
Sudah tiga hari berlalu, setelah aku kembali dari pantai aku menginap di rumah orang tuaku. Awalnya aku merasa takut dan gugup kalau gejala morning sickness ku akan membuat orang tuaku menyadari kalau ada yang salah denganku. Namun Mas Yayan membantuku memberi alasan kalau aku hanya keracunan makanan yang kami beli di pantai. Awalnya mereka ragu dan bertanya kenapa hanya aku yang sakit perut dan mual-mual, sedangkan Mas Yayan baik-baik saja. Mas Yayan beralasan itu karena aku yang makan paling banyak daripada Mas Yayan yang membuat aku menyerap racun lebih banyak. Kami sepakat belum saatnya memberi tahu orang tua kami tentang kehamilanku.
Orang tuaku menghubungi kepala perawat rumah sakit tempatku bekerja untuk meminta izinku diperpanjang karena aku keracunan makanan. Hehe..ada untungnya juga, aku mendapat cukup banyak waktu senggang.
Tapi hari ini aku berencana mulai masuk kerja. Aku akan masuk sift pagi karena ayah menyuruhku makan malam di rumah. Ada hal penting yang ingin beliau sampaikan pada seluruh anggota keluarga. Drrtt..drrtt..., ponsel yang ku letakkan di atas nakas bergetar. Segera ku raih ponsel tersebut, berharap ada kabar dari Mas Damar. Selama ini aku saling menghubungi dengan semua anggota keluarga Mas Damar. Tapi masih belum ada kabar tentang keberadaan Mas Damar.
Saat kubuka kunci layar ponsel, ternyata itu pesan dari Lani yang menanyakan keadaanku dan apakah aku jadi masuk kerja pagi ini. Segera ku mengirim balasan kalau aku sudah siap berangakat, tinggal menunggu Mas Yayan siap untuk mengantarku. Setelah memeriksa sekali lagi isi tas apa sudah lengkap barang-barang yang aku butuhkan, aku segera keluar dari kamar dan menuju ke meja makan di ruang tengah.
"Kene ndang maem Tan, madaran'e wes enakan?"(sini cepat makan Tan, perutnya sudah enakan?), suara ayah terdengar begitu beliau sadar aku memasuki ruangan.
"Sampun luweh enakan kok yah."(sudah lebih enakan kok yah), jawabku sambil duduk di sebelah ibuk. Aku mulai membalik piring dan akan mengambil nasi saat perutku kembali bergejolak. Ku urungkan niatku untuk mengambil nasi, dan menggantinya dengan satu buah apel fuji.
"Lho Tan kenek opo kok gak sido mundut sego?, sek mual tah?"(lho Tan kenapa tidak jadi ambil nasi?, apa masih mual?), tanya ibuk sambil memperhatikanku.
Aku menjawab hanya dengan anggukan karena sibuk memakan apel yang ku ambil. Rasanya lebih enak dan nyaman. Karena rasa segar pada apel tidak memicu rasa mual pada perutku. Ku lihat ibuk berdiri dari duduknya dan pergi ke arah dapur. Tidak lama dia kembali dengan membawa kotak makan.
"Yowes tak bawa'in bekal wae yo, mengko lek wes luwe enggal dimaem. Maem apel tok opo yo wareg."(yowes saya bawakan bekal saja ya, nanti kalau sudah lapar segera di makan. Makan apel saja apa ya kenang)", kata ibuk dengan tangan mengisi kotak makan dengan tangkasnya.
Setelah menghabiskan dua buah apel dan berpamitan dengan ayah dan ibuk, aku berangkat dengan diantar Mas Yayan sebelum dia pergi ke kantornya. Kami berkendara tanpa banyak obrolan. Tak lama kami tiba di rumah sakit. "Mengko aku wangsul naik g***b wae. Jam telu kan pean isik jam kerjo"(nanti aku pulang naik g***b saja. Jam tiga kan kamu masih jam kerja.), kataku pada Mas Yayan sambil keluar dari mobil. "Heemm..ati-ati.", jawab Mas Yayan sebelum dia menjalankan mobilnya pergi.
