Jodoh yang KAU kirim

Jodoh yang KAU kirim
Extra Chapter


__ADS_3

Point of view Damar


Aku marah, sedih, kecewa. Hatiku bagai disayat-sayat ribuan pisau dan ditaburi garam. Perih. Bagaimana mungkin ini terjadi padaku. Kisah hidup bak sinetron yang sering kali Mbok Mar tonton setelah usai membereskan rumah. Aku tak rela kehilangan Nia seperti ini. Apa yang ada di pikirannya? Bagaimana bisa dia meninggalkanku menikah dengan pria lain? Masih teringat jelas mimik-mimik wajahnya saat kami bertengkar dirumahnya sebulan yang lalu. Dia terlihat begitu terluka. Kenapa? Harusnya aku yang terluka. Dia yang mengkhianatiku. Aku baru sebulan menghilang dan dia sudah menikah dengan pria lain. Bahkan kini telah hamil. Bisa-bisanya dia bilang itu anakku.


"DASAR CEWEK SIAAAALLL!!", teriakku kesekian kalinya.


"AAAAAAAHHRRRRGG, BRENGSSEEEKK!"


Sial! Apa yang aku lakukan untuknya selama ini tidak artinya? Dia tahu aku begitu mencintainya. Kenapa dia begitu tega? Aku terduduk lesu disudut kamarku. Dengan kepala tertunduk dan tangan yang memeluk lutut. Hanya seperti ini yang kulakukan selama sebulan ini. Marah tak jelas. Selalu uring-uringan. Aku bahkan menangis setiap kali teringat kenangan kami bersama. Jika yang dikatakannya benar dia mencariku waktu itu, aku masih menyayangkan sikapnya yang tak berusaha hingga akhir. Kenapa dia memilih berbalik dan melangkah ke sisi orang lain? Lima tahun aku menjaganya, mencintainya sepenuh hati dan dengan mudahnya dia berpaling.


"AAAAARRRGGGHH!", teriakku merasa frustasi dengan keadaan ini.


Aku tak bisa terus-terusan seperti ini. Aku butuh udara segar. Lebih baik aku ajak Dito keluar, aku juga belum sempat berterima kasih padanya. Kuraih kunci mobil dan bergegas memacunya membelah jalanan. Lalu lintas cukup lenggang siang ini. Sambil mencari tempat yang cocok, aku menghubungi Dito dan menyampaikan maksudku. Kami sepakat untuk bertemu di satu kafe yang biasa kami kunjungi saat hangout. Lima belas menit kemudian aku sudah melihat Dito duduk di meja sebelah jendela kaca besar dengan meja yang sudah penuh dengan camilan dan minuman.


"Sorry yo Dit, baru iso nemuin kamu saiki. Aku mo bilang makasih, mama bilang kamu yang bantu nyariin aku sampai akhire ketemu.", kataku mengawali obrolan saat sudah duduk di kursi sebelahnya.


"Halaaah, pake' makasih segala. Yo wajar lah aku bantu nyariin kamu, kita kan sahabatan wes lawas. Piye sekarang? Kamu wes bener-bener sehat?", balas Dito.


"Wes, sehat walafiat. Hehe.", kataku sambil nyengir.


"Lha terus muka kusut iku kenapa? Berantem karo Tania? Baru juga ketemu lagi kok malah berantem.", celetuknya.


"Cewek sial iku ninggal aku nikah Dit, brengsek banget kan? Orang pacar lagi ngilang dia malah nikah sama cowok lain!", jawabku frustasi dengan mengusap-usap mukaku.


"Serius kamu? Becandamu g' lucu lah bro"., timpalnya.


"Liat dewe kan mukaku koyok opo? Mboh lah. Aku wes males mbahas iki.", jawabku melas.


"Sek lah, jelasin dulu. Sini cerita dulu, sapa tau kamu jadi lebih rileks."


Tanpa perlu bujukan cerita itu mengalir deras tanpa hambatan. Dimulai dari bangunnya aku dari koma dan mendengar perihal pernikahan Nia sampai akhirnya aku yang mendatangi Nia bersama mama dan Lita. Juga perseteruan kami hari itu. Dito mendengarkan dengan sesekali menimpaliku dengan pernyataan seperti saat ini.


