
Hari ini aku ada janji bertemu teman Mas Damar. Ada kabar tentang Mas Damar katanya. Aku sengaja mengajak Lani untuk menemaniku ke rumah orang tersebut. Perasaanku tak karuhan, aku tidak sabar ingin tahu kabar apa itu. Apa Mas Damar sudah ketemu? Tapi kalau sudah ketemu, pastinya mama Sekar atau Lita sudah memberitahuku.
Untungnya kami sudah tiba di depan rumah Mas Dito, teman Mas Damar. Aku bergegas turun dari taksi online yang kami tumpangi.
"Sabar kali Tan, g' bakal kabur juga orange.", ledek Lani di belakangku.
Sebelum aku mengetuk, pintu sudah terbuka menampilkan gadis cilik nan imut dengan rambut ikalnya. "O..oh.. tante siapa?", tanya anak kecil itu. Aku perkirakan umurnya antara 3-4 tahun. Dan aku yakin ini anak Mas Dito, aku pernah melihat foto meteka di fb.
"Ayah Dito ada, sayang?", tanyaku sambil berjongkok menyejajarkan pandangan kami. Sebelum anak itu menjawab, suara wanita dewasa terdengar dari dalam rumah.
"Ada siapa Aish?"
"Ada tante-tante nyari abhi, ummi.", jawab sang gadis menggemaskan. Tak berselang lama si pemilik suara sudah ada di belakang gadis cilik itu.
"Oh, kamu Tania pacare Damarkan? Sini masuk, Mas Dito wes nunggu di dalam.", sapa ramah dan menyilahkan kami masuk. Itu istri Mas Dito, Mbak Intan. Kami pernah bertemu beberapa kali.
"Makasih mbak, maaf wes ngrepotin.", kataku sambil masuk ke arah ruang tamu.
"Mbak'e cantik yo, tapi jilbab'e gueede banget. Wes koyok jas hujan.", kata Lani sambil nyengir saat mbak Intan berlalu untuk memanggil Mas Dito.
"Husss...kowe iki yo, julid banget sih.", hmm.. sejak kapan ya Mbak Intan jadi pakai hijab? Terakhir ketemu masih sama selera pakaiannya denganku. Tapi itu sudah setahun yang lalu sih.
"Assalamualaikum Tania.", salam Mas Dito saat sudah ada di ruang tamu.
"Ah hai mas, lama g' ketemu. Ini Lani temen aku.", jawabku sambil memperkenalkan Lani.
Setelah berbasa-basi sebentar aku langsung menanyakan perihal apa yang membuat Mas Dito ingin kami bertemu.
"Dadi ngene Tan, mau bengi terditeksi sinyal teko hpne Damar. Daerahe lumayan adoh tekan kene. Rencanae dino iki aku arep kroscek nang kordinat sinyal hp iki mau kediteksi."(jadi begini Tan, tadi malam terditeksi sinyal dari ponsel Damar. Daerahnya lumayan jauh dari sini. Rencananya hari ini aku mau kroscek ke kordinat sinyal ponsel itu terditeksi), jelas Mas Dito.
"Aku ikut mas!!", aku reflek mengatakan itu dengan nada agak keras. Mendengar ini seperti ada harapan bahwa aku bisa bertemu Mas Damar lagi. Mungkin selama ini Mas Damar ada dalam keadaan yang sulit dan tidak bisa menghubungi kami semua.
__ADS_1
"Eh Tan, umak g' oleh capek loh.", kata Lani pelan sambil menyenggol lenganku. Ah, iya aku lupa. Tapi aku yakin dedek bayi juga ingin bertemu ayahnya. Aku yakin dia kuat untuk mencari ayahnya hari ini.
"G' po-po Lan, aku kuat kok."
"Aku g' keberatan sampeyan melok, tapi g' jamin ono hasil lo yo. Ya pokok'e optimis dulu ae.", kata Mas Dito menanggapi antusiasme ku.
Setengah jam berikutnya kami sudah berada di jalan. Kami menuju sebuah desa di daerah kota Batu. Tapi saat memasuki wilayah Dinoyo, mobil kami mengalami mati mesin. Berkali-kali Mas Dito mencoba menyalakan dan memeriksa mesin mobil tapi tidak ada hasilnya. Aku dan Lani memutuskan turun dan menunggu di luar. Ini benar-benar membuatku merana. Aku sudah tak sabar ingin bertemu Mas Damar. Aku takut sesuatu yang sedang menunggu disana akan hilang jika kami tidak segera datang.
Di menit ketiga puluh mobil kami mogok, sebuah mobil sedan hitam mulus mengkilap berhenti di depan mobil kami. Aku tahu itu mobil siapa, dan benar saja sang empunya turun dan menghampiri kami. Mas Zaky.
