
Tak terasa waktu berlalu sangat cepat. Sudah hampir dua bulan Mas Damar menghilang. Begitu juga dengan masa ta'arufku, hari ini adalah hari terakhir. Rencananya aku akan bertemu Mas Zaky seusai dari dokter untuk periksa kandungan. Aku meminta Lani untuk menemaniku tapi dia tidak bisa karena harus pulang ke kampung untuk melayat saudaranya yang baru meninggal.
Jarum jam sudah berada di angka delapan. Aku juga sudah siap untuk pergi. Dress selutut warna putih dengan motif polkadot hitam kecil-kecil berbahan sifon tanpa lengan membalut tubuh mungilku. Belum terlihat banyak perubahan pada perutku. Aku masih bisa mengenakan pakaianku tanpa kesulitan. Ku ambil kardigan warna putih dan tas kecil di ranjang, siap berangkat.
Sampai di ruang tamu aku mendengar suara orang berbincang dari halaman depan. Ternyata ada Mas Zaky dan Mas Yayan sedang ngobrol di kursi taman. Aku berjelan mendekati mereka.
"Kok Mas Zaky wes neng kene? Kita janjian rodok awanan kan?"(kok Mas Zaky sudah disini? Kita janjian agak siang kan?), tanyaku saat tiba di depan mereka.
"Assalamualaikum Tan. Sama umi di suruh nganter kue gawe tante. Sekalian lah nganter kamu juga. Ayok."
"Lek disawang-sawang kowe kabeh iki wes cocok loh, wes ndang diresmino kono."(kalau di lihat-lihat kalian ini sudah cocok loh, sudah cepat diresmikan sana), ledek Mas Yayan sambil berdiri. Aku malas meladeninya. Dia tahu apa yang aku inginkan. Yang jelas bukan oernikahan ini.
"Wes ah, yok mas kita berangkat.", ajakku dan langsung berjalan tanpa menunggu jawaban.
"Diiih, sensinya yang lagi hamil mudaaa.", terdengar lantunan ledekan Mas Yayan yang semakin girang.
Saat kami sudah di mobil, suasana agak canggung dari biasanya saat kami bertemu. Mungkin karena mood ku kurang bagus karena ledekan Mas Yayan tadi atau apa, aku tak tahu.
"Klinik seng endi, Tan?"(klinik yang mana, Tan?), suara Mas Zaky memecah keheningan.
"Ituloh mas, klinik bersama seng di daerah Tongan."
"Arep nggolek sarapan disek?"(mau cari sarapan dulu?)
"Mas zaky dorong sarapan? Aku se wes mau."(Mas Zaky belum sarapan? Aku sih sudah tadi.)
"Aku yo wes mau.", katanya nyengir. Melihat senyumnya membuat suasana canggung menghilang. Jujur saja, aku mulai merasa nyaman saat bersamanya. Sayang mungkin kami tidak berjodoh. Hatiku tetap berada di sisi Mas Damar. Aku melakukan ta'aruf ini hanya sebagai kewajiban pada orang tuaku.
"Mas Zaky gak po-po nganterin aku prikso?", tanya ku kemudian.
__ADS_1
"Gak po-po lah, emang kenapa?, kamu terganggu? Aku iso nunggu ndek luar kok.", jawabnya mantab. Salah satu yang membuatku kagum pada sosoknya adalah dia tidak pernah ragu-ragu.
Setibanya di klinik, ternyata tidak perlu mengantri lama. Mungkin karena masih pagi, hanya ada beberapa pasien di depan ruang dokter kandungan. Terlihat sepasang suami istri yang umurnya tak jauh dari kami. Sepertinya mereka tinggal menunggu hari kelahiran saja di lihat dari besarnya perut sang istri. Melihat mereka bercengkrama manja tentu membuat iri siapa saja yang melihat. Tak terkecuali aku. Tanpa sadar sudut bibirku sudah tertarik kesamping, membentuk senyuman.