"Kamu diem ae mama kamu nampar Tania koyok gitu?, opo g' keterlaluan iku Mar? Dia lagi hamil juga kan?", raut wajah Dito terlihat tidak suka.


"Pas waktu iku se aku biasa ae, mungkin karena aku lagi emosi. Tapi pas wes ndek rumah aku jadi kepikiran terus, apalagi kalo inget ekspresi terlukae Nia pas iku.", jawabku lemah.


"Mar? Kamu yakin iku bukan anakmu?"


"Yakin lah! Jelas-jelas dia wes nikah. Mungkin ae dia nikah cepet-cepet karena wes hamil karo cowok brengsek iku!", nada suaraku meninggi mengingat pengkhianatannya.


"Emm, piye yo Mar. Aku kok g' yakin Tania kayak gitu.", ujar Dito ragu.


Setelah itu Dito bercerita tentang kisahnya mencariku bersama Nia, Lani dan juga Zaky ke kota Batu. Bagaimana sikap Nia yang canggung akan keberadaan Zaky. Tentang pingsannya Nia saat tidak menemukan keberadaanku disana. Termasuk juga tanda-tanda tubuh dan gerak gerik Nia yang tertangkap oleh pengamatan Dito.

__ADS_1


"Aku yakin saat iku Nia wes hamil Mar. Aku ayah dari dua anak. Aku wes pengalaman dengan wanita hamil meski perute belum gede. Iku wes kelihatan. Kamu coba omongin baik-baik lah Mar. Emang dia wes nikah, tapi tetep ae klo bayi iku anakmu opo yo kamu mau diem ae g' ngerti opo-opo soal anakmu? Klo kamu liat Tania waktu iku aku yakin kamu g' bakal tego ribut-ribut gitu ke dia.", ucap Dito panjang lebar.


Ini semakin membuat perasaanku tak karuan. Bagaimana kalau selama ini aku memang salah menilai situasi yang dihadapi Nia? Belum usai aku mencerna kata-katanya Dito mengejutkanku dengan tepukan yang cukup keras di lengan atasku.


"Damar! Iku Lani bukan se? Kamu g' coba tanya ae ke dia. Diakan Sahabate Tania kan.", kata Dito sambil menunjuk dengan dagu kearah sekumpulan gadis yang berjalan di depan kafe.


Aku menoleh untuk memastikan dan di saat yang tepat pandangan gadis itu menangkap sosok ku. Tanpa perlu di panggil Lani melangkah menghampiri kami dengan langkah lebar bersemangat. Sedetik kemudian kepalaku terasa dingin dan menjalar menuruni punggung, bahu, dada dan membasahi kaos hingga celana jeansku. Air itu berasal dari sebotol air mineral yang sengaja Lani tumpahkan diatas kepalaku. Belum hilang rasa terkejutku karena tindakannya yang tiba-tiba, lengkingan suara Lani membuat semua pandangan mata setiap orang yang ada disini tertuju pada meja kami.


"Akhire aku oleh kesempatan ketemu kamu yo ****! Jadi selama iki sikap baikmu iku mek kedok? Akhire yo mbok tunjukno juga yo, g' tanggung-tangung kamu pilih target langsung ke Tania. Hebat juga kamu iso nyamar selama lima tahun lebih. Dasar **** busuk!", umpatnya tiada henti.


"Apaan se Lan?! Temenmu iku seng murahan! Gampang banget dia loncat kepelukan cowok lain. Wes gatel banget tak tinggal tiga bulan sampek g' kuat nunggu aku balik? Untunglah aku g' jadi karo cewek gatel, ma..", sebelum usai kataku terangkai sebuah tamparan keras sanggup membuatku menoleh dan meringis.


"Apa tamparan iki isek luweh ringan teko tamparane ibukmu ke Tania? Kamu pikir buat opo Tania nikah cepet-cepet klo g' buat nutupin kelakuan BEJATMU!! Kalian nglakuin berdua tapi kenapa cuma Tania seng harus cari jalan keluar masalah iku? Aku g' nyalahno insiden kecelakaanmu, tapi sikap busukmu iku seng bikin aku jijik! G' cukup kamu ngatain Tania kayak gitu sampe' kamu bunuh darah dagingmu dewe! Laki-laki macam kamu iki seng haruse g' usah ono ndek dunia. Aku bersyukur banget Zaky seng nikah karo Tania bukan keluarga **** busuk koyok kamu kro keluargamu!", murka Lani dengan airmata yang terus mengalir.


