
Sebulan telah berlalu sejak keguguran yang aku alami. Sekarang aku tinggal di rumah ayah untuk sementara. Semua anggota keluarga sepakat bahwa aku sebaiknya pulang ke rumah keluarga Wibosono untuk pemulihan. Tentu saja Mas Zaky ikut denganku. Mereka bilang mungkin aku bisa lebih cepat pulih karena berada di lingkungan yang tak asing dan ada ibuk yang merawat dan menemaniku nantinya. Itu sih menurut mereka, kalau menurutku aku lebih memilih di rumahku sendiri karena saat ini yang ku inginkan hanyalah menyendiri tanpa ada gangguan perhatian berlebihan dari orang lain. Aku jadi merasa sesak jika banyak orang ada di sekitar ku.
Hanya seminggu aku dirawat di rumah sakit, dan diperbolehkan pulang. Kata dokter kondisiku telah pulih dan tak ada masalah dengan rahimku. Aku akan bisa hamil lagi jika tiba saatnya. Waktu di rumah sakit seluruh keluarga bergantian menungguiku termasuk Hafizah. Sikapnya berubah padaku, dia jadi lembut dan baik. Entah karena merasa bersalah atau karena merasa lega karena bayi yang dia anggap menjijikan sudah tak lagi tinggal di perutku. Yang jelas memikirkan apa alasannya saja sudah membuatku mual berada satu ruangan dengannya. Mas Zaky juga tidak pernah meninggalkanku. Dia sangat perhatian, sampai membuatku muak dan jengah. Semua yang dilakukannya terlihat berlebihan di mataku atau mungkin hanya karena aku ingin mencari-cari kesalahannya saja. Entahlah yang jelas aku merasa terganggu.
Jika bicara bagaimana perasaanku sekarang, tentunya aku merasa tidak senang, hampa, amat sangat kehilangan, bersalah, tak berguna, tak bertanggung jawab. Aku merasa tidak senang dan amat sangat kehilangan dan rasa bersalah yang sangat besar karena bayi yang selama ini ku perjuangkan tidak dapat aku jaga dengan benar, tidak dapat ku pertahankan. Aku adalah calon ibu yang tak berguna dan tak bertanggung jawab. Harusnya aku hanya memikirkan kesehatan dan keselamatan bayiku, tidak malah memikirkan hal-hal tidak berguna seperti ejekan dan hinaan dari orang lain. Tidak peduli mau orang lain memandangku jijik harusnya aku abaikan saja demi keselamatan bayiku, meski orang itu adalah orang yang mengaku sebagai suamiku. Sekarang semua sudah terlambat. Aku hanya bisa menebusnya dengan penyesalan.
'Maafkan ibuk nak, harusnya ibuk lebih bisa menahan diri. Ibuk terlalu egois, lebih memikirkan perasaan ibuk sendiri. Ini adalah hukuman ibuk karena tidak menjagamu dengan benar, makanya tuhan memutuskan untuk mengambilmu kembali dari sisi ibuk. Bahkan ibuk belum tahu harus memanggilmu putra atau putri ibuk.', ucapku dalam hati. Tak hanya sekali tapi berkali-kali kata-kata itu terus menerus ku ucap dalam hati bak sebuah mantra sebagai tanda penyesalan yang takkan pernah hilang seumur hidupku.
Aku sadar sejak tahu bahwa bayiku tak selamat sikapku ke semua orang mulai berubah. Aku lebih sering sendiri dan merenung. Lebih nyaman jika tidak ada yang mengajak ku bicara, karena saat mereka berbicara padaku jawabanku selalu ketus atau aku akan sengaja mengabaikan dan diam saja tak menjawab. Aku tidak suka ketika mereka terlalu perhatian seperti aku orang yang tak berdaya saja. Yang sakit itu hatiku bukan fisikku, tentu saja aku sangat bisa menyiapkan keperluan sehari-hari sendiri. Mereka memperlakukanku seolah aku orang yang mengidap penyakit parah dan tak bisa bangun dari tidur yang apa-apa harus di siapkan dan di bantu, sikap mereka justru membuatku terluka.
