
Pagi ini aku berencana membuat bubur ayam untuk sarapan. Sudah sebulan ini jadi rutinitas baru bagiku, memasak sararapan untuk Mas Zaky. Buburnya hampir matang dan aku sedang menyuir-nyuir ayam saat tiba-tiba perutku terasa sakit. Akhir-akhir ini perutku memang sering sekali terasa sakit. Padahal sudah dua minggu yang lalu aku mengambil cuti kerja karena kata dokter aku harus lebih banyak isirahat demi si kecil dalam perutku. Berjalan dengan berpegangan pada meja, aku meraih kursi dan duduk berharap sakitnya akan segera reda.
"Kenapa Tan?, sakit lagi?", tanya Mas Zaky sambil berjalan dari arah ruang tengah.
"Iya mas, cuma dikit kok.", jawabku sambil tersenyum.
Aku tak mau membuatnya khawatir. Belakangan ini dia jadi lebih perhatian karena perutku sering sakit. Itu jelas sekali mengganggu pekerjaannya. Tak hanya memantau ku dari telepon kadang dia harus bolak-balik antara rumah dan tempat konveksi, hanya untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja. Bukannya aku tak suka dengan perhatiannya, aku hanya khawatir. Dia pasti capek.
"Opo aku temenin kamu di rumah aja ya, aku pantau konveksi lewat telepon ae.", kata Mas Zaky sambil duduk di kursi sebelahku.
"G' usah mas, bentar lagi yo baikan."
Tak berselang lama tercium bau terbakar di seluruh dapur. Buburnya gosong. Karena perutku sakit aku jadi lupa dengan buburnya. Mas Zaky dengan sigap segera mematikan kompor dan melihat apa buburnya masih bisa dimakan. Tapi takdir berkata lain. Hari ini Mas Zaky harus mencari sarapan di luar.
"Kamu berangkat ae mas, cari sarapan di luar yo. Ntar aq biso DO kok."
"Kamu beneran g' po-po kalo aku kerja?", tanyanya. Terdengar jelas nada khawatir dalam suaranya.
Setelah ku yakinkan berkali-kali akhirnya Mas Zaky berangkat kerja pukul setengah sembilan. Dia lebih dulu membelikan sarapan untukku dan menemaniku makan, baru berangkat kemudian. Aku mulai terbiasa berada di sekitarnya. Mulai nyaman dengan segala perhatiannya. Mulai bergantung dengan segala sikapnya. Aku juga mulai terbiasa dengan ajakan sholatnya, meski kadang masih terlewat saat dia tak bersamaku.
__ADS_1
Sebulan ini kami banyak menghabiskan waktu bersama. Berusaha selalu makan berdua, selalu mengobrol sebelum mata terpejam, Jalan-jalan di akhir pekan, dan masih banyak yang lainnya. Aku mengakui bahwa kami sudah semakin dekat. Tapi yang membuatku aneh adalah setiap malam Mas Zaky selalu membuat banyak alasan agar kami tak tidur bersama. Mulai dari ingin sholat tahajud lebih dulu, masih harus memeriksa laporan-laporan dari konveksi dan masih banyak alasan lainnya. Padahal sejak malam itu aku pun tak pernah mendekatinya lagi. Aku masih merasa malu dan tersinggung atas penolakkannya. Ada berbagai macam prasangka yang timbul di hatiku, salah satunya adalah apakah dia enggan menyentuhku karena jijik terhadapku yang sedang mengandung anak pria lain? Kalau memang benar, apa alasan dia menikahiku?
Pemikiran ini terus berputar-putar tak hanya di otakku tapi juga sudah menyelimuti hatiku.