Gadis-gadis lain yang datang bersamanya merangkul dan menenangkannya. Tapi bukan karena tangisannya, tapi apa yang dia ucapkan yang mengusik pikiranku. Membunuh? Apa sih yang dia maksud?


"Opo maksudmu? Aku g' ngerti? Darah daging opo? Ngebunuh? Nglindur kamu?!", bukan berlagak bodoh, tapi aku benar tak mengerti tentang apa yang dikatakannya.


"Anakmu! Bayi dalam perut Tania g' selamat sepulang kamu dari rumahe.", katanya pelan dengan tubuh bergetar.


Meski pelan suara itu bagaikan petir yang menyambar-nyambar di tengah badai. Telingaku berdenging dan seolah hanya aku sendiri di tempat ini. Bagaimana bisa? Tak ada satupun diantara kami yang mendorongnya atau membuatnya terjatuh. Apa karena tamparan mama? Tidak mungkin kan? Pasti dia sangat kehilangan. Meski itu bukan anakku, tentu saja aku tidak ingin sampai dia keguguran seperti ini. Aku tersadar kembali dari duniaku sendiri saat tangan hangat Dito menepuk pelan bahuku.


"Damar? Hei! kamu g' po-po? G' enak sama pengunjung lain, kita cari tempat yang pas buat ngelurusin masalah iki. Ok?", katanya menenangkan.


Anehnya Lani juga menyetujui usulan Dito. Setelah mengucapkan permintaan maaf atas situasi yang terjadi kami pergi mencari tempat yang sesuai. Dan berakhir dengan kami berempat aku, Dito, Lani dan satu temannya melanjutkan pembicaraan ini di alun-alun tugu. Tempat yang sering aku dan Nia datangi mulai jaman awal kami pacaran. Kami menuju kesana secara terpisah. Sesampainya di alun-alun tugu aku segera memberondong Lani dengan pertanyaan-pertanyaan perihal kegugurannya Nia.


"Kamu pikir keguguran iku iso kejadian cuma karena jatoh, benturan, pukulan atau kontak fisik laine. Kamu g' sebodoh iku kan? Kata-kata busukmu dan keluargamu iku nambah beban pikiran seng Tania rasakan. Belom-belom sebelume dia ngambil keputusan nikah iku dengan pertimbangan berat ninggalin kamu. Tekanan keluarga untuk tidak mencoreng nama baik. Kamu mah enak, muncul-muncul tinggal hina sana hina sini. Mana ada kamu pikiran cemoohan orang yang Tania terima selama iki!", berang Lani dengan menyilangkan tangannya di dada.


"Soal iku kan g' ono urusan sama aku. Iku urusan sama dia ma cowok seng hamilin dia lah. Toh mereka yo wes nikah sekarang. Bisa bikin lagi kan.", timpal ku tersulut emosi karena Lani terus memojokanku.


"Wah..wah. Brengsek emang g' tanggung-tanggung yo, totalitas banget kamu jadi ****! Kamu pikir sapa bapak dari janin itu? KAMU!! Huuuft, kok aku jadi ngerasa bodoh ya ngomong sama kamu! Wes dari tadi aku berulang kali bilang klo bayi iku anakmu. Segitu g' mau ngakuinnya ya kamu! Klo kamu mau bukti kamu iso minta bantuan polisi buat bongkar makam bayi itu dan kamu iso tes DNA. Aku seng nganter Tania pertama kali ke dr.kandungan dan iku jauh sebelum kita semua tahu keberadaan sosok Zaky di dunia iki. Hari ndek mana kamu janjian sama Tania disini dan kamu kecelakaan, dia mau kasih tau kamu kabar tentang kehamilan'e." cecarnya panjang lebar.


Aku hanya diam mencerna semua perkataannya. Perlahan semua potongan-potongan kebenaran tentang Nia mulai menyatu. Buliran airmata mulai menuruni pipiku satu persatu. Sayatan di hatiku semakin dalam dengan sadarnya aku tentang semua kesalahanku selama ini. Kepalaku perlahan semakin menunduk seiring penyesalan demi penyesalan yang datang menghampiri. Ku rasakan tepukan-tepukan pelan pada punggungku diikuti suara Dito yang berusaha menenangkanku. Tapi aku tak sanggup menegakkan badanku dan mengangkat kepalaku. Seakan ada batu besar yang menindih punggungku, berat, sulit untuk bergerak. Kilasan-kilasan kejadian hari itu mulai bermunculan. Raut lega Nia saat pertama kali menatapku berubah menjadi sendu dan sedih. Terluka dan terhina.