Hasil dari pemeriksaan sementara tak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya harus lebih banyak istirahat dan tidak terlalu banyak pikiran. Tapi bagaimana mungkin?!! Jelas-jelas banyak masalah yang harus segera diselesaikan. Tapi setidaknya janinku sehat dan baik-baik saja.
"Saiki arep nandi?"(sekarang mau kemana?), tanyaku saat kami sudah di jalan.
"Rencana sih aku mau mampir nang BDI seng tak ikuti mau ambil kitab ma materi, sekalian kenalin kamu ke temen-temen aku disana."
"BDI iku opo, mas?"
"Badan dakwah islam. Kamu gak keberatan kan?"
"Gak masalah."
Hari ini adalah pertemuan ta'aruf kami yang terakhir. Enam kali kami bertemu. Dan tak pernah sekalipun aku duduk di jok depan. Bukannya aku ingin sih, haha. Kami selalu pergi ke tempat yang ramai, banyak orang. Seperti mall, alun-alun, atau pernah sekali seharian kami hanya ada di tempat konveksi miliknya. Dia beralasan agar tidak sampai menimbulkan fitnah. Aku tidak pernah keberatan dengan itu. Sikapnya juga selalu baik dan manis, meskipun tetap menjaga jarak. Kami tidak pernah bersentuhan sekalipun. Skip hari dimana kami tabrakan, itu kan tidak disengaja. Bisa dikatakan aku tidak pernah berinisiatif mengajaknya ke suatu tempat. Terlihat sekali aku melakukan ini sebatas untuk menghormati keputusannya.
Kami sampai di sebuah gedung yang satu kompleks dengan masjid besar. Terlihat banyak orang di gedung tersebut. Melihat mereka aku jadi ragu untuk turun. Ini pertama kali aku tidak percaya diri untuk bertemu orang-orang. Bukan, bukan karena aku orangnya suka minder tapi karena sepertinya aku tidak cocok berada diantara orang-orang ini.
"Ayo mudun."(ayo turun), suara Mas Zaky membuatku terperanjat.
"Klo g' mudun, g' po-po kan?", jawabku enggan.
"G' po-po, yuk turun. Mereka g' bakal nyinyir kok."
Aku masih ragu. Tapi melihat senyum Mas Zaky dan tatapan berharapnya membuatku turun juga pada akhirnya. Saat kami berjalan mendekat mulai ada satu dua orang yang memperhatikan. Dan pada akhirnya hampir semua orang menoleh walau hanya sebentar atau tetang-terangan terus memperhatikan. Dan aku tahu apa penyebabnya. Tentu saja pemandangan yang tidak balance ini, aku dan Mas Zaky pastinya. Di tempat yang semua orang prianya memakai celana bahan dan baju koko, bahkan ada yang pakai thop atau jas beserta peci, sedangkan yang perempuan semua mengenakan gamis dan berhijab panjang kali lebar jalanlah aku yang pakaiannya jelas paling terbuka. Untung kardiganku sudah ku pakai usai keluar dari klinik tadi.
Ku lihat Mas Zaky santai saja, tidak terpengaruh sama sekali. Huuuuf, ya sudahlah, sudah terlanjur jadi perhatian juga. Kalau mau balik ke mobil juga percuma. Kami tiba di depan sebuah ruangan. Bisa kulihat ada beberapa orang di dalam.
__ADS_1
"Assalamualaikum akhi, ukhti.", sapa Mas Zaky di depan pintu.
"Waalaikumussalam warohmatullah, akhi.", mereka menjawab hampir bersamaan dengan senyum mengembang.
Namun senyum itu segera hilang saat pandangan mereka menyadari keberadaanku dibalik punggung Mas Zaky. Tak jauh beda dengan orang-orang di luar tadi. Terlihat jelas raut kaget dan penasaran di wajah mereka. Menyadari arah pandangan mereka, Mas Zaky melangkah ke samping agar aku terlihat lebih jelas dan mulai memperkenalkan aku.
