Jodoh yang KAU kirim

Jodoh yang KAU kirim
Chapter 5 Pertanda


__ADS_3

Saat ku buka mata ternyata perjalanan hanya tinggal 30 menit untuk sampai di pantai yang ku tuju. Kuregangkan tubuhku mulai dari ke-dua tangan, leher dan pinggang. Untuk perta-ma kalinya sejak menghilangnya Mas Damar aku tidur dengan pulas dan tanpa mimpi bu-ruk. Hampir dua jam aku tidur dan membiar-kan Mas Yayan menyetir tanpa teman mengo-brol.


"Iki ngombe sek."(ini minum dulu), ujar Mas Yayan sambil menyodorkan sebotol air mine-ral. Ku terima botol tersebut sambil menoleh ke jok belakang. Ternyata Mas Yayan sempat mampir ke salah satu mini market yang su-dah tersebar diseluruh Indonesia.


"Mampir nang Indo***** kok gak gugah-gugah toh, aku kan yo arep tumbas camilan."(mam-pir ke Indo***** kok tidak membangunkan, aku juga mau beli camilan), kataku dengan sedikit cemberut.


"Wes tak tukokno camilan senengan mu, la-gian awak'e turu koyok wong semaput orah obah ora othek wes koyok ora ambeg'an."(su-dah saya belikan camilan kesukaan kamu, dan lagi kamu tidur seperti orang pingsan ti-dak bergerak sedikitpun sudah seperti tidak bernapas), jawabnya dengan muka datar.


"Mas, kabare ibuk lan ayah sae kan?", suara-ku berupa bisikan. Aku ragu Mas Yayan men- dengarnya.


"Lek pingin weroh kok gak moleh toh?, toh ganok setengah jam tekan nggonmu kos." (Kalau mau tahu kenapa tidak pulang?, toh tidak ada setengah jam dari tempat kamu kos), jawabnya dengan nada mengingatkan.


Hening. Sampai akhirnya kita sampai di loket pintu masuk pantai Balekambang. Tidak sam-pai sepuluh menit jarak dari loket hingga di pantai. Setelah mendapat tempat parkir yang pas aku segera turun dari mobil. Suasana sa-ngat tenang. Hanya ada beberapa mobil dan sepeda motor. Begitu juga orang yang berjua-lan. Maklum, hari ini adalah hari kerja dan be-lum tengah hari. Tapi suasana ini yang cocok untukku sekarang. Sepi dan tenang.

__ADS_1


Mulai ku langkahkan kakiku di hamparan pa-sir putih yang membentang sepanjag pantai. Pasirnya terasa hangat. Mas Yayan berjalan di sampingku dalam diam. Tak begitu lama lang-kah kami tiba di sungai kecil. Sungai ini bera-da tepat dibawah jembatan yang menghu-bungkan daratan utama dengan pulau kecil. Pulau tersebut adalah pulau penghubung ke pulau kecil lain yang memiliki pure di atasnya.


Air sungainya terasa dingin di kakiku. Ku ulur-kan tanganku untuk merasakan dinginnya air. Hanya untuk meyakinkan diri ini bahwa ini bu-kan sekedar mimpi. Bahwa aku benar disini sendiri, tanpa Mas Damar. Bahwa Mas Damar pergi tanpa kabar, menghilang. "Hiks...", sebu-ah isakan lolos dari bibirku. Aku tak sadar se-jak dari kapan aku mulai menangis. Yang aku tahu kedua pipiku sudah sangat basah oleh air mata.


"Kowe arep crito nang mas?"(kamu mau ceri-ta ke mas?), tanya Mas Yayan sambil mengu-sap lembut kepalaku. Ku gelengkan kepalaku lemah. Aku belum ingin bercerita.


Sambil menghapus air mataku Mas Yayan berkata, "Yowes, mengko lek wes arep cerito mas siap ngrungokno."


Dari aku kecil Mas Yayan adalah penjagaku saat aku diganggu anak-anak kompleks. Pe-ngasuhku saat ibu sedang sibuk dengan florist miliknya atau saat ayah sedang dinas keluar kota. Pendengarku saat aku berkeluh kesah tentang masalahku dengan teman-teman di sekolah, atau saat aku berselisih de-ngan ayah dan ibu. Tutorku saat tugas-tugas menumpuk dan banyak yang tidak ku me-ngerti. Dia adalah paket lengkap yang ku bu-tuhkan. Tapi itu dulu, sebelum aku kenal Mas Damar. Hubungan kami sedikit demi sedikit menjauh seiring bertambahnya umur kami. Dulu aku kira seiring bertambahnya dewasa kami harus memiliki privasi. Tapi sekarang aku pikir itu karena kami sama-sama egois dengan urusan masing-masing. Dan hanya mencari alasan untuk membenarkan tindakan kami.