__ADS_1
*****
Waktu berlalu sangat cepat. Hari ini tidak ada hal baru. Hanya rutinitas seperti biasa, mendampingi dokter anak mengontrol para pasien dan memberi obat sesuai jam yang di berikan dokter. Menjelang jam pergantian sift aku mulai merapikan ruang perawat dan berganti seragam ke rok terusan selutut tanpa lengan, berkerah sanghai kancing depan dengan full blizket kecil dari pinggang ke bawah berwarna biru langit bermotih bunga peoni putih.
"Dah siap pulang Tan?", sebuah suara merdu yang tak asing terdengar dari pintu ruang perawat. Ku berbalik untuk melihat sang
suara. Ternyata benar, suara itu milik dr. Diane. Dia adalah satu dari beberapa dokter anak yang praktek disini.
"Iya dok, kok dokter dah disini? bukane masih jam lima nanti jadwal dokter mulai praktek?", jawabku sekaligus bertanya tentang kehadirannya di sini.
"Tadi ada janji ketemu teman di daerah sektar sini, masih ada waktu tiga puluh menit sebelum waktu yang ditentukan Jadi aku sekalian ambil barang yang kemarin aku tinggal di sini.", jawab dr. Diane sambil berjalan ke arah lemari di pojok belakang pintu.
"Siiip, ati-ati neng dalan."(siiip, hati-hati di jalan), jawab mereka hampir bersamaan.
Aku bertemu Lani di lorong. Hari ini dia sift sore, jadi kami baru bertemu sekarang saat dia baru mau masuk sift. Dia memelukku sebentar sebelum sedikit berbasa-basi. Kami tidak bisa berlama-lama karena dia harus segera mengisi absen masuk.
Setelah tiba di lobi aku sedikit berlari karena taksi online yang ku pesan sudah menunggu di depan rumah sakit. Brukk. Aku menabrak seseorang cukup keras tapi bunyi itu bukan berasal dari jatuhnya tubuhku. Aku cukup yakin akan jauh dengan keras dan khawatir akan berdampak pada kandunganku. Tapi tidak ada rasa sakit dari tubuhku. Saat kubuka mataku, aku tersadar bahwa ada dua lengan besar dan kuat menahanku satu di pinggang dan satu di punggungku. Aku mendongak untuk melihat siapa orang yang ku tabrak dan sedang menahanku agar tidak terjatuh. Sepasang mata hitam pekat yang tajam sedang menatap balik ke arahku. Aku seperti tersedot ke dalam tatapannya. Sampai akhirnya aku tersentak oleh suara yang dalam dan maskulin dari si pemilik mata. "Sampeyan gak po-po kan?"(kamu tidak apa-apa kan?), katanya dengan senyum manis namun misterius sambil menegakkan tubuhku yang masih dalam pelukkannya.
"Ah...iya, gak po-po kok.", jawabku dengan tertunduk malu, karena sempat terhanyut oleh tatapannya. Saat itu lah aku sadar bahwa suara bruk yang cukup keras tadi berasal dari parsel buah yang dibawa pria ini. "Oh, wah maaf aku buru-buru soale. Piye iki, parsel sampeyan jadi rusak gini. Aku ganti ya.", kataku menyesal. Pasti orang ini mau menjenguk seseorang tapi sekarang parsel buahnya malah rusak gara-gara aku. Karena tak ada respon dari pria tersebut aku mendongak untuk melihatnya. Ternyata orang tersebut sedang menatapku sambil tersenyum, ada yang aneh dari tatapannya. Entah apa, aku tidak tahu. Tapi aku merasa sedikit terganggu. "Ekhem", aku berdehem untuk menyadarkan orang tersebut dari kediamannya.
__ADS_1
"Oh iya..iya, gak po-po gak usah ganti, lain kali wae aku minta ganti rugie."(tidak apa-apa tidak usah diganti, lain kali sajs saya meminta ganti ruginya.), katanya kemudian masih dengan tersenyum.