"Assalamualakum Tan, kenapa nih?.", tanya Mas Zaky saat tiba di sampingku.
Setelah menjelaskan situasi kami. Mas Zaky memberi saran untuk ikut bersama mobilnya. Dia bilang sedang senggang dan bisa mengantar kami. Akhirnya setelah berbagai macam pertimbangan kami bertiga setuju.
"Oh ya, Lan, Mas Dito, kenalin iki Mas Zaky.", kenalku kepada mereka.
"Assalamualaikum Mas, Mbak.",salam Mas Zaky.
Setelah itu, mobil diisi dengan obrolan antara Mas Dito dan Mas Zaky yang aku sama sekali tidak paham. Sepertinya ke arah religi. Sampai memasuki wilayah kota Batu, Mas Zaky bertanya perihal tujuan kami. "Nih arep nang Batu lagi ada acara?, di daerah mana?"
"Di desa ***** akhi, arep nyamperin Damar.", terang Mas Dito.
Bisa ku lihat ekspresi Mas Zaky berubah. Walau hanya sekilas tapi aku melihatnya. Ada raut kaget dan... entahlah aku tidak tahu. Dia hanya diam seolah menyimak Mas Dito. Setelah itu Mas Dito kembali menceritakan perihal sinyal ponsel Mas Damar.
Pukul sebelas kami tiba di alamat yang kami tuju. Sebuah rumah kecil dengan pekarangan sekitar dua meter yang di penuhi bunga dan sayuran. Rumahnya tidak lebih besar dari dapur di rumahku. Tapi terlihat asri dan nyaman. Mas Dito mengetuk pintu rumah itu dan mengucap salam. Tak lama kemudian terlihat dari kaca pintu seorang wanita tua berjalan dari dalam.
"Waalaikumussalam. Adek-adek iki sopo lan ono keperluan opo?"(adek-adek ini siapa dan ada keperluan apa?)
Mas Dito menjawab dan menjelaskan perihal tujuan kami kemari. Ibu-ibu itu tampak terkejut dan takut. Mungkin salah mengerti dengan ucapan Mas Dito. Terlihat dari nada bicaranya yang berubah. Suaranya tak selembut tadi saat menyapa kami.
"Aku g' ngerti opo seng mbok omongno. Ganok wong seng mbok maksud neng kene!!"(aku tidak mengerti apa yang kamu katakan. Tidak ada orang yang kamu maksud di sini!!), Hardik ibu itu ke Mas Dito. Tatapan matanya marah, mungkin merasa di tuduh menyembunyikan Mas Damar. Mungkin karena mendengar keributan, datanglah seorang remaja laki-laki dari dalam rumah. Mungkin usianya sekitar enam belas tahun. Dia berjalan tergesa-gesa ke arah sang ibu.
__ADS_1
"Ono opo se buk, kok rame-rame. wong-wong iki sopo?", tanya sang anak.
Sang ibu menjelaskan ke anaknya perihal kedatangan kami kemari, begitu pula Mas Dito. Sepertinya anaknya lebih tenang dalam menanggapi. "Maaf mas, mbak. g' ada yang seperti itu di sini. Di daerah sini yo g' ada kejadian orang sembunyi kayak yang mas katakan."
Hatiku hancur untuk yang kesekian kali. Kakiku seolah kehilangan tulang yang menopangnya. Aku berpegangan pada Lani untuk menyangga tubuhku. Di mana Mas Damar sebenarnya. Aku terlalu optimis akan menemukan dia di sini. Dan yang aku dapat adalah rasa sakit yang lain. Aku sempat mendengar suara Mas Dito yang sekali lagi bertanya tentang Mas Damar kepada ibu dan anak itu, Juga suara Mas Zaky dan Lani yang meneriakkan namaku, "Tania!", sebelum suaranya semakin jauh dan pelan menyisakan kegelapan.
Kepalaku terasa amat pening. Sejak kapan aku tertidur? Perlahan mulai ku buka mataku. "Nghh", aku mengerang. Kepalaku sakit. Aku berusaha duduk dan melihat sekeliling. Ternyata masih di rumah yang tadi. Jam di dinding menunjukkan pukul setengah dua. Itu berarti aku sudah tertidur selama hampir dua jam. Ku lihat Mas Dito dan Mas Zaky sedang berbicara dengan bocah laki-laki tadi di teras rumah. Tak tampak Lani. Kemana anak itu pergi? Belum lama aku memikirkannya, Lani melangkah dari arah dalam ruang tamu ini.
"Wes tangi?"(sudah bangun?), tanyanya dan menyerahkan segelas teh hangat ke tanganku.
