
Akhirnya Mas Zaky bersedia ke rumah sakit untuk menjahit lukanya dengan syarat aku mau bicara dengannya. Karena melihat darah yang kembali merembes dan mengalir dari lukanya akibat dia memelukku, akupun menyanggupi syaratnya. Ternyata lukanya cukup dalam. Dia mendapat beberapa jahitan di bisepnya. Setelah mendapat obat kami langsung kembali ke rumah. Kali ini dia memaksa bisa mengemudikan mobil karena lukanya sudah dijahit. Tadi saat berangkat terpaksa aku yang mengemudi karena lukanya terus mengeluarkan darah.
"Lukae ojo kena air dulu.", kataku sambil melihat keluar cendela.
"Iya.", jawabnya lembut.
"Ojo banyak digerakin juga.", kataku lagi.
"Iya siap."
"Obate juga kudu diminum, terus salep'e ojo lupa dioles. Terus...."
"Iya siap bu suster, lagian kan ono bu suster yang ngrawat aku.", kata Mas Zaky memotong kata-kataku. Dia tersenyum manis saat aku menoleh sambil melotot ke arahnya.
"Sopo seng bilang mau ngerawat lukamu.", kataku ketus dan membuang muka.
"Ya kan suami'e sakit mosok bu suster g' mo ngerawat se? Kan kamu seng ndorong aku sampek luka gini.", katanya sambil pura-pura cemberut.
"Kamu tuh g' pantes akting manja-manja gini. G' malu ma tuh jenggot!", sewotku.
"Ha..ha..ha..ha..ha. Kamu tuh ngegemesin pas ngambek gini, tambah ayu.", tawanya pecah saat melihatku terganggu oleh tingkahnya.
Dia selalu terlihat senang saat menggodaku seperti ini. Biasanya aku selalu terpukau oleh tawanya tapi kali ini hatiku sendu saat melihatnya tertawa. Aku mengabaikannya dengan kembali menatap keluar cendela. Aku masih marah padanya. Dan marah pada diriku sendiri karena aku tidak tegas dengan perasaanku. Aku goyah saat melihatnya terluka dan meringis menahan sakit. Aku goyah saat melihatnya menatap mataku intens. Aku goyah saat dia memelukku dan mengatakan takkan membiarkanku pergi. Dan aku goyah saat dia memperlihatkan tawa lepasnya padaku yang selalu berhasil memikat hatiku.
Mobil kembali hening. Mungkin dia memutuskan lebih baik diam saat aku mengabaikannya. Aku melihat sekeliling dan memerhatikan jalan, ternyata ini bukan arah menuju rumah kami. Aku menoleh ke arahnya sambil mengernyit bingung. Kemana dia akan membawaku? Kulihat dia sangat berkonsentrasi dalam mengemudi atau ada yang sedang dia pikirkan? Pandangannya lurus ke depan dengan alis nyaris menyatu.
"Mau kemana? G' pulang? Darahmu hampir kekuras harus'e kamu istirahat.", kataku datar berusaha menutupi rasa penasaranku.
__ADS_1
"Kan ono seng harus kita omongno. Aku g' mau ngomong ndek rumah.", jawabnya.
Kami kembali diam sampai mobil kami berhenti di masjid komplek rumah orangtuaku, tempat kami melaksanakan ijab qobul dulu. Ini membuatku tambah bingung. Apa dia ingin kami bicara di rumah orangtuaku?
"Kok ke sini?", tanyaku saat dia berniat turun dari mobil.
"Yok sholat ashar disek, baru kita ngobrol. Gih ambil wudlu tak tungguin, kita sholat jamaah.", katanya tenang namun aku tahu dia tak mau di bantah.
