Jodoh yang KAU kirim

Jodoh yang KAU kirim
Chapter 10 Awal dari semuanya.


__ADS_3

"Wes lah Dul, ganok seng kudu diomongno maneh, Tania tetep bakal nikah karo Zaky." (Sudahlah Dul, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Tania tetap akan menikah dengan Zaky), tak ada bantahan. Bagaimana pun aku menolak, aku yakin pernikahan ini akan tetap berlangsung. Ultimatum kesekian kalinya yang ayah berikan padaku.


Tapi kali ini aku ingin melawan, berjuang untuk cintaku kepada Mas Damar.


"Gak yah, Tania gak iso. Tania bakal teros ngenteni Mas Damar."(tidak yah, Tania tidak bisa. Tania akan terus menunggu Mas Damar), kataku bersungut-sungut.


"Tenang nduk, kamu bicarakan sama ayahmu dulu. Pikir-pikir dulu. Zaky bakal ngenteni keputusanmu kok. Tante, om, karo Zaky pamit dulu."(Zaky akan menunggu keputusanmu kok), kata tante Halimah sambil mengelus punggungku.


Aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Aku akan mengambil keputusan ini meski berakibat fatal nantinya. Mungkin ini satu-satunya jalan agar mereka tidak memaksa aku lagi untuk menikah dengan Mas Zaky.


"Maaf tante, om, dan Mas Zaky, aku gak bisa nikah sama Mas Zaky. Saat ini saya hamil anak Mas Damar.", kataku tegas. Tapi yang ku tahu selanjutnya adalah sebuah tamparan keras dan menyakitkan menyapu pipiku. Membuatku sangat terkejut adalah tamparan itu berasal dari ibuk yang sedari tadi memelukku.


"Kowe gak iso gawe luweh wirang ayah lan ibukmu maneh. Wes perilaku gak sopan nang wong tuamu neng ngarepe tamu, saiki kowe malah gawe geger karo ngaku-ngaku meteng. Gak ngene carane marekno perkoro TAN!!" (kamu tidak bisa membuat lebih malu ayah dan ibukmu lagi. Sudah berperilaku tidak sopan pada orang tuamu di depan tamu, sekarang malah membuat keributan mengaku-ngaku hamil. Tidak begini cara menyelesaikan masalah Tan.), ibuk mengawali kalimatnya dengan nada yang sangat dingin tapi mengakhirinya dengan teriakan namaku.


"Aku gak ngaku-ngaku buk aku emang ha...", sebelum ku selesaikan kalimatku, Mas Yayan menyentak tanganku kuat.

__ADS_1


"Wes Tan, ojok mbok terusno. Cukup. Kowe nglarani perasaane ayah lan ibuk."(sudah Tan, jangan diteruskan. Cukup. Kamu menyakiti perasaan ayah dan ibuk), kata-kata Mas Yayan mengiris hatiku. Lalu bagaimana dengan perasaanku. Mereka tidak berpikir tentang perasaanku. Aku juga merasa sangat sakit. Mereka mengambil keputusan atas hidupku.Ingin memisahkan aku dari Mas Damar. Bahkan akan menikahkan aku dengan orang yang sama sekali tak ku kenal. Aku tidak tahan lagi. Bagaimanapun juga aku tidak akan menyerah. Aku berlalu dari ruang tersebut, ku dengar ayah dan ibuk memanggilku bersahutan. Berlari menuju kamarku, mengambil bukti keberadaan bayi dalam perutku. Saat ku kembali ke ruang santai lagi, ku dengar suara om Abdullah sedang menenangkan ayah. Setelah aku masuk, semua mata tertuju padaku. Kuletakkan testpack berdua garis merah di atas meja. "Iki hasil tes kalau aku hamil.", kataku dingin.


Saat ayah meraih benda tersebut, ku lihat ibuk meneteskan air mata. Bisa ku lihat kekecewaan yang amat besar dari raut kedua orang tua tersebut. Hatiku goyah melihat air mata mereka. Sedurhaka ini aku pada mereka. Tapi aku tidak bisa kembali. Aku harus memperjuangkan Mas Damar.