Ku minum hingga tandas teh tersebut. Aku terkejut karena ternyata aku sangat haus. Aku menoleh ke arah tiga orang yang sepertinya sedang mengobrol asyik dengan diselingi senyum dan tawa. Aku mengernyit melihat pemandangan itu. "Aku kok iso turu di sini? Sak ilengku mau Mas Dito sek nakokno tentang Mas Damar nang bocah kui."(aku kok bisa tidur di sini? Seingatku tadi Mas Dito masih bertanya tentang Mas Damar ke bocah itu?, tanyaku pada Lani.
"Kamu g' inget?, kamu kan pingsan tadi.", jawab Lani santai mengikuti arah pandangku. Sebelum aku menjawab dia kembali berujar. "Aku agak kaget tadi. Ternyata Mas Zaky tanggap banget yo. Dia langsung bopong kamu ke sini. Terus dia kayak tenaga medis gitu, tau harus berbuat apa untuk menangani kamu. Kelihatan jelas dia khawatir banget ke kamu."
Mendengar perkataan Lani membuatku sedikit merasa bersalah karena melibatkan dia untuk mencari Mas Damar ke sini. Bagaimanapun posisi mereka adalah saingan. Dia berbesar hati bersedia mengantarku ke sini meski bukan aku yang meminta. Tapi pemandangan ganjil di sana membuatku terusik. Mereka terlihat dekat mengobrol bersama. Sangat berbeda dengan suasana sebelum aku pingsan. Tidak tahan melihatnya, akhirnya aku bangkit menghampiri mereka ke teras. Sebelum sempat menyapa mereka, pandanganku terkunci pada benda canggih kotak pipih berwarna hitam yang sedang di genggam bocah tadi. "Itukan hp Mas Damar? Kok ndek kamu?!", tanyaku sambil langsung merebut ponsel yang di pegangnya.
Kedatangan dan perkataanku yang tiba-tiba membuat semua orang terkejut dan terperanjat. Terutama bocah itu. Kurasakan Lani memelukku dari belakang. "Tenang Tan, kita bisa jelasin kok.", katanya menenangkan dan menuntunku duduk di kursi kayu panjang tanpa sandaran. Pandanganku masih terarah ke bocah laki-laki itu. Akhirnya Mas Dito yang bercerita.
"Gini loh Tan ternyata nih anak dapet ponsel Damar dari beli. Dia dapet murah dari kakak temen'e karena kata'e ponsel dapet nemu."
Sebelum Mas Dito selesai aku langsung memotongnya. "Mas Dito percaya ae gitu? Klo ternyata ada apa-apa sama Mas Damar piye?", kataku bersungut-sungut. Segela macam sekenario buruk berputar di otakku. Bahkan sampai terlintas mungkin anak ini menyelakai Mas Damar untuk menjarah. Belum sempat mengutarakan pikiranku suara Mas Zaky menenangkanku. "Tania tenang dulu yo, g' baik suudzon sama orang. Di dengerin aja dulu. ok?" Aku menghela napas perlahan beberapa kali dan siap mendengarkan.
"Tadi, Aldi ini udah telepon kakan temen'e yang jual ponsel Damar. Intinya dia memang mungut nih ponsel di semak-semak pinggir jalan. Dia bahkan mau ketemuan kalo kita masih g' percaya. Masalahnya Tan, ternyata kakak sama temennya Aldi ini bukan orang sini. Jauh Tan daerah Malang selatan.", terang Mas Dito.
Apa ini? Kenapa ruwet kayak gini? Udah jauh-jauh ke Batu, ternyata klue selanjutanya harus balik lagi ke Malang. Aku berusaha tenang. Setidaknya mungkin masih ada harapan kalau kami pergi ke tempat yang di maksud. "Kita ke sana mas.!", kata ku sambil berdiri.
"G' bisa Tan. Kamu g' oleh capek, aku langsung anter kamu pulang.", kata Mas Zaky tenang namun tegas. Jelas tak ingin dibantah.
"Iya Tan, kamu harus istirahat. Lagian aku yo harus masuk sift sore.", imbuh Lani
Seolah mengiyakan, Mas Dito juga tidak bisa kalau harus pergi ke daerah itu sekarang juga. Aku hanya bisa pasrah dan menunggu besok untuk kembali mencari Mas Damar. Kami sepakat untuk segera pulang. Setelah berbasa-basi sejenak, kami pamit dan langsung meluncur kembali ke Malang.
__ADS_1
Segala macam rasa berkecamuk di hatiku. Yang paling besar adalah kecewa. Aku benar-benar berharap akan bertemu lagi dengan Mas Damar. Rasa rindu ini benar-benar menyiksa. Tak peduli apa yang terjadi padanya selama ini, aku hanya ingin bertemu dengannya dan memeluknya. Hatiku perlahan mulai kosong seiring menghilangnya sosokmu. Ku harap kau segera kembali untuk mengisinya lagi.