Sebulan ini aku memang mengabaikan Mas Zaky termasuk dengan ajakan sholatnya. Dan dia mungkin memaklumi tindakanku yang sedang berduka dan depresi. Tapi kali ini sepertinya dia tidak mau menoleransi sikapku lagi. Saat aku memasuki area masjid terlihat beberapa orang sudah hampir selesai sholat berjamaah. Setelah mengambil wudlu aku bergegas ke dalam masjid untuk mengenakan mukenah. Aku dan Mas Zaky sholat berjamaah dengan tersekat kelambu yang memisahkan antara tempat sholat wanita dan pria, ini mengingatkanku akan prosesi ijab qobul kami dulu dimana aku harus menunggu di balik kelambu saat dia membaca ijab qobul bersama ayah. Usai sholat kami duduk di pelataran masjid.
"Mau balik ke rumah ayah?", tanyaku.
"Mungkin mengko mampir kalo kita wes beres ngobrol'e.", jawab Mas Zaky sambil membuka sebotol air mineral dan memberikannya padaku.
"Mau ngomong ndek sini?.", tanyaku curiga.
"...................", aku tak tahu apa yang harus aku katakan. Bingung harus mulai dari mana. Aku terkejut, ternyata banyak yang ini aku ungkapkan padanya juga.
"Opo yang buat kamu marah ke aku? Tak lihat kamu yo ngejauh ke ayah lan ibuk. Kamu yo marah ke mereka?", tanyanya memecah keheningan.
"......, aku g' yakin opo yg buat aku marah ke kamu. Seng tak rasain iku kecewa, marah opo malu aku g' tau yang mana. Kamu tahu? Meski awale aku g' setuju sama perjodohan iki, tapi pas aku mutusno mau nikah sama kamu aku wes niat bakal sungguh-sungguh njalani pernikahan ini. Awale aku g' gubris omongan miring orang-orang tentang aku g' pake' hijab lah, rokku terlalu pendek lah, aku g' pantes sama kamu lah. Tapi aku g' sadar kalo omongan-omangan iku wes mresep neng hati. Emang sih seng orang-orang bilang yo g' sepenuhe salah, kalo aku emang kelihatan g' pantes sama kamu. Kamu seng religius kok nikah sama aku seng koyok gini penampilane, seng g' tau sholat, g' tau ngaji, bener-bener nol dalam agama. Seng paling aku ingat dan bikin aku terus kepikiran iku pas nikahan kita, cara'e saudara-saudara kamu lihatin aku wes seperti aku orang hina pesakitan, bahkan diantarae kelihatan jelas kalo mereka marah lan benci ke aku. Kamu tahu g'?, selama iki kalo kamu ngajak aku kumpul-kumpul sama keluarga kamu aku ngerasa tertekan, mau nolak aku g' enak sama kamu, g' nolak tp aku selalu makan hati.", jawabku panjang lebar. Setelah mengambil napas aku kembali bicara tanpa memberinya kesempatan untuk merespon jawabanku sebelumnya.
"Belum lagi seng dibilang Hafizah lan Mbak Zizah, kalo aku menjijikan. Sebagai wanita ae mereka jijik ke aku karena hamil sebelum nikah, apalagi kamu yang laki-laki. Aku terus kepikiran tiap mereka omong gitu ke aku, tentu saja hatiku terluka. Pas kamu nolak aku, mau g' mau pikiran iku terus muter neng sirahku. Kalo kamu seng suamiku ae g' mau nyentuh aku, terus opo artie aku cuma sebagai status? Opo emang kamu yo jijik ke aku ma bayi neng perutku iku sebabe kamu g' mau nyentuh aku? Aku merasa terhina lan sakit hati. Aku berusaha membuka perasaan aku ke kamu tapi kamu ngedorong aku menjauh. Aku terluka saat mbayangno kamu jijik ke aku dan bayiku.", kataku lagi, kali ini air mata tak bisa lagi ku bendung.
Tangan Mas Zaky menghapus air mata di pipiku dengan sangat lembut. Aku bisa melihat ada rasa bersalah dalam tatapan matanya. "Kamu salah Tan, aku g' pernah ji...."