"Aku lihat kamu lagi hamil, udah keliatan gitu perutmu. Jelas bukan seperti seng kita rencanakan kan. Jadi setelah tau gimana rasa'e dariku, kamu g' tahan buat nyoba' dengan yang lain? Hebat kamu yo, g' nyangka kamu koyok gini ke aku. KAMU TAHU G' AKU CINTA MATI KE KAMUUU!!!, iso yo kamu kek gini?."


Aku ingat dengan jelas kata-kata menjijikan yang ku lontarkan pada Nia pagi itu. Bagaimana raut terluka tergambar jelas di wajah sendunya. Umpatan amarah yang keluar merobek suara manis yang dulu sering ku dengar.


"Brengsek kamu MAS!! Ini anak kamu! Kamu seng bikin janji tapi kamu malah ngilang. Aku jatuh bangun cari kamu. Kamu g' tahu opo ae seng aku alamin sama bayi iki. Kamu ninggalin aku buat berjuang sendiri, sekarang sak enak'e ae kamu nuduh aku macem-macem di belakang kamu!."


Ya tuhaaaan! Kenapa aku begitu bodoh! Bukankah selama ini aku selalu percaya padanya, kenapa aku malah meragukannya disaat terakhir? 'kamu emang **** brengsek Mar', jerit batinku membenarkan umpatan Nia dan Lani. Dan lagi aku kehilangan anak yang selama ini aku harapkan hadir diantara kami.


"Mar, wes lah tenang dulu yo. Kamu minta maaf ae ke Tania. Ngomong baik-baik, ok? Yuk tak anter pulang. Aku kudu cepet pulang soale, orang rumah wes nungguin. Aku yo g' iso ninggal kamu sendiri, kondisimu lagi g' apik.", suara Dito terdengar jelas setelah dia mengguncang bahuku sedikit lebih kencang.

__ADS_1


Barulah aku tersadar kalau tinggal kami berdua disini. Tak ada lagi Lani dan temannya. Menyadari apa yang aku pikirkan Dito menjelaskan bahkan sebelum aku bertanya.


"Mereka wes balik, aku seng nyuruh. Sekarang tinggal urusan kamu sama Tania seng perlu di lurusno. Ayo balik disek, biar kamu tenang sebelum nemuin Tania."


"Kamu balik disek ae, aku ndek sini bentar lagi. G' usah khawatir ntar aku nyuruh supir biar jemput kesini. Dan makasih yo Dit, wes nemenin aku. Makasi banget.", jawabku atas ajakannya dan tak lupa berterima kasih karena menjadi sahabat yang selalu ada.


"Kamu yakin?... Yowes, tak tinggal yo. Kamu ati-ati.", pamit Dito.


Setelah sendiri, kenangan-kenangan tentang Nia kembali berkelabat. Menari-nari seolah mengejek. Tatapan dinginnya saat mengusir kami dari kediamannya.


"Kita akhiri ndek sini ae hubungan kita. Kedepane aku harap kita g' pernah bersinggungan. Dan g' onok penyesalan ndek antara kita, terutama buat kamu mas."


Kamu benar Nia, aku menyesal. Sangat amat menyesal. Apa yang telah aku katakan hari itu benar-benar tak termaafkan. Berakibat fatal dengan perginya bayi kami. Aku juga yang merubah gadis kecil imut yang ceria menjadi wanita dengan wajah sendu terluka dengan airmata yang terus berlinang. Bahkan setelah aku berjanji takkan membuatnya menangis lagi tiga tahun yang lalu disini, kini aku malah menghancurkan hatinya.


"*Wes dong g' usah nangis lagi, jadu jelek kan? Aku janji g' bakal ngelakuin hal-hal seng bikin kamu nangis." kataku sambil mengusap-usap lembut pipinya.


"Bener yo? Awas klo kamu gitu lagi! Aku g' akan cuma nangis tapi bakal ngadu ke mama sekar klo kamu suka genit ke cewek lain.", jawab Nia dengan cemberut yang lucu tapi dia sudah berhenti menangis.