"Kowe kok tego karo wong tuamu. Iki wes podo karo kowe nemplok tai nang raine wong tuamu."(kamu kok tega sama orang tuamu. Ini sudah seperti kamu melempar kotoran ke wajah orang tuamu.), saat mengatakan ini ayah bergetar menahan emosi.


Ku kepalkan tanganku kuat, untuk menguatkan tekad ku agar tidak goyah. Amarah terlihat di wajah Mas Yayan. Dia berjalan menghampiri ibuk dan memeluknya menenangkan. Ku edarkan pandanganku, tak hanya ayah dan ibuk yang terlihat kecewa. Om Abdullah, tante Halimah, Mas Zaky semua terlihat sangat kecewa. Terutama Mas zaky, dia terlihat sedang menahan emosinya. Tangannya terkepal, rahangnya mengeras, matanya merah. Dari perdebatan ini di mulai sampai sekarang, dia hanya diam. Saat tatapan kami bertemu, dia segera berpaling dan permisi pergi ke toilet. "maaf, saya ke toilet dulu.", suaranya terdengar dalam dan sangat dingin. Mengirim bulu kudukku berdiri.


"Maaf yah, buk. Kalian wes weroh saiki, gak mungkin aku nikah karo Mas Zaky. Aku bakal nunggu Mas Damar mbalek."(kalian sudah tahu sekarang, tidak mungkin aku menikah dengan Mas Zaky. Aku akan menunggu Mas Damar kembali.), kataku kemudian. Mendengar itu ayah kembali murka.


Sebelum aku menjawab perkataan ayah, ku lihat Mas Zaky kembali dengan wajah basah, lengan kemejanya tergulung sampai sedikit diatas siku dan memperlihatkan sisa-sia air di lengannya. Melihat anaknya kembali om dan tante mengajak Mas Zaky untuk pulang. Tak ada kata lembut dan manis lagi di bibir keduanya. "Yok wangsul ae le, ganok maneh seng luweh mempermalukan sampeyan koyok ngene. Wes gak usah ono perjodohan maneh. Kita semua PULANG!"(ayo pulang saja nak, tidak ada lagi yang lebih mempermalukan kamu seperti ini. Sudah tidak usah ada perjodohan lagi. Kita semua PULANG!), Om Abdullah berkata sambil berdiri. Tapi selanjutnya, semua orang terkejut. Karena Mas Zaky kembali duduk. Raut wajahnya lebih tenang dari sebelum pergi ke toilet. Kalimat yang keluar dari mulutnya kemudian membuat semua orang lebih terkejut lagi. Terlebih-lebih aku.


"Kulo bade nyubo nerusaken perjodohan niki. Kulo nyuwon waktu kale peken damel ta'aruf kaleh Tania. Ugi maringi Tania waktu nemokaken Damar. Umpami dalam waktu kale peken niki Damar ketemu ugi purun nikahi Tania, kulo bakal mundur. Engkang mboten ketemu nopo mboten purun, kulo siap nikah kaleh Tania."(saya mau mencoba menereskan perjodohan ini. Saya minta waktu dua minggu untuk ta'aruf sama Tania. Juga memberi Tania waktu untuk menemukan Damar. Jika dalam waktu dua minggu Damar ketemu dan mau menikahi Tania, saya akan mundur. Jika tidak ketemu atau tidak mau menikahi Tania, saya siap untuk menikah dengan Tania), suara Mas Zaky sangat tenang namun tegas. Tidak ada keraguan sedikitpun dalam ucapannya.


Hatiku berdesir mendengarnya. Namun aku belum mengenalnya. Apakah ada maksud tersembunyi dari keputusannya? Aku tidak tahu. Ucapan Mas Zaky menuai beragam reaksi. Semua orang terkejut, tentu saja. Tapi terkejut setiap orang berbeda. Bisa ku lihat ayah yang senyumnya merekah mendengernya begitupun dengan ibuk yang terharu. Namun berbeda dengan kedua orang tuanya. Terlihat sangat jelas kalau mereka tidak setuju dengan keputusan yang diambil oleh Mas Zaky. "Opo maksud sampeyan le? Sampeyan arep gawe wirang sampeyan dewe? Jelas-jelas Tania nolak mentah-mentah sampeyan!"(apa maksud mu nak? kamu mau membuat dirimu malu? jelas-jelas Tania sudah menolak kamu mentah-mentah!), tante Halimah menanggapi dengan nada tidak suka yang sangat jelas.