Aku mengernyit oleh kalimatnya. Apa dia bilang tadi?, mau minta ganti rugi lain kali?, memangnya bakal ketemu lagi? Tidak ada waktu untuk ini, ada taksi yang sedang menungguku. "Oh matur suwun kalau gitu, dan maaf nggeh mas, aku permisi udah ada yang nunggu soalnya.", kataku kemudian dan langsung beranjak pergi sebelum pria tersebut sempat menjawab. Bukan bermaksud tidak sopan karena langsung pergi begitu saja, tapi karena aku merasa tak nyaman oleh tatapan pria tersebut.
*****
Rencana untuk pergi ke beberapa tempat setelah pulang kerja tadi ku urungkan, aku hanya mampir ke toko roti langganan untuk membeli cake kesukaan ayah. Aku ingin istirahat sejenak sebelum makan malam di mulai. Aku merasa mudah lelah akhir-akhir ini. Ditambah tidurku tak pernah nyenyak karena selalu bermimpi buruk tentang Mas Damar. Saat aku terbangun langit sudah terlihat gelap. Jarum jam sudah menunjuk pukul enam lima belas. Aku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Mandi dengan cepat dan segera berpakaian. Aku memilih rok terusan sedikit di bawah lulut berwana putih, hampir mirip dengan yang tadi sore ku kenakan. Hanya saja ku tambahkan kardigan rajut berkancing warna peach. Merasa sudah siap dengan sedikit riasan yang minimalis, aku keluar menuju dapur untuk membantu ibuk dan mak Asih menyiapkan makan malam. Mak Asih adalah asisten rumah tangga disini. Tapi dia pulang pergi, pagi jam enam datang dan jam delapan malam dia pulang. rumahnya ada di kampung belakang kompleks perumahan ini.
"Duh wes ayu, weroh wae kalau arep onok tamu."(duh sudah cantik, tahu saja kalau mau ada tamu.), kata ibuk saat aku mengambil air untuk minum.
"Tak pikir mung makan malam keluarga, aku gak ngerti lek arep ono tamu."(saya pikir hanya makan malam keluarga, saya tidak tahu kalau mau ada tamu.), kataku saat air di gelas sudah tandas ku minum. "Aku dandan saking arep ngejak Mas Yayan metu dilut ke kosan sehabis makan malem. Arep ambil barang seng tumbas online. Soale dikirim neng kosan."(Saya dandan karena mau mengajak Mas Yayan keluar sebentar ke tempat kos setelah makan malam. Mau ambil barang yang beli online. Soalnya dikirim ke alamat kos.), sambung ku kemudian.
Suara ayah terdengar di ruang tengah tempat meja makan berada. Suara berbincang-bincang lebih dari tiga orang, ada satu suara wanita juga. "Yok Tan, tamue wes teko iku. Makan malame wes arep dimulai karo ayah." (yuk Tan, tamunya sudah datang. Makan malamnya sudah mau dimulai sama ayah.), kata ibuk dan menuntun ku keruang makan.
Pertama masuk ruang makan aku melihat banyak orang yang sudah duduk mengitari meja maka. Ku edarkan pandanganku untuk melihat siapa saja yang bergabung di meja makan bersama kami dari yang paling dekat denganku berdiri. Di ujung sisi meja sebelah sini ada ayah dan Mas Yayan yang duduk di sebelahh kirinya. Lalu di sebelah kanan ayah duduk seorang laki-laki yang seumuran dengan ayah. Beliau masih terlihat tampan di umurnya yang tidak sedikit. Mengenakan baju koko warna putih yg serasi dengan kopyah hitam bermotif di kepalanya. Di sampingnya, duduk ibu-ibu yang mengenakan hijab besar panjang juga berwarna putih, parasnya sangat cantik dan kalem. Benar-benar enak di pandang. Tapi orang yang duduk di sebelah wanita tersebut yang membuatku membulatkan mata. Dia adalah pria yang ku tabrak di lobi rumah sakit tadi.
"Hai..", sapanya dengan senyum yang lebar.
"Kamu?", tanyaku kaget.
__ADS_1
Kami berkata secara bersamaan tanpa di sengaja.