"Nah, gitu dong. G' boleh nangis. Klo gini kan jadi imut gemesin.", sambungku dan memainkan poninya, tahu dia akan semakin cemberut karenanya*.


Ingatan itu muncul tanpa diminta, seperti telah diprogram secara otomatis. Semakin membuat hatiku pilu.


"Hai, Mas Damar ya? Aku Tania anggota osis seng kemaren telpon soal acara reuni akbar.", sapa seorang gadis imut nan cantik dengan ceria.


Ingatan saat pertama kali kami bertemu pun tak ingin absen untuk mucul ke permukaan, bagaimana cerianya dia saat itu dengan paras cantik lugunya yang langsung membuatku terpesona. Juga saat aku menembaknya setelah beberapa bulan saling mengenal.


"*Nia, kita kan suka nih nongkrong ndek alun-alun tugu iki. Jadi aku pingin tempat iki merekam peristiwa penting tentang kita. Eemm..Nia..Aku suka sama kamu, mulai awal kita ketemu se tapi aku baru bener-bener yakin saiki. Kamu...mau g' jadi pacarku? Kita jadian..hehe.", kataku gugup karena dia melihatku dengan intens namun diam.


Begitu tenang membuatku semakin gugup dan takut dia akan menolakku. Tapi tawa cerianya dan pelukan hangat yang dia berikan cukup menjawab bahwa aku diterima. Kami remi pacaran*!


Gadis ceria itu takkan ketemui lagi. Wajah sendunya telah terpatri di tengkorakku. Bahkan tanpa menutup mata aku masih bisa melihat raut terluka itu. Selama ini kami bisa melalui barbagai rintangan bersama. Jelas tak mudah untuk mencapai sejauh ini. Masih seperti kemarin kami bertengkar hebat dikarenakan orangtuanya yang tidak merestui hubungan kami.


"*Kamu tau sendiri lah!, gimana usaha aku ngambil hati orangtuamu! Semua cara aku lakuin buat ngedeketin mereka! Bahkan kamu sendiri g' tau kan opo alasan mereka g' seneng nang aku! Terus aku kudu gimana?! Aku capek Nia!", luapku padanya.


"Yo mau piye lagi mas, isoe kita yo cuman berusaha. Klo kamu capek terus piye? Kita berhenti? Kamu mau kita berhenti? Kamu beneran mau nyerah? Kamu g' liat usaha aku? Emang selama iki aku biarin kamu usaha sendiri ngedeketin orangtuaku? G' kan mas?, aku selalu ndek sampingmu. Aku g' pernah ninggalin kamu! Kita berjuang bersama! Klo kamu capek mungkin kita perlu rehat sejenak. Mungkin kamu mulai jenuh dengan hubungan yang mulai stag ini. Kamu tata hati kamu dulu, aku bakal tungguin*."


Tidak. Tidak bisa seperti ini. Aku harus segera bertemu dengannya. Aku harus minta maaf dan membujuknya kembali padaku. Aku tak rela melepas Nia begitu saja. Aku akan bersujud dikakinya agar dia memaafkanku. Aku juga ingin tahu dimana bayi kami dimakamkan. Bangkit, aku lantas langsung berlari menuju tempat mobilku terparkir.


"*MAS DAMAAAAR, AKU CINTA KAMUUUU!", teriak Nia menyamai deburan keras sang ombak.


"Hahaha..kayak bocah alay ditipi ih.", sahutku*.


Brughh. Suara keras tubuhku terbanting karena tersandung kakiku sendiri. Ku abaikan rasa berdenyut di lutut dan lenganku, kembali berlari menuju jalan raya.

__ADS_1


"Nia, ntar klo kita wes nikah kamu mau kita bikin rumah ndek mana? Ato biar g' repot kita beli aja.", kataku sambil mengelus lembut kepalanya yang berada di pangkuanku.


Ttiiiiiiiin. Ttiiiiiiin. Suara klakson mobil dan sepeda motor yang hampir saja menabrakku. Aku berlari tanpa memperhatikan lalu lintas. Seperti dikejar waktu yang berlomba dengan kepingan kenangan-kenangan, menyuruhku untuk bergegas. Seolah Nia akan menghilang jika aku datang sedikit lebih lama lagi.


__ADS_2