"Dan puncak'e adalah hari itu. Sekitar sak jam setelah kamu pergi kerja Mas Damar sama mama dan adik'e ke rumah.", kataku memotong kata-katanya. Aku memutuskan untuk bercerita tentang datangnya Mas Damar hari itu. Mas Zaky terlihat kaget saat aku menyebut nama Mas Damar.
__ADS_1
"Dia dan keluargae bilang kalo aku cewek murahan seng deketin Mas Damar hanya demi uang, setelah Mas Damar ngilang aku jadi g' iso ngeruk hartae mereka makane aku langsung beralih ke kamu dan nikah sama kamu. Mereka yo bilang kalo aku sengaja hamil karo cowok lain buat ngaku-ngaku kalo ini anak'e Mas Damar biar bisa dapat warisan dari mereka. Haaah, hina banget yo aku.", air mataku semakin deras mengalir.
"Brengsek!", umpat Mas Zaky sambil merengkuhku ke pelukannya. Ini pertama kali aku dengar Mas Zaky mengumpat selama aku kenal dengannya. Tapi Mas Zaky segera ber istighfar, "Astaghrirullah. Astaghfirullah. Kamu kok baru cerito?." sahutnya sambil masih memelukku.
Aku mendorongnya pelan agar dia melepas pelekukannya, sebelum aku kembali bicara.
"Waktu itu, tak pikir aku g' perlu crito ke kamu biar g' nambah beban pikirane mas. Aku tahu kamu khawatir banget ke aku, kamu terus ngecek kondisiku lewat telepon, atau kamu sempetin pulang pas jam makan siang. Jadi aku g' mau bikin kamu tambah khawatir. Setelah bertengkar hebat sama mereka aku hanya bisa menangis dan menyesal. Tapi seenggak'e aku jadi tahu kalo kamu itu berharga banget. Kamu bener-bener tulus lan baik ke aku. Aku ngeroso bersalah banget nang ayah lan ibuk karena g' dengerin mereka tentang hubunganku karo Mas Damar. Aku terus nangis di kamar sampek lupa makan siang. Pas aku nggawe susu buat nahan laper, Hafizah datang nganter makanan dari ummi. Aku suruh dia masuk buat istirahat tapi dia malah bilang kalo aku cuma pura-pura baikin dia. Dia g' sudi deket-deket karo aku. Dia bilang dia jijik sama aku yang dengan gampange tidur sama yang bukan mahram. Sebelum dia pergi dia nambahin kalo dia seng cewek ae jijik ke aku apa lagi kamu seng cowok. Kata-kata'e bener-benar nggawe aku terluka. Aku kepikiran terus sampek ketiduran.", akhirnya aku juga bercerita tentang ke datangan Hafizah, mau bagaimana lagi, itu memang berhubungan dengan stres yang aku alami.
"Aku kan wes ngomong, kamu g' usah musingin omongan orang-orang, termasuk Hafizah karo Mbak Zizah. Mereka iku g' tau opo-opo tentang aku, tentang kamu, seng mereka lihat iku cuma opo seng neng luar. Opo seng tak pikirkan mereka g' ngerti. Kamu percaya nang aku yo, aku iku tulus ke kamu.", kata Mas Zaky menanggapi ceritaku tentang Hafizah. Kali ini dia hanya menggenggam tanganku.
Aku kembali meneruskan mengutarakan unek-unek yang selama ini ku pendam. "G' gampang mas buat ngabaiin omongan orang kalo denger'e lebih sekali. Karena pikiran-pikiran buruk iku aku jadi stres, seharian perutku sakit. Terus bertambah sakit sampek kamu dateng. Saat lihat kamu aku pingin banget meluk kamu buat bersandar, aku pingin bercerita, aku pingin kamu ngehibur aku meski cuma kata-kata seperti 'aku disini buat kamu'. Pas kamu nolak aku sebenere aku cuma pingin nyium kamu ae, g' lebih. Aku cuma kebawa perasaan karena aku nyaman ono ndek pelukanmu. Tapi pas aku lihat reaksie kamu mas, aku jadi berpikir lek kamu emang jijik ke aku lan bayiku. Pikiran buruk iku langsung nguasai kepalaku. Aku tahu kalo stres karena pikiran-pikiran iku bakal buat bayiku dalam bahaya. Tapi aku malah biarin stres itu meluap dan g' iso nahan emosiku. Aku emang bener-bener bukan calon ibu seng baik. Aku g' iso jaga bayiku. Haruse aku iso nahan emosiku. Aku bener-bener malu, marah, kecewa, nyesel karo diriku dewe.", sesalku. Tangisku benar-benar tak terbendunv.