__ADS_1


"Sampeyan jelas pahamkan gak oleh ono paksaan dalam menikahi seseorang. Kok sek mbok terusno. Ojo mekso Tania nikah karo sampeyan Ky. Karo maneh sampeyan yo ngerti hukume nikah karo wong wedok seng lagi hamil anak'e wong liyo."(kamu jelas pahamkan tidak boleh ada paksaan dalam menikahi seseorang. Kok masih kamu teruskan. Jangan memaksa Tania nikah sama kamu Ky. Dan lagi kamu juga mengerti bagaimana hukumnya menikah dengan wanita yang sedang hamil anak orang lain), om Abdullah lebih tenang dari tante Halimah saat menyambung tanggapan tante Halimah sebelumnya.


"Kulo mboten mekso Tania kok bah. Kulo nyuwun waktu ta'aruf niki nggeh damel Tania. Umpami sampun telas waktu ta'aruf Tania tasek mboten purun nikah kaleh kulo meskipun Damar mboten ketemu, kulo bakal terimo. Kulo bakal mundur. Kulo ngertos dateng perkoro engkang abah maksud, kulo bakal nampi konsekuensinipun."(saya tidak memaksa Tania kok bah. Saya minta waktu ta'aruf ya untuk Tania. Misalkan sudah habis waktu ta'aruf Tania madih tidak mau menikah dengan saya meskipun Damar tidak ketemu, saya akan terima. Saya akan mundur. Saya juga mengerti apa yang abah maksud, saya akan mengambil konsekuensinya.), suara dalam yang khas itu terdengar begitu mantab.


Ketenangannya, ketegasannya, kesungguhannya akan mampu memeluluhkan hati setiap wanita yang mendengarnya. Aku sangat yakin itu. Tapi bukan hatiku. Hati ini terkunci hanya oleh satu pria yaitu Mas Damar.


"Dan Tania, aku yo pingin sampeyan berlaku adil. Sampeyan karo Damar kan wes berhubungan lama, limang tahun luwih kan? Dadi aku pingin sampeyan ngekek'i aku kesempatan gawe ta'aruf ben kita iso saling kenal. Gak usah sampek limang tahun, cukup dua minggu. Lan aku harap dua minggu iki sampeyan jalani ta'aruf sungguh-sungguh. Aku harap sampeyan yo kudu mempertimbangkan aku sebagai calon seng pantas."(dan Tania, aku ingin kamu berlaku adil. Kamu dengan Damarkan sudah lama berhubungan. Lima tahun lebih kan? Jadi aku ingin kamu memberiku kesempatan untuk ta'aruf agar kita bisa saling mengenal. Tidak perlu sampai lima tahun, cukup dua minggu. Dan aku harap kamu dua minggu ini kamu menjalani ta'aruf dengan sungguh-sungguh. Aku harap kamu ya harus mempertimbangkan aku sebagai calon yang pantas.), Mas Zaki mengatakan itu dengan langsung menatap ke mataku. Tatapan yang lembut namun tegas. Sungguh membuat hatiku bergetar. Aku tercekat mendengar ucapannya, hingga tak ada satu katapun yang bisa keluar. Mulutku terbungkam.


"Tapi Ky...", tante Halimah berusaha membantah. Tapi sebelum beliau menyelesaikan kalimatnya, Mas Zaky langsung memotongnya.


"Zaky harap abah kaleh umi menghormati keputusan Zaky.", katanya dengan tersenyum lembut dan menenangkan kepada kedua orang tuanya.


Aku berusaha mencerna semua yang ku dengar. Tapi itu malah membuatku pusing. Aku tidak bisa memproses keputusan ini sekarang. Merasa sangat lelah. Seolah di tabrak kereta barang yang panjang dan tak kunjung usai. Kuputuskan untuk undur diri tanpa perlawanan. Aku meninggalkan para orang tua untuk kembali berdiskusi.


Mungkin aku harus mundur selangkah sebelum melompat lebih jauh. Pada akhirnya, mungkin ini keputusan yang tepat untuk kedua keluarga. Sedikit mengalah sebagai penyesalanku pada mereka.

__ADS_1


__ADS_2