbak?"(mbak sudah sampai, mbaknya kok gak turun-turun apa mau ikut aku ya mbak?), kata mas ojol sambil nyengir. Duh malunya karena melamun tentang Mas Damar jadi tidak terasa sudah sampai saja padahal perjalanan barusan sekitar satu jam dari kosan. "Mas ojol iso ae, mengko pacarku ngamok Mas lek aku melu sampean."(mas ojol bisa saja, nanti pacarku ngamuk Mas kalau aku ikut kamu), jawabku sambil ketawa. Setelah menyerahkan ongkos aku segera berlalu menuju sebrang jalan.
Entah kenapa mulai jaman kuliah dulu aku gak pernah bosan berada di taman ini, kami menebut tempat ini Alun-Alun Tugu, yah walaupun sekerang cukup panas disini karena tidak ada pohon rindang untuk berteduh seperti di Alun-Alun Merdeka. Sudah jam setengah dua belas aku sampai tiga puluh menit lebih cepat, gak apa-apa lah daripada Mas Damar yang manyun karena menunggu ku. Sambil menunggu Mas Damar aku duduk dan mengingat tujuanku mengajak Mas Damar untuk ketemuan. Selain karena aku kangen banget seminggu cuma chat, telepon dan video call. Mas Damar sibuk sekali setelah dapat promosi jadi manager di tempat kerjanya. Ada yang ingin kutunjukan padanya. Sebuh kejutan. Tentang benda pipih panjang dengan 2 garis merah yang kusimpan rapih dalam tas. Aku tidak sabar melihat reaksi senang Mas Damar saat melihat benda itu. Rencananya membuat aku hamil berhasil. Aku yakin Mas Damar akan langsung menyeretku pulang kerumah orang tuaku untuk meminta restu mereka. Kalau sudah begini aku yakin mereka tidak akan melarang hubungan kami lagi. Senyum mengembang dibibirku tatkala terbayang Mas Damar menjadi suamiku.
Kulirik jam tanganku ternyata sudah pukul setengah satu, sudah lewat tiga puluh menit dari waktu janji temu kami. Tidak seperti Mas Damar yang selalu tepat waktu, dia tipe orang yang on time dan akan marah pada siapa saja orang yang telat kalau janji ketemuan dengannya. Ku putuskan untuk menghubunginya. Tuuut...tuuut...tuuut... "Telepon yang anda tuju tidak menjawab, silahkan hubungi beberapa saat lagi." Suara merdu yang tak asing dari operator. Sudah kelima kali aku mencoba tapi tetap tidak diangkat. Biar ku tunggu beberapa menit lagi. Kulihat sekeliling jalanan sangat ramai karena ada rekayasa jalur, jalan tepat di depan balai kota ditutup karena akan ada acara. Dari dulu aku selalu ingin masuk ke dalam gedung balai kota Malang ini. Terlihat jelas gedung tua tinggi megah sisa-sisa keberadaan bangsa lain di negeri ini.
"Panas banget Mas Damar mana sih!",, mukaku sudah seratus persen tertekuk. Sudah tidak kuat lagi kepalaku serasa berputar dan cacing2 diperutku sudah berteriak. Positif. Aku lapar. Hahaha.. Aku tersenyum sambil mengelus perut rataku. "Kita cari makan dulu yok dek, biar nanti ayah nyusul.", kataku pada sebuah titik yang ada dalam perutku. Sebelum beranjak kusempatkan mengetik sebuah pesan untuk Mas Damar kalau aku mau mencari makan siang lebih dulu dan tidak jauh dari Alun-Alun Tugu.
__ADS_1
Setelah hampir satu jam berada di sebuah rumah makan perut sudah kenyang, pusing sudah reda dan masih belom ada kabar dari Mas Damar. Sudah mepet jam pergantian sift di rumah sakit tempat ku bekerja. Dengan mood yang hancur dan rasa kesal yang memuncak ku putuskan untuk langsung menuju ke rumah sakit.