Dia menggiringku ke salah satu kios untuk membdli satu botol air mineral. Karena kami meninggalkan kantong berisi air mineral dan camilan di mobil. Disodorkannya air itu pada-ku. "Hem..diombe!", perintahnya. Ku ambil bo-tol itu dan ku minum sampai tinggal separuh. Hmm ternyata aku cukup haus.


"Munggah yok Mas?", ajakku naik ke jembatan untuk menyebrang ke pulau kecil. Tanpa men-jawab dengan masih menngandeng tanganku dia melangkah menaiki tanngga jembatan.

__ADS_1


"Mas mau kok moro-moro nang kosan?, pas bareng aku arep metu. Biasaekan telpon disek lek arep mampir."(mas tadi kok tiba-tiba ke tempat kos?, juga waktunya pas aku mau keluar. Biasanya kan telepon dulu kalau mau mampir.), tanyaku memulai obrolan.


"Aku mau mampir nang rumah sakit tak kiro kowe kerjo, soale jadwalmu sift isuk kan. Tapi aku ketemu Lani, jarene kowe loro. Mangkane aku nang kosan."(aku tadi mampir ke rumah sakit aku kira kamu kerja, soalnya ini jadwal-nya kamu sift pagi. Tapi aku ketemu Lani, katanya kamu sakit. Makanys aku ke tempat kamu kos). "Kowe loro opo?, koyok'e sehat-sehat ae selain moro-moro nglamun, moro-moro nangis koyok'e ganok seng loro."(kamu sakit apa?, sepertinya sehat-sehat saja selain kamu tiba-tiba melamun, tiba-tiba menangis tidak terlihat ada yang sakit), jawabnya pan-jang lebar.


Sebelum aku sempat menimpali pertanyaan-nya. Aroma kemenyan yang kuat tercium oleh hidungku. Aroma itu berasal dari pure kecil yang berada tepat sebelum jembatan ke dua. Perasaan yang tak asing akhir- akhir ini mulai terasa. Kepalaku mulai pusing, perutku bergejolak, mual tak terkira. Tanpa pikir panjang aku berlari ke arah semak-semak dan memuntah semua isi perutku. gelombang demi gelombang terus datang dari dalam psrutku. Pandanganku sangat ka-bur dengan beribu-ribu kunang-kunang. Kura-sakan sebuah tangan besar memijat lembut tengkukku. Dan satu tangan lagi memegangi rambutku. Setelah kurasa sudah tidak ada lagi yang bisa kumuntahkan aku menegakkan ba-danku. Mas Yayan melepaskan rambutku dan berhenti memijat tengkukku. Sambil menyeka sisa-sisa muntahan di mulutku dengan tisu dari saku celana jeansku, aku menoleh ke a-rah Mas Yayan.


Pandangan kami bertemu. Sulit untuk mene-bak apa yang dia pikirkan. Dia hanya menatap lurus ke arahku. Diam untuk waktu yang se-perti seabad bagiku. Ku mohon katakan sesu-atu. Apa dia bisa tahu aku hamil hanya karena aku muntah sekali dihadapannya?, jelas tidak mungkin. Tidak. Ku harap dia tidak tahu. Be-lum saatnya dia tahu. Bahkan ayah dari bayi ini saja belum tahu keberadaannya.


Setelah beberapa saat Mas Yayan membuka mulutnya. "Wes enak'an?, wes gak mual?"(su-dah baikan?, sudah tidak mual?), tanyanya datar. Aku hanya mengangguk. Reaksi Mas Yayan membuatku khawatir. Aku yang perta-ma memutus kontak mata diantara kami. Saat aku mulai melangkah berniat untuk melanjut-kan perjalanan kami, Mas Yayan menahan le-nganku. " Kowe yakin ganok seng kate mbok omongno ang aku?"(kamu yakin tidak ada yang ingin kamu katakan padaku?), ujarnya datar namun dingin.


Aku tercekat. Mulutku terbuka hanya untuk tertutup lagi. Ku telan ludahku berkali-kali. Serasa kering dan sesak tenggoraok'an ini.


"Kok meneng wae?"(kok diam saja?), suara mas Yayan terdengar semakin dingin.

__ADS_1


Udara terasa sangat panas seakan mening-galkan paru-paruku. Sesak. Kepalaku seperti berputar. Jantungku berdebar sangat ken-cang. Apa yang harus ku katakan. Apa Mas Yayan benar-benar merasa bahwa aku hamil?


Mohon like dan komennya ya, dan silahkan beri kritik dan saran tentunya dengan sopan ya. Terima kasih.😊****


__ADS_2