"Akhi, ukhti, perkenalkan ini Tania, dia gadis yang sedang masa ta'aruf denganku.", kata Mas Zaky dengan senyum manis yang lebar
Sontak itu membuat mereka lebih kaget lagi. Aku hanya tersenyum kaku membalas pandangan mereka. Wah..., aku seperti melihat pameran berbagai macam ekspresi wajah di ruangan ini. Lucu juga melihat reaksi mereka. "Hai.. halo, saya Tania.", terdengar jelas kecanggungan dalam suara ku.
Setelah itu Mas Zaky meminta teman- perempuannya untuk menemani ku, sedangkan dia ada urusan dengan beberapa yeman prianya. Beberapa dari mereka mulai nmengajakku ngobrol dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan. Ternyata mereka ramah-ramah dan juga tidak kepo urusan orang. Pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan juga bersifat umum dan tidak mengarah ke privasi.
Hanya saja saat urusan Mas Zaky selesai dan kami akan pergi, tidak sengaja aku mendengar beberapa perempuan sedang bicara dengan suara pelan setengah berbisik.
"Iku g' salah Mas Zaky cari' cewek buat ta'aruf."
"Emang nek opo, Ra?"
"Yo liat ae, masak pakeane gitu. G' cocoklah buat Mas Zaky."
"Belum tentu yang pakaianne g' sesuai syariat kelakuane jelek Ra, mungkin sifat'e baek. Makane Mas Zaky mau ta'aruf sama dia."
"Wes Ra, g' oleh ghibah tau."
"Kalian ini yo!, sopo seng ghibahe se. Kita tuh disuruh cari jodoh yang baik-baik agar memberikan ketenangan dalam hati dan hidup kita. Lek buat ngejaga diri kita ae g' bisa, gimana mau jaga kehormatan suami. Liaten, roknya pendek ngliatin kakie, g' pake' hijab ngliatin rambute. Gimana mo dibilang sifat'e baik klo berpakaian ae g' baik. Duh Mas Zaky ini keblinger po piye yo, ku kok kasian.", pemilik suara ini seakan tak ambil napas saat bicara.
Hhmm... Sakit juga waktu dengar kalau aku tidak cukup baik untuk Mas Zaky. Ingin rasanya aku datangi perempuan tersebut karena membicarakan aku seolah dia tahu bagaimana sifatku. Aku pikir kalau yang pakaiannya tertutup dan hijabnya sudah melebihi lutut tidak suka berghibah ternyata sama saja dengan ibu-ibu kompleks yang lagi arisan.
"Ra, g' baik tau' ngomongin orang kayak gitu. Klo dia denger pasti sa...", sebelem suara ini mslsngkapi kalimatnya, suara yang dalam dan tegas msngiterupsinya.
__ADS_1
"Ehhem.., afwan ukhti. Bukane g' boleh yo ngeghibah dan nyakiti hati sesama. Udah mulai tercium lo bau bangkai saudara kalian yang barusan kalian makan.", suara Mas Zaky terdengar sangat dingin dan mapmu membuatku merinding. Aku jadi penasaran bagaimana raut wajah perempuan yang menggunjing tadi. Karena sekarang tak terdengar ada suara sedikitpun.
Setelah itu Mas Zaky tak henti-hentinya meminta maaf. Mulai dari keluar gedung itu, di dalam mobil, bahkan sekarang saat kami menunggu makan siang yang kami pesan tiba. Jujur saja aku sedikit terguncang mendengar kata-kata perempuan tadi. Tak pernah terpikirkan oleh ku akan terpengaruh kata-kata seperti itu dan berhubungan dengan Mas Zaky. Aku tak mau ambil pusing. Toh setelah ini kami tidak akan bertemu lagi. Tapi aku ingin mengakhiri ta'aruf ingin dengan berkesan. Yah setidaknya memang berkesan buatku. Haha.