Sebulan ini aku juga terus mengabaikan Mas Zaky. Jika dia menemuiku saat aku sedang merenung di taman atau teras samping aku lebih memilih diam tak merespon semua yang dia katakan dan ceritakan, atau lebih buruknya aku akan langsung pergi tanpa menunggu dia mulai membuka mulut. Atau aku akan lebih memilih tidur di kamar tamu jika Mas Zaky lebih dulu tidur atau berada di kamar kami. Entah kenapa aku merasa marah pada Mas Zaky, aku merasa dia juga salah satu penyebab aku menjadi stres dan akhirnya keguguran. Sikap penolakannya padaku sebelumnya adalah satu diantara yang lain penyebab stres yang memicu keguguranku. Itulah sebabnya aku menjauh darinya. Aku enggan dia menyentuhku walau sekedar memegang tanganku. Dia yang lebih dulu menolak ku dan bayiku untuk dekat dengannya, jadi aku tak mau dia mendekatiku setelah sekarang bayiku tidak ada.
Selama ini aku sudah sering membayangkan bagaimana nantinya aku akan menjadi ibu saat bayiku lahir. Aku berencana memberinya ASI eksklusif. Aku akan berusaha menjadi ibu yang paling baik sedunia. Akan menjadikannya anak yang paling bahagia. Bahkan aku sudah menyiapkan dua nama, satu nama untuk bayi laki-laki dan satu untuk bayi perempuan. Aku juga sudah memikirkan tentang pendidikannya kelak. Mengingat kembali rencana-rencana yang telah kubuat untuk bayiku membuat air mataku kembali mengalir. Bahkan aku tak tahu bagaimana bentuknya saat dia keluar dari rahimku. Sudah hampir empat bulan usianya dalam kandungan, mungkin sudah sebesar telapak tangan.
__ADS_1
Tangisku semakin pecah tatkala bayangan darah yang mengalir di pahaku hadir tanpa di minta. Dadaku terasa sesak setiap kali ingatan itu hadir. Udara seakan menjauh dari sekitarku, membuatku sulit bernapas. Jika sudah begini biasanya aku akan mengambil kantong kertas dan bernapas lewat mulut dari dalam kantong tersebut. Ini membantu, layaknya pertolongan darurat pada penderita asma. Belum ada yang tahu tentang kondisiku yang seperti ini. Mereka hanya tahu kalau aku jadi lebih murung dan suka merenung. Aku juga tak ingin mereka tahu dan lebih mengasihaniku lagi. Cukup dengan melihat mereka memandangiku dengan tatapan kasihan dan iba, aku tak mau lebih dari itu dan melaukai egoku lebih dalam lagi.
Aku juga menghindari ayah dan ibuk, ada rasa marah karena aku menikah demi mereka. Tapi karena pernikahan ini, aku jadi kehilangan bayiku. Tapi aku juga merasa malu pada ibuk yang selama ini mendukungku untuk terus mempertahankan dan memperjuangkan bayiku. Aku dengan tidak bertanggung jawabnya malah menempatkan bayiku dalam bahaya yang mengakibatkan bayiku gugur. Selama sebulan ini aku terus menghindar agar tidak sampai hanya berdua dengan ibuk dalam satu ruangan. Aku tak sanggup menatap matanya.
Kemarin aku sudah bicara pada ayah, ibuk dan Mas Zaky kalau hari ini aku mengajak Mas Zaky untuk kembali ke rumah kami sendiri. Dengan berbagai macam alasan akhirnya aku bisa meyakinkan mereka bahwa aku akan baik-baik saja dan mereka pun menyetujuinya. Aku tak mau merepoti ibuk lagi dengan sikapku yang seperti ini. Juga akan lebih leluasa bagiku untuk menyendiri jika aku berada di rumah kami sendiri. Koperku sudah siap begitu juga punya Mas Zaky. Kami sudah siap untuk berangkat tapi aku ragu apa aku bisa satu mobil berdua saja dengan Mas Zaky? Selama sebulan ini aku benar-benar tak tahan jika harus berdua saja dengannya di tempat yang sama lebih dari sepuluh menit. Tapi aku tak mungkin menunjukkannya di depan kedua orang tuaku.