Belum lagi aku selalu terpikirkan sikap dari anggota keluarga Mas Zaky padaku. Ummi sudah lebih lembut dari awal kami menikah, hampir setiap hari beliau ke sini dengan membawakanku makanan. Beliau menemaniku mengobrol hingga sore atau sekedar mampir untuk menengok. Tapi saudara-saudari Mas Zaky tidak begitu, terutama kakak iparnya Mbak Zizah dan adiknya perempuannya Hafizah. Mereka terang-terangan menunjukkan ketidak sukaannya padaku. Bahkan mereka selalu berkata aku tak pantas untuk Mas Zaky karena aku kotor, aku telah memanfaatkan Mas Zaky atas perilaku kotor orang lain, atau aku telah membuat Mas Zaky jadi terlihat buruk di mata orang lain karena memilih istri sepertiku. Meski menurutku tak ada satupun dari kata-kata mereka yang benar, tetap saja semua itu membuatku hatiku sakit dan tak nyaman. Membuatku selalu murung.
Pukul setengah sebelas terdengar bunyi bel. Apa itu ibuk atau ummi? Tapi biasanya tidak pada pukul segini mereka datang. Aku segera membuka pintu tanpa melihat dulu dari cendela siapa yang datang. Dan itu sukses membuatku sangat terkejut melihat siapa yang ada di balik pintu. Tak hanya seorang tapi tiga orang. Namun pandanganku hanya tertuju pada sosok tinggi tegap yang aku kira takkan pernah ku temui lagi. Mas Damar, berdiri tegap tak bergeming. Pandangannya lurus padaku. Aku tak bisa mengartikan sorot di matanya. Tapi dapat kulihat kemarahan di mata kedua orang di belakangnya. Mama Sekar dan Lita. Melihat mereka benar-benar memberikan kejutan lebih dari saat hadirnya bayi ini. Perutku terasa melilit. Jantungku berdegub kenjang. Aku tak tahu apa yang harus aku katakan. Semua perasaan bercampur aduk mulai dari terkejut, lega karena dia kembali dan sehat, bersalah karena telah mengkhianati dan meninggalkannya dan perasaan-perasaan lainnya. Aku melangkah perlahan mendekekat ke arah mereka.
"M..Ma..Mas Damar? K..kamu...", aku tergagap tak sanggup menyelesaikan kalimatku.
"Kenapa? Kok ekspresimu gitu? G' kangen karo aku? Kamu g' mo peluk aku?", kata Mas Damar dengan nada datar dan dingin.
"Mas, kamu kemana ae selama iki? Aku cari-cari kamu. Aku khawatir sama kamu.", akhirnya kata-kataku bisa keluar dengan jelas.
"Cari aku? Kamu? Haha', yang kamu maksud khawatir tuh nikah ma orang lain gitu?.", katanya sarkas.
"Aku bisa jelasin mas, aku...".
"G' ono yang perlu di jelasin yo. Semuanya udah jelas. Mama sayang sama kamu udah kayak anak mama sendiri. Mama pikir kamu cinta sama Damar, tapi begitu Damar g' ada kamu malah langsung cari lain'e. Jangan-jangan selama ini kamu itu g' jauh beda sama cewek lain'e cuma ngincer harta keluaga kami. Mangkane begitu Damar g' ada kamu langsung cari mangsa lain."
__ADS_1
"G' ma, aku g' gitu aku...", aku tak bisa meneruskan kalimatku bahwa aku sangat mencintai Mas Damar. Karena sekarang aku adalah istri orang. Aku harus menjaga kehormatan suamiku.
"Kenapa? G' iso ngomong toh, karena semua bener kan? Wes lah mbak g' usah ngelak. Mbak tau g'?, kami bersukur iso lihat aslie mbak. Jadi keluarga kami g' bakal bisa mbak keruk hartae."
Aku tak pernah menyangka bahwa mereka yang selama ini dekat denganku, yang sudah seperti keluarga kedua bagiku. Yang pernah ku harapkan ada di masa depanku, bisa berpikiran buruk tentangku. Bisa menuduhku hal hina seperti itu. Belum sempat aku membantah semua penghinaan ini. Sebuah pukulan telak menghancurkan hatiku tak hanya menjadi serpihan tapi benar-benar menjadi serbuk.
"Aku lihat kamu lagi hamil, udah keliatan gitu perutmu. Jelas bukan seperti seng kita rencanakan kan. Jadi setelah tau gimana rasa'e dariku, kamu g' tahan buat nyoba' dengan yang lain? Hebat kamu yo, g' nyangka kamu koyok gini ke aku. KAMU TAHU G' AKU CINTA MATI KE KAMUUU!!!, iso yo kamu kek gini?."
Mas Damar terlihat amat terluka, matanya merah dan terlihat berkaca-kaca. Tapi kenapa dia sampai hati menuduhku tidur dengan lelaki lain? Kilatan-kilatan masa lalu kami seperti film yang di putar di otakku. Semua tawa, senyum, kasih, cinta, tangis terbakar habis menjadi abu oleh rasa sakit dan amarah. Tanpa sadar tanganku sudah terayun keras ke pipi Mas Damar.
"Brengsek kamu MAS!! Ini anak kamu! Kamu yang bikin janji tapi kamu malah ngilang. Aku jatuh bangun cari kamu. Kamu g' tahu opo ae yang aku alamin sama bayi ini. Kamu ninggalin aku buat berjuang sendiri, sekarang sak enak'e ae kamu nuduh aku macem-macem di belakang kamu!.", aku tak bisa membendungnya lagi. Aku tau dia terkejut dan marah atas pernikahanku, tapi berpikir anak ini anak orang lain sudah sangat keterlaluan.
"Omong kosong. Kalo emang itu anak Damar, kenapa kamu g' pernah kasih tau ke kami? Suamimu kurang kaya dari kami? Sampek-sampek kamu ngaku-ngaku ngandung anak'e Damar? Sampah banget yo kamu.", kata-kata mama Sekar lebih perih dari sebuah tamparan.
Pandangan menghina dari tiga orang di hadapanku ini terekam jelas dalam benakku. Enteh mengapa, sekarang aku malah merasa sangat bersyukur menikah dengan Mas Zaky. Ternyata tuhan sedang menunjukkan bahwa yang aku tinggalkan di belakang adalah memang sesuatu yang buruk dan tak patut diperjuangkan. Dengan tersenyum sinis aku kembalikan semua yang mereka ludahkan padaku.
"G' tante, suamiku jauh lebih kaya dari semua aset yang kalian punya. Kalian tahu kenapa? Karena aku yakin g' ono satu lelakipun di keluarga kalian seng mau nikah ma perempuan seng lagi hamil anak pria lain. Anak sendiri ae g' mo ngakuin! Tapi suamiku kaya hati. Dia menikahiku tanpa syarat. Dia ngerawat aku dan bayiMU. Dan aku sangat bersyukur kalian ke sini hari ini, karena kalian aku jadi tau kalo aku punya suami yang hebat dan tepat. Terima kasih karena kalian aku jadi tau kalo tindakanku benar telah membuang masa laluku tentang kalian. Ternyata kalian memang g' seberharga iku untuk ku perjuangkan. Kita akhiri ndek sini ae hubungan kita. Kedepane aku harap kita g' pernah bersinggungan. Dan g' onok penyesalan ndek antara kita, terutama buat kamu mas.", hatiku menangis sangat mengatakannya. Bukan, bukan karena aku menyesal mengatakan itu. Tapi karena itu semua benar dan aku selama ini bodoh dan bersalah kepada ayah dan ibuk karena lebih mempertahankan Mas Damar yang brengsek.
Aku langsung masuk dan mengunci pintu. Bersandar pada pintu dengan air mata bercucuran. Hatiku bak debu yang tersapu angin. Pilu rasanya mengingat orang yang begitu aku cintai menuduhkan segala keburukan padaku. Dia yang paling tahu seperti apa aku selama ini. Bagaimana bisa dia berpikir yang terburuk tentangku. Mau menghibur diri dengan mengatakan tentang bersyukur inilah itulah apalah tetap tak bisa menghentikan pilunya hati ini. Menyerah, aku memilih kembali ke kamar dan meringkuk di ranjang.
__ADS_1
Mungkin ini balasan karena begitu jahat kepada ayah dan ibuk selama ini. Aku tidak pernah mendengarkan peringatan mereka.Entah berapa lama waktu berlalu, ratapanku mulai melemah tergantikan mimpi-mimpi buruk yang menyambut.