"Astaghfirullah, Tan aku g' ono maksud buat kamu terluka. Maafin aku Tan, aku g' ngiro kamu bakal berpikir sampek kayak gini. Harus aku jelasin dari awal alasan aku g' bisa nyentuh kamu. Astaghfirullah, aku bener-bener bersalah sama kamu Tan.". Mas Zaky terlihat sangat menyesal dan bersalah, berulang kali dia beristighfar sambil mengusap wajah atau rambutnya.
"Maafin aku Tan, aku g' berpikir soal perasaanmu. Haruse dari awal aku jelasin ke kamu. Aku g' pernah jijik atau apapun ke kamu karo bayi neng perutmu. Kalo aku pandang kamu koyok gitu ngapain aku nikahin kamu? Aku bukan g' mau nyentuh kamu tapi aku emang g' boleh."
"G' boleh? Kenapa? Sama siapa?", aku mengernyit bingung.
"Sama Allah. Dalam agama kita, kasus kayak kita gini g' boleh hubungan disek sampek bayi kamu lahir. Jadi gini lo Tan simpel'e, kamu seng lagi hamil anak pria lain g' boleh di sentuh sama aku, meski aku wes suami sah kamu. Bahkan ono beberapa mahzab seng berpendapat kalo wanita hamil di luar nikah g' boleh dinikahi sebelum anak'e lahir. Lain kali kita ngaji bareng yo, aku bakal jelasin lebih rinci ke kamu.", kata Mas Zaky sambil mengelus kepalaku lembut. Aku hanya diam. Karena merasa tak ada tanggapan dariku Mas Zaky melanjutkan, "Iku sebab'e aku g' iso nyentuh kamu. Aku selalu ngehindar kalo kita terlalu deket. Kamu g' tahu gimana aku susah payah nahan hasrat iki, aku laki-laki normal Tan, tetep nduwe hasrat. Opo maneh kalo kamu deket-deket terus nempel-nempel. Aku sampek bela-belain puasa, tidur di mushola, tidur di sofa depan tv. Aku g' ono maksud buat abaiin kamu. Aku minta maaf yo Tan.", sesal Mas Zaky. Tangannya membelai lembut pipiku.
Aku tak tahu harus bereaksi seperti apa. Pengakuannya membuatku merasa bersalah karena berpikiran buruk padanya. Tapi juga ada rasa hangat di hatiku mendengar perjuangannya menahan diri. Tapi sebenarnya bagaimana perasaan Mas Zaky padaku ya? Selama ini dia tidak pernah bilang apa yang dia rasakan terhadapku. Dia selalu hanya bilang kalau dia peduli dan tulus padaku. Aku jadi ragu untuk melangkah lebih jauh ke arahnya.
"Aku yo minta maaf mas, karena punya pikiran buruk nang kamu.", kataku dengan tulus. "Kita pulang ae yuk, untung g' ono orang lewat dari tadi. Iso-iso kita dikira lagi main drama.", imbuhku dengan bercanda.
"Mau mampir ke ibuk?", tawar Mas Zaky.
Ku jawab ajakannya dengan gelengan. Aku merasa sangat capek dan perlu memproses semua informasi baru ini. Dan aku juga harus menata hati dan pikiranku. Saat sampai di rumah ternyata sesuatu yang sangat tak terduga sedang menanti di teras. Seseorang yang tak ingin kutemui lagi di sisa hidupku.
__ADS_1
"Mas Damar?!".