Akhirnya aku putuskan untuk menahan diri hanya sampai kami tiba di rumah. Sepanjang perjalanan aku hanya memandang ke luar mobil dari cendela samping tempat aku duduk. Aku juga memilih duduk di jok belakang seperti saat kami masih ta'aruf dulu. Dan diam seribu bahasa pada setiap kata dan pertanyaan yang dia lontarkan. Aku tak tahu bagaimana perasaanku pada Mas Zaky sekarang. Saat melihat matanya yang menjadi sendu setiap kali aku mengabaikannya, hatiku terasa berdenyut dan seakan menyuruhku untuk menggapainya. Kadang ingatan di ruang IGD sesaat sebelum para medis datang berputar di kepala, bagaimana raut khawatir yang tercetak jelas di wajahnya. Matanya yang berkaca-kaca menyiratkan ketakutan, kata-katanya yang memberiku semangat terekam jelas di otakku. Saat-saat ingatan itu hadir ingin rasanya aku memeluknya. Tapi itu tak cukup kuat menghapus amarah dan prasangka buruk ku padanya. Selama ini aku juga tak pernah yakin tentang perasaanku padanya, apa yang aku rasakan tentangnya. Apa aku hanya menganggapnya seorang suami? Atau aku mulai merasa sayang padanya? Aku tidak tahu. Dan sekarang ketidak yakinan itu tertutup amarah yang tak terbendung.
Terlihat serpihan vas yang cukup besar masih tertancap menembus kain kemejanya. Panjangnya sekitar sembilan centi. Itu pasti sangat sakit. Air mataku kembali mengalir tanpa bisa ku cegah. Selama aku hidup tak pernah sedikitpun terbesit keinginan untuk menyakiti orang lain. Dan sekarang aku malah membuat suamiku sendiri terluka.
"Sst..sst..udah g' usah nangis lagi, aku g' po-po. Kayak'e luka'e g' dalam kok.", ujar Mas Zaky meringis menahan sakit.
Mana bisa aku percaya kalau itu tidak sakit, sedangkan dia terus menerus meringis. Aku berusaha menghentikan tangisku dan segera pergi mengambil kotak P3K. Aku juga mengambil gunting di laci dapur. Kami berpindah dengan duduk di sofa. Ku gunting dengan lebar lengan kemeja di sekitar lukanya agar aku bisa memiraksanya. Ku siramkan alkohol medis untuk menghilangkan darah agar aku bisa melihat lukanya lebih jelas. Ku gunakan pinset seadanya yang sudah ku sterilkan dengan alkohol untuk mencabut serpihan tersebut.
__ADS_1
"AAAHHH!!", tentu saja itu membuat Mas Zaky tanpa sengaja berteriak karena rasa sakit saat aku mencabut serpihannya.
Darah kembali mengalir dari luka yang sekarang menganga. Aku menekan lukanya dengan kain agar darahnya berhenti. Ku raih tangan kanannya dan memposisikan untuk menekan lukanya menggantikan tanganku.
"Terus tekan kayak gini mas, biar aku iket bagian atasnya untuk menghambat aliran darah'e.", kataku dengan nada bergetar.
Meski sering bersinggungan dengan darah dan luka tapi aku tak pernah ingin mempraktekkan pengalamanku kepada orang-orang yang aku sayangi dan aku peduli. Ini pertama kalinya aku merawat anggota keluargaku sendiri. Mas Zaky tak pernah berpaling dariku dari awal aku merawat lukanya hingga aku selesai memperbannya.
"Kamu harus ke dokter mas, iki harus dijahit. Aku cuma iso hentino pendarahan'e sementara.", kataku saat selesai merapikan kotak P3K.
Mas Zaky hanya diam tak menjawab tapi tetap tak mengalihkan pandangannya dariku. Saat aku hendak bangkit berdiri Mas Zaky menarikku ke arahnya dan menggunakan kedua tangannya untuk menahanku dalam pangkuannya. Jantungku berdegub sangat keras. Aku tak siap dengan sentuhannya. Ini membuatku sesak dan berkeringat dingin. Aku mencoba dengan keras untuk lepas dari rengkuhannya.
"Aku g' akan lepasin kamu! Seberapa gede usahamu buat ngejauh, segede iku pula usahaku buat bawa kamu kembali." ujar Mas Zaky sendu sambil mempererat pelukannya